Standar Ganda Aturan FFP: Everton Kena, Manchester City Tidak

spot_img

Dijatuhkannya hukuman pengurangan poin bagi Everton menjadi berita yang teramat mengejutkan di tengah jeda internasional. Saat semua penikmat sepak bola lepas fokusnya, Everton harus mengalami kenyataan pahit dihukum pengurangan 10 poin. 

The Toffees pun sampai naskah untuk video ini dibuat harus terjungkal ke zona degradasi. Sudahlah susah keluar dari zona degradasi, eh karena dikurangi poinnya Everton harus kembali berjibaku dari sana. Hukuman ini melahirkan protes besar dari para pendukung klub asal Merseyside itu.

Mereka menuding otoritas sepak bola, entah itu FA, UEFA, atau yang lainnya tebang pilih. Everton yang notabene tim kecil dihukum karena melanggar aturan Financial Fair Play, sedangkan tim raksasa seperti Chelsea dan Manchester City bisa melenggang begitu saja.

Kasus yang Menimpa Everton

Jadi, apa yang membuat Everton mendapat hukuman begitu berat? Klub yang tengah dalam proses pengambilalihan oleh 777 Partners ini dituduh telah melakukan pelanggaran pada musim 2021/22. Kasusnya naik ke komisi independen pada Maret 2023 lalu untuk diselidiki.

Dalam peraturan Premier League, setiap klub hanya boleh mengalami kerugian hingga 105 juta poundsterling (Rp2 triliun) selama siklus tiga tahunan. Nah, menurut laporan The Athletic, secara kumulatif Everton mengalami kerugian 124,5 juta poundsterling (Rp2,4 triliun) selama siklus tiga tahunan yang berakhir pada 2022. Hal itu melebihi batas aturan FFP sebanyak 19,5 juta poundsterling (Rp380,2 miliar).

Everton tidak menampik pelanggaran yang mereka lakukan. The Toffees mengaku salah, tapi jumlah selisihnya lebih kecil 9,7 juta dari 19,5 juta poundsterling yang dituduhkan. Namun, Everton menyatakan kerugian itu muncul karena situasi yang mendesak.

Sederhananya, ada faktor yang melatarbelakangi hal itu. Seperti proyek stadion yang mahal, dampak Covid-19, kontrak pemain kunci yang tak terduga, serta kerja sama dengan Premier League itu sendiri. Everton juga menilai mereka terkena dampak finansial akibat invasi Rusia ke Ukraina.

Hal itu yang membuat mereka akhirnya menangguhkan kerjasama dengan para pengusaha yang terkait Rusia, seperti Alisher Usmanov. Pengeluaran Everton makin besar karena proyek stadion mereka. Lantaran tidak bisa meminjam dana dari luar negeri, mereka hanya mengandalkan pinjaman dari pemegang saham mayoritas, Farhad Moshiri.

Dakwaan Everton

Farhad menggelontorkan sekitar 760 juta poundsterling (Rp14,8 triliun) sebagai bentuk pinjaman untuk proyek stadion, melalui anak perusahaan Everton Stadium Development Ltd. Uang sebanyak itu tidak berasal dari pendapatan klub, sehingga pengeluaran Everton tampak membengkak.

Namun, komisi independen yang menyelidiki kasus ini mengklaim Everton kurang berterus terang terhadap pengajuan pinjaman tersebut. Hal itu disinyalir menjadi faktor pemberat kesalahan The Toffees. Di sisi lain, Premier League sudah mengambil keputusan bahwa Everton telah melakukan pelanggaran FFP.

Menurut Premier League, Everton terlalu berani mengambil resiko melampaui ambang batas 105 juta poundsterling. Mereka pun harus menanggung konsekuensinya. Selain itu, kegagalan menjual Richarlison dengan harga 60 juta poundsterling (Rp1,1 triliun) juga menjadi faktor lainnya.

Everton dianggap berbuat curang dengan mengakali pengeluaran lewat pinjaman lunak tanpa bunga dari Farhad Moshiri. Di persidangan pihak Liga Primer memenangkan hampir keseluruhan tuduhan mereka pada Everton.

Everton pun diberi hukuman pengurangan 10 poin. Ini merupakan hukuman pengurangan poin terbanyak di Premier League. Meski sudah dihukum, Everton masih berhak untuk mengajukan banding. Tapi kemenangan banding sepertinya sulit bagi tim seperti Everton.

Beda dengan City dan Chelsea

Kasus yang menimpa Everton ini mau tidak mau menyeret Manchester City dan Chelsea. Konon para petinggi dua klub itu waswas setelah hukuman yang menimpa Everton akibat pelanggaran FFP. Sebab City sendiri didakwa 115 dugaan pelanggaran sejak 2009-2018. Sementara itu, Chelsea masih dalam penyelidikan.

Tim yang kini diasuh Mauricio Pochettino itu tengah diinvestigasi akibat dugaan pelanggaran aturan Premier League saat era kepemilikan Roman Abramovich. Pelanggaran itu dilaporkan oleh pemilik Chelsea sendiri, Todd Boehly. Chelsea maupun Manchester City konon terancam pengurangan 30 poin, degradasi, sampai pencabutan gelar.

Penggunaan kata “konon” di sini bukan karena tidak ada informasinya. Tapi memang saat Everton sudah dihukum, tapi Chelsea maupun Manchester City sama-sama belum dihukum. Soal Chelsea bisa dipahami karena mereka baru diselidiki sekitar Agustus 2023 lalu. Dalam kasus Everton saja butuh delapan bulan. Nah, yang sebenarnya beruntung justru Manchester City.

Manchester City Selalu Lolos dari Hukuman

Entah beruntung karena uang atau selalu beruntung karena dinaungi doa dari Abrahamic Family House, tempat ibadah tiga agama di Abu Dhabi. Yang jelas City telah berkali-kali terhindar dari hukuman. Ingat awal tahun ini, City juga pernah didakwa melanggar FFP?

Jika tidak ingat, silakan menonton lagi video Starting Eleven Story sebelumnya. Video tersebut tayang pada Februari 2023 dan sampai sekarang, City masih belum mendapat hukuman apa pun. Baru-baru ini, setelah mencuatnya kasus Everton, tudingan bahwa City didakwa 115 pelanggaran pun muncul.

Dugaan itu muncul dalam rilis pernyataan yang dikeluarkan oleh Everton. “Klub juga akan memantau keputusan yang dibuat dalam kasus lain,” demikian bunyi rilisnya dikutip Diario AS. Everton ingin memastikan Premier League tidak sekadar mengambil keuntungan dari kasus mereka.

Manchester City bukan kali itu saja dituding melanggar aturan. Mengutip tulisan Michael Da Silva di Deutsche Welle, City hampir mendapat hukuman karena melanggar aturan FFP. Pada 2020 City dituding menyamarkan pendanaan dari perusahaan yang berbasis di Abu Dhabi.

City pun diduga melanggar Pasal 56 peraturan Club Licensing dan Financial Fair Play (FFP) UEFA. Secara teori, City bisa dihukum berupa larangan bermain dua musim di Liga Champions dan denda 30 juta euro (Rp510 miliar) oleh UEFA. Tapi City lolos dari hukuman itu. Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) menyatakan tidak bisa menyelidiki dugaan ketidakwajaran tersebut.

City Tidak Akan Pernah Kena?

Pernyataan menarik datang dari legenda Liverpool, John Aldridge. Dikutip Mirror, Aldridge mengatakan bahwa tim-tim seperti Manchester City dan Chelsea akan sulit dihukum seperti Everton. Menurutnya, itu karena City ataupun Chelsea punya kekuatan finansial untuk mendinginkan Premier League.

Premier League sengaja mengincar Everton, kata Aldridge, karena memiliki kekuatan lebih lemah ketimbang dua tim tadi. “Everton tidak bisa apa-apa, akan lebih mudah menyerang tim seperti itu,” kata Aldridge.

Jika seperti itu yang terjadi, aturan FFP memang bermasalah. Sebagaimana tulisan Michael da Silva yang menyebut bahwa FFP sejak diperkenalkan tahun 2011 compang-camping. Aturan yang dibuat untuk menandai era baru untuk melindungi klub dari utang justru malah tidak berguna.

UEFA juga berkali-kali kalah banding dengan tim yang diduga melanggar FFP. Selain Manchester City, UEFA juga pernah kalah banding dengan PSG dan AC Milan. Tim-tim besar bisa lolos dari hukuman. Tapi tim-tim kecil tergencet dengan adanya aturan ini. Selain Everton, Leicester City juga pernah jadi korbannya.

Mengutip BBC, pada tahun 2018, The Foxes mesti membayar 3,1 juta poundsterling (Rp60,4 miliar) akibat pelanggaran aturan FFP saat menjuarai Championship musim 2013/14. Lewat laporan yang sama, Bournemouth juga pernah didenda 7,6 juta poundsterling (Rp148,2 miliar) karena melanggar FFP saat promosi pada musim 2014/15.

Kasus Everton Dijadikan Tameng?

Kasus yang menimpa Everton ini juga disinyalir akan dijadikan tameng untuk menghadapi Manchester City. Legenda Liverpool, Stan Collymore dikutip CaughtOffside mengatakan, hukuman terhadap Everton memang keras tapi perlu. Wabil khusus untuk melawan Manchester City yang didakwa 115 pelanggaran.

Dalam prosesnya nanti, Collymore mengatakan, City sudah pasti akan dibela mati-matian oleh pengacara mereka menyusul 115 sangkaan. Maka, Premier League perlu menggunakan Everton sebagai contoh untuk melawan pembelaan yang ditujukan untuk Manchester City.

Apa yang menimpa Everton, menurut Collymore juga bisa dijadikan pedoman batasan pengurangan poin. “Kalau Premier League bersikap keras, maka perlu keras pada semua tim yang melanggar aturan,” tegas mantan pemain Nottingham Forest itu.

Sumber: Mirror, TheAthletic, AS, Sky, DW, DailyMail, CaughtOffside, BBC, RRI

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru