Rafael Benitez dan PERTIKAIAN: Dua Hal yang Tak Bisa Dipisahkan

spot_img

Setiap pelatih punya ciri khasnya masing-masing. Jika Carlo Ancelotti terkenal dengan kepribadian yang dingin namun tetap bisa bergaul dengan pemainnya, maka Rafael Benitez justru sebaliknya. Mantan pelatih Osasuna ini memiliki sisi lain yang membuatnya layak mendapat predikat “cowok red flag”. Mengapa demikian? 

Di balik kesuksesannya menangani sejumlah klub seperti Liverpool, Chelsea, dan Napoli, Rafael Benitez ternyata punya sifat buruk yang mempengaruhi gaya melatihnya. Tak heran apabila Rafa tak bisa terhindar dari konflik dengan pemain maupun manajemen. Kebiasaan ini memang tak begitu tersorot. Namun, jejak digital tak pernah bohong. Dan berikut adalah kisah Benitez yang tak bisa dipisahkan dari sebuah konflik.

Sempat Pesimis Jadi Pelatih

Rafael Benitez memulai karirnya sebagai pelatih sejak berusia 26 tahun. Awalnya, Benitez mengawali karir sebagai pesepakbola profesional. Namun, dirinya mengalami cedera parah yang membuat mimpinya sebagai pesepakbola hebat lenyap. Karena belum mau meninggalkan dunia yang dicintai, akhirnya Benitez terjun ke dunia kepelatihan.

Benitez mulai mencoba peruntungan menjadi pelatih di Real Valladolid pada musim 1995/96. Namun kinerjanya jauh dari kata sukses. Di musim itu, Valladolid hanya menang dua kali dari 23 pertandingan. Benitez pun kembali gagal ketika menangani Osasuna pada musim berikutnya.

Rangkaian nasib buruk itu membuatnya frustrasi. Ia merasa tak memiliki kapasitas yang cukup untuk menjadi seorang pelatih hebat. Akhirnya, Benitez memutuskan untuk mengadu nasib di Inggris. Ia mencoba pekerjaan lain selain pelatih namun tetap di dunia sepakbola. Dari komentator, pandit, hingga analis sepakbola untuk beberapa media seperti Eurosport, Marca, El Mundo, dan Madrid TV.

Perjalanan karir sebagai analis dan komentator membuatnya mendapat pengalaman baru sekaligus melupakan memori buruk di Spanyol. Bekerja sebagai analis sepakbola memang tak beresiko besar. Ini bak sebuah zona nyaman baginya. Tapi, di lubuk hati yang paling dalam, Benitez sadar ini bukan yang ia inginkan. Karena mimpinya untuk menjadi seorang pelatih top masih saja mengganggu tidurnya.

Membangun Reputasi

Tiga tahun berada dalam kebimbangan, Rafael Benitez memutuskan untuk kembali mengejar mimpinya. Pada tahun 2000, ia kembali memesan tiket penerbangan ke Spanyol guna menerima tawaran melatih dari Tenerife yang kala itu berlaga di kasta kedua Liga Spanyol. Rejeki memang tak kemana, kiprahnya di Tenerife justru jadi pembuka jalan menuju kesuksesan.

Benitez membantu klub Spanyol tersebut promosi ke kasta tertinggi. Sontak namanya pun dielu-elukan. Media Spanyol langsung menyebut Benitez sebagai pelatih muda berbakat yang siap menggebrak sepakbola Eropa. Kesuksesan itu pun mengantarkannya ke Valencia pada tahun 2001.

Pelatih yang kini menangani Celta Vigo itu disambut dengan hangat ketika pertama kali menginjakan kaki di Stadion Mestalla. Bersama Los Che, Benitez memperkenalkan gaya bermain yang jauh lebih menyerang. Dengan inovasi yang dibawanya, Valencia sukses menjuarai La Liga pertamanya sejak 31 tahun pada musim 2001/02.

Pelatih berkacamata itu kembali mengantarkan Valencia menjuarai La Liga musim 2003/04 dengan sisa 3 pertandingan. Tak berhenti di situ, Los Che juga mengalahkan Marseille dalam final Europa League. Keberhasilan Benitez mengawinkan gelar La Liga dan Europa League telah menyita perhatian dunia.

Di akhir musim ia bahkan dinobatkan sebagai manajer terbaik di dunia. Bermodalkan prestasi tersebut, klub sekelas Liverpool pun akhirnya berani mempercayakan masa depan klub kepadanya pada tahun 2004. Rafa kembali ke Inggris namun bukan lagi sebagai pandit, melainkan pelatih papan atas seperti apa yang ia impikan. Benitez jadi orang Spanyol pertama yang melatih klub Liga Inggris.

Miracle of Istanbul yang Melegenda

Musim pertamanya di Inggris, Benitez gagal memperbaiki performa Liverpool di Premier League musim 2004/05. Badai cedera menjadi alasannya tidak mampu bersaing dengan Arsenal dan Chelsea untuk memperebutkan trofi Premier League. Liverpool juga gagal mengangkat trofi Piala Liga setelah kalah atas Chelsea di final.

Namun, Rafa berhasil menjawab keraguan saat memimpin Liverpool di Liga Champions. Terlihat tak spesial di fase grup, Liverpool racikannya berhasil mengalahkan Bayer Leverkusen, Juventus, dan Chelsea di fase gugur. Dan di laga final keajaiban yang masih kita ingat sampai sekarang itu terjadi.

Laga final yang dimainkan di Istanbul, Turki itu awalnya tak berjalan baik untuk Rafael Benitez. Liverpool mengakhiri babak pertama dengan keadaan tertinggal tiga gol dari AC Milan asuhan Carlo Ancelotti. Para pemain tertunduk lesu ketika memasuki ruang ganti. Mental bermainnya hancur. Mereka hanya bisa berharap untuk tidak kalah lebih telak lagi.

Kendati begitu, Benitez memasuki ruang ganti dengan tenang. Tak ada kekhawatiran atau putus asa atas skor 3-0 yang menimpa timnya. Dengan bahasa Inggris yang tak begitu fasih, ia memecah keheningan. Benitez ingin mengganti skema permainan yang awalnya 4-2-3-1 menjadi 3-5-2. Dengan menumpuk gelandang, Benitez berharap bisa memutus aliran bola dari Andrea Pirlo. Ide tersebut pun membuahkan hasil di babak kedua.

Sisa laga tak ubahnya sebuah kisah dongeng yang melegenda hingga sekarang. Selain berhasil membuat Milan kesulitan menciptakan peluang, taktik Benitez mampu melahirkan tiga gol penyeimbang. Itu sudah cukup untuk membawa Milan ke babak adu penalti. Hasilnya? Seperti yang kita semua tahu, The Reds lah yang membawa pulang trofi Liga Champions 2004/05.

Babak Awal Konflik Benitez di Liverpool

Kesuksesan Rafael Benitez memang patut dikenang. Namun Miracle of Istanbul jadi awal rangkaian konflik yang dialami Benitez. Masalah mulai muncul pada pertengahan musim 2007/08. Benitez dilaporkan mulai bermasalah dengan beberapa pemainnya seperti Albert Riera dan Xabi Alonso. 

Permasalahannya dengan Alonso jadi yang paling kontroversial. Karena menyangkut keutuhan keluarga sang pemain. Alonso adalah salah satu pembelian di tahun pertama Benitez menjadi manajer Liverpool. Oleh karena itu, sang pemain merasa mempunyai hubungan yang dekat dengan Benitez.

Di Bulan Maret 2008, Liverpool akan menghadapi Inter Milan dalam ajang leg kedua perempat final Liga Champions. Tapi Alonso justru ingin mengajukan izin untuk pulang ke Spanyol lantaran sang istri dikabarkan akan melahirkan buah hatinya. Karena merasa dekat dengan sang pelatih, Alonso pun meminta izin pada Benitez. 

Sayang, Rafa Benitez menolak. Sontak kondisi itu membuat Alonso kesal, karena momen melahirkan sang istri jadi salah satu momen paling penting sebagai seorang calon ayah. Layaknya bocah, Benitez tak mau kalah. Sang pelatih menganggap Xabi kurang paham dengan kondisi tim. 

“Saat itu kondisi istriku belum stabil. Saya sudah jelaskan kepada Rafa bahwa saya akan bergabung jika segalanya baik-baik saja. Saya hanya ingin pulang dan memastikan semuanya oke,” ujar Xabi Alonso ketika menjelaskan apa yang terjadi kepada Mirror. Meski mendapat penolakan, Alonso tetap ngeyel. Keluarga adalah urutan teratas dalam skala prioritasnya. Alhasil, Alonso lebih memilih untuk menemani istrinya ketimbang berangkat ke Milan.

