Dennis Wise: Legenda Chelsea di Balik Merekahnya Pemain Muda Timnas Indonesia

spot_img

Ernando Ari Sutaryadi, Bagus Kahfi, Fajar Fathurrahman, sampai Komang Teguh Trisnanda terhubung dengan satu nama: Dennis Wise. Dennis Wise memang tidak asing di telinga penggemar sepak bola. Ia sosok penting di balik merekahnya para pemain muda Timnas Indonesia.

Benar. Timnas Indonesia hari ini penuh dengan para pemain muda, terutama yang digembleng oleh Dennis Wise di Eropa. Lalu, siapa sih sosok Dennis Wise? Apa perannya dan sejauh mana ia mengembangkan para talenta hebat Indonesia di Eropa?

Program Garuda Select

Nama Dennis Wise mengemuka saat PSSI meluncurkan program Garuda Select pada tahun 2019. Kendati muncul pada tahun pemilihan presiden, bibit program ini sudah ada sejak sebelum-sebelumnya. PSSI sebelumnya memiliki program yang serupa, seperti Primavera di Italia dan SAD di Uruguay.

Baik Primavera, SAD, maupun Garuda Select memiliki satu tujuan yang sama, yaitu memberikan pelatihan sepak bola terhadap bakat-bakat muda di Indonesia, tapi latihannya tidak di sini, melainkan di luar negeri. Khusus Garuda Select dilakukan di Eropa, salah satunya di Inggris.

Garuda Select bisa dibilang pengembangan dari kedua program sebelumnya. Dalam praktiknya Garuda Select lebih sistematis, mulai dari proses seleksi hingga ke pelatihannya. Banyaknya bakat muda hebat di Indonesia, tapi tak memiliki kemampuan atau pemahaman soal teknik melatarbelakangi munculnya program ini.

Maka dari itu, tak heran dalam proses latihannya, pemahaman soal teknik lebih ditekankan. Nah, legenda sepak bola Inggris dan Premier League, Dennis Wise ditunjuk sebagai direktur sepak bola di Garuda Select ditemani oleh Des Walker sebagai pelatih kepala.

Kisah Crazy Gang

Tidak ada alasan khusus terkait penunjukkan Dennis Wise sebagai direktur sepak bola Garuda Select. Tapi melihat rekam jejaknya, Wise lebih dari cukup untuk mengambil peran itu. Ia berpengalaman sebagai pemain, pelatih, dan bahkan tim eksekutif. Saat menjadi pemain, Wise salah satu pilar Chelsea yang hebat di masanya.

Sebelum ke Chelsea, Wise menata kariernya bersama AFC Wimbledon. Wise bergabung ke Wimbledon tahun 1985. Lulusan akademi Southampton ini masuk skuad Wimbledon dan membawanya promosi dari divisi dua ke divisi satu, serta menjuarai Piala FA tahun 1988.

Skuad Wimbledon saat itu dijuluki “Crazy Gang” karena berhasil menjuarai Piala FA. Kisah “Crazy Gang” itu menyebar ke seluruh Inggris bahkan dunia. Nah, di saat yang sama, karier Wise meroket. Wise digadang-gadang akan menjadi bintang masa depan Southampton.

Meskipun sebetulnya ia tidak bermain untuk Soton di awal karier seniornya. Setelah kisah menakjubkan di Wimbledon, Wise diburu oleh banyak tim raksasa. Alih-alih kembali ke Southampton, Wise justru memilih merapat ke Chelsea yang waktu itu belum kedatangan Roman Abramovich.

Kiprah Hebat Bersama Chelsea

Dennis Wise menandatangani kontrak di Chelsea pada 3 Juli 1990. Tahu berapa harganya? Pada waktu itu Wise dibeli seharga 1,6 juta poundsterling atau sekitar Rp30,8 miliar kurs sekarang. Terlihat murah hari ini, tapi biaya perekrutan Dennis Wise pada saat itu memecahkan rekor klub.

Pada musim pertamanya bersama The Blues, gelandang yang satu ini sudah mengemas 13 gol dalam 44 pertandingan. Tapi Chelsea hanya finis di peringkat ke-11 pada musim 1990/91. Dua musim berselang, kapten Chelsea waktu itu, Andy Townsend pergi meninggalkan klub.

The Blues kedatangan Glenn Hoddle sebagai pelatih baru. Di tangan Hoddle, Wise ditunjuk menjadi kapten Chelsea. Walaupun tampil mengecewakan sepanjang musim 1993/94 dengan hanya finis di urutan ke-14 liga, tapi Wise mengantarkan Chelsea untuk pertama kalinya ke final Piala FA usai absen selama 24 tahun.

Meski ujungnya Wise harus menyaksikan timnya disikat Manchester United empat gol tanpa balas di partai final. Tak mau gagal, Wise mengangkat permainan Chelsea di musim-musim berikutnya. Pada musim 1994/95 sang pemain mencetak gol debutnya di Chelsea. Tahun 1997 Wise mengantarkan Chelsea juara di Piala FA.

Itu adalah trofi pertama Wise sepanjang kariernya. Sejak saat itu keran trofi mulai terbuka. Pada musim 1997/98, Wise membawa Chelsea juara di Piala Winners. Semusim setelahnya giliran trofi Piala Super Eropa yang mampir. Di ujung kariernya bersama Chelsea, ia masih mengantarkan tim itu juara di Piala FA tahun 2000 dan Community Shield tahun 2001.

Setelah dari Chelsea

Dennis Wise berhasil mengembalikan muka Chelsea di Inggris dan Eropa. Sayangnya, kiprah Wise seperti berjalan ke belakang usai tak lagi memperkuat The Blues. Di Leicester City, Wise tidak hanya tampil buruk tapi juga mendapat masalah.

Wise diketahui mematahkan rahang dan hidung rekan setimnya sendiri, Callum Davidson. Awalnya Wise hanya diskors. Tapi Leicester kemudian memecatnya. Dari Leicester ia pindah ke Millwall. Wise menjadi manajer-pemain di Millwall pada tahun 2003. Ia membawa Millwall ke final Piala FA untuk pertama kalinya pada tahun 2004.

Meski kalah dari Manchester United, Millwall bisa tampil di Piala UEFA, juga untuk pertama kalinya. Sebab Manchester United yang menang sudah bermain di Liga Champions. Tapi sayang, baru babak pertama Millwall sudah tersingkir atas Ferencvaros.

Setelah itu Wise hanya bergabung ke klub seperti Swindon Town dan Coventry. Sempat pulang ke Southampton pada 2005. Tapi kepulangannya itu tidak memberi dampak yang berarti. Wise akhirnya memutuskan gantung sepatu pada 2006 saat berseragam Swindon Town.

Karier Manajerial dan Eksekutif

Selain di Millwall, Wise juga pernah menjabat manajer-pemain di Swindon. Ia baru menjabat hanya manajer saja di Leeds United tahun 2006. Wise mengisi posisi manajer yang kosong usai pemecatan Kevin Blackwell. Ia bersama Gus Poyet, asistennnya mengarsiteki Leeds United hingga 2008. Memimpin total 69 laga.

Tidak ada trofi yang dibawa Wise selama menukangi Leeds. Ia pun memilih meninggalkan Elland Road pada 2008. Secara mengejutkan, Wise mengambil peran di Newcastle United. Tidak, bukan sebagai manajer melainkan direktur eksekutif.

Jabatan itu ia raih saat usianya baru 42 tahun. Itu terbilang muda untuk jabatan yang lumayan tinggi. Tapi, kata Mike Ashley, pemilik Newcastle waktu itu, peran Wise terbatas. Ia yang bekerja dengan manajer Kevin Keegan hanya akan terlibat dalam transfer pemain, pencarian pemain, dan pengembangan pemain muda.

Wise ditugaskan untuk mengidentifikasi para pemain muda yang diminta Kevin Keegan. Ia juga membantu dalam pengembangan akademi klub. Tapi saat Keegan meninggalkan The Magpies, Wise juga ikut pergi dari sana pada tahun 2009. Tekanan yang besar disinyalir jadi penyebabnya.

Karier eksekutifnya tak berhenti di sana. Pada tahun 2019, ia menjadi direktur teknik Como sebelum ada 1970-nya. Ketika SENT Entertainment mengambil alih Como dan namanya menjadi Como 1970, Wise menjabat sebagai pengoperasian permainan. Tahun 2021, ia mengambil alih direktur olahraga Como.

Pengembangan di Garuda Select

Saat jadi direktur teknik Como, pada tahun 2019 Wise sudah menjadi direktur sepak bola Garuda Select. Boleh dibilang ia bekerja di dua tempat. Sampai hari ini pun begitu. Ia masih menjadi direktur sepak bola Garuda Select dan direktur olahraga Como 1907.

Selama bekerja untuk Garuda Select, Wise punya metode sendiri. Selain latihan fisik, Wise dan Walker juga melatih kemampuan analisis pemain lewat video dan latihan taktik di atas lapangan.

Di dalam skuad Garuda Select juga tidak hanya diisi oleh pemain Indonesia, tapi juga pemain luar negeri. Ini supaya para pemain Indonesia bisa melihat dengan mata kepala sendiri ketimpangan kualitas mereka dengan para pemain dari luar.

Garuda Select memang membuka seluas-luasnya kesempatan bagi pemain muda tanah air untuk menimba ilmu di Eropa. Tapi Wise tidak akan menjamin menit bermain yang adil.

Setiap pemain harus bisa menunjukkan bahwa mereka layak dimainkan. Wise juga mengedepankan pemain yang bagus dalam pemahaman taktikal saat menyeleksi pemain. Jadi, bakat bermain sepak bola saja tidak cukup. Wise juga cerdik dalam menentukan posisi pemain. Seperti misalnya Hokky Caraka.

Ia datang ke Garuda Select sebagai pemain bertahan. Tapi Wise melihat potensinya sebagai striker. Jadilah Hokky salah satu penyerang paling berbahaya di Timnas Indonesia. Metode latihan Dennis Wise juga cukup keras. Ernando Ari pernah mengatakan kalau ia sering dimarahi oleh Wise.

Hasilnya? Ernando jadi andalan Timnas Indonesia. Ya begitulah Dennis Wise. Kecemerlangannya di Garuda Select bahkan pernah membuatnya diisukan akan menukangi Timnas Indonesia U-17 untuk Piala Dunia U-17. Tapi tidak jadi. Meski demikian, Indonesia tetap harus berterima kasih pada legenda Chelsea yang satu ini.

Sumber: Kompas, Libero, ChelseaFC, ProgramGarudaSelect, ProgramGarudaSelect, Goal, Transfermarkt

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru