Tangisan Riyad Mahrez, Dari Amatir Hingga Bergelimang Trofi

spot_img

Perjalanan seorang penyihir dari Aljazair, Riyad Mahrez di Etihad Stadium hampir dipastikan tidak akan berlanjut. Santer tawaran dari Liga Arab Saudi untuk meminangnya, disaat dirinya sudah berlumuran trofi.

Pilihan Mahrez tentu penuh pertimbangan. Seperti apa yang ia alami sejak remaja. Tangisan, keringat, dan perjuangan, adalah beberapa hal yang pernah identik dengannya. Ya, ada beberapa titik balik dimana Mahrez bisa menjadi seperti sekarang ini.

Yatim Sejak Remaja

Mahrez kecil dibesarkan di salah satu pinggiran kota Prancis yang terkenal keras yakni kota Sarcelles. Kota itu dulu merupakan daerah yang terkenal kriminal. Peredaran narkoba dan beberapa kekerasan identik dengan kota itu. Namun di tengah situasi sulit tersebut, Mahrez kecil tetap bermain bola.

Bakat sepak bola Mahrez mengalir dari ayahnya yang juga mantan atlet sepak bola. Wajar bila ayahnya selalu mendukung dan mendampingi Mahrez ketika sedang proses mengembangkan bakatnya. Ayahnya selalu menemaninya baik saat pertandingan maupun latihan.

Namun, Mahrez harus kehilangan sosok ayahnya itu pada usia 15 tahun. Sebab, ayahnya meninggal pada tahun 2006 karena penyakit jantung. Kematian ayahnya membuat Mahrez sadar tentang banyak hal. Bisa dikatakan ini menjadi titik balik dalam kehidupan Mahrez.

Wissam Ben Yedder, yang merupakan temannya sejak kecil, mengakui melihat perubahan dalam diri Riyad Mahrez. “Dia tidak hanya rajin berlatih sepak bola melainkan juga rajin berdoa bersama, salat berjamaah di masjid, dan membaca Al-Qur’an.”

Skotlandia Menempa Dirinya

Mahrez mengawali bermain sepak bolanya di akademi kota kelahirannya Sarcelles. Pada suatu ketika pada 2009, ada seorang pemandu bakat yang berusaha mengirimkan beberapa pemain dari Sarcelles untuk uji coba di klub divisi dua Liga Skotlandia, St Mirren. Mahrez pun termasuk di antara pemain tersebut.

Tapi sesampainya di Skotlandia, ia justru tak betah. Cuaca dingin dan salju, membuat dirinya sering menghindar. Berbulan-bulan Mahrez trial di Skotlandia, namun apa boleh buat ia tak kunjung dapat kepastian kontrak dari klub itu.

Agen Mahrez memilih langsung mengirimkan Mahrez pulang. Dalam film dokumenter yang dirilis oleh City’s Studio berjudul “Riyad Mahrez Story”, pemain Aljazair itu menuturkan betapa berkembang fisiknya setelah pulang dari Skotlandia. Tak disangka, salju maupun cuaca dingin, sedikit banyak telah mengubah ketahanan fisiknya.

Tangisan Di Quimper

Kembalinya di Prancis, ia malah disuruh ibunya untuk kembali bersekolah daripada bermain bola. Namun Mahrez tetap kekeh untuk menjajal trial di klub lain yakni klub semi amatir prancis, Quimper.

Letak Quimper dan tempat tinggal Mahrez, terlalu jauh. Ibunya, yang miskin, tak punya banyak uang untuk membiayai perjalanan Mahrez. Mahrez merengek berharap ibunya mau mengeluarkan uang untuk tiket bepergian ke Quimper. Sedih, ketika Mahrez sampai berucap kepada ibunya bahwa suatu saat nanti, uangnya itu akan dikembalikan olehnya.

Sesampainya di Quimper, tak semudah yang dibayangkan Mahrez. Posturnya yang tak terlalu tinggi dan fisiknya yang lemah, membuat dirinya diragukan oleh manager Quimper. Tapi sikap berbeda diperlihatkan kepala rekrutmen Quimper waktu itu Edern Le Hann. Ialah orang yang pertama percaya pada kemampuan Mahrez.

Manager Quimper saat itu, Ronan Salaun mengingat betapa kasihannya dia pada bocah Aljazair itu. Pada saat pengumuman seleksi, Mahrez sampai termenung sambil meneteskan air mata berharap bisa masuk dalam tim. Dikutip dari Fourfourtwo, Salaun menyaksikan sendiri peristiwa itu. Ia menganggap Mahrez benar-benar adalah pribadi yang serius untuk mau berkembang.

Memilih Le Havre

Setelah akhirnya masuk Quimper, performanya semakin terasah. Tak jarang pemandu bakat dari tim besar Prancis datang memantau dirinya. Sempat ada tawaran masuk, tapi ditolak Mahrez karena hanya menjanjikan menjadi pemain cadangan.

Mahrez kemudian malah menerima pinangan dari klub divisi dua Liga Prancis, Le Havre. Dia percaya dengan proyek pengembangan klub itu. Benar saja, ia pun langsung jadi andalan di skuad muda Le Havre dengan membuat 24 gol selama dua musim.

Ditemukan Pencari Bakat Leicester

Hanya dua musim Mahrez bermain reguler di Le Havre. Dia kemudian ditawar klub Liga Inggris, Leicester City. FYI aja, The Foxes saat itu masih tampil di Championship. Awalnya scouting Leicester Steve Walsh, mengincar rekan setim Mahrez, Ryan Mendes. Akan tetapi setelah melihat performa Mahrez, ia seketika berpaling dan malah terkesan pada Mahrez.

Mendengar langsung tawaran dari The Foxes itu, lucunya Mahrez sempat mengira klub itu adalah klub Rugby. Rekan setim Mahrez di Le Havre Walid Mesloub, mengatakan kepadanya kalau hanya bertahan di Le Havre, tidak akan mengubah apapun. Berkat saran rekannya itu, Mahrez pun memutuskan untuk menerima tawaran tersebut.

Ditertawakan Dan Meraih Trofi

Pada musim 2013/14, dari segi statistik pemain Aljazair itu tak moncer-moncer amat. Dari 19 laga yang ia jalani, ia hanya cetak 3 gol dan 5 assist saja.

Maka dari itu suatu saat pada jeda internasional, salah satu rekannya di timnas Aljazair, Mehdi Lacen pernah mengatakan bahwa karir Mahrez tak akan lama di Leicester. “Karirmu akan habis di Leicester. Tim itu cepat atau lambat akan terdegradasi”, seloroh Mehdi Lacen sambil tertawa. FYI aja, di musim 2014/15 memang The Foxes hampir terdegradasi dari Liga Inggris berkat penampilannya yang inkonsisten.

Justru dengan disepelekan seperti itu, membuat Mahrez berupaya serius membuktikan bahwa dirinya bisa mengangkat Leicester. Benar saja, ketika selamat dari degradasi, musim 2015/16 menjadi musim penuh dengan cerita indah bagi dirinya dan Leicester.

Bak dongeng, The Foxes tak disangka mengguncang seantero jagat dengan menjadi juara Liga Inggris. Betapa heroiknya skuad besutan Claudio Ranieri waktu itu. Ya, Mahrez adalah salah satu sosok bintang yang tak tergantikan di sisi sayap kanan Leicester. Koleksinya yakni 18 gol dan 10 assist.

Manchester City dan Trofi

Dua musim kemudian, ia tetap setia membela panji-panji Leicester. Performanya tetap bak berlian yang mengkilap dibanding rekan-rekannya. Jika ditotal, selama ia di Leicester sudah mampu menyumbang 48 gol dan 38 assist.

Berkat kekonsistenan itu, pada 2018 seorang Pep guardiola pun tertarik padanya. City rela menebusnya mahal hingga 60 juta pounds. Ia pun menjadi penjualan termahal Leicester, sekaligus pembelian termahal City musim itu.

Nah, di Etihad-lah karirnya melejit menjadi salah satu bintang dunia. Ya, pemain itu kini bergelimang penghargaan dan trofi. Bahkan ia hingga kini menjadi pemain Afrika yang paling banyak mengoleksi gelar Liga Inggris.

Perjalanan Barunya Di Luar Eropa

Treble Winner di musim 2022/23 bersama City mungkin menjadi puncak bagi pencapaian Mahrez di Eropa. Ia merasa dirinya sudah meraih segalanya. Tak salah memang dengan usia yang sudah menginjak 32 tahun, ia lebih memilih untuk hidup tenang menikmati masa tuanya dengan bergelimang harta di tanah Arab Saudi.

Dengan capaian Mahrez hingga bisa di titik ini, nampaknya berkorelasi dengan segala air mata, keringat, dan perjuangannya yang telah ia tunjukan sejak remaja, bahkan sejak kecil. Selamat menempuh perjalanan hidup baru di Arab, Mahrez.

https://youtu.be/_vhrntuewS0

Sumber Referensi : mancity.com, sportsbrief, youtube, transfermarkt,

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru