Kesempurnaan Bayern Munchen di Liga Champions 2020/21 yang Terlupakan

spot_img

“Memenangkan Liga Champions adalah perasaan yang campur aduk, tapi itulah yang membuatnya istimewa.” Kalimat ikonik ini keluar dari bibir pemenang Liga Champions bersama tiga klub berbeda, Clarence Seedorf. Kalimat ini pula yang sesekali menjadi motivasi bagi para pemain untuk meraih gelar paling prestisius di Eropa itu.

Namun, ketika sebuah tim berhasil menggondol Si Kuping Besar tak selamanya jadi momen yang diingat oleh sejumlah penikmatnya. Dan itu juga yang dirasakan Bayern Munchen di musim 2019/20. Kala itu, The Bavarians keluar sebagai kampiun Liga Champions. Namun, mereka seperti terabaikan begitu saja.

Banyak faktor yang menyebabkan fenomena itu terjadi. Salah satunya karena tahun 2020 adalah tahun yang spesial bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, untuk membangkitkan memori indah itu. Berikut adalah perjalanan Bayern Munchen menjuarai Liga Champions 2019/20.

Niko Kovac Tak Sesuai Harapan

Di pertengahan tahun 2019, perasaan yang sangat membanggakan dan mungkin sedikit membosankan menyelimuti para punggawa Bayern Munchen. Bagaimana tidak? Thomas Muller cs lagi-lagi menjuarai Bundesliga, tepatnya musim 2018/19. Musim tersebut jadi musim ketujuh secara beruntun The Bavarians menggondol trofi berbentuk piring raksasa itu. 

Beberapa media pun akhirnya menggoreng informasi kalau musim berikutnya akan menjadi milik Munchen lagi. Juara seakan sudah bisa ditentukan meski peluit kick off laga pembuka musim 2019/20 belum dibunyikan. Namun, di luar dugaan sang pelatih justru tak memenuhi ekspektasi klub. 

Sebagai disclaimer saja. Awal musim 2019/20, sebetulnya performa Bayern Munchen tak bisa dibilang buruk. Itu karena Munchen baru mengantongi dua kekalahan dalam sepuluh pertandingan Bundesliga. Tapi, manajemen tetap mengevaluasi kinerja Niko Kovac.

Kalah di final Piala Super Jerman dari Borussia Dortmund dan kedudukan Munchen yang masih bercokol di peringkat empat Bundesliga jadi alasan manajemen akhirnya memecat Niko pada November 2019. Target klub mutlak. Bayern harus memuncaki klasemen setiap pekan. Tim tak boleh terlempar dari peringkat dua klasemen Bundesliga. Apalagi sampai kehilangan trofi. 

Padahal Niko Kovac telah membawa Bayern Munchen tampil apik di Liga Champions. Bergabung di Grup B bersama Tottenham, Olympiacos, dan Red Star Belgrade, Munchen tak terkalahkan di tiga pertandingan awal. Tapi apa boleh buat, Kovac tetap gagal di mata manajemen.

Transisi Cepat

Setelah ditelisik lebih dalam, penyebab dipecatnya Kovac bukan sekadar performa buruk atau kehilangan trofi DFL-Supercup, melainkan ada konflik yang pecah di ruang ganti. Pemicunya adalah kekalahan memalukan 5-1 dari Eintracht Frankfurt.

Kekalahan atas Frankfurt benar-benar menjadi pemicu konflik antara Kovac dan para pemain. Ruang ganti tim memanas pasca pertandingan. Kovac bahkan sampai mencaci maki para pemain. Dengan bahasa Inggris yang tak begitu bagus, Kovac berbicara dengan nada tinggi karena tak puas dengan hasil yang diraih.

“Kau seharusnya tidak berpura-pura!” teriak Kovac memecah keheningan. Kalimat itu muncul terkait aksi diving Thiago Alcantara di laga tersebut. “Kau terlalu mudah kehilangan bola,” maki sang pelatih kepada Serge Gnabry. Pemain-pemain seperti Jerome Boateng dan Manuel Neuer juga tak bisa lepas dari semprotan Niko Kovac. Perpecahan ini yang membuat Munchen berani memecat sang pelatih di tengah kompetisi.

Klub seperti Bayern Munchen jelas tak kesulitan untuk mencari penggantinya. Manajemen dengan cepat menunjuk sang asisten pelatih, Hansi Flick untuk menangani sisa musim Bayern Munchen. Langkah ini dinilai cukup berani. Karena Flick dianggap belum cukup berpengalaman untuk menjadi pelatih kepala. Sebagian besar karirnya dihabiskan sebagai direktur olahraga dan asisten pelatih.

Di tengah keraguan, Hansi Flick berhasil membayar lunas kepercayaan yang diberikan oleh Bayern Munchen. Sudah menjadi bagian tim sejak awal musim, Flick tak kesulitan menerapkan skema bermain yang cocok. Ia pun langsung memberikan empat kemenangan beruntun di seluruh kompetisi. Flick bahkan memastikan Bayern Munchen lolos ke babak 16 besar Liga Champions dengan menyisakan dua pertandingan.

Fase Grup UCL

Memang harus diakui, Bayern Munchen tak terbendung di Liga Champions musim 2019/20. Die Roten bahkan berhasil menyapu bersih enam pertandingan di babak penyisihan grup dengan kemenangan. Beberapa di antaranya bahkan diraih dengan margin gol yang sangat besar.

Seperti contohnya saat bertandang ke London. Bermain di Tottenham Hotspur Stadium tak membuat Bayern Munchen yang kala itu masih ditukangi Niko Kovac ciut nyali. Mereka bahkan dengan percaya diri menunjukan keperkasaannya. Munchen membuktikan kalau mereka tak hanya jago di Bundesliga.

Penjaga gawang Spurs kala itu, Hugo Lloris jadi bulan-bulanan. Ia dipaksa memungut bola dari jala gawangnya sendiri sebanyak tujuh kali. Robert Lewandowski dan Serge Gnabry benar-benar menjadi mimpi buruk bagi lini belakang Spurs. Striker Polandia itu mencetak dua gol, sementara Gnabry malah lebih gila lagi. Ia mencetak quatrick alias empat gol ke gawang Hugo Lloris.

Tak cuma Spurs yang merasakan keganasan Bayern Munchen kala itu. Red Star Belgrade juga ikutan digilas dengan skor 6-. Bedanya, kali ini Munchen sudah ditangani oleh Hansi Flick. Di pertandingan ini, giliran Robert Lewandowski yang bersinar. Ia mencetak empat gol hanya dalam waktu kurang dari 15 menit.

Dengan memenangkan semua pertandingan, Bayern Munchen menjadi juara Grup B dengan torehan poin sempurna, yakni 18 poin. Disusul Spurs yang mengumpulkan sepuluh poin di peringkat kedua. Menurut hasil drawing, Munchen harus berhadapan dengan Chelsea di babak 16 besar Liga Champions 2019/20.

Pandemi Melanda

Leg pertama babak 16 besar Liga Champions dimainkan di Stamford Bridge. Joshua Kimmich dan kolega mendarat di London dengan kepala tegak. Selain masih belum terkalahkan di Liga Champions, Bayern Munchen juga belum terkalahkan di sebelas pertandingan di semua kompetisi. 

Terbukti, Bayern Munchen masih terlalu perkasa bagi Chelsea. Skuad racikan Hansi Flick berhasil menaklukan The Blues dengan tiga gol tanpa balas. Itu modal yang sangat cukup untuk menghadapi leg kedua yang seharusnya dilaksanakan pekan berikutnya.

Sayang, nafsu Munchen yang sudah diubun-ubun ingin menyudahi pertarungan dengan Chelsea harus tertunda. Awal Maret 2020, pandemi Covid-19 melanda. Hampir semua negara terdampak. Masifnya penyebaran virus sampai menyerang atlet termasuk para pesepakbola. 

Situasi ini pun akhirnya membuat UEFA mengambil tindakan darurat. Setelah melaksanakan pertemuan dengan para petinggi UEFA, Aleksander Čeferin mengumumkan akan menghentikan sementara kompetisi Liga Champions dan Liga Europa demi mencegah penyebaran Virus Corona. Leg kedua yang seharusnya dimainkan pada pertengahan Maret 2020 pun ditunda sampai waktu yang belum ditentukan.

Bayern Munchen pun akhirnya membubarkan tim untuk sementara. Para pemain dipulangkan dan dituntut untuk melakukan latihan secara mandiri di tengah karantina. Namun, kurang dari satu bulan skuad sudah kembali berlatih di Säbener Straße, kamp latihan Bayern Munchen.

Ini jadi gebrakan yang cukup mengejutkan. Pada awal April 2020, Hansi Flick kembali mengumpulkan tim untuk melakoni beberapa sesi latihan ringan. Mereka jadi klub pertama di dunia yang berani menggelar latihan di tengah pandemi. Sang pelatih ingin mengontrol secara langsung proses latihan para pemain. Flick khawatir para pemain akan bermasalah dengan berat badan jika berlatih tanpa pengawasan yang ketat.

Munchen cukup disiplin untuk menerapkan physical distancing dalam sesi latihan. Selain itu, pihak Bayern Munchen juga mensterilkan area sekitar tempat latihan dari penonton. Terobosan ini pun akhirnya diikuti oleh beberapa klub Bundesliga lain seperti Wolfsburg dan Borussia Monchengladbach.

Perubahan Regulasi

Setelah melewati beberapa bulan latihan tanpa pertandingan di akhir pekan, Munchen mendapat kabar kalau UEFA akan memulai kembali kompetisi Liga Champions. Pertandingan leg kedua babak 16 besar pun kembali dimulai pada awal Agustus 2020. Bulan Agustus dipilih karena di periode itu semua pesertanya sudah menyelesaikan kompetisi di tingkat domestik.

Dengan begitu, berarti UEFA hanya memiliki sedikit waktu untuk menyelesaikan Liga Champions. Karena pada September kompetisi musim selanjutnya harus sudah dimulai. Untuk mengakali keterbatasan waktu, UEFA akhirnya menemukan siasat. Mereka memutuskan untuk menggelar semua pertandingan yang tersisa dengan sistem satu leg mulai dari babak perempat final.

Seluruh tim yang sudah memainkan leg pertama di babak 16 besar dipersilahkan menjalani leg kedua sebelum regulasi tersebut diaktifkan. Awalnya keputusan tersebut menuai pro dan kontra, akan tetapi pada pelaksanaanya banyak pihak yang merasa sistem satu leg justru lebih menyenangkan dan menantang.

8-2 yang Lebih Diingat

Meski pandemi telah mengganggu jalannya kompetisi dan kualitas latihan Bayern Munchen, tapi tidak sedikit pun menurunkan kekuatan tim di bawah asuhan Hansi Flick.  Di tengah sepinya Allianz Arena, The Bavarians kembali menaklukan Chelsea dengan skor 4-1. Dengan hasil ini, Munchen lolos ke perempat final dengan agregat 7-1.

Sesuai drawing yang sudah dilakukan sebelumnya, Bayern Munchen akan menghadapi pemenang dari pertandingan antara Barcelona dan Napoli. Pada saat itu, La Blaugrana berhak jadi lawan Munchen di perempat final usai menaklukan Il Partenopei dengan agregat 4-2. Nantinya, laga antara Bayern Munchen dan Barcelona bakal jadi laga yang lebih diingat ketimbang kesuksesan Munchen itu sendiri.

Mengapa demikian? Karena Barcelona yang kala itu masih diperkuat Lionel Messi dan Luis Suarez babak belur dihajar Robert Lewandowski cs. Bermain dengan skema 4-2-3-1, Hansi Flick menciptakan permainan yang luar biasa di laga yang dimainkan di tempat netral tersebut.

Bayangkan saja, Bayern Munchen sudah unggul telak 4-1 di babak pertama. Thomas Muller, Ivan Perisic, dan Serge Gnabry silih berganti mencatatkan namanya di papan skor. Sedangkan Barcelona hanya mampu memperkecil kedudukan melalui gol bunuh diri David Alaba. Dari lima gol tersebut, tak ada satu pun yang lahir dari kaki pemain Azulgrana.

Tak puas dengan keunggulan 4-1, Bayern Munchen kembali meledak-ledak di babak kedua. Hansi Flick meminta anak asuhnya untuk mempersempit ruang bergerak Lionel Messi agar permainan Barca tak berkembang. Luis Suarez memang sempat memberikan sedikit harapan usai mencetak gol pada menit ke-57. 

Namun El Barca kian hancur setelah Bayern kembali mencetak empat gol lagi. Yang makin bikin patah hati, adalah Philippe Coutinho. Pemain yang dipinjam Munchen dari klub Catalan itu justru mencetak dua gol dan satu assist di penghujung laga. Meski diakhiri dengan selebrasi yang menunjukan sedikit rasa hormat, gol itu tetap membuat Quique Setien tak kuasa menengadahkan kepala saat kamera menyorot.

Hanya Lewat

Dengan skor akhir 8-2, Bayern Munchen pun menghadapi Lyon di semifinal. Lyon jadi tim kejutan di Liga Champions edisi kali ini. Meski demikian, skuad racikan Hansi Flick tak mengalami kendala berarti kala menghadapi tim yang masih dikomandoi Memphis Depay itu. Munchen pun meredam kekuatan Lyon dengan menang 3-0.

Dua gol Serge Gnabry dan satu gol dari Robert Lewandowski mengantarkan Bayern Munchen ke partai puncak. Di final, wakil Prancis, PSG menunggu. Ini jadi laga yang berat karena klub yang dimiliki oleh Qatar itu bertekad memenangkan turnamen ini. Mereka ingin membuktikan kalau investasi ratusan juta euro bisa menghasilkan trofi Liga Champions.

Namun, kegemilangan Manuel Neuer di bawah mistar berhasil membuat Munchen mempertahankan keunggulan 1-0 hingga peluit panjang dibunyikan. Berbagai peluang emas Neymar dan Kylian Mbappe dimentahkan sehingga gawang Munchen tetap suci. Ironisnya, satu-satunya gol yang tercipta berasal dari tandukan Kingsley Coman yang tiada lain adalah mantan pemain PSG.

Pencapaian tersebut membuat Munchen masuk dalam buku sejarah Liga Champions. Melansir laporan Opta, Die Roten menjadi tim pertama yang mampu merengkuh Si Kuping Besar dengan kemenangan 100%. Sayangnya, karena pandemi, gelar juara Bayern Munchen dirayakan dalam situasi tertutup dan hanya dihadiri oleh beberapa media saja.

Situasi tersebut membuat pencapaian luar biasa ini akhirnya sedikit terabaikan. Perayaannya sepi dan orang-orang lebih fokus untuk menanti aksi klub favoritnya di musim 2021/22. Kian terlupakan karena beberapa penghargaan seperti Ballon d’Or juga ditiadakan. Treble Munchen dan musim terbaik Robert Lewandowski pun akhirnya tak mendapat penghargaan yang setimpal.

Sumber: Bundesliga, Goal, CBS Sport, Sportsmole, Marca

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru