Satu gol ke gawang Manchester United pada akhir pekan kemarin sudah lebih dari cukup untuk mencintai Roberto Firmino. Gol yang walaupun sebetulnya tidak begitu penting, karena tanpa gol itu pun Liverpool sudah lebih dari cukup untuk menghempaskan kembali United ke tanah.
Namun, walau satu gol, setidaknya gol itu menggenapi kemenangan 7-0 Liverpool atas Manchester United. Tidak hanya itu, gol tersebut bisa jadi sangat bermakna bagi Firmino. Apalagi gol itu bisa jadi gol terakhir Firmino ke gawang United ketika berseragam The Reds.
Bobby sudah memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya. Ia akan hengkang pada musim panas mendatang. Namun, hengkangnya Firmino dari Liverpool membuat bahkan yang bukan fans Liverpool merasa kehilangan. Paling tidak kita akan kehilangan salah satu pemain yang paling dicintai di Liga Inggris.
Sebab rasa-rasanya sulit sekali untuk tidak mencintai Roberto Firmino. Mengapa? Berikut alasan sulit untuk tak mencintai Bobby Firmino.
Daftar Isi
Datang, Buruk, tapi Bertahan
Roberto Firmino adalah bakat luar biasa yang ditemukan Liverpool. Manajer Liverpool saat ini saja heran mengapa timnya itu bisa menemukan Firmino. Klopp menyadari bahwa pemain yang satu ini punya kualitas jempolan. Namun, ia ‘hanya’ bermain di klub sekelas Hoffenheim.
Maka dari itu, Klopp salut pada Liverpool bisa menemukan Firmino. Tentu ia harus berterima kasih pada manajer The Reds sebelumnya. Adalah Brendan Rodgers, manajer Liverpool yang mendatangkan Firmino ke Anfield pada 2015.
👕 239 appearances
— Liverpool FC News (@LivEchoLFC) July 6, 2020
⚽️ 77 goals
🎯 53 assists
🏆 Champions League
🏆 UEFA Super Cup
🏆 FIFA Club World Cup
🏆 Premier League
On this day in 2015, Roberto Firmino joined Liverpool for £29m… pic.twitter.com/4ulZragQY2
Firmino didatangkan The Reds dengan banderol yang lumayan mahal. Waktu itu biayanya mencapai 29 juta poundsterling atau sekitar Rp535 miliar kurs sekarang. Namun, ketika datang ke Anfield, Firmino seperti tersesat di sebuah klub yang entah.
Selama ditangani Brendan Rodgers keadaan tidak membaik untuknya. Bahkan untuk striker yang moncer bersama Hoffenheim, penampilan awal Firmino dianggap sangat buruk. Hal itulah yang membuatnya agak membingungkan. Keadaan itu berlangsung sampai pelatih Irlandia Utara itu didepak dan digantikan Jurgen Klopp.
Firmino memilih bertahan. Ya, benar sekali. Keputusan untuk bertahan di Anfield adalah pilihan yang tepat. Sebab di tangan Jurgen Klopp, Firmino makin ranum.
Jurgen Klopp:
— Berita Sepakbola Dunia (@gilabola_ina) March 4, 2023
“Mo Salah adalah kelas dunia, tapi tidak setiap hari. Mane adalah kelas dunia, tapi tidak setiap hari. Firmino adalah kelas dunia dan itu hampir setiap hari.”
Legenda Liverpool 👏 pic.twitter.com/WCwfAvudgw
Striker Komplet
Sepanjang sejarah sepak bola modern, kehadiran striker dengan atribut komplet menjadi penting. Walau untuk menemukannya bukan perkara mudah. Khusus di Liga Inggris hal semacam itu menjadi sangat langka. Nah, kehadiran Firmino menerobos kelangkaan tersebut.
Sejak ditukangi Jurgen Klopp, Firmino bertransformasi tidak hanya sebagai penyerang yang memburu gol. Ia bukan sekadar tipikal penyerang tap-in atau target man kelas wahid. Bobby memang pernah ditaruh sebagai penyerang tunggal.
Awalnya tak berkilau. Tapi Jurgen Klopp mencoba lagi untuk mengutak-atik posisi Firmino. Ia kemudian jadi false nine. Saat menghadapi Manchester City pada November 2015, Firmino ditempatkan di lini serang bersama dua penyerang lainnya.
Firmino diberi leluasa dalam bergerak. Ia bisa masuk ke area berbahaya, turun sebentar, dan mengambil peran mendukung atau didukung pemain lain. Posisi itulah yang akhirnya membuat Liverpool di laga itu menang 4-1 atas Manchester City.
Roberto Firmino 2017/18
— Stray Offside (@StrayOffside_) April 2, 2018
23 goals
12 assists
35 goal contributions so far this season. Master of the false nine role. pic.twitter.com/H0sVnxRTzV
Selain false nine, Firmino juga terkadang mengambil peran second striker atau penyerang lubang. Di Hoffenheim ia melakukanya, dan di Liverpool pun sama. Firmino juga bisa menjadi gelandang serang yang dahsyat.
Walau ditaruh di posisi mana pun Firmino ikhlas. Bahkan andai jadi kiper, rasanya Firmino tak masalah. Apalagi di sesi latihan ia pernah mencobanya. Dan kabarnya kemampuannya jadi kiper lebih dari Adrian.
Etos Kerja
Kalau saja ada penghargaan untuk pemain dengan etos kerja tinggi, Firmino haruslah yang terpilih membawa pulang penghargaan itu. Rasa-rasanya tidak ada pemain yang punya etos kerja sehebat Firmino. Pemain Brasil itu bermain dengan visi dicampur skill.
Jurgen Klopp:
— Watch LFC (@Watch_LFC) November 3, 2020
“The world is sometimes a bad place, in the moment when somebody is shining, we immediately speak about another player who played what feels like 500 games in a row. Without Bobby Firmino we would not even be in the CL.” 🙌 pic.twitter.com/Lvz6aKXTT6
Ketika tampil buruk di tangan Rodgers, Firmino tetap bekerja keras. Ia seolah tak peduli hasilnya. Yang penting bagi Firmino adalah bermain, memberikan segalanya untuk klub yang dibelanya. Etos kerja Firmino bahkan dipuji habis-habisan oleh mantan pemain The Reds, Dirk Kuyt.
“Pemain ini (Firmino) pekerja keras. Saya selalu menonton hampir semua pertandingan Liverpool, dan saya selalu melihat Firmino memberikan segalanya untuk tim. Walau kadang tidak mencetak gol dan asis,” kata Kuyt.
Tidak Egois
Siapa pemain paling egois di Premier League? Banyak sekali. Tapi kalau pertanyaannya adalah siapa pemain paling tidak egois? Barangkali kita sepakat akan mengerucutkan nama ke Roberto Firmino. Sepertinya tidak ada striker yang paling tidak egois dibanding Firmino.
Firmino rela tidak mencetak gol dan asis. Yang penting bagi Firmino, temannya sajalah yang bersinar. Itu misalnya ia lakukan ketika memberi umpan pada Takumi Minamino ketika masih berseragam The Reds. Dalam kemenangan 3-0 atas Brentford pada musim lalu, Firmino menaikkan kepercayaan diri pemain Jepang.
Ia yang lebih senior tidak masalah memberikan umpan ke Minamino. Membuat pemain Jepang yang kala itu sedang ulang tahun tergugah mentalnya. Firmino juga acap kali membiarkan mitranya, Mohamed Salah maupun Sadio Mane mencetak gol.
Bahkan ketika hadir Cody Gakpo dan Darwin Nunez, Firmino rela tidak dimainkan. Tak hanya itu, malah Firmino rela dirinya pergi demi regenerasi Liverpool. Sikapnya yang tidak egois inilah wajar kalau Sadio Mane pernah pasang badan saat ia dikritik lantaran melempem.
While we’ve had a lot of talk about Mo Salah’s contract, with his deal up in 2023, Sadio Mane and Roberto Firmino are also in the same position.
— Anfield Edition (@AnfieldEdition) November 13, 2021
Would you offer them both new deals? Or would it better to cash in on one (or both) this summer and refresh the team? pic.twitter.com/34vmibXBab
“Ia (Firmino) layak mendapat pujian daripada saya dan Mo (Salah), tentu saja,” kata Sadio Mane dikutip Four Four Two dari ESPN.
Bagi Mane, dirinya dan Salah tidak akan bersinar kalau tidak ada Firmino. Mane dengan nada bercanda sampai-sampai mengatakan kalau Firmino harus berganti kewarganegaraan Senegal. Pemain Senegal itu ingin selalu berpartner dengannya. Sikap yang ditunjukkan Firmino menjadikannya ibarat seorang sufi.
Setia pada Liverpool dan Tidak Banyak Tingkah
Di era uang di atas segalanya, sangat sedikit pesepakbola yang loyal pada timnya. Tapi Firmino tidak demikian. Sekali Liverpool, tetap Liverpool, begitu kira-kira. Tatkala memilih tidak memperpanjang masa baktinya dengan The Kop, Firmino tidak ingin berseragam tim Inggris lainnya.
Firmino sudah terlanjur mencintai Liverpool. Panggilan “Bobby” yang datang dari para penggemar sangat membuatnya nyaman. Dia merasakan kehangatan dari para fans berkat panggilan itu. Hal itulah yang mendorongnya totalitas bermain untuk The Reds.
Bobby Firmino. That’s the tweet. pic.twitter.com/MBc0bigE9G
— ~ (@snappedlfc) March 5, 2023
“Saya suka mendengar panggilan itu dari para fans. Itu sangat menyenangkan,” kata Firmino. Ia ingin membalas kecintaan fans padanya dengan trofi. Dan Bobby sudah melunasinya.
Selain itu, ada yang pernah mendengar Bobby terlibat kontroversi? Nah, begitulah. Firmino adalah pemain yang tidak banyak tingkah. Dimainkan ya syukur, tidak ya, dia legowo. Jurgen Klopp pun mengamini hal itu.
Baginya, Firmino adalah pemain yang sangat tenang, tidak temperamental, dan selalu memberikan dampak positif. Klopp malah berani menggaransi, Firmino akan selalu memuaskan siapa pun pelatihnya. Sampai di sini, masih adakah yang tidak mencintai Roberto Firmino? Kalau ada, bagaimana bisa kamu tidak mencintai Firmino?
Sumber: TheGuardian, TheTransferRoom, ThisIsAnfield, LiverpoolEcho, Talksport, 442, Sportskeeda, GOAL