Usai konflik ini, hubungan keduanya pun renggang. Benitez tak lagi menjadikannya pilihan utama di lini tengah. Permasalahan ini bahkan digadang-gadang jadi alasan utama di balik hengkangnya Xabi Alonso ke Real Madrid. Selain Alonso, ada rumor yang mengatakan kalau Steven Gerrard juga jadi salah satu pemain yang tak akur dengan Benitez.

Benitez vs Everybody di Inter Milan

Situasi yang tak kondusif dan didukung tak kunjung berprestasi lagi membuat Rafael Benitez akhirnya hengkang dari Liverpool. Tak lama, ia ditunjuk Inter Milan untuk menggantikan Jose Mourinho yang dipinang oleh Real Madrid pada tahun 2010. Benitez dinilai jadi pelatih yang paling cocok untuk menangani Inter. Prestasi dan gaya bermain jadi alasannya.

Seperti yang sudah disampaikan di awal, prestasi dan konflik seakan jadi paket lengkap saat mendatangkan Rafael Benitez. Di musim perdananya bersama Nerazzurri, Benitez berhasil menghadirkan dua trofi, yakni Piala Dunia Antarklub dan Piala Supercoppa Italia musim 2010/11. Namun, kegembiraan itu dengan cepat berubah menjadi bencana.

Benitez hanya bertahan selama enam bulan di Inter sebelum akhirnya dipecat pada Desember 2010. Ia menyalahkan presiden klub kala itu, Massimo Moratti yang tak mau menggelontorkan dana untuk mendatangkan pemain-pemain yang diinginkannya. Benitez merasa bahwa klub tak mau mendukung kebijakannya. Pelatih asal Spanyol itu merasa dikhianati.

Namun penjelasan dari salah satu pemain Inter Milan kala itu, yakni Marco Materazzi justru sebaliknya. Menurutnya, Benitez tak piawai menangani ruang ganti. Benitez dinilai memiliki hubungan yang buruk dengan sejumlah pemain. Pemain yang dadanya disundul oleh Zinedine Zidane itu memang jadi pemain yang paling terang-terangan mengungkapkan perselisihannya dengan Benitez.

Materazzi menganggap Benitez tak memiliki empati dan keras kepala. Materazzi bahkan menambahkan kalau Benitez hanyalah penghancur pondasi yang telah dibangun Jose Mourinho. Saking bencinya sama sang pelatih, konon eks bek Timnas Italia itu menolak untuk menjabat tangan Benitez sewaktu masih di Inter.

Sosok yang Tak Diinginkan di Chelsea

Setelah dipecat dari Inter Milan, Rafa Benitez memutuskan untuk rehat sejenak dari urusan sepakbola. Ia tak terburu-buru dalam mencari klub baru. Tetapi, Rafa tampaknya terlalu nyaman menganggur. Itu dibuktikan dengan lamanya ia mendapat klub baru. Benitez baru mendapat pekerjaan pada November 2012. Kala itu, Chelsea lah yang datang menghampiri.

Chelsea sebetulnya adalah pilihan yang sulit bagi Benitez. Chelsea adalah rival dari Liverpool dan Benitez enggan menyakiti pihak mana pun. Namun, karena butuh penghasilan, tak ada pilihan lain selain menukangi Chelsea. Benitez datang untuk menggantikan Roberto Di Matteo yang gagal loloskan Chelsea ke 16 besar Liga Champions 2012/13. Padahal mereka berstatus sebagai juara bertahan.

Chelsea terpaksa harus turun kasta ke Europa League musim itu dan tugas utama Benitez adalah mengembalikan Chelsea ke habitatnya, yakni Liga Champions. Sialnya hal yang ditakutkan Benitez pun terjadi. Sosoknya yang begitu kental dengan Liverpool mendapat penolakan keras dari sebagian besar fans The Blues.

Awalnya Benitez tak risau soal itu. Namun, ternyata penolakan fans semakin menjadi-jadi. Melalui petisi online, fans Chelsea ingin klub untuk memecat Benitez dan membawa kembali Jose Mourinho ke Stamford Bridge. Dilansir Sportsmole, petisi tersebut bahkan telah ditandatangani oleh ribuan fans.

Tak cuma itu, sejumlah fans juga membentangkan beberapa spanduk yang berisikan penolakan dan ejekan kepada Benitez. Salah satu spanduk bahkan menyebut Benitez sebagai “si gendut dari Spanyol”. Fans Chelsea juga menganggap mantan pelatih Inter Milan itu tidak menghargai mereka. Sebab, saat masih menangani Liverpool, Benitez sempat berujar tidak akan melatih Chelsea.

Di era tersebut, Rafael Benitez semakin dibenci lantaran kerap mencadangkan sang kapten John Terry. Mantan bek Timnas Inggris itu kabarnya tak memiliki hubungan yang baik dengan Benitez. Terry juga menyebut Benitez sebagai sosok manajer yang tidak bisa membangun hubungan dekat dengan para pemain. Singkat cerita, Benitez pun dipecat setelah hanya tujuh bulan menangani Chelsea.

Bermasalah dengan Kapten Napoli

Merasa tak diinginkan oleh siapapun di Inggris, akhirnya Benitez kembali mencoba peruntungan di Serie A. Kali ini klub yang dipilih adalah Napoli. Kedatangannya tak menimbulkan respons negatif. Itu sudah jadi awal yang baik. Benitez terlihat tenang-tenang saja di Kota Naples. Ia bahkan sempat menghadirkan Coppa Italia musim 2013/14 dan Piala Supercoppa Italia semusim kemudian. 

Kendati demikian, ia masih tidak bisa lepas dari konflik. Pada akhir tahun 2014 mencuat kabar kalau Benitez kembali bermasalah dengan manajemen dan sejumlah pemain inti. Benitez bahkan pernah mengusir Jose Callejon dalam sesi latihan. Benitez berang karena Callejon tidak serius dan kurang berkonsentrasi selama latihan. 

Benitez kembali mengulangi kesalahan yang sama. Dirinya tak bisa menurunkan ego untuk membangun hubungan yang baik dengan para pemainnya. Hal serupa juga sempat dikemukakan oleh Gonzalo Higuain dan Marek Hamsik. Benitez tak pernah mau tahu apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh para pemainnya. 

Metode kepelatihan dan gaya bermain yang tak cocok bahkan membuat Higuain tak bisa mengeluarkan potensi maksimalnya. Lihat saja ketika Benitez hengkang pada 2015. Maurizio Sarri yang menggantikannya langsung menemukan ramuan yang pas sehingga Higuain mampu tampil meledak-ledak dengan mencetak 36 gol dari 35 pertandingan Serie A.

Menghancurkan Reputasi di Real Madrid

Tak ada kapok-kapoknya, Rafael Benitez kembali menciptakan masalahnya sendiri ketika menangani Real Madrid dalam periode 2015 hingga 2016. Sebagai orang baru di klub Benitez tak menghormati tradisi yang ada. Biasanya, pelatih baru harus menemui beberapa pemain bintang untuk sekadar bertegur sapa untuk menunjukan rasa hormat. Namun, tidak dengan Benitez. Ia tak mengindahkan ritual itu.

Benitez merasa semua pemain sama. Bahkan dengan beraninya ia enggan menyebut Cristiano Ronaldo pemain terbaik. Menurutnya, Ronaldo bukan pemain yang spesial. “Ronaldo adalah pemain yang hebat. Tapi saya tidak bisa berkata yang terbaik karena saya pernah melatih banyak pemain hebat sebelumnya,” ucap Benitez seperti dikutip Independent.

Jawaban dari Benitez tersebut jelas membuat para fans mengernyitkan dahi. Bagi fans Madrid, Ronaldo lah yang terbaik saat itu. Sikap Benitez seakan membenarkan apa yang dikatakan oleh John Terry, Gonzalo Higuain, dan Marek Hamsik bahwa Rafael Benitez memang mempunyai skill yang buruk dalam menghargai pemainnya. 

Setelah pernyataan kontroversial ini mencuat, beberapa media mulai mengorak lebih dalam hubungan antara Benitez dengan punggawa Los Blancos. Ternyata para pemain tidak suka dengan metode latihan Benitez. Dirinya dianggap terlalu mendikte dan kaku. Terlibat konflik dengan pemain penting di Madrid memang sangat tidak menguntungkan bagi Benitez. 

Ketika melatih Madrid, borok Benitez semakin terlihat. Media-media terus menggoreng berita tentang kepribadian buruk sang pelatih. Jadi tak heran apabila perpecahan yang terjadi di ruang ganti berujung dengan berakhirnya karir Benitez di Santiago Bernabeu maupun di Eropa. Lihat, sejak hengkang dari Madrid, tercatat belum ada tim papan atas lain yang mau mempekerjakannya.

Sumber: Goal, Mirror, Sky Sport, Daily Mail, Bola.net

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru