Selusin pas jadi jumlah gol yang disarangkan punggawa Timnas Indonesia ke gawang Brunei Darussalam. Performa luar biasa ini pun disanjung oleh sang pelatih, Shin Tae-yong. Pelatih asal Korea Selatan itu angkat topi pada perjuangan para pemain di dua leg Kualifikasi Piala Dunia 2026 putaran pertama ini.
Yang membuat sang pelatih kagum adalah hasil yang didapat. Meski Coach Shin menurunkan susunan pemain yang berbeda di leg kedua. Tapi, hasil yang didapatkan sama baiknya.
Mereka menang 6-0 di masing-masing pertemuan. Sayangnya, perbedaan materi pemain justru menimbulkan perbandingan, terutama di sektor bek kiri. Yap, Pratama Arhan yang dinilai tampil kurang maksimal di leg pertama mulai dibanding-bandingkan dengan pemain naturalisasi Indonesia, Shayne Pattynama.
Daftar Isi
Arhan Dinilai Tampil Buruk
Tidak ada asap kalau tidak ada api. Karena di balik perdebatan siapa yang terbaik antara Shayne Pattynama dan Pratama Arhan, pasti ada suatu hal yang memancing netizen untuk berkomentar dulu. Usut punya usut, awal munculnya perbandingan ini adalah saat leg pertama melawan Brunei Darussalam kemarin.
Performa Pratama Arhan dalam leg pertama menuai banyak kritik dari fans garis keras Timnas Indonesia. Terlebih, setelah beredar video kebucinan sang pemain dengan istrinya, Azizah Salsa. Wajarlah ya, namanya juga pengantin baru. Ibarat roti yang baru keluar dari oven, hubungan keduanya masih hangat-hangatnya.
Namun, beberapa fans menilai kalau hubungannya dengan sang istri membuat konsentrasi Arhan terpecah. Itu diperkuat dengan performa sang pemain yang di bawah standar biasanya. Di leg pertama Arhan beberapa kali terlihat melakukan aksi yang maksa sehingga terlihat kurang efektif.
Mantan punggawa PSIS Semarang itu kerap gagal melepaskan umpan silang secara akurat ketika ada kesempatan untuk menyerang. Selain itu, warganet juga menyoroti penetrasi, dribel, hingga umpan Arhan yang acap kali merepotkan temannya sendiri. Kalian pasti masih ingat ketika komentator menyebut umpan Arhan ke Dandy Sulistiawan umpan yang “sungguh tidak berperasaan”.
Meski begitu, dilansir Bola.net, Arhan sebetulnya tidak buruk-buruk amat. Selain diberikan rating 6,14 oleh situsweb statistik Lapang Bola, selama bermain 73 menit, pemain berusia 21 tahun itu terlihat sesekali mengancam pertahanan Brunei melalui pergerakan menusuknya.
Gaya Main Hampir Sama, Tapi…
Sementara itu, di pertemuan pertama lawan Brunei Darussalam, Shayne Pattynama yang hanya bermain kurang lebih 20 menit justru menyita perhatian. Walau tidak mendapat banyak menit bermain, pemain keturunan Semarang itu punya kontribusi yang cukup penting bagi skuad asuhan Shin Tae-yong. Pattynama mampu melepas 22 umpan sukses di waktu yang singkat itu.
Masuknya Pattynama di babak kedua telah memberikan warna tersendiri. Pada dasarnya, gaya bermain Pattynama dan Arhan hampir mirip, yaaa sebelas dua belas lah ya. Namun, yang membedakan kedua pemain ini adalah pergerakan baik dengan bola maupun tanpa bola.
Pattynama memainkan umpan-umpan pendek dengan pemain sayap maupun gelandang Timnas Indonesia. Ia juga lebih gemar bergerak ke tengah ketika sedang menguasai bola. Sementara Arhan cukup berani untuk mengambil resiko dengan melakukan dribble menusuk atau melepaskan tekel-tekel keras khas pemain lokal.
Kelebihan Arhan yang Tak Dimiliki Pattynama
Lantas, siapa yang terbaik? Meski sama-sama berposisi bek kiri, Pratama Arhan dan Shayne Pattynama punya ciri khas masing-masing. Mereka juga memiliki kelebihan dan kekurangan yang tidak dimiliki oleh satu sama lain. Mari kita mulai dengan kelebihan yang dimiliki Arhan.
Yang pertama tentu saja soal adaptasi dan kemistri dengan pemain tim nasional Indonesia yang lain. Arhan yang merupakan putra daerah dan lama bermain di timnas tentu sudah tak perlu lagi untuk belajar memahami gaya bermain Shin Tae-yong dan rekan-rekan satu tim. Sedangkan Pattynama masih memerlukan waktu lebih untuk membangun koneksi dengan rekan satu tim.
Apalagi Pattynama belum lancar menggunakan bahasa Indonesia. Jadi, komunikasi dengan rekan satu tim tak selancar Pratama Arhan. Selain itu, kekuatan fisik Arhan sedikit lebih unggul, terutama soal kecepatan lari. Punggawa Tokyo Verdy itu dikenal gesit dan berani melakukan duel-duel keras dengan pemain lawan.
Sedangkan Pattynama juga cepat, tapi pemain yang berlaga di kasta tertinggi Liga Norwegia itu jarang menunjukan aksinya dalam beradu lari atau skill dengan pemain lawan. Jadi kelihatannya seperti pemain malas. Seperti yang sudah disampaikan tadi, Pattynama cenderung bermain simpel sesuai kebutuhan saja. Ia tak akan banyak mengambil resiko seperti Arhan.
Satu lagi kelebihan Arhan adalah jangkauan lemparan ke dalam yang jauh, kuat dan mematikan. Barangkali special movement ini jadi atribut yang paling sulit untuk ditiru oleh Pattynama. Kemampuan Arhan itu bahkan jadi senjata rahasia Timnas Indonesia ketika mendapat lemparan ke dalam di area sekitar kotak penalti lawan.
Kelebihan Pattynama yang Tak Dimiliki Arhan
Eits, tunggu dulu. Jangan buru-buru untuk menutup video ini, karena Shayne Pattynama juga punya kelebihan yang tak dimiliki oleh Pratama Arhan. Pemain asal Blora itu memiliki kekurangan di bagian passing. Padahal itu merupakan atribut dasar yang harus dimiliki oleh pesepakbola profesional.
Berdasarkan apa yang sudah ditunjukan Pattynama di Viking, kemampuan passingnya terbilang sangat baik. Umpan pendek maupun jauh yang dikirimkan Pattynama kerap tepat sasaran. Sedangkan Arhan cukup bermasalah dengan itu. Bahkan di leg pertama melawan Brunei, Arhan tak sekalipun mencatatkan umpan silang sukses.
Selain passing, pengalaman sudah jelas jadi keunggulan Pattynama. Pemain berusia 25 tahun itu bisa dibilang lebih dewasa dalam pengambilan keputusan. Pengalamannya berkompetisi di Eropa mempengaruhi bagaimana sikap sang pemain di lapangan. Ia terlihat lebih tenang saat menghadapi tekanan lawan.
Sedangkan menurut Bola Nusantara, Pratama Arhan sesekali terlihat panik saat mendapatkan tekanan. Hal ini membuatnya sering kehilangan bola. Saat menguasai bola, suami dari Azizah Salsa itu juga kerap mengambil keputusan yang salah antara harus crossing atau di tembak langsung ke gawang.
Statistik Kedua Pemain
Perdebatan soal Pratama Arhan dan Pattynama juga tak bisa dilepaskan dari performa keduanya di level klub. Nah, jika tolok ukur perbandingan ada pada performa bersama klub, Pattynama sudah jelas unggul telak dibanding Arhan. Bagaimana tidak? Wong Arhan jarang main di Tokyo Verdy.
Sejak bergabung pada tahun 2022, Arhan baru mencatatkan empat pertandingan bersama Tokyo Verdy. Tiga diantaranya ia catatkan di musim ini. Saking jarangnya Verdy memainkan Aran, stigma buruk soal pemain lokal yang aboard kembali muncul. Arhan dianggap hanya diperalat sebagai marketing klub kasta kedua Liga Jepang itu.
Statistik itu berkebalikan dengan Shayne Pattynama. Pemain berusia 25 tahun itu berstatus sebagai pemain reguler di Viking FK. Dari 24 laga yang dimainkan Viking, Pattynama sudah bermain sebanyak 23 kali dan semuanya sebagai pemain inti.
Selain sudah mencatatkan lima assist, Pattynama jadi bagian penting dari melonjaknya performa tim. Fyi aja, Viking kini berada di urutan kedua klasemen sementara Liga Norwegia. Hanya selisih tiga poin dari Bodo/Glimt.
Sumber: Bola.net, Bola Nusantara, Suara, Detik


