Kemenangan Manchester United atas Everton dengan skor mantap membuat kepercayaan diri pasukan Ten Hag bangkit kembali. Musim ini Manchester United jarang-jarang bisa menang telak di markas lawan. Hasil ini juga sekaligus menaikkan mental mereka ketika main di kandang lawan.
Mentalitas itu sangat perlu karena di tengah pekan ini, United akan melawat ke Turki. Mereka bakal melakoni partai hidup-mati di Liga Champions musim ini menghadapi Galatasaray. Menang adalah harga yang tidak bisa ditawar-tawar. Imbang saja, keberlangsungan MU di Liga Champions terancam.
Namun, perjalanan mereka ke Turki akan menjadi perjalanan yang sangat sulit. Galatasaray adalah tim yang tidak bisa dikalahkan Manchester United ketika bermain di markasnya. Jadi, apa yang bisa membuat United percaya kalau di RAMS Park nanti akan memetik kemenangan?
Daftar Isi
Kenangan 1993/94
Kunjungan MU ke Turki nanti bakal memercikkan ingatan pahit pada gelaran Liga Champions musim 1993/94. Musim itu United yang masih diasuh Sir Alex Ferguson punya misi sulit. Ditahan imbang di Old Trafford 3-3, MU harus bisa mengalahkan Galatasaray ketika bertandang ke Istanbul.
Atau, jika pun harus imbang, Manchester United wajib menahan imbang lebih dari tiga gol. Sebab pada waktu itu, agresivitas gol tandang masih dipakai. Namun, Istanbul bukan kota yang ramah bagi Setan Merah. Sesampainya di salah satu kota terbesar di Turki itu, Fergie dan anak asuhnya mendapat salam yang jauh dari kata hangat.
Manchester United arrive to Galatasaray's 'Hell', 1993. pic.twitter.com/WqRxkPdL0t
— 90s Football (@90sfootball) January 1, 2018
Belum sampai ke tempat peristirahatan, rombongan Setan Merah disambut ultras Galatasaray yang membentangkan kertas bertuliskan “Welcome to The Hell” yang artinya “Selamat Datang di Neraka.” Sambutan yang tidak menyenangkan itu kemudian berlanjut. Para pemain United dibuat tidak tenang selama berada di Istanbul.
Mereka diancam dan diintimidasi. Bahkan saat memasuki Ali Sami Yen, markasnya Galatasaray. Para ultras Galatasaray yang terkenal beringas mengintimidasi dengan api, suar, teriakan, dan cacian dari atas tribun. Manchester United pun gagal memenangkan laga di Ali Sami Yen. Skor kacamata menutup pertandingan itu.
Galatasaray – Manchester United, 1993 pic.twitter.com/iyffDxUMJp
— Sopalı Pankart (@SopaliFanzin) January 18, 2016
MU pun gagal lanjut. Eric Cantona yang marah berseteru dengan para pemain Galatasaray. Keos tak terhindarkan. Saat masuk ke ruang ganti, para pemain United mendapat serangan dari pendukung Galatasaray. Steve Bruce, mantan pemain MU dilaporkan hampir cacat. Sejumlah 164 fans United ditangkap sebelum akhirnya dideportasi.
Bertemu Lagi di Musim 1994/95
Semusim setelah kejadian menyakitkan tersebut Manchester United kembali berkunjung ke Ali Sami Yen. Di Liga Champions musim 1994/95, anak asuh Sir Alex Ferguson berada satu grup dengan Galatasaray, IFK Goteborg, dan Barcelona. Kelak Liga Champions musim tersebut menjadi salah satu musim Liga Champions terburuk bagi Manchester United.
Melihat komposisi grupnya, MU awalnya percaya diri bisa lolos ke fase berikutnya. Apalagi kalau dihitung-hitung tim tersulit yang mesti dihadapi cuma ada Barcelona. Di laga pertama Setan Merah sukses menumbangkan Goteborg di Old Trafford.
#OnThisDay 14th September 1994:
— 𝘾𝙖𝙣𝙩𝙤𝙣𝙖 𝘾𝙤𝙡𝙡𝙖𝙧𝙨 – aka Larry 🇾🇪 (@Cantona_Collars) September 14, 2022
Manchester United 4-2 IFK Goteborg
Champions Leaguepic.twitter.com/w4oaJ0qURb
Walaupun tertinggal lebih dulu, tapi MU bisa berbalik menang dengan skor 4-2. Sebelum meladeni Galatasaray di Ali Sami Yen lagi, MU melanjutkan Liga Inggris dengan hasil minor, terutama di laga tandang.
Setan Merah menelan kekalahan pertamanya musim itu di markas Leeds United. Lalu secara mengejutkan MU juga kalah atas Ipswich Town di Portman Road. Dua kekalahan itu menjadi modal yang buruk untuk bersua Galatasaray. Alhasil, MU pun kembali ditahan imbang Avrupa Fatihi.
Hasil imbang tersebut malah jadi penanda gagalnya MU lolos dari fase grup. Di tiga laga setelahnya, alih-alih memperoleh poin maksimal, Mark Hughes dan kolega justru hanya bisa meraih satu poin. Mereka ditahan imbang Barcelona di kandang dan kalah 4-0 saat berkunjung ke Camp Nou. Lalu dihajar 3-1 oleh Goteborg di Swedia.
Pertemuan Terakhir di Markasnya Galatasaray
Setelah itu Manchester United dan Galatasaray tidak lagi bertemu. Tidak di Old Trafford, tidak pula di Ali Sami Yen. Keduanya baru bersua kembali 18 tahun kemudian di ajang Liga Champions. Dengan kondisi skuad yang berbeda dan harusnya juga dengan pelatih yang berbeda.
Selama 18 tahun itu, Galatasaray sudah dilatih 13 pelatih yang berbeda. Sedangkan United masih dengan Sir Alex Ferguson-nya. Keduanya tergabung dalam Grup H, bersama CFR Cluj dan Sporting Braga. Di Old Trafford, MU bisa memenangkan laga lewat gol semata wayang Michael Carrick.
Setelah kemenangan itu, Manchester United pun selalu memenangkan pertandingan. Dua kali menaklukkan Braga dan sekali mengalahkan CFR Cluj. Manchester United pun sudah memastikan diri lolos ke fase gugur sebelum menghadapi Galatasaray di Turki pada 20 November 2012.
Sir Alex lalu merotasi pemainnya. Ia menurunkan para pemain muda, termasuk Nick Powell saat melawat ke Turki. Meski dengan pemain rata-rata berusia 24 tahun yang turun saat itu, MU asuhan Sir Alex bermain dewasa, rapi, dan mengagumkan di tengah intimidasi dari publik Turk Telekom Arena. Saat itu markasnya Galatasaray berubah nama untuk kepentingan sponsor.
Permainan menjadi intens. MU yang tidak memainkan Wayne Rooney, Robin Van Persie, hingga Paul Scholes kesulitan menembus gawang Fernando Muslera. Di sisi lain, Galatasaray yang diperkuat Hamit Altintop tak bisa menembus gawang Anders Lindegaard.
Tim muda United percaya diri. Tapi di babak kedua, pasukan Fatih Terim akhirnya sukses menjebol gawang United. Setelah berkali-kali percobaan, Burak Yilmaz berhasil meloloskan bola ke gawang MU. Turk Telekom Arena pun bergemuruh. Itu menjadi satu-satunya gol di laga tersebut.
Tren Kedua Tim Musim 2023/24
Setelah 11 tahun, kedua tim akhirnya bertemu lagi. Di laga reuni, Manchester United harus kalah lebih dulu di markasnya sendiri. Kesempatannya muncul di laga kedua di Istanbul. Kedua tim juga sedang dalam tren yang tidak jauh berbeda.
Dalam lima laga terakhir di seluruh kompetisi, United hanya memenangkan tiga laga saja. Begitu pula Avrupa Fatihi. Di lima laga terakhir, pasukan Okan Buruk juga hanya memenangkan tiga laga. Tapi Galatasaray lebih produktif dengan mencetak sembilan gol dalam lima laga terakhir, dibandingkan dengan United yang mencetak satu gol lebih sedikit.
Namun, jika berkaca di Liga Champions musim ini, performa Manchester United tidak lebih baik dari Galatasaray. Setan Merah sudah kalah tiga lagi, sedangkan Avrupa Fatihi baru dua kali kalah. MU juga baru mengumpulkan tiga poin, sedangkan Galatasaray sudah empat. Walaupun jumlah gol MU lebih baik.
Jika ingin lolos Manchester United harus menang. Titik. Tidak ada syarat lain, karena menang pun, MU masih bergantung pada tim lainnya. Nah, untuk lebih lanjut pembahasan soal skema kelolosan United, antum bisa menonton video Starting Eleven sebelumnya.
Kekuatan dan Kelemahan
Karena berada di posisi juru kunci posisi United berada di ujung tanduk. Mereka juga diambang meraih kemenangan pertama di markas Galatasaray. Tapi mampukah? Itu persoalannya. Jika melihat kekuatannya, anak asuh Erik ten Hag bagus dalam serangan balik.
Beberapa kali Manchester United juga bisa menang tanpa unggul dalam penguasaan bola. Di laga nanti, Ten Hag mungkin saja akan mencoba Kobbie Mainno, melihat performa apiknya di laga kontra Everton kemarin.
Walaupun masih berusia 18 tahun, Mainoo seperti gelandang profesional. Di laga kontra Everton saja, ia melahirkan setidaknya dua dribel sukses dan enam umpan ke sepertiga pertahanan lawan. Akurasi umpannya bahkan mencapai 86%. Sayangnya, MU tidak akan diperkuat Marcus Rashford di laga nanti karena sang pemain dikartu merah di laga sebelumnya.
🚨🚨| UEFA have confirmed that Marcus Rashford will be banned for just one game in the Champions League after his red card vs Copenhagen. He will miss the Galatasaray match. pic.twitter.com/DD35BdwqnW
— centredevils. (@centredevils) November 24, 2023
Kehilangan Rashford bisa jadi kerugian bagi United. Apalagi ia baru baikan sama kekasihnya. Ditambah lagi, MU juga belum tentu akan diperkuat top skornya di Liga Champions, Rasmus Hojlund yang dikabarkan masih cedera.
Maka MU pun hanya berharap pemain serep seperti Martial dan gol-gol ajaib dari pemain lain seperti Bruno Fernandes maupun Scott McTominay. Menghadapi Galatasaray nanti, United mesti mengurangi kesalahan di lini belakang.
Di laga pertama melawan Galatasaray, pertahanan MU keropos. Biasanya kelemahan lini bertahan mereka muncul ketika memasuki babak kedua. Dan itu menjadi santapan lezat bagi pencetak gol Cimbom Aslan, seperti Wilfried Zaha ataupun Mauro Icardi. MU juga akan menghadapi lini bertahan Galatasaray yang solid.
Dengan Davinson Sanchez, Angelino, Tanguy Ndombele, sampai Kaan Ayhan, Galatasaray baru kebobolan delapan gol di Liga Turki dan sembilan gol di Liga Champions. Itu jumlah kebobolan yang jauh lebih sedikit dari Manchester United. Akhirul kalam, mampukah Manchester United buka puasa kemenangan atas Galatasaray di Turki?
Sumber: TheGuardian, UEFA, TheGuardian, BR, EUROSport, TheAthletic, Bolanet


