Mengenang Mousa Dembele Si Dewa Dribble Dari Tottenham Hotspurs

spot_img

Orang bilang, tanda kita sudah move on adalah sudah melupakan orang yang kita cintai. Itu lah yang fans Tottenham rasakan setelah Ange Postecoglou datang. Pelatih asal Australia itu membangkitkan kembali semangat dan identitas the lilywhites sehingga para fans tidak merindukan kehadiran Pochettino lagi.

Dan berbicara soal Tottenham era Pochettino, kira-kira siapa pemain yang paling diingat? Harry Kane? Tentu, dia pemain terbaik yang dimiliki Spurs era Pochettino. Christian Eriksen? Boleh saja, ia adalah yang tercerdas di antara pemain lainnya. Dele Alli? Mungkin, sebab ia menunjukkan kualitas menarik dari skuad Spurs era itu. Tapi adakah dari kalian yang ingat Mousa Dembele?

Dari semua skillnya, kemampuan Dembele yang paling terkenal adalah dribbling. Ia pernah bermain selama enam bulan di Premier League tanpa ada satupun pemain yang bisa merebut bola darinya. Ya, kalian tidak salah dengar, enam bulan tanpa terebut!

Namun, yang jelas Dembele adalah nyawa yang membuat sistem Pochettino di Spurs bekerja. Faktanya, era Pochettino di Spurs bahkan berhenti seketika setelah the lilywhites membuang Dembele ke Liga China. Tapi mengapa Dembele malah seakan kini sudah terlupakan?

Perantauan ke Eredivisie

Bakat sepak bola Dembele sejalan dengan latar belakangnya yang beragam. Ia lahir di Belgia dari ibu berkebangsaan Belgia dan Ayah dari Mali. Sementara, pendidikan sepak bola nya sudah dimulai sejak di akademi Greminal Beerschot, Belgia.

Dembele remaja sudah jadi incaran klub-klub besar Belgia saat itu. Tapi ia membuat pilihan yang tidak biasa. Daripada pindah ke Anderlecht, klub terbesar di Belgia yang sangat ingin mengontraknya, Dembele memilih untuk merantau ke Belanda. Meskipun dengan begitu kesempatan untuk bermain di klub besar harus ditunda.

Negeri kincir angin jadi pilihannya karena alasan sederhana. Dembele melihat kalau liga Eredivisie memainkan sepak bola yang sangat teknis. Ia juga merasa kalau Belanda menawarkan banyak petualangan yang bisa ia pilih. Banyak klub-klub besar dan bakat muda yang muncul dari liga Belanda.

Tim pertamanya di Belanda adalah tim kecil bernama Willem II Tilburg, dimana ia bergabung di musim 2005/06. Di musim itu, Willem memang sedang kesusahan. Mereka bahkan hanya finis di peringkat dua terbawah dengan hanya meraih 9 poin.

Tapi itu bukan musim yang terlalu mengecewakan untuk Dembele. Sebab ia bisa mendapatkan banyak menit bermain. Total, ia mencatatkan 33 penampilan bersama Willem sambil mencetak 10 gol dan 5 assist.

Pertemuan Dengan Louis Van Gaal

Catatan itu menarik perhatian banyak tim Eredivisie lainnya. Tapi Louis Van Gaal lah yang berhasil memboyongnya ke AZ Alkmaar di musim 2006/07. Di musim sebelumnya AZ Alkmaar jadi runner up Eredivisie dibawah PSV. Sama seperti Dembele, AZ Alkmaar juga masih dalam tahap perkembangan menuju potensi maksimalnya.

Di bawah asuhan Van Gaal, Dembele beroperasi lebih seperti penyerang. Ia juga jadi pemain andalan dan bermain di sebagian besar kampanye musim itu. Dembele dimainkan di berbagai lini. Dari posisi melebar, atau sebagai pemain nomor 10.

Namun Van Gaal sadar potensi terbesar Dembele adalah skill menggiring bolanya. Dengan dukungan Van Gaal, Dembele mengembangkan kepercayaan dirinya untuk membawa bola maju ke arah pemain bertahan lawan.

Enam gol dan empat assist dembele di musim itu mendorong AZ Alkmaar berjuang memperebutkan gelar Eredivisie sampai hari terakhir. Namun kekalahan 3-2 lawan Excelsior di gameweek terakhir membuat mereka hanya mampu finis di peringkat ketiga.

Musim menjanjikan penuh potensi pun musnah dan tak menghasilkan apapun. Belum lagi itu diikuti dengan musim 2007/08 yang lebih buruk. AZ Alkmaar malah finis di peringkat 11 yang membuat Van Gaal hampir menyerah dan hengkang. Tapi para pemain bersatu membujuk sang pelatih untuk tidak pergi.

