Striker anyar Chelsea, Nicholas Jackson akhir-akhir ini kerap disamakan dengan Didier Drogba. Selain kesamaan nomor punggung, Jackson dianggap memiliki gaya bermain yang mirip dengan legenda klub asal London tersebut. Tapi, asal kalian tahu saja, untuk menyamai Didier Drogba bukanlah perkara gampang.
Dirinya sempat tak diinginkan oleh klub sebelum akhirnya menjadi legenda yang jasanya tak akan pernah terlupakan. Selama berseragam biru-biru khas Chelsea, pemain asal Pantai Gading itu memenangkan banyak gelar bergengsi termasuk Liga Champions pertama bagi klub. Lantas, bagaimana perjuangan Drogba membungkam segala kritik untuk menjadi salah satu striker terbaik di Eropa?
Daftar Isi
Mourinho Jadi Pintu Kedatangan Drogba
Semua pencapaian dan kisah yang dituliskan Didier Drogba tak akan pernah ada jika Jose Mourinho tak menginginkannya untuk bergabung dengan Chelsea. Mourinho sendiri baru datang di Chelsea pada tahun 2004. Munculnya Mourinho sebagai kandidat pelatih baru Chelsea karena pemilik klub saat itu, Roman Abramovich ingin klubnya berjaya di Eropa.
Kala itu, banyak pelatih-pelatih kenamaan yang berpengalaman di Liga Champions. Namun, Jose Mourinho muncul sebagai rising star di dunia kepelatihan. Di usianya yang masih muda, ia telah menaklukan Eropa. Gelar Europa League musim 2002/03 dan Liga Champions musim 2003/04 jadi alasan utama Roman memilih Mourinho.
Belanja Besar-besaran
Di Chelsea, Mourinho dianugerahi dana belanja pemain yang tak terukur dari Roman Abramovich. Dengan nalurinya dalam membaca potensi pemain, Mourinho memulai operasinya dalam memburu pemain di musim panas 2004. Selain membawa Ricardo Carvalho dan Paul Ferreira dari Porto, Mou mendatangkan beberapa nama ikonik lain.
Meski sudah menghabiskan lebih dari 70 juta pound (Rp1,3 triliun) untuk mendatangkan Arjen Robben dari PSV Eindhoven dan Petr Cech dari Rennes. Pelatih yang kini berusia 60 tahun itu masih diminta untuk mencari penyerang baru guna menggantikan Adrian Mutu yang gagal total dan Hernan Crespo yang memutuskan kembali ke Italia.
Saat Jose Mourinho ditanya oleh Roman siapa yang dia inginkan untuk mengisi lini serang Chelsea, jawabannya cukup mengejutkan. Dari sederet nama-nama beken yang tersedia, Mourinho justru menyebutkan nama Didier Drogba. Striker yang saat itu masih bermain di Marseille.
Kenapa Drogba?
Pada saat itu, Roman Abramovich padahal sudah menyiapkan dana khusus hanya untuk mendatangkan striker, tapi kenapa Mourinho begitu menginginkan Drogba? Pemain asal Pantai Gading itu memulai karir Eropanya bersama Le Mans di divisi dua Liga Prancis. Namun, ia baru mulai konsisten mencetak gol saat bergabung Guingamp musim 2002/03.
Di musim debutnya bersama Guingamp, ia mencatatkan 21 gol di semua kompetisi. Itu jadi pencapaian yang luar biasa mengingat Drogba merupakan pemain baru di kasta tertinggi Liga Prancis. Berkat performanya itu, ia akhirnya langsung diboyong oleh raksasa Ligue 1, Marseille setahun berselang.
Nah, ketika bermain untuk Marseille, Drogba mulai dipantau oleh beberapa pelatih top Eropa, termasuk Mourinho. Manajer yang kini melatih AS Roma itu melihat Drogba sebagai pemain yang istimewa. Ia tak hanya piawai dalam mengubah peluang di depan gawang menjadi sebuah gol. Drogba lebih dari sekadar itu. Ia adalah penyerang serba bisa.
Instring Mourinho diperkuat dengan capaian Drogba pada musim 2003/04. Bermain di 55 pertandingan untuk Marseille, Drogba berhasil mencatatkan 32 gol. Tak cuma itu, ia juga piawai menciptakan peluang bagi rekan-rekannya. Itu dibuktikan dengan tujuh assist yang dicetak di Liga Prancis.
Dengan torehan gol tersebut, Drogba dianugerahi penghargaan pemain terbaik Liga Prancis musim 2003/04. Menurut Mourinho, dengan sedikit polesan, Drogba bisa jadi pemain yang memiliki pengaruh besar seperti Thierry Henry di Arsenal. Meski secara statistik Drogba mengesankan, namanya masih asing di telinga Abramovich.
