Ada dua hal di dunia ini yang sulit dimengerti. Pertama, perempuan. Lalu yang kedua, Chelsea di era Todd Boehly. Sedang asyik masyuk melatih Chelsea. Membangun filosofi sepak bola di Stamford Bridge. Dan tentu saja mengikuti kemauan sang pemilik. Namun, tak membuat Graham Potter punya nasib yang lebih cerah daripada pelatih sebelumnya.
Dia diberhentikan alias dipecat. Ya, ini bukan sebuah gurauan. Kekalahan dari Aston Villa menjadi laga terakhir Graham Potter di Chelsea. Pelatih yang membangun reputasinya bersama Brighton and Hove Albion itu bisa jadi rusak citranya setelah pemecatan tersebut.
Tapi mengapa? Apa yang bikin Graham Potter mesti dipecat secara brutal? Kalau mau mengikuti yang sudah-sudah, Potter toh bukan pelatih yang neko-neko. Dia setidaknya berbeda dengan Thomas Tuchel yang kepala batu.
Daftar Isi
Graham Potter Pantas Dipecat?
Terlepas dari pemecatan tersebut, sejatinya Graham Potter memang pantas untuk melatih tim. Tapi bukan Chelsea, melainkan tim lain yang levelnya setingkat Brighton and Hove Albion. Chelsea terlalu besar untuk Graham Potter. Ini bukan berarti Potter tidak bagus dalam melatih.
Semua sepakat Potter adalah pelatih yang hebat. Pelatih yang punya gaya permainan atraktif. Pelatih yang juga sangat cocok ditunjuk untuk proyek jangka panjang. Tapi buat melatih The Blues, maqam Graham Potter belum sampai ke sana.
🚨🚨 BREAKING: Graham Potter has been sacked by Chelsea.
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) April 2, 2023
“Chelsea would like to thank Graham for all his efforts and contribution and wish him well for the future”, club statement announces. pic.twitter.com/NNZpuXTkzp
Terlalu tinggi tekanan di klub besar. Meski dijanjikan proyek jangka panjang, tapi kalau tak ada tanda perkembangan, siap-siap bakal diusir. Chelsea kan memang begitu. Apalagi selama menukangi Chelsea, Potter tak menunjukkan kiprah yang baik. Walaupun di awal cukup mengesankan.
Jika dibandingkan dengan pelatih lain yang pernah menukangi Chelsea, Potter punya catatan poin per game terendah, yaitu 1,42 dari 31 laga. Itu bahkan jauh lebih kecil dari salah satu periode buruk Chelsea di bawah Andre Villas-Boas yang rata-rata poin per game-nya 1,75 dari 40 laga.
Tentu dasar itu saja kurang kuat karena ada perbedaan jumlah laga. Namun jika mengacu pada pemerosotan jelang dipecat, Potter juga lebih kentara. Dalam 12 laga sebelum dipecat, Potter hanya memenangkan empat laga dan kalah di empat laga lainnya.
Graham Potter, how DARE you make jokes about Crisis Meetings, then go on to lose to Tottenham.
— AzM (@CFCAzM) February 26, 2023
Chelsea haven’t won a Game for 2 Months. 4 wins in the Last 20. What’s funny about that?
You’re not fit to be the Manager of Chelsea. Todd Boehly, you MUST SACK this fraud TONIGHT. pic.twitter.com/X99AxiRtjp
Sementara dalam 12 laga sebelum didepak, Thomas Tuchel dan Frank Lampard memenangkan lima laga. Sarri dan Antonio Conte bahkan masing-masing memenangkan enam dan tujuh laga.
Tampaknya cuma Jose Mourinho yang lebih buruk dari Graham Potter. Sebab jelang pemecatannya di periode kedua, Mourinho hanya mengantarkan Chelsea menang empat kali dan kalah lima kali dalam 12 laga terakhir.
Selain itu, dilansir Goal, situasi kemarahan di ruang ganti juga disinyalir mendorong pemecatan Graham Potter. Namun, di sisi lain pemecatan Graham Potter bisa jadi menunjukkan ada yang salah dari proyek Chelsea.
Kedatangan Todd Boehly Mengacaukan Segalanya
Situasi sulit ini diawali ketika Roman Abramovich terpaksa harus menjual Chelsea. Dan konsorsium dari Amerika Serikat yang dipimpin Todd Boehly mengakuisisi klub London tersebut. Sejak saat itu wajah Chelsea berubah.
Thomas Tuchel menjadi korban. Dia dipecat lalu menyusul Marina Granovskaia bersama gerbongnya termasuk Petr Cech hengkang. Tak sampai di bagian kepelatihan dan perekrutan saja. Kekejaman Todd Boehly juga dirasakan anggota staf klub lainnya.
The last time Thomas Tuchel post on Twitter was September 11, 2022 when he reacted to Chelsea sacked pic.twitter.com/Z3hwHPkSWA
— Live Stream Football ✿ (@Livestream138) February 10, 2023
Kepala Fisioterapi Chelsea, Thierry Laurent yang sudah bekerja selama 17 tahun diberhentikan oleh Todd Boehly. Lucunya, Laurent dipecat dengan cara yang tidak terhormat via panggilan Zoom singkat, sebagaimana dilaporkan Daily Mail.
Selain kepala fisioterapi, Direktur Medis, dr. Paco Biosca yang sudah mengabdi selama 11 tahun juga dipecat oleh Todd Boehly. Pria kelahiran 1973 itu tampaknya berhasrat merombak total Chelsea. Dia tak sudi “antek” Roman Abramovich ada di timnya. Namun, tindakannya itu justru menimbulkan kritik.
CHELSEA SACK LONG-SERVING STAFF VIA ZOOM#ChelseaFC have sacked long-serving head physiotherapist Thierry Laurent, has been working with the West #London club’s senior players since 2005 – 17 years ago – and was promoted to his head physio role in 2014. pic.twitter.com/nJXOjXrBYE
— Beta Striker (@betterstriker) September 27, 2022
Direktur Olahraga Mainz, Christian Heidel pernah mengecam keputusan Boehly memecat Tuchel. Dilansir Goal, Heidel mengatakan, Chelsea akan menyesal memecat Thomas Tuchel. Chelsea, kata Heidel, tidak akan mendapatkan pelatih sehebat dia lagi dengan cepat.
Rencana Boehly yang Bisnis Terus, Bisnis Ajah
Seperti kentut di siang hari, kritik-kritik yang bermunculan tak dipedulikan Boehly. Setelah memecat Tuchel bersama antek-anteknya, Boehly mendapatkan Graham Potter di kursi pelatih. Dia lantas mencari sosok untuk jabatan sporting director.
Exclusive : Todd Boehly is keen to copy City football group by setting up a network of feeder clubs and from there Chelsea will cherry pick the best young talent from abroad or the academy and send them off to their subsidiary to put their skills to the test. (@andydillon70) #CFC pic.twitter.com/vXk4wZi2T1
— Pys (@CFCPys) September 10, 2022
Seolah tak ada yang ingin bekerja sama dengannya. Para kandidat kuat yang sejatinya diinginkan Boehly untuk jadi direktur olahraga undur diri. Mulai dari Luis Campos sampai Michael Edwards. Sempat diambil alih sendiri, pada akhirnya Laurent Stewart dan Paul Winstanley ditunjuk sebagai direktur olahraga yang baru.
Nah, sampai di sini Boehly mulai terbuka membicarakan proyeknya di Chelsea. Betul, ada proyek yang berkaitan dengan sepak bola. Dilansir Mirror, Boehly ingin menciptakan jaringan olahraga, sehingga mudah untuk mengakomodasi bakat muda. Boehly ingin meniru City Football Group.
Apa pun itu, garis besar rencana Boehly adalah membentuk Chelsea sebagai merek global. Tentu saja untuk bisnis. Melalui Chelsea dia ingin merancang jaringan bisnis raksasa.
#Update: Chelsea Co-Sporting Directors Laurence Stewart and Paul Winstanley led the decision to make a change and were given the full support by Todd Boehly and Behdad Eghbali to sack Graham Potter.
— CFC Buddy (@CFCBuddy) April 2, 2023
(@Matt_Law_DT) #CFC pic.twitter.com/bYm713dTr8
Gelontoran Banyak Uang
Nafsu manusia sulit terbendung. Setelah mengakuisisi Chelsea dan mendepak orang-orang yang perlu didepak, Boehly menggelontorkan banyak uang untuk Chelsea. Musim ini Chelsea pun belanja besar-besar. Gengsi Todd Boehly sepertinya tak tertolong.
Dilaporkan Deloitte seperti dikutip Added Minutes, total belanja klub Premier League musim 2022/23 musim ini adalah 2,8 miliar poundsterling (Rp51,8 triliun). Chelsea berada di urutan teratas dengan mengeluarkan 546,1 juta poundsterling (Rp10,1 triliun). Angka itu jauh lebih banyak dari MU (217,3 juta pounds) dan Manchester City (134,4 juta pounds).
Ironisnya, dengan biaya sebanyak itu, Chelsea malah terpuruk. Sampai pada dipecatnya Graham Potter, The Blues masih berkutat di papan tengah klasemen saat tim seperti Newcastle United sedang berebut jatah Liga Champions.
Imagine spending close to £600m over the last two transfer windows and having the quality that we have in our squad, yet think it’s acceptable to continue with this manager despite being stuck in 11th place.
— Futbol Chelsea (@FutbolCheIsea) April 2, 2023
Ridiculous for a club of Chelsea’s stature. pic.twitter.com/TQrljNHj0b
Cocot Boehly Tak Konsisten
Dalam menakhodai Chelsea, Todd Boehly sepertinya menggunakan jurus yang kalau dalam istilah orang Jawa disebut cocot kencono. Asal ngomong saja. Sementara praktiknya masih jauh panggang dari api. Misalnya soal pemain muda. Boehly katanya berniat untuk mengembangkan pemain muda.
Tapi kenyataannya dia malah mengangkut banyak pemain muda. Wesley Fofana, Noni Madueke, Benoit Badiashile, Gabriel Slonina, Enzo Fernandez, Mykhailo Mudryk, sampai Carney Chukwuemeka semuanya diangkut. Bahkan dengan biaya yang mendekati 400 juta poundsterling (Rp7,4 triliun).
Mykhailo Mudryk goal tomorrow please. 🙏 pic.twitter.com/4tZcs6xPso
— Chelsea Dodgers 🧢 (@TheBlueDodger) March 31, 2023
Pembelian para pemain muda ini justru bisa berdampak pada pemain akademi. Pemain dari Cobham makin kesulitan bersaing. Sudahlah harus bersaing dengan yang lebih senior, ini bersaing dengan pemain muda lainnya yang tentu saja, harganya lebih mahal.
Soal Graham Potter, Boehly juga mengingkari omongannya sendiri. Dulu ketika ditunjuk, Potter akan diberikan kesempatan untuk membangun Chelsea. Potter ditunjuk untuk rencana jangka panjang. Kontraknya saja lima tahun dengan jaminan kesabaran dan dukungan. Tapi setahun saja belum sudah dipecat.
Kepala penulis bola BBC, Phil McNulty menulis, pemecatan Potter makin memperlihatkan bahwa Chelsea tak punya rencana. Semua yang direncanakan Boehly pepesan kosong belaka.
Selain itu, pemecatan Potter menunjukkan era Boehly lebih parah dari Abramovich. Sebab selama kepemimpinan orang Rusia itu, Chelsea tidak pernah memecat lebih dari satu pelatih dalam semusim.
AfricaBrief ‘Potter’s brutal sacking latest twist in Boehly’s chaotic reign’: As Graham Potter lasts just 31 games as Chelsea boss, BBC Sport’s chief football writer Phil McNulty reflects on the latest turmoil at the club. https://t.co/8OLmQeKHvt AfricaBrief pic.twitter.com/lwxZoNAPqQ
— Winston Mwale-Editor-in-Chief, AfricaBrief (@WinstonMwale) April 3, 2023
Kini, Esok, dan Nanti
Perjuangan Potter diteruskan oleh Bruno Saltor. Chelsea dan Todd Boehly rupanya tidak mau terburu-buru untuk merekrut pelatih baru. Meski nama-nama besar seperti Julian Nagelsmann, Zinedine Zidane, sampai Pochettino dirumorkan akan melatih Chelsea.
Namun, yang jadi persoalan bukan siapa yang akan melatih. Tapi bagaimana pemilik bersikap. Kalau cara-cara lama masih saja dipakai, sampai satu hari menjelang kiamat pun, Chelsea tetap sama. Seperti apa yang ditulis Phil McNulty, Boehly tidak hanya harus mengambil keputusan besar, tapi juga benar.
Sumber: CNN, Goal, Kumparan, SportingNews, Express, TheAthletic, TheAthletic2, ChelseaFC


