Berjalan-jalan di Kota Leverkusen Jerman menemui klub yang dikenal sebagai “si paling nyaris”, Bayer Leverkusen. Sebuah klub yang akhir-akhir ini menyita perhatian lewat penampilan atraktifnya bersama pelatih baru Xabi Alonso. Namun yang perlu dicatat, perjalanan klub yang satu ini unik dan menarik untuk dibahas. Terutama apa yang mereka alami di musim 2001/02. Memangnya ada apa dengan Leverkusen di musim itu?
Bayer Leverkusen 2001/02 Season Ending Charts:
— Sascha | SoshiBlackVelvet fanatic (@ReactsSasko) November 26, 2022
Bundesliga: 2 (-1)
DFB-Cup: 2 (-1)
Champions League: 2 (-1)
Germany World Cup: 2 (-1) @bayer04_en is the 1st team in history to finish in 2nd place in every competition they played in despite leading in all of them, congrats! 🎉 https://t.co/CGeGsDv8Ma pic.twitter.com/TZNEIcYNp6
Daftar Isi
Klub Karyawan Farmasi
Sebelumnya, kita mengenal dulu klub berlogo dua singa ini. Singkatnya, klub ini didirikan oleh beberapa usulan karyawan pabrik farmasi terkemuka bernama Bayer yang ada di pinggiran kota Leverkusen. Tuntutan dari para karyawan tersebut akhirnya direalisasikan oleh manajemen perusahaan. Maka dari itu pada 1 Juli 1904, lahirlah klub bernama Bayer Leverkusen.
💡Curiosidade!💡
— FutDades (@FutDades) August 13, 2021
Você sabia que a farmacêutica Bayer é dona do Bayer Leverkusen? Pois bem.
A farmacêutica Bayer, fundada em 1863, tem sua sede em Leverkusen, na Alemanha. Em 1904, a organização aceitou o pedido de seus funcionários para a criação de um clube esportivo. pic.twitter.com/YTEzM9stz5
Seiring dengan kucuran dana lebih dari perusahan, klub ini tak hanya sekedar bermain bola untuk mengisi waktu luang, namun mulai mengikuti beberapa kejuaraan untuk mencari uang serta popularitas. Maka dari itu, klub yang berjuluk Die Werkself ini akhirnya resmi terdaftar di kompetisi Liga Jerman yang dimulai dari level bawah.
Tak Punya Sejarah Prestasi Mentereng
Sejak berdiri mereka hanya berkutat di level kompetisi level bawah di Jerman. Tak banyak prestasi yang diukir klub ini. Mungkin prestasi terbaik mereka adalah meraih trofi sebagai juara Bundesliga 2 pada musim 1978/79.
33% of you got it right – this top was worn by Rüdiger Vollborn!!
— Bayer 04 Leverkusen (@bayer04_en) December 14, 2016
Vollborn won the 1987/88 UEFA Cup with the #Werkself! pic.twitter.com/oOHS9hPx8Q
Karena momen itulah yang mengantarkan Die Werkself tampil untuk pertama kalinya di Bundesliga pada musim 1979/80. Sejak saat itu uniknya klub ini tak pernah sekali pun terdegradasi lagi ke kasta kedua.
Namun sejak di Bundesliga nasibnya tak ubahnya seperti klub-klub lainnya yang melongo menyaksikan kedigdayaan Bayern Munchen menguasai liga. Usaha Leverkusen untuk mengusik hegemoni Die Roten baru terlihat pada era 90-an. Ketika itu mereka pernah beberapa kali intens bersaing ketat merebut tahta Bundesliga.
Walau gagal, setidaknya lemari trofi mereka sudah pernah terisi. Meskipun itu hanya Piala UEFA dan DFB Pokal. Piala UEFA mereka raih pada musim 1988. Ketika itu Leverkusen dengan pemain macam Cha Bum-Kun, dan kiper Rudiger Vollborn berhasil mempersembahkan gelar Eropa pertama sepanjang sejarah.
[1988] 🏆🇩🇪 Rüdiger Vollborn (Bayer Leverkusen) com a taça da UEFA Cup pic.twitter.com/sCltVqk11d
— Guia do Futebol ➕ (@GuiaFutebolPlus) July 1, 2022
Sedangkan trofi DFB Pokal mereka raih di musim 1992/93. Ketika itu mereka mengalahkan Hertha Berlin 1-0 lewat gol Ulf Kirsten.
Klaus Toppmoller dan Harapan
Sampailah pada era 2000-an awal, tepatnya musim 2001/02. Ketika itu mereka kedatangan pelatih baru bernama Klauss Toppmoller menggantikan pelatih sebelumnya Berti Vogts. FYI aja, Toppmoller ini bukannya salah satu pelatih beken kala itu. Ia hanyalah mantan pelatih klub Bochum dan Sarrebruck.
Revoir la finale de la Champion's League 2002 pour @rejouez, c'est aussi revoir Klaus Toppmoller s'en griller une petite tranquille sur le banc de touche. pic.twitter.com/SUcz2UmNM3
— Florent Toniutti (@FlorentToniutti) September 12, 2020
Justru uniknya, di bawah sentuhan Toppmoller Leverkusen disulap menjadi tim yang perkasa dalam satu musim. Dengan gaya khas Jerman serta pengalaman Toppmoller sebagai pemain, Leverkusen mengais asa yang tinggi di tiga kompetisi sekaligus musim itu.
Ia membangun tim dengan pemilihan pemain yang tepat. Pembelian kiper Jorg Hans Butt, maupun gelandang lincah asal Turki, Yildiray Basturk menjadi pelengkap generasi emas Leverkusen seperti Lucio, Ze Roberto, Michael Ballack, Carsten Ramelow, Bern Schneider, Oliver Neuville, maupun Dimitar Berbatov.
🇩🇪Bayer Leverkusen
— Memórias Do Futebol (@MemoriasFutebol) July 12, 2018
🏆Temporada 2001-02 pic.twitter.com/0UazOTX54C
Perjalanan Istimewa Di Tiga Kompetisi
Dengan formasi andalan 4-1-3-1-1, 4-4-2, atau 4-1-2-1-2 Toppmoller sukses meracik dan memadupadankan para pemain yang ia punya menjadi satu kekuatan kolektif yang solid di beberapa kompetisi musim itu.
Bayer Leverkusen 01/02 pic.twitter.com/9Hbhn49RVs
— My Greatest 11 (@MyGreatest11) April 9, 2020
Dimulai dari Bundesliga. Tanda-tanda performa mereka menuju perebutan juara Bundesliga itu semakin nyata dengan tak terkalahkan di 14 pertandingan awal. Beberapa kemenangan mereka juga diraih dengan cara meyakinkan seperti dengan selisih empat atau tiga gol.
Hal itu membuat mereka selalu duduk manis di papan atas klasemen Bundesliga. Hingga akhirnya mereka di empat spieltag terakhir menduduki posisi puncak klasemen dengan selisih lima poin atas Dortmund.
Sementara itu di DFB Pokal, langkah Die Werkself juga mulus-mulus saja. Mengandaskan para musuhnya sejak ronde pertama seperti Jans Regensburg, Bochum, Hannover, TSV 1860 Munchen, serta FC Koln, membuat anak asuh Toppmoller melenggang ke partai puncak menantang Schalke 04.
Tak hanya sampai level domestik saja, performa gacor Leverkusen ternyata juga menular di kompetisi Eropa. Musim itu mereka secara mengejutkan menjadi underdog yang ditakuti di Liga Champions.
Di babak grup pertama, mereka lolos sebagai runner up bersama Barcelona yang sempat mereka kalahkan. Kemudian di babak grup kedua mereka menjadi juara grup dengan menyingkirkan klub hebat seperti Deportivo La Coruna, Arsenal, maupun Juventus.
Musim itu Die Werkself dikenal pembunuh wakil Inggris. Setelah menyingkirkan Arsenal di fase grup kedua, Leverkusen mengalahkan Liverpool di perempat final dan MU di semifinal. Akhirnya sebuah sejarah pun tercipta. Leverkusen menempuh final pertamanya di Liga Champions dengan menantang wakil Spanyol, Real Madrid.
The ONLY time Liverpool have been eliminated from the #UCL after winning the first-leg of a knock-out tie was 2001/02 vs Bayer Leverkusen 🗓
— LiveScore (@livescore) April 13, 2022
🏴 Liverpool 1-0 Bayer 🇩🇪
🇩🇪 Bayer 4-2 Liverpool 🏴 pic.twitter.com/PoCI0miWHi
Mr Runner Up dan Neverkusen
Harapan besar meraih “Treble Winner” pun seketika menyeruak di publik BayArena. Namun apa yang terjadi? Sebuah pencapaian istimewa itu kemudian sirna dan berakhir pilu.
“Treble Winner” yang mereka impikan seketika berbalik nama menjadi “Treble Horror”. Mereka tak menyangka hanya dalam 11 hari mereka kehilangan kesempatan meraih trofi di tiga kompetisi sekaligus.
Dimulai dari lepasnya gelar Bundesliga. Kekalahan mengejutkan di spieltag 32 dan 33 melawan Werder Bremen dan Nuernberg membuat peta persaingan berubah. Dari yang ketinggalan 5 poin, Dortmund berbalik arah menduduki posisi puncak dengan selisih 1 poin di spieltag ke 33.
Di Spieltag terakhir 4 Mei 2002 melawan Hertha Berlin, selain harus menang Die Werkself juga harus berharap Dortmund tersandung melawan Werder Bremen. Namun naas, Dortmund tetap meraih tiga poin. Berkat hasil itu Leverkusen akhirnya harus puas kembali menjadi runner up dan menyerahkan gelar Bundesliga pada anak asuh Matthias Sammer.
Bauer leverkusen 2001/02, nearly won the treble, lost CL final and pokal final alongside loosing the league on the final day of the szn, went from 2nd one szn to 15th the next, also eventually lost guys like ballack and berbatov https://t.co/KAKHFFTtyd pic.twitter.com/ybAM76ULyj
— Tammy (@Tammy_UTD) October 30, 2022
Selang tujuh hari, tepatnya pada 11 Mei 2002, laga final DFB Pokal melawan Schalke 04 di Berlin juga berakhir pilu. Schalke asuhan Huub Stevens secara mengejutkan mampu mengalahkan Leverkusen dengan skor 4-2. Lepaslah lagi trofi yang sudah mereka diidam-idamkan sejak 1992 itu.
Selang empat harinya, kisah pilu itu kembali hadir menyelimuti kubu Leverkusen. Tepatnya terjadi di Glasgow 15 Mei 2002, pada laga final Liga Champions melawan Real Madrid. Die Werkself ketika itu harus menyerah oleh gol sensasional Zinedine Zidane dengan skor 2-1.
Bayer Leverkusen sat five points clear atop the Bundesliga with three matches left in the 2001/02 season and looked on course for a treble — they would proceed to lose the league to Dortmund by a point and finish trophyless.@HE_Ftbl on 'Neverkusen':https://t.co/xKrRwjwBA0 pic.twitter.com/GJQUEvg1lj
— Breaking The Lines (@BTLvid) February 7, 2023
Lepasnya tiga gelar sekaligus Leverkusen itu akhirnya dikenal dengan sebutan “Bayer Neverkusen”. Julukan plesetan yang berakar dari seringnya mereka menjadi runner up. Namun dalam kisah pilu tersebut, bagaimanapun pencapaian Leverkusen musim itu istimewa dan patut diapresiasi.
Berkat tuah pelatih Klaus Toppmoller dan generasi emas mereka, kisah perjalanan istimewa Leverkusen itu patut untuk dirindukan bagi publik BayArena. Walaupun itu sebenarnya pahit adanya.
Bayer Leverkusen in the 2001/02 season:
— Squawka (@Squawka) May 20, 2019
🥈 Bundesliga
🥈 DFB-Pokal
🥈 Champions League
"Bayer Neverkusen." 😉 pic.twitter.com/iUSwnlUb4Z
Sumber Referensi : fourfourtwo, kicker, breakingthelines, sportingnews, thefalse9, dfbpokal