Abramovich Merendahkan Drogba
Dalam salah satu wawancaranya, Mourinho mengatakan kalau Abramovich sebetulnya tak mengenal Didier Drogba. Pebisnis asal Rusia itu memang menggilai sepakbola, tapi tak pernah terbesit sedikitpun nama Drogba dalam pikirannya. Mengetahui hal itu, Mourinho langsung berusaha meyakinkan bosnya itu.
Ketika Abramovich kembali bertanya “Siapa Drogba? Di liga mana ia bermain?” Mourinho langsung memotong pembicaraan itu dengan kalimat ikonik. “Mr. Abramovich, jangan banyak tanya. Bayar saja. Bayar dan tak usah banyak bicara.” Melihat kepercayaan diri dari Mourinho, Abramovich pun langsung menebus Drogba dari Marseille.
Setelah negosiasi panjang, 38 juta euro atau sekitar Rp637 miliar pun akhirnya dikeluarkan untuk mengamankan tanda tangan Drogba. Pilihan Mourinho pun tepat. Didier Drogba langsung menjelma jadi striker Chelsea yang cemerlang di Inggris. Pada musim debutnya, pemain asal Pantai Gading itu telah mencetak 16 gol dan tujuh gol di semua kompetisi selama musim 2004/05.
Drogba juga turut berkontribusi dalam meraih gelar Liga Inggris yang dirindukan oleh jutaan fans Chelsea pada musim 2004/05. Itu jadi gelar Liga Inggris pertama Chelsea dalam 50 tahun terakhir. Kehadiran Drogba juga menandai kebangkitan Chelsea yang sebelumnya tak berstatus penantang gelar.
Shevchenko Datang
Dari 16 gol yang dicetak Drogba musim 2004/05, sepuluh diantaranya dicetak di Liga Inggris. Meski sudah mencetak dua digit gol, Roman Abramovich belum merasa cukup dengan performa sang pemain. Di matanya, Drogba hanya pemain Afrika yang kebetulan tampil bagus bersama Chelsea. Roman ingin mencari penyerang yang memberi jaminan jangka panjang.
Roman yang enggan berpangku tangan pada Drogba akhirnya berusaha membujuk Mourinho untuk mendatangkan beberapa striker lagi. Mourinho yang lelah untuk kembali meyakinkan kalau Drogba saja sudah cukup akhirnya memberikan daftar pemain yang diinginkan.
Dari beberapa nama tersebut, Samuel Eto’o dari Barcelona adalah yang paling diinginkan oleh Mourinho. The Special One yakin Abramovich punya uang untuk mendatangkan siapapun yang ia inginkan. Sayangnya, lagi-lagi Abramovich tak setuju dengan pemain pilihannya. Bos asal Rusia itu justru menginginkan Andriy Shevchenko yang kala itu bersinar bersama AC Milan.
Timbullah perdebatan. Mourinho merasa jika pada akhirnya yang didatangkan bukan pemain yang diinginkan, mending pakai Drogba saja. Tapi Abramovich ngotot dan akhirnya Chelsea menebus pemain asal Ukraina itu pada tahun 2006.
Drogba Meledak
Sebetulnya ini bukan pilihan yang buruk. Shevchenko datang dengan torehan 173 gol dan trofi Ballon d’Or tahun 2004 bersama Milan. Namun mau sebagus apa pun dia, Mourinho tetap menjadikan Drogba pilihan utama. Performa Drogba di musim 2006/07 kian menenggelamkan Shevchenko.
Setelah diremehkan kalau performanya tak akan konsisten, Drogba justru kian moncer di musim 2006/07. Roman Abramovich dipaksa harus menarik kata-katanya ketika melihat sendiri performa Drogba. Ia mencetak 33 gol di musim tersebut. Itu dua kali lipat dari jumlah golnya musim 2005/06.
Roman pun akhirnya mengakui kehebatan Drogba dengan memujinya ketika mencetak hattrick ke gawang Watford. “Dia berada di puncak permainannya dan saya tidak melihat orang lain bermain dan mencetak gol seperti dia di Eropa saat ini,” kata Roman.
Praktis, setelah itu Drogba jadi pahlawan bagi The Blues. Ia membantu Chelsea meraih belasan trofi bergengsi termasuk Liga Champions pertama dalam sejarah klub pada musim 2011/12. Lantas bagaimana dengan striker pilihan Roman? Shevchenko dianggap gagal dan dipulangkan ke Milan musim berikutnya.
Sumber: Planet Football, BR, Sky Sport, Express