Pencapaian Terbaik di Belanda

Keputusan Van Gaal untuk bertahan tidak sia-sia. Musim selanjutnya, musim 2008/09 jadi musim terbaiknya di AZ Alkmaar. Setelah kalah di dua pertandingan pembuka Eredivisie, AZ Alkmaar bangkit dan menjalani kemenangan beruntun di enam pertandingan setelahnya.

Sayang bagi Dembele, ia menderita cedera di pekan ke-6. Cedera itu cukup parah sampai-sampai ia harus menepi di 11 pertandingan liga. Setidaknya selama Dembele menepi, tepatnya dari gameweek ke-6 sampai ke-16, AZ Alkmaar hanya imbang dua kali sementara sembilan pertandingan lainnya diselesaikan dengan kemenangan.

Saat Dembele sudah pulih dan kembali bermain, AZ Alkmaar sudah kokoh di puncak dengan torehan 38 poin. Dan dengan semangat untuk mendapatkan gelar Eredivisie, Dembele kembali seperti pemain yang baru. Dia sudah menjelma jadi gelandang tengah yang sepenuhnya percaya diri membawa bola melewati para pemain lawan.

Usianya saat itu sudah 20-an tahun. Kemampuan skill menggiring bolanya sudah berada di level tertinggi. Salah satu momen paling luar biasa di musim itu adalah solo golnya melawan mantan klubnya, Willem. Gol solo itu jadi gambaran umum bagaimana kehebatan menggiring bola Dembele.

Di musim ketiganya itu ia mencetak 10 gol serta membawa AZ Alkmaar juara Eredivisie. Sayangnya itu jadi musim terakhir Louis Van Gaal yang pindah ke Bayern Munchen. Dembele sendiri masih bertahan untuk semusim lagi dan menambah Piala Super Belanda ke lemari trofinya. Dan setelah lima tahun berpetualang di Belanda, pada musim panas 2010, ia pun hengkang ke Premier League.

Perubahan di Inggris

Fulham memboyong Dembele hanya dengan harga 5 juta pounds saja. Disinilah petualangan dan tantangan baru Dembele sebagai jendral lapangan tengah dimulai.

Di Inggris, ia mendapatkan peran baru. Pelatih Fulham saat itu, Martin Jol tidak mau memasangnya ke posisi menyerang. Alih-alih, ia memberikan peran yang lebih dalam. Jol memberikan kebebasan kepada Dembele untuk mengeksplor lapangan tengah sebagai seorang gelandang.

“Di Inggris, seorang penyerang harus mencetak gol. Saya ingin menghilangkan beban tersebut dari pundak Dembele. Lucunya, saat latihan ia bisa mencetak gol tanpa usaha. Sangat jarang ada gelandang yang bisa bermain seperti dia.” Ucap Jol dikutip dari Football Faithful.

Ada dua tantangan adaptasi yang harus dihadapi pemain luar saat pertama kali bermain di liga Inggris. Pertama, tempo permainan dan kecepatan. Kedua, kekuatan fisik dan agresivitas para pemain Premier League.

Khusus untuk tantangan yang kedua itu, bukan sebuah masalah bagi Dembele. Secara natural ia memang suka beradu bahu dan merebut bola dari kaki para pemain lawannya. Jadi, segera setelah ia beradaptasi dengan kecepatan permainan di Inggris, ia langsung menjelma jadi gelandang yang menonjol di Premier League.

Setelah menjalani dua musim bersama Fulham, Dembele pun akhirnya pindah ke Tottenham Hotspurs. Di musim panas 2012, The lilywhites membayar penuh klausul pelepasannya yang hanya sebesar 15 juta pounds saja.

Penyesuaian di Spurs

Saat itu Spurs punya banyak perubahan. Di musim panas itu pula pelatih legendaris Harry Redknapp dipecat setelah Spurs tidak mau memperpanjang kontraknya. Pengganti Redknapp adalah Andre Villas-Boas yang sebelumnya gagal di Chelsea.

Spurs berniat memproyeksikan Dembele sebagai pengganti Luka Modric. Sebab di musim itu Modric hengkang ke Real Madrid. Namun, Andre Villas-Boas sebenarnya tidak punya visi jelas terhadap peran Dembele di Spurs.

Tapi jangan salah, Dembele bukannya jadi pemain flop. Ia bahkan mencetak gol di laga debutnya saat melawan Norwich. Dembele tetap menunjukkan kualitas individunya yang luar biasa. Dembele bahkan bermain di 42 pertandingan Spurs musim itu. Termasuk pertandingan di Europa League. Dan meskipun ia jarang menciptakan gol dan assist, ia tetap jadi favorit para fans.

Terlepas dari itu, permainan Dembele tidak pernah menyatu di Spurs era Andre Villas Boas. Sampai bertahun-tahun setelahnya, sebuah fakta terungkap. AVB sebenarnya tidak menginginkan Dembele. Yang ia inginkan adalah pemain dari FC Porto, Joao Moutinho. Sedangkan pembelian Mousa Dembele adalah kehendak dari direktur teknis Spurs saat itu, Franco Baldini.

“Saya ingin mendatangkan Joao Moutinho tapi ia berada di urutan keenam daftar belanja Spurs. Di urutan pertama adalah Mousa Dembele. Kami sempat nyaris mendatangkan Moutinho tapi jendela transfer sudah keburu tutup” Ucapnya dikutip dari Football.London.

Mungkin kalau saat itu AVB berhasil mendatangkan Joao Moutinho, Dembele bakal tak terpakai sama sekali.

Pochettino Era Dimulai

Tidak mampu mendatangkan pemain sesuai keinginannya, membuat AVB gagal di Spurs. AVB pun hanya bertahan satu setengah musim di London Utara. Setelah dibantai 5-0 oleh Liverpool dan duduk di peringkat ke-7, AVB dipecat Spurs di bulan Desember 2013.

Setelah sisa musim 2013/14 ditukangi oleh pelatih sementara Tim Sherwood, Spurs pun mendatangkan Mauricio Pochettino sebagai pelatih tetap di musim 2014/15. Seperti yang sudah dijelaskan di awal, Dembele akan jadi bagian terpenting permainan Pochettino di Spurs. Tapi tetap saja, itu semua bukan proses yang instan.

Awalnya Pochettino lebih suka memainkan Ryan Mason dan Nabil Bentaleb sebagai starter di posisi gelandang tengah. Dua pemain tersebut bisa memberikan dinamika kekuatan fisik yang tidak bisa diberikan Dembele. Selain itu cedera Dembele sering kumat di musim 2014/15. Jadi di musim itu ia hanya tampil 10 kali sebagai starter.

Baru di musim kedua Pochettino, atau 2015/16 Dembele mulai memenuhi potensi penuhnya. Dia lebih kuat, lebih tajam, lebih efisien dan jauh lebih memberikan pengaruh kepada skuad.

Dengan kedatangan Toby Alderweireld yang dipasangkan dengan Jan Vertonghen di posisi bek, lini bertahan Spurs jadi jauh lebih kuat dari musim sebelumnya. Ini artinya Dembele tak lagi harus fokus bertahan, tapi mengalirkan bola sehingga serangan balik Spurs berjalan dengan lancar.

Peran Dembele Dalam Sistem Pochettino

Esensi dari permainan Pochettino adalah struktur. Para pemain harus berada di posisi yang tepat saat dalam penguasaan bola. Untuk itu, Dembele jadi pemain yang menjaga penguasaan bola selagi pemain lain mencari posisi mereka.

Itulah peran Dembele di Spurs era Pochettino kalau digambarkan secara singkat. Bola yang sudah dipegang Dembele tidak akan pernah terlepas dari kakinya mau bagaimanapun juga. Pernah Dembele bermain di bulan Maret 2016, lawan tak bisa merebut bola darinya sampai bulan September 2016. Dalam selang waktu enam bulan itu pula, Dembele mencatatkan 31 dribble sukses berturut-turut di Premier League.

Untuk menggambarkan betapa Dembele berpengaruh di Spurs, lihat saja catatan di musim 2015/16 dan 2016/17. Di dua musim tersebut, saat Dembele bermain sebagai starter Spurs hanya kalah saat bertandang ke Old Trafford, Stamford Bridge, dan Anfield. Dengan Dembele di tim, Spurs hampir mustahil dikalahkan.

Meskipun begitu, bahkan di waktu itu pun masih banyak yang meragukan kontribusi Dembele. Pep Guardiola malahan pernah menggambarkan Spurs sebagai timnya Harry Kane. Tapi Pochettino pernah menggambarkan betapa pentingnya Mousa Dembele. Di awal musim 2016/17, saat Dembele kena hukuman larangan bermain, Pochettino berkata:

“Tanpa Mousa Dembele, kami tidak lagi ada. Tottenham tidak lagi ada” Ucapnya dikutip dari the athletic.

Puncak Karir di Inggris

Tapi tidak hanya itu saja, Pochettino juga pernah melabeli Dembele sebagai pemain yang jenius. Pochettino bahkan mensejajarkan nama Dembele dengan para legenda seperti Ronaldinho dan Maradona.

“Dia adalah pemain paling jenius yang pernah bekerja dengan saya. Dia tipe pemain yang yang saya tempatkan sejajar dengan dengan Ronaldinho, Maradona, dan Jay-Jay Okocha. Bagi saya, dia adalah salah satu bakat luar biasa dalam sejarah sepak bola”

Musim 2015/16 sampai 2017/18 mungkin jadi musim-musim terbaik Dembele bersama Spurs. Mereka secara konsisten berada di empat besar. Bahkan finis sebagai runner up di musim 2016/17.

Di musim-musim itu pula Dembele mulai menasbihkan diri sebagai gelandang terhebat di Premier League. Para pundit dan penggemar mulai terkejut melihat statistiknya. Sebab meskipun gol-golnya minim, Dembele memuncaki aspek statistik lainnya.

Dembele sukses melakukan 584 tackle dan 608 percobaan take on dengan persentase kesuksesan 82,95%. Akurasi pasingnya juga jadi salah satu yang tertinggi dengan persentase 90,7%.

Pochettino Era Selesai

Dembele juga punya beberapa penampilan bagus di awal 2018. Tapi itu juga jadi saat-saat terakhir kalinya ia menunjukkan level tertinggi di Premier League.

Performanya sudah terlihat menurun sejak musim 2017/18. Kekalahan lawan Manchester United di semifinal FA Cup bisa jadi buktinya. Selain itu, cedera yang ia pernah derita dulu perlahan mulai memakan semangatnya dari dalam.

Dembele mulai berpikir kalau ia sudah tidak pantas lagi jadi poros permainan Spurs. Pada awal musim 2018/19, usianya sudah lewat 30 tahun dan Dembele berpikir sepak bola Inggris dan Pochettino sudah di luar jangkauannya.

Pochettino sangat menyesali kerjasama yang singkat dengan pemain terpentingnya itu. Dembele sudah berumur 27 tahun di musim panas Pochettino datang. Pochettino pun hanya bisa membayangkan kalau dirinya bisa mengasuh Dembele sejak ia masih berusia 18 tahun.

“Saya sangat berharap bisa bekerja dengan sejak usianya 18 atau 19 tahun. Jika itu terjadi, saya yakin Dembele akan menjadi pemain terbaik di dunia.”

Ada perbincangan Dembele akan pindah ke China di musim panas 2018. Tapi itu tertunda. Dembele pun harus menjalani setengah musim 2018/19 dengan sering jadi cadangan. Aksi terakhirnya sebagai pemain Tottenham terjadi ketika ia tertatih-tatih saat lawan Wolverhampton pada 3 November 2018. Dua bulan kemudian, ia bergabung dengan Guangzhou City.

Spurs pun mendatangkan Tanguy Ndombele dari Lyon untuk menggantikan peran kunci itu. Tapi Spurs dengan cepat sadar kalau Dembele tidak bisa digantikan. Pochettino juga sadar kalau sistemnya tidak akan bekerja sebaik yang ia inginkan kalau tidak ada Dembele. Di pertengahan musim 2019/20, Pochettino pun hengkang.

Pemain Yang Terlupakan

Setelah era Pochettino berakhir, Spurs juga seolah kehilangan identitasnya. Spurs bongkar pasang pelatih dari tahun 2019 sampai 2023 sudah ada 7 pelatih berbeda. Sekarang hanya bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau Pochettino sudah punya Dembele dan menerapkan sistemnya saat Dembele masih berusia 20-an.

Sayangnya orang yang bisa buat Pochettino memainkan sepak bola yang inginkan malah hilang dengan cepat. Pada tahun 2023, Dembele pensiun di China tanpa dirayakan selayaknya pemain terbaik Premier League.

Mungkin karena catatan golnya yang sporadis dan sedikit, banyak yang melupakan kehebatan Dembele. Atau juga karena ia selalu bermain di tim yang miskin trofi, jadi namanya mudah hilang dari ingatan para penggemar.

Tapi kalau kalian menanyakan kepada siapapun pemain atau pelatih yang pernah bekerja sama dengan Dembele, jawaban mereka akan sama. Bahwa Dembele adalah pemain terbaik atau paling jenius yang pernah bermain bersama mereka.

Erik Dier pernah berkata: “Pernahkah kalian melihat Dembele bermain? Dia sangat spesial. Satu kakinya setara dengan dua kaki saya.” Sedangkan rekan senegaranya, Kevin de Bruyne pernah berkata: “Dia pemain terbaik di dunia. Anda tidak akan pernah merebut bola darinya”

Masih banyak kutipan dari para pemain dan pelatih lainnya soal bagaimana hebatnya Dembele. Bagi fans Spurs sendiri, Dembele punya tempat spesial di hati mereka. Ia akan selalu dikenal sebagai pemain dengan tenaga sekuat tank, dan kaki seindah ballerina.

Sumber referensi: Athletic, Atheltic 2, FootballFaithful, Sportskeeda, Guardian, Guardian 2, FootballLondon, Talk

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru