Real Madrid mendominasi pertandingan perempat final dini hari tadi di Bernabeu. Chelsea yang menurunkan para pemain yang baru mereka beli dengan mahal seperti Wesley Fofana, Enzo Fernandez, dan Joao Felix dibuat tak berdaya oleh pasukan Ancelotti. Padahal Real Madrid menggunakan skuad lama.
Daftar Isi
Madrid Libas Chelsea
Itu adalah malam yang tenang di Bernabeu. Para pemain Madrid yang dipimpin oleh Benzema seolah tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk bisa mendominasi permainan. Karim Benzema sudah bisa membuat tim tuan rumah unggul di menit ke-21.
The Blues sendiri tidak bisa membuat peluang berarti di sisa babak pertama untuk bisa menyamakan kedudukan. Babak pertama pun berakhir dengan skor 1-0. Masuk ke babak kedua Chelsea masih belum bisa menemukan pola serangan yang efektif. Perbedaan kekuatan antara dua tim itu pun semakin terasa.
Gelandang veteran Madrid, Modric dan Kroos pun tidak terlalu banyak mengeluarkan effort untuk menghentikan serangan lawan. Apalagi setelah Ben Chilwell terkena kartu merah di menit ke-59.
Meskipun begitu, Ancelotti tau dirinya harus bisa memanfaatkan keadaan ini semaksimal mungkin untuk bekal di leg kedua. Ia pun memasukan Marco Asensio menggantikan Rodrygo yang kalah fisik dengan bek-bek Chelsea. Hasilnya, baru tiga menit Asensio merumput, ia sudah mencetak gol di menit ke-73.
Setelah itu, Real Madrid jadi rutin menyerang. Namun dengan Lampard memfokuskan timnya untuk bertahan, tidak ada gol tambahan tercipta. Pertandingan pun berakhir dengan skor 2-0. Ini jadi bekal matang untuk bertandang ke London nanti. Membuktikan bahwa Madrid tahu apa yang mereka lakukan di Liga Champions. Toh, los blancos adalah juara Champions 14 kali, lebih banyak dari tim manapun di Eropa.
Joao Felix Tak Berkutik
Sebenarnya, sayang sekali kita tidak bisa melihat Chelsea yang diisi skuad mahal itu berbuat banyak di laga tadi malam. Terutama Joao Felix. Ia dipinjam Chelsea dari Atletico Madrid tentu hanya dengan satu alasan.
Yaitu mempersiapkan the blues untuk bersaing di Liga Champions. Mengingat ketika dirinya dipinjam pada bulan Januari lalu, harapan the pensioners di Premier League sudah pupus.
Ada momen dimana dirinya punya peluang untuk jadi bintang di permainan itu. Ketika penyerang Portugal tersebut lari ke wilayah pertahanan Madrid yang kosong. Ini mengingatkan kita pada gol ikonik Torres ke gawang Barca di Camp Nou 2012 lalu.
Tapi lari Joao Felix bisa diimbangi oleh Eder Militao. Dan tidak seperti Torres, tendangan Felix dengan mudah bisa dihalau Thibaut Courtois. Penyelesaian yang lemah itu pada akhirnya membuat peluang emas jadi ancaman yang tak berarti.
Joao Felix nyatanya tidak mampu membuktikan hype yang ikut bersamanya ke London. Ia tidak terlalu banyak memberikan kontribusi serangan. Juga peluang yang ia ciptakan tidak terlalu mengancam. Ia sering kehilangan bola di saat yang tidak tepat. Felix juga kurang efisien dalam melakukan pressing dan bertahan.
Dengan penampilan yang mengecewakan ini, perlu dipertimbangkan lagi apakah the blues harus mempermanenkan kontraknya musim depan. Mengingat, London biru akan kedatangan penyerang baru dari Leipzig di musim panas nanti, Christopher Nkunku.
Wesley Fofana Merana
Pemain mahal Chelsea lainnya yang punya rapor buruk di laga itu adalah Wesley Fofana. Bek tengah Inggris itu dibeli dengan harga 75 juta poundsterling dari Leicester. Bertugas di sisi kanan, artinya Fofana harus menjaga Vinicius Jr di laga itu.
Sudah jelas Vini adalah pemain andalan Madrid untuk melakukan serangan cepat. Dengan kecepatan larinya, Vini bisa masuk ke daerah pertahanan lawan dengan mudah. Dan itulah yang terjadi di pertandingan ini.
Vini tercatat melakukan take-on atau menggiring bola melewati lawan sebanyak tujuh kali lebih banyak dari pemain lainnya di laga tersebut. Itu membuatnya total sudah melakukan 87 kali take-ons, dimana lebih banyak daripada pemain manapun di Liga Champions musim ini.
Fofana sendiri jelas kewalahan menghadapi Vini. Terbukti dirinya sudah mendapatkan kartu kuning hanya dalam waktu lima menit. Untungnya kartu kuning tersebut tidak sempat jadi kartu merah. Sialnya kartu merah malah diberikan ke Ben Chilwell yang bermain di sisi lainnya ada menit ke-60.
Chelsea beruntung Vini tidak sempurna. Ia punya kekurangan dalam hal finishing. Tapi dua assistnya malam itu tetap menunjukan kalau penyerang Brasil tersebut adalah ancaman yang nyata. Ia juga jadi man of the match di laga ini. Pada akhirnya, hanya ada satu kata untuk Fofana yang bertugas menjaga Vini. Kasihan.
Benzema Penghancur Tim Premier League
Selain Vini, pemain lainnya yang jadi sorotan adalah Benzema. Bomber Prancis itu dilanda banyak masalah setelah dianugerahi penghargaan Ballon d’Or. Terutama cedera dan kebugaran. Itu berlanjut sampai setelah jeda Piala Dunia 2022. Cedera dan konfliknya dengan timnas Prancis membuat performa Benzema sempat menurun.
Tapi kemudian performanya kembali naik. Ia mencetak dua gol di Anfield dalam leg pertama babak 16 besar lawan Liverpool kemarin. Kemudian cetak satu-satunya gol di leg kedua. Lalu buat hattrick dalam waktu tujuh menit lawan Valladolid di La Liga. Cetak hattrick lagi di Copa del Rey, kali ini ke gawang Barca. Dan sekarang masih sempat cetak gol pembuka lawan Chelsea. ini menunjukan kalau Benzema adalah binatang buas haus gol di laga-laga bear. Atau banyak yang bilang kalau ini adalah bukti kehebatan Benzema mode Ramadhan.
Meskipun hanya mencetak satu gol pembuka laga, Benzema tetap jadi pemain yang krusial di laga itu. Sebagai striker tengah, ia tidak terpaku menunggu bola di depan gawang lawan. Ia terlihat di sisi manapun di sepertiga lapangan depan. Benzema juga tidak ragu untuk turun ke belakang, menjadi penghubung antara lini tengah dan serang ketika melakukan build-up.
Ia juga selalu berada di posisi yang tepat. Itu terbukti dengan golnya di menit ke-21. Gol itu adalah gol ke-20 nya yang ia cetak ke gawang tim Premier League. Hanya Lionel Messi yang punya catatan lebih banyak, yaitu 27 kali.
Adaptasi Lampard
Hal lain yang menarik disorot adalah bagaimana Lampard menggunakan formasi 3-5-2. Padahal di periode pertamanya di Chelsea, formasi andalan Lampar adalah 4-3-3 atau 4-2-3-1. Lampard sangat jarang, atau bahkan tidak pernah sebelumnya terlihat menggunakan sistem tiga bek.
Tapi Chelsea memang sepertinya ingin mematenkan skema tiga bek sebagai identitas mereka. Itu mungkin bagian dari pembangunan ulang yang digembar-gemborkan Todd Boehly. Karena sejak Lampard balik ke Chelsea pun, ia tetap menggunakan skema tiga bek. Entahlah. Terlepas dari itu, harus diakui formasi 3-5-2 adalah formasi terbaik untuk menghadapi lawan seperti Madrid.
Di menit-menit awal, tiga bek Chelsea, dibantu dengan dua bek sayap mampu untuk menjaga pertahanan dari skema serangan Ancelotti. Bahkan sempat mendapatkan kesempatan serangan balik. Tapi, jelas terasa Lampard masih belum luwes dengan formasi ini.
Di laga itu, Chelsea memakai formasi 3-5-2 dengan terlalu bertahan. Ini membuat lawan punya banyak ruang untuk berkreasi di depan barisan pertahanan sambil menyusun rencana serangan. Ini adalah PR yang tak kalah pentingnya bagi Lampard di leg kedua nanti. Meskipun, Chelsea juga butuh keajaiban untuk bisa membalikan keadaan.


