Jika ini adalah tahun 1999, tidak akan ragu menyebut Manchester United adalah klub terkuat di Eropa, atau bahkan di dunia. Tapi ini adalah tahun 2023. Sepak bola telah berubah. Manchester United memang masih ada Stockport sana. Masih utuh, tidak bangkrut apalagi bubar dan sampai harus memulai dari divisi non-league.
Namun, Manchester United hari ini berbeda dengan Manchester United 10 atau 20 tahun yang lalu. MU yang perkasa sekarang seperti kerupuk seblak. Lesu, lungkrah, dan sama sekali tidak bergairah. Ternyata kehilangan sosok Sir Alex Ferguson dampaknya begitu besar.
Saat ini, Fergie hanya bisa menatap tim yang dulu dibangunnya dengan susah payah dipermalukan, bahkan oleh klub selevel Brighton di rumahnya sendiri. Lagian, Fergie, sih, pakai pensiun segala. Hancur kan tuh, Manchester United.
Daftar Isi
Fergie Pensiun
Kejayaan bagai lampu yang mulai meredup kala Fergie memutuskan pensiun pada tahun 2013. Dilansir Sports Joe, Sir Alex Ferguson dalam sebuah wawancara bersama The Telegraph, mengatakan bahwa kesedihan keluarga adalah alasan sebenarnya mengapa ia pensiun menjadi pelatih, termasuk pelatih MU.
Fergie melihat istrinya, Cathy sedih karena sang adik, Bridget meninggal dunia. Keadaan itulah yang akhirnya mendorong Fergie mengambil keputusan untuk pensiun dan tidak lagi melatih Manchester United. Tapi Fergie adalah orang yang bertanggung jawab atas keputusannya.
Setelah memutuskan pensiun, Fergie menunjuk rekan senegaranya, David Moyes menjadi suksesornya di Manchester United. Manajemen percaya dengan pilihan Fergie. Sebab pada waktu itu tidak ada orang yang paham sepak bola di Manchester United selain Fergie. Namun, mulai saat itu Manchester United justru sedang menuju era kegelapan.
#OnThisDay in 2013, Fergie announced his retirement from management.
— Kitbaguk (@KitbagUK) May 8, 2017
49 honours 🏆
1,207 wins 👊
The greatest. pic.twitter.com/h55K1gOtMM
Gonta-Ganti Pelatih
Nyatanya sejak Fergie undur diri, Manchester United tidak pernah bertahan lama dilatih oleh seorang pelatih. David Moyes memang mengantarkan United juara Community Shield. Tapi akhirnya Moyes pun dipecat seiring performa United yang merosot.
Bukan Moyes saja yang mengalami nasib semacam itu. Pelatih seperti Louis Van Gaal, Jose Mourinho, sampai Ole Gunnar Solskjaer mengalami nasib serupa. Terhitung semenjak era Sir Alex Ferguson tutup buku, ada delapan pelatih yang menukangi Manchester United.
14 September 2013 🗓️@Fellaini played his first game for Manchester United and kicked off the David Moyes era 🔴 pic.twitter.com/kJ6dtOVME4
— B/R Football (@brfootball) September 14, 2018
Selain nama yang sudah disebutkan, masih ada Ryan Giggs, Michael Carrick, Ralf Rangnick, dan Erik ten Hag. Gonta-ganti pelatih ini memperlihatkan bahwa The Red Devils tidak memiliki filosofi yang paten sebagaimana di era Fergie. Selain itu, pelatih baru sudah pasti membawa sistem yang baru.
Para pemain pun mesti beradaptasi setiap kali pergantian pelatih. Hal semacam ini sering kali menimbulkan gesekan. Bukan tidak mungkin akan timbul kesalahpahaman antara pemain dan pelatih.
Pemain yang sudah nyaman dengan pelatih lawas, belum tentu nyaman dengan pelatih baru. Begitu pun sebaliknya. Situasi rumit semacam ini boleh jadi akan berlanjut. Apalagi jika United akhirnya memecat Erik ten Hag.
Kekeringan Trofi
Buntutnya Manchester United juga mulai kekeringan trofi. Hanya ada empat trofi mayor yang didapatkan United setelah era Fergie. Liga Eropa dan Piala Liga bersama Jose Mourinho, satu Piala FA era Louis Van Gaal, dan musim lalu ketika United menyabet gelar Piala Liga di tangan Erik ten Hag. Raihan Community Shield di era David Moyes dan Jose Mourinho tidak dihitung.
Mengapa? Karena Community Shield sejatinya bukanlah trofi mayor, setidaknya di Inggris. Sebab Community Shield hanya diikuti oleh sedikit tim. Lagi pula Mourinho dan Moyes bisa meraih Community Shield karena peran pelatih sebelumnya: Van Gaal yang meraih Piala FA dan Fergie yang meraih Liga Inggris.
Look at all the egos of Manchester United fans wanting to win a trophy now despite the best United manager since Fergie saying it can hide progress and overshadow the process. pic.twitter.com/cHcDI1Z8d8
— Waseem (@immwk) January 11, 2023
Manchester United pun ketinggalan dari para rivalnya. Liverpool saja, setelah era Fergie meraih setidaknya enam trofi bergengsi, seperti Liga Inggris, Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub. Tetangga MU, Manchester City bahkan lebih banyak lagi, yakni 16 trofi sejak 2013. Dua di antaranya Liga Champions dan Piala Super Eropa.
Chelsea yang kini sedang dalam mode kendor itu pun trofinya lebih banyak dari United sejak 2013. The Blues setidaknya mendapat tujuh trofi mayor. Salah satunya yang mengesankan adalah raihan Liga Inggris bersama Antonio Conte.
Bukan Lagi Penantang Gelar
Salah satu yang cukup menyesakkan adalah tidak ada lagi trofi Liga Inggris yang mampir ke lemari MU sejak 2013. Ini serius. Bahkan Manchester United sering tidak konsisten bertengger di empat besar. Misalnya, di musim pertama David Moyes, MU terperosok ke peringkat tujuh di akhir musim 2013/14.
Saat Leicester City juara di musim 2015/16, Manchester United hanya bisa finis peringkat lima di atas Southampton. Dengan begitu Manchester United bukan hanya pernah tidak bermain di Liga Champions dan kompetisi Eropa lainnya, tapi juga bukan lagi penantang gelar.
Sir Alex Ferguson knew that fans won't stand by any manager so he left a reminder “you should stand by your new manager ”. Another has been good since his departure at Manchester United pic.twitter.com/v2OvGyRz2P
— SSD Red (@_ultraUtd) October 5, 2023
Menurut data dari Sky Sports yang diambil hingga musim 2021/22, sejak 2013, Manchester United hanya mengumpul total 573 poin di Liga Primer Inggris. Jumlah poin tersebut lebih sedikit dari Tottenham Hotspur, Chelsea, Liverpool, dan Manchester City. Persentase kemenangan MU juga anjlok.
Dari data yang sama, persentase kemenangan MU hanya menyentuh 33,7% dari tahun 2013 hingga 2022. Itu hanya unggul dari Tottenham dan Arsenal di antara tim Big Six lainnya. Manchester United memang sempat naik persentase kemenangannya menjadi 61% di Premier League musim 2022/23 menurut Footy Stats. Tetapi musim ini menurun lagi menjadi 43%.
Belanja Besar-Besaran
Satu-satunya yang tidak merosot dan malah meningkat sejak era Fergie hanyalah pengeluaran. Uang yang digelontorkan United, terutama dalam hal transfer terus mengalami peningkatan setelah era Fergie. Perlu dicatat dulu, ini bukan berarti Fergie tidak menghabiskan uang banyak. Penyuka permen karet itu saat masanya di MU juga toh menggelontorkan banyak uang.
Tapi yang sedang dibicarakan adalah era setelah Fergie, yang mana Manchester United juga tidak mengendurkan pengeluaran. Sejak 2013 hingga 2022 saja, menurut Sky Sports, United sudah mengeluarkan 1,25 miliar poundsterling (Rp23,7 triliun) untuk belanja pemain. Pembelanjaan itu meningkat dari satu pelatih ke pelatih lain.
💰 Manchester United have spent £441M since Ole Gunnar Solskjaer became the manager #DeadlineDay pic.twitter.com/cVUye0nYFc
— Football Daily (@footballdaily) August 31, 2021
Di era Moyes, MU menghabiskan 69 juta poundsterling (Rp1,3 triliun). Saat ditukangi Van Gaal, 309,2 juta poundsterling (Rp5,8 triliun) dihabiskan. Mourinho menghabiskan 430,8 juta poundsterling (Rp8,1 triliun). Dan yang paling banyak adalah era Ole Gunnar Solskjaer yang menelan 441 juta poundsterling (Rp8,3 triliun).
Itu belum termasuk era Erik ten Hag. Menurut laporan AP News, selama berada di Old Trafford, pelatih berkepala licin itu menghabiskan 334,6 juta poundsterling (Rp6,3 triliun). Memang lebih sedikit dari era Solskjaer, tapi lebih banyak dari yang dikeluarkan Josep Guardiola dalam periode yang sama, yakni 230,8 juta poundsterling (Rp4,3 triliun).
Pimpinan dan Strategi Transfer yang Buruk
Menurut Bleacher Report, selama 23 tahun melatih Manchester United, Sir Alex Ferguson menghabiskan 382,4 juta poundsterling (Rp7,2 triliun). Sama-sama banyak sebetulnya, tapi pembelian yang dilakukan Fergie lebih banyak berhasil daripada yang gagal. Fergie selalu mempertimbangkan masak-masak pemain mana yang ingin diboyongnya.
Bukan berarti pelatih setelah Fergie tidak melakukan itu. Hanya saja setelah era Fergie, MU memiliki strategi transfer yang buruk. Menurut Four Four Two, setelah tahun 2013, Manchester United sering terlambat bergerak di jendela transfer dibandingkan dengan rata-rata klub Liga Primer Inggris.
🚨🔴TRANSFERS NEWS:
— Manchester United Forever (@Utd_Forever7) July 10, 2023
Manchester United has agreed verbally personal terms with Sofyan Amrabat agent.
They told his agent that they will go for him late in the transfer window after they sell some players. Amrabat dreams of playing in #mufc shirt. Fiorentina will sell him. pic.twitter.com/BWK1mt4Tq6
Hal itu diperparah dengan pimpinan United yang tidak lagi mengukur kesuksesan dengan trofi, melainkan keuntungan. Maka tidak salah jika menyebut bahwa Manchester United sedang menuju kehancuran total setelah era Sir Alex Ferguson. Butuh sosok Fergie yang baru, tapi dengan industri sepak bola yang semakin kejam, rasanya untuk mewujudkannya mendekati mustahil.
Sumber: ChaseYourSport, FourFourTwo, GoalStudio, MEN, SkySports, SportsJoe, FootyStats


