Paulinho Dianggap Mata Duitan Setelah Melakukan Transfer yang Aneh

spot_img

Eksodus besar-besaran ke Arab Saudi yang dilakukan pemain-pemain bintang telah menimbulkan berbagai stigma. Sebagian besar pengamat sepakbola termasuk legenda-legenda hidup menilai kalau pemain yang hijrah ke Liga Arab merupakan pemain yang mata duitan. Itu karena di sana mereka akan mendapat gaji dan fasilitas yang sangat mewah.

Namun, sebelum fenomena Liga Arab Saudi, dulu sudah pernah ada fenomena migrasi pemain besar-besaran dari Eropa ke Liga China. Situasinya hampir sama. Pemain bintang yang memutuskan untuk bermain di Liga China tentu bukan ingin belajar. Melainkan meraup uang sebanyak-banyaknya. Stigma buruk itu pun dirasakan oleh beberapa pemain tak terkecuali pemain asal Brazil, Paulinho.

Mantan pemain Tottenham Hotspur itu bahkan mendapatkan hinaan dan cacian yang lebih dari biasanya. Pemain yang identik dengan kumis dan jenggotnya itu sampai disebut tak bermoral setelah melakukan transfer ini. Lantas, bagaimana Paulinho menghadapi kritikan tersebut?

Kemunculan Bersama Spurs

Setelah membantu Timnas Brazil mengalahkan Spanyol untuk memenangkan Piala Konfederasi pada tahun 2013, pemain bernama lengkap José Paulo Bezerra Maciel Júnior itu menarik perhatian banyak klub top Eropa. Namun, Tottenham Hotspurs lah yang memenangkan perburuan tanda tangan pemain yang kala itu masih berusia 24 tahun itu dari Corinthians.

Musim panas 2013, kala itu, David Ornstein melaporkan bahwa Spurs harus merogoh kocek sekitar 19 juta euro atau setara Rp 318 miliar apabila disesuaikan dengan kurs sekarang untuk merekrut gelandang tersebut. Paulinho jadi salah satu proyek baru Spurs setelah klub asal London itu berhasil menjual Gareth Bale ke Madrid dengan harga yang sangat tinggi.

Jadi, Paulinho datang bersamaan dengan Christian Eriksen, Erik Lamela, dan striker asal Spanyol, Roberto Soldado. Spurs memandang sang pemain sebagai gelandang pekerja keras yang memiliki kualitas umpan sangat baik. Ia juga merupakan gelandang yang bisa bermain di berbagai posisi. Ia bisa memainkan peran sebagai gelandang box to box atau sebagai gelandang bertahan.

Bersama Christian Eriksen, Paulinho membangun koneksi yang baik di lini tengah. Keduanya saling melengkapi. Paulinho dengan cepat beradaptasi dan menunjukan kemampuannya di hadapan masyarakat Inggris. Ketimbang disamakan dengan pemain Brazil lain, Paulinho justru sering disamakan dengan Frank Lampard atau Steven Gerrard.

Meski berasal dari Brazil, gaya mainnya seperti gelandang-gelandang asal Inggris. Tidak banyak gocek, tapi mengandalkan etos kerja dan kreativitas. Sayangnya, karirnya tak lama di Spurs. Ia dianggap mengalami penurunan di musim kedua. Oleh karena itu ia akhirnya dilepas pada tahun 2015.

Pilihan yang Aneh

Meski begitu, modal pengalaman dan gaya bermain yang fleksibel, membuat Paulinho tak sepi peminat kala itu. Inter Milan dan Manchester City bahkan sempat menanyakan ketersediaannya kepada Spurs. Namun, tak ada angin tak ada hujan, Paulinho justru menerima pinangan dari klub China, Guangzhou Evergrande.

Keputusan itu cukup aneh, mengingat Paulinho masih 27 tahun, usia yang dianggap banyak kalangan sebagai usia yang masih sangat produktif bagi pesepakbola. Dan berkarir di Asia dipandang sebagai penurunan karir. Dilansir Sport Illustrated, pemain berkebangsaan Brazil itu punya alasannya sendiri. Menurutnya, bermain di Inggris begitu berat baginya. Ia merasa kesulitan untuk menembus skuad Mauricio Pochettino di musim keduanya bersama Spurs.

Bakat saja tak cukup bagi Pochettino. Itu membuatnya kekurangan menit bermain. Ia tak senang dengan situasi ini, yang Paulinho mau hanya satu, terus bermain sepakbola. Karena dengan begitu, ia bisa terus meningkatkan kualitasnya di lapangan. Ketika sudah tak mendapat kesempatan bermain yang cukup, ia memutuskan untuk hengkang dari White Hart Lane.

Paulinho bahkan merasa stress karena tidak masuk skuad. Ia terus berada di dalam apartemen karena tidak memiliki kepercayaan diri untuk keluar dan bertemu dengan orang-orang London. “Bagi pesepakbola, tidak bermain ibarat ikan yang tidak berada di air. Saya merasa seperti tercekik.” Ucap Paulinho.

Dihujat

Namun, kenapa ke China? Itu yang jadi masalah. Padahal Paulinho masih bisa memilih klub lain yang tampil di kompetisi Eropa. Meski Paulinho sudah mengklarifikasi kalau kepindahannya ke Guangzhou murni karena menit bermain yang dijanjikan. Stigma buruk yang datang tak bisa dihindari oleh eks pemain Corinthians itu.

Pada saat kepindahan Paulinho ke Guangzhou, Liga China memang sedang harum-harumnya. Bukan karena prestasi, melainkan karena uang yang telah diinvestasikan mereka terhadap seorang pemain. Chinese Super League yang ingin memajukan sepak bolanya berusaha mendatangkan banyak pemain dan pelatih top dari Eropa.Hal itu bertujuan untuk mengembangkan sepakbola. 

Nah, dalam misi itu, Guangzhou Evergrande jadi salah satu yang terdepan untuk mewujudkannya. Kala itu, Guangzhou bak sebuah lambang kekuatan sepakbola China di Asia. Mereka bahkan dijuluki sebagai Los Galacticos-nya Liga China. Itu karena prestasi dan pemain bintang yang menghiasi skuad.

Guangzhou sendiri mendapatkan Paulinho dari Spurs dengan modal 14 juta euro atau Rp 236 miliar. Klub China itu berani memberikan gaji sekitar 230 ribu pound atau setara Rp4,5 miliar per pekan kepada Paulinho. Itu hampir empat kali lipat dari gaji yang ia dapat sewaktu masih di Spurs.

Oleh karena itu, beberapa media hingga pengamat bola menyebutnya sebagai pemain mata duitan. Paulinho bahkan sempat mendapat julukan sebagai pemain yang tak bermoral karena mementingkan uang daripada karir sepakbolanya. Terlebih, ia pindah tanpa ada alasan yang jelas. Itu sempat membuatnya terkejut. Ia tak menyangka kalau kepindahannya menimbulkan respon yang begitu keras.

Sukses di China

Tapi, Paulinho tak cepat patah arang. Kehidupan masa lalunya telah memberikan kekuatan lebih untuk bertahan di tengah kesulitan. Ternyata kehidupan Paulinho di sepakbola tak semulus yang terlihat. Ia sempat ingin pensiun di usia 19 tahun karena tak kuat dengan perlakuan rasis yang ia terima.

Hal itu, dirasakan Paulinho saat masih bermain di Polandia. Kala itu, ia membela LKS Lods sebagai pemain pinjaman dari klub Brazil Go Audax. Jadi, Lods adalah klub Eropa pertama bagi Paulinho. Disana mentalnya terus ditempa. Perlakuan rasis sampai gaji yang tak dibayar sudah pernah dirasakannya sewaktu main di Polandia.

Jadi tak heran, kehidupan keras dan perjuangan berat yang diterima Paulinho membentuknya jadi pemain yang tak kenal lelah. Mendapat gaji besar di China pun seakan jadi balas dendamnya dulu yang pernah tak digaji. Selain itu, Paulinho juga kembali menemukan sepakbola di China. Ia kembali bermain dengan riang gembira di setiap laga.

Guangzhou Evergrande yang kala itu masih dilatih Luiz Felipe Scolari selalu menjadikan Paulinho sebagai pilihan utama. Ia jadi bagian penting saat Guangzhou berhasil menyabet beberapa gelar bergengsi termasuk satu kali gelar Liga Champions Asia pada tahun 2015.

Tiba-tiba di Barcelona

Setelah menemukan kembali sentuhan terbaiknya bersama Guangzhou, plot twist karir Paulinho ternyata belum juga usai. Disaat kebanyakan orang mulai mengira kalau masa Paulinho sudah habis, pada tahun 2017 Barcelona justru datang. Tim Catalan itu ingin merekrutnya dari Guangzhou. Mimpi apa dia semalam?

Barca bahkan berani menebus mahal Paulinho. Dilansir The Guardian, 40 juta euro jadi angka yang gila untuk pemain yang dianggap gagal bersama Spurs dan hanya bermain di Liga China. Ketika diwawancarai, Paulinho menyinggung para haters nya “Orang-orang berkata “Bah, karirnya sudah berakhir.” Sekarang saya di Barca. Itulah sepak bola”

Sumber: Independent, Planet Football, SI, BR, The Guardian

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru