Paris Saint-Germain boleh mendominasi Liga Prancis. Namun, tidak berarti dengan begitu Liga Prancis tidaklah kompetitif. Betul bahwa citra yang muncul kalau membicarakan Liga Prancis adalah “Liga Petani” atau sederhananya liga yang dikuasai oleh satu tim saja.
Jika Liga Jerman disebut demikian karena yang juara sudah pasti Bayern Munchen, Ligue 1 disebut demikian karena PSG berhasil menjadi juara rutin. Juara Liga Prancis disebut tidak variatif. Oleh karenanya juga disebut liga yang tidak kompetitif.
Padahal dalam beberapa tahun terakhir, Liga Prancis justru bisa dibilang menjadi liga yang paling kompetitif di antara liga-liga Eropa lainnya. Mengapa bisa demikian? Dan bukankah yang paling kompetitif adalah Liga Inggris?
Daftar Isi
Bukan Soal Siapa yang Juara
Pertama-tama, perlu dipahami bahwa kompetitifnya sebuah kompetisi apalagi itu adalah liga, tidak bisa dilihat hanya dari siapa yang keluar sebagai juaranya. Tapi juga dilihat dari persaingan di posisi bawahnya. Sejak musim 2017/18 dalam enam musim terakhir, Manchester City selalu keluar sebagai juara Liga Inggris. Kecuali di musim 2019/20, di mana Liverpool berhasil menjegalnya.
Trophy hauls 🥇
— B/R Football (@brfootball) March 31, 2023
Manchester City:
Premier League 🏆 🏆 🏆 🏆
League Cup 🏆 🏆 🏆 🏆
FA Cup 🏆
Liverpool:
Premier League 🏆
Champions League 🏆
League Cup 🏆
FA Cup 🏆
UEFA Super Cup 🏆
Club World Cup 🏆 pic.twitter.com/OcMtmawRui
Namun, selama enam musim itu, di Liga Inggris hanya ada tiga tim yang berada di posisi kedua: Arsenal, Manchester United, dan Liverpool. Manchester City tidak dihitung karena sudah terbiasa berada di posisi atas. Nah, PSG juga sebenarnya sama. Di Liga Prancis dalam kurun waktu yang sama, PSG selalu juara, kecuali musim 2020/21 yang gelarnya direbut Lille.
Selama enam musim tersebut, Ligue 1 menghadirkan empat tim yang berbeda di posisi kedua: AS Monaco, Lille, Olympique Marseille, dan yang terakhir RC Lens. Kalau di Liga Italia atau Serie A lebih variatif lagi. Dominasi Juventus terhenti pada musim 2020/21. Uniknya dalam enam musim juga ada empat tim runner-up yang berbeda, yaitu Napoli, Inter, Milan, dan Lazio.
Lille dethrone PSG in France to become underdog winners of Ligue 1, Champions for the first time in 10 years pic.twitter.com/R5DHCe7U8s
— 𝙅𝙖𝙢𝙞𝙚 🐝🇳🇴 (@JamieBVB_30) May 29, 2021
Namun Serie A agak berbeda dengan Liga Inggris. Juventus pada musim 2020/21 justru tidak berada di posisi kedua. Sementara City ketika gagal juara toh masih berada di posisi dua.
Tidak Ada Jaminan yang di Atas Selamanya di Atas
Oke balik lagi ke Ligue 1. Tim-tim yang finis di belakang PSG juga tidak akan selamanya berada di posisi teratas. Bahkan tidak ada jaminan bisa bertahan di empat besar di musim berikutnya. Misal yang terjadi pada AS Monaco. Tim ini pernah menjadi juara di musim 2016/17. Kemudian musim berikutnya posisi mereka dikudeta oleh PSG. AS Monaco harus rela menempati posisi kedua.
Akan tetapi, pada musim berikutnya AS Monaco justru terperosok sangat jauh. Alih-alih berada di posisi kedua atau minimal empat besar, pada musim 2018/19 klub berjuluk Les Rouge et Blanc justru finis hanya satu strip di atas zona degradasi. Kalau mau contoh yang sangat mengejutkan adalah di musim 2022/23.
Siapa yang bakal mengira klub seperti RC Lens bisa finis di posisi kedua dan melaju ke Liga Champions? Padahal mereka baru kembali ke Ligue 1 pada musim 2020/21. Dan mereka selama dua musim ajeg berada di posisi tujuh. Namun, di musim 2022/23 mereka naik lima tangga sekaligus!
🇫🇷 RC Lens qualified for the 2022/23 Champions League.
— PurelyFootball ℗ (@PurelyFootball) May 15, 2023
▶ 2017 Had their worst start to a season in history, losing the first seven Ligue 2 matches in a row.
▶ 2019: Finished 5th in Ligue 2 and lost chance of promotion to Ligue 1 in the Ligue 2 play-offs.
▶ 2020: Promoted to… pic.twitter.com/V8HelhW5vF
Lima Besar Selalu Variatif
Di Ligue 1 tim-tim yang berada di posisi lima besar juga beragam. Tidak seperti misalnya di Liga Inggris yang pasti ada tim Big Six di sana. Atau di Liga Italia yang pasti ada tim-tim besar seperti Juventus, Napoli, Inter, sampai AS Roma. Dalam enam musim terakhir saja hanya Atalanta tim kejutan yang berhasil merangsek di lima besar.
Di Liga Spanyol juga dalam enam musim terakhir tim-tim itu saja yang berada di lima besar. Paling hanya Getafe yang cukup mengejutkan bisa finis di posisi kelima pada musim 2018/19. Nah kalau Ligue 1 banyak menghadirkan tim-tim kejutan. Mari kita lacak dalam enam musim terakhir.
🏟Taux remplissage #L1
— Florian Zobenbiehler (@FloZobenbiehler) May 22, 2018
pour la saison 2017-18:
🥇 98% PSG
🥈 91% Strasbourg
🥉 82% Amiens
4️⃣ 81% Lyon
5️⃣ 80% Caen
6️⃣ 79% Rennes
7️⃣ 79% Dijon
8️⃣ 79% Guingamp
9️⃣ 78% Angers
🔟 69% Marseille
11. 69% Nantes
12. 69% Lille
13. 67% Sainté
14. 64% Nice
15. 63% Bordeaux pic.twitter.com/UdPGg9YfNY
Pada musim 2017/18, ada Rennes yang finis di posisi kelima, mengangkangi Bordeaux di belakangnya. Musim berikutnya, tim yang telah lama terlempar dari papan atas, Saint-Etienne tiba-tiba menduduki posisi empat. Dan Lille, tim yang di musim sebelumnya nyaris terdegradasi malah merangsek di posisi kedua.
Lalu musim 2019/20, siapa yang akan mengira klub raksasa seperti Lyon malah terlempar dari posisi lima besar? Justru tim seperti OGC Nice yang jadi pendatang baru di lima besar. Musim 2020/21 memang tidak ada kejutan. Lima besar diisi tim-tim yang memang layak di sana.
Namun, yang cukup mengejutkan adalah AS Monaco. Dua musim sebelumnya mereka terpuruk, tapi di musim itu malah bisa finis di posisi ketiga. Selain itu kita tahu kisah Lille yang menakjubkan berhasil merebut gelar dari PSG.
Sayangnya kisah itu bubar karena di musim 2021/22, Lille justru terperosok di posisi 10. Lyon juga ikutan turun di posisi delapan. Musim 2022/23, Ligue 1 kedatangan tim hebat baru lagi. Ia adalah RC Lens yang mendadak finis di posisi dua dan hanya terpaut satu poin saja dari PSG.
Wakil di Eropa
Tidak hanya itu, Liga Prancis lebih variatif dalam mengirimkan wakilnya di Eropa. Dari musim 2018/19, sudah ada 13 tim dari Liga Prancis yang ada di kompetisi Eropa. RC Lens dan Toulouse yang terbaru. Sementara di liga-liga lainnya lebih sedikit. Misalnya, dalam rentang waktu yang sama, Liga Italia hanya mengirim delapan tim yang berbeda.
La Liga cukup banyak. Namun jumlahnya hanya 11 tim, termasuk Granada dan Osasuna. Sedangkan Liga Inggris yang dipuja sebagai liga paling kompetitif hanya pernah mengirimkan lima wakilnya selain Big Six. Malangnya, tim-tim dari Liga Prancis tidak bisa melaju jauh di kompetisi-kompetisi Eropa, selain PSG yang pernah ke final.
Ini bukan karena kurangnya mental kompetisi. Tapi memang level klubnya sangat jauh dibandingkan klub-klub di liga lainnya. Soal kualitas pemain, kedalaman skuad, finansial, pelatih, taktik, gaya bermain, dan masih banyak lagi faktornya.
Gap
Untuk melihat bagaimana kompetitifnya sebuah liga, kita perlu mengacu pada gap. Tapi bukan gap secara finansial, karena itu sudah pasti dimenangkan oleh PSG. Kita bicara soal gap pencapaian. Soal gelar PSG telah mengumpulkan 11 gelar Ligue 1, tapi itu hanya satu trofi lebih banyak dari Saint-Etienne (10), dua trofi lebih banyak dari Marseille (9), dan tiga kali lebih banyak dari Nantes (8).
Lihat! Gapnya tidak terlalu jauh. Bandingkan dengan Liga Inggris. Manchester United menjadi penguasa dengan 20 trofi, Liverpool menyusul dengan 19 gelar. Tapi Arsenal yang berada di bawahnya baru mengoleksi 13 trofi. Everton dan Manchester City baru sembilan gelar.
Daftar klub pengoleksi gelar juara Liga Inggris sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 1888. pic.twitter.com/tmcch6XbMj
— Jebreeetmedia (@jebreeetmedia) May 21, 2023
Di Liga Jerman apalagi. Bayern Munchen sudah meraih 33 gelar, sedangkan Nurnberg (9), Dortmund (8), dan Schalke (8) yang berada di bawahnya bahkan gelarnya belum sampai dua digit.
Di La Liga, Real Madrid memimpin dengan 35 gelar, Barcelona menguntit dengan 27 trofi, tapi jumlah gelar Atletico Madrid dan Bilbao di belakangnya belum sampai 20. Atletico baru 11 gelar, sedangkan Bilbao baru delapan gelar. Bukan hanya gap jumlah gelar, tapi juga gap poin.
Musim 2022/23, Rennes yang berada di posisi empat hanya terpaut 33 poin saja dari Auxerre di zona degradasi. Sementara itu Newcastle yang finis di posisi empat terpaut 37 poin dari Leicester di zona degradasi. Gap poin itu juga lebih sedikit dari Serie A, di mana Milan yang finis di posisi empat berjarak 39 poin dari Spezia di area degradasi.
Pendapat
Melihat data-data tadi, perkataan Lionel Messi yang menyebut Liga Prancis kompetitif bisa jadi benar belaka. Dilansir Daily Post, eks pemain PSG itu sebelumnya mengatakan tim-tim Liga Prancis lebih kuat dan pertandingan sudah pasti berlangsung panas.
Hal senada juga pernah dikatakan Fabio Capello. Diwartakan Tuttomercato, Capello yang bahkan belum pernah melatih tim Prancis mengatakan, Liga Prancis jauh lebih kompetitif dan cepat daripada Serie A. Jadi, masih mau bilang kalau Liga Prancis itu tidak kompetitif?
Sumber: TheGuardian, GFNF, Independent, JuveFC, News9Live, DailyPost, Goal


