Bawa OGC Nice Unbeaten di Ligue 1, Siapa Francesco Farioli?

spot_img

OGC Nice sudah 2 kali menjadi buah bibir musim ini. Pertama, karena kasus Alexis Beka Beka yang mencoba bunuh diri pada September lalu. Kedua, karena Youcef Atal yang dihukum larangan bermain 7 pertandingan akibat mengunggah video dukungan untuk Palestina.

Dan kini, setelah 2 berita kurang enak tersebut, Nice kembali menjadi perbincangan setelah menjadi satu-satunya kontestan Ligue 1 musim ini yang masih unbeaten hingga pekan ke-10. Sebuah catatan yang menjadikan klub berjuluk “Les Aiglons” kini menjadi pemuncak klasemen sementara Ligue 1 Prancis.

Jika ada yang harus bertanggung jawab sekaligus mendapat pujian paling besar, maka juru taktik OGC Nice, Francesco Farioli adalah sosok yang paling pantas. Sebab, dialah biang kerok sesungguhnya.

Nama Farioli jelas asing bagi kita semua. Maklum, 10 tahun lalu, ia hanyalah lulusan filsafat dari University of Florence. Usianya pun baru 34 tahun. Namun, kini Farioli jadi salah satu pelatih yang paling dipantau dan bahkan disandingkan dengan Roberto De Zerbi.

Lantas, siapa Francesco Farioli?

Profil Francesco Farioli: Lulusan Filsafat dan Murid De Zerbi

Mirip seperti namanya yang masih asing, perjalanan karier sepak bola Farioli juga tak biasa. Pria kelahiran Barga, Tuscany, 10 April 1989 itu awalnya juga seorang pemain dan berposisi sebagai penjaga gawang.

Namun, Farioli muda sepertinya memahami prinsip dikotomi kendali dalam stoikisme. “Ada hal-hal yang di bawah kendali, dan ada hal-hal yang tidak di bawah kendali”.

Pada tahun 2008, Farioli memutuskan mengakhiri karier kompetitif sepak bolanya yang hanya mentok di level amatir. Ia kemudian memilih kuliah dan mengambil jurusan filsafat di University of Florence. Beberapa sumber mengatakan kalau Farioli juga berkualih di jurusan sports science.

Yang jelas, Farioli memang tak bisa jauh-jauh dari sepak bola. Tesisnya ketika lulus di tahun 2010 berjudul: “Filosofi permainan: estetika sepak bola dan peran penjaga gawang”.

Farioli memulai karier kepelatihannya sebagai pelatih penjaga gawang tim amatir, Margine Coperta dari 2009 hingga 2011. Setelah itu menjadi asisten pelatih Fortis Juventus hingga 2014 dan kembali menjadi pelatih kiper untuk Lucchese selama musim 2014/2015.

Pada musim panas 2015, Farioli mengirim CV-nya ke Aspire Academy di Qatar. Ini terjadi berkat rekomendasi Jarkko Tuomisto, salah satu kawan sesama pelatih kiper yang saat itu sudah lebih dulu bekerja di Aspire Academy. Farioli pun diterima dan bergabung sebagai staf teknis untuk tim Qatar U-17.

Singkat cerita, pada musim panas 2017, Farioli yang tengah berlibur mendapat sebuah telepon dari sosok yang ia idolai, Roberto De Zerbi. Siapa sangka, sebuah analisis taktis yang pernah Farioli publish di internet mengantarkannya menjadi murid De Zerbi.

“Suatu hari, saya menulis sebuah artikel tentang Foggia di internet di sebuah situs bernama Wyscout. Tak lama kemudian, saya menerima pesan ucapan selamat dari seorang anggota tim teknis De Zerbi.”

“Kami mulai bekerja sama setelah satu setengah tahun… kami fokus pada sepak bola selama 24 jam sehari. Terkadang kami masih bekerja di depan komputer pada pukul 2 pagi. Itu adalah saat-saat yang menyenangkan.”

Farioli kemudian bergabung dengan staf pelatih Roberto De Zerbi di Benevento. Sebuah ikatan kuat antara keduanya terbentuk di sini. Terbukti, saat De Zerbi melatih Sassuolo, Farioli kembali menjadi bagian dari staf pelatih. Tentu saja, Farioli ditugaskan De Zerbi sebagai pelatih kiper.

Total, tiga setengah tahun Farioli habiskan untuk berguru pada De Zerbi. Hingga akhirnya, pada musim panas 2020, Farioli menerima tawaran klub Liga Turki, Alanyaspor untuk menjadi asisten pelatih.

Saat itu, nama Francesco Farioli sudah mulai mendapat pengakuan. Pada Februari 2021, ia pernah diundang Barcelona untuk menjadi pemateri dalam Barca Coach Developement Program, sebuah program pendidikan yang ditujukan kepada seluruh tenaga pendidik dan staf pelatih FC Barcelona.

Di depan 150 profesional yang bekerja untuk tim pria dan wanita Barcelona, Barca B, La Masia, hingga Departemen Pencari Bakat dan Departemen Analisis Barca, Farioli menyampaikan materi dengan judul “A matter of taste: Football as will and representation“.

Diundang oleh Barcelona dan jadi pemateri dalam sebuah video konferensi yang diikuti oleh para tenaga pendidik dan staf pelatih yang bekerja di Barcelona adalah bukti kalau Francesco Farioli punya reputasi yang cemerlang. CV-nya sebagai pelatih bisa dibilang makin laku.

Terbukti, pada Maret 2021, Farioli ditunjuk sebagai pelatih kepala Fatih Karagümrük. Saat itu, dengan usia 31 tahun, Farioli yang merupakan pelatih termuda di Eropa sukses mengantar klub promosi tersebut finish di peringkat 8.

Farioli kemudian kembali ke Alanyaspor pada Desember 2021 sebagai pelatih kepala dan membawa klub tersebut finish di peringkat 5. Farioli lalu meninggalkan jabatnnya pada Februari 2023 sebelum akhirnya ditunjuk sebagai pelatih baru OGC Nice.

Farioli Bawa Nice Unbeaten di 10 Laga Pertama Ligue 1 Musim Ini

Sejak dibeli Sir Jim Ratcliffe pada 2019 silam, OGC Nice, juara 4 kali Liga Prancis dan juara 3 kali Coupe de France, bertransformasi menjadi tim yang ambisius. INEOS mulai berinvestasi pada pemain dan khususnya pada pelatih dengan tujuan untuk mencipatakan tim yang indah ditonton sekaligus menjadi pemenang. Maka muncullah nama Francesco Farioli.

Akan tetapi, penunjukan Farioli sebagai pelatih baru Nice di musim panas kemarin sebenarnya merupakan keputusan tidak populer. Nama Farioli diajukan oleh sporting director dan CEO Nice. Sementara dewan direksi dikabarkan lebih mempertimbangkan Karel Geraerts dan Marcelo Gallardo. Dibanding Geraerts, Gallardo, atau Didier Digard dan Lucien Favre yang dipecat musim lalu, Francesco Farioli jelas kalah pamor.

Apalagi, usia Farioli masih 34 tahun, lebih muda 6 tahun dari kapten Nice, Dante. Muda, tidak dikenal, dan tidak punya pengalaman di Ligue 1 Prancis jadi pembenaran untuk meremehkan Farioli.

Saat itu, Farioli juga belum menyelesaikan kursus lisensi UEFA Pro yang kelak baru selesai pada September 2023. Masih ingat dengan kisah Will Still bersama Reims musim lalu? Sama seperti Reims yang harus membayar denda selama Will Still menyelesaikan kursusnya, Nice juga harus membayar 25.000 euro di tiap laga yang dipimpin Farioli hingga yang bersangkutan punya lisensi UEFA Pro.

Namun, dengan risiko yang ada, dewan direksi akhirnya berhasil diyakinkan oleh gagasan-gagasan Francesco Farioli dan memberinya kontrak 2 tahun. Singkat cerita, perjudian besar yang dilakukan Les Aiglons akhirnya kini berbuah manis.

Setelah memulai liga dengan lambat dan dikritik karena 3 kali beruntun meraih hasil imbang di 3 laga pertama, Nice berhasil meraih 6 kemenangan dan 1 kali imbang di 7 laga terakhirnya. Tak tersentuh kekalahan selama 10 pertandingan dan mengoleksi 22 poin, Nice kini tengah duduk di puncak klasemen Ligue 1 musim ini.

Taktik Farioli: Mirip Brighton dan De Zerbi

Sesuai dengan apa yang diharapkan, Farioli berhasil membuat Nice menjadi tim yang kuat sekaligus menampilkan sepak bola indah. Tak sedikit yang bilang kalau gaya main Nice mirip dengan Brighton. Maklum, Francesco Farioli memang murid Roberto De Zerbi.

Ciri khas taktik De Zerbi adalah sepak bola menyerang dengan penguasaan bola dan build-up serangan dari bawah. Kiper ikut berperan dalam fase ini. Bola lalu akan terus dialirkan dengan umpan-umpan pendek. Melalui umpan pendek satu dua, para defender terlebih dulu akan berusaha menarik lawan untuk masuk dan kemudian melancarkan serangan ke dalam ruang kosong yang ditinggalkan.

Taktik tersebut juga jadi gambaran sekilas tentang bagaimana Nice bermain di bawah asuhan Francesco Farioli. Namun tentu saja, implementasinya di atas lapangan tidak sama persis dengan Brighton dan De Zerbi.

Nice tidak seagresif Brighton. Sejauh ini, Les Aiglons baru mengemas 11 gol atau 1,1 gol perlaga. Padahal, angka harapan gol mereka 14,6 dan jumlah tembakan on target perlaga mencapai 4,8. Artinya, Nice harusnya bisa mencetak lebih banyak gol. Inilah yang menjadi bahan evaluasi bagi Farioli.

Namun sebaliknya, gaya main Nice yang sabar membuat mereka menjadi tim dengan pertahanan terbaik. Farioli pernah bilang kalau ia bangga dengan anak asuhnya yang tampil bak pejuang, baik dengan bola atau tanpa bola. Hasilnya, hingga pekan ke-10, gawang Marcin Bulka baru bobol 4 kali dan sudah 7 kali mencatat clean sheets.

Rata-rata kebobolan Nice sejauh ini hanya 0,4 gol perlaga. OptaJean mencatat, kalau Nice adalah tim pertama yang tidak pernah kebobolan lebih dulu dalam 10 pertandingan pertama Ligue 1 sejak Bordeaux pada musim 1984/85.

Farioli tak hanya memakai ilmu yang didapat dari De Zerbi saja, tetapi juga menerapkan ilmu filsafat dalam kepelatihannya. Yang paling terlihat adalah bagaimana ia membuat Nice menjadi tim yang penuh semangat dan punya daya juang tinggi. Setiap kali Nice meraih hasil positif, Farioli juga selalu memuji habis anak asuhnya.

Kombinasi inilah yang membuat Nice tampil kompak dan solid. Yang menarik lagi, Farioli melakukannya setelah Nice menjual banyak pemain, seperti Ross Barkley, Kasper Dolberg, Aaron Ramsey, Andy Delort, Calvin Stengs, hingga Kasper Schmeichel. Sebagai gantinya, Nice cuma membeli Jeremie Boga, Salvatore Sirigu, serta hanya meminjam Romain Perraud dan Morgan Sanson.

Namun dengan skuad apa adanya, Francesco Farioli berhasil membawa Nice jadi satu-satunya tim yang belum terkalahkan di Ligue 1 musim ini. Dalam perjalanannya, Farioli bahkan sudah mengantar Nice yang musim lalu hanya finish di peringkat 9, menang atas PSG, AS Monaco, dan Marseille.

Hingga pekan ke-10, Nice telah mengumpulkan 22 poin. Ini adalah total poin tertinggi kedua Nice dalam 45 tahun terakhir, hanya kalah dari hasil 10 laga pertama di musim 2016/2017. Saat itu, Nice finish di peringkat 3.

Lalu, apakah Farioli mampu untuk mengulang pencapaian tersebut atau justru malah mampu melampauinya?


Referensi: Fanpage, One Football, Fotmob, Ligue 1, AP News, Canale Sassuolo.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru