Ada yang menarik jika sepakbola dihubungkan dengan geografi. Terutama untuk mengetahui peta persebaran beberapa pemain dari belahan dunia. Di liga-liga top Eropa tentu banyak tersebar talenta-talenta terbaik sepakbola dari segala penjuru dunia.
Yang sering jadi pertanyaan, dari beberapa liga top Eropa seperti Premier League, Serie A, La Liga, Bundesliga, maupun Ligue 1, siapa sih negara yang paling banyak menyumbang pemain? Mari kita cari tahu jawabanya.
Daftar Isi
Premier League
Dimulai dari liga terpopuler nomor satu di dunia, Premier League. Usai rebranding sejak 1992, Liga Inggris tumbuh sebagai liga terkompetitif dan jadi liga terbaik di dunia hingga sekarang. Deretan pemain top dunia hampir ada di setiap klub.
Sky Sports advert for the new Premier League, 1992. pic.twitter.com/vXaAbfr5K0
— 90s Football (@90sfootball) February 25, 2023
Namun apa kabar dengan pertumbuhan pemain asli Inggris di Premier League? Ya, hal itu mengalami penurunan sejak saat itu. Bahkan hingga tahun 2015, ketika sempat ditekan dengan kebijakan dari FA.
Ketika itu FA di bawah ketua Greg Dyke memberlakukan perubahan aturan yang menetapkan semua klub di Premier League harus memasukkan jumlah minimum pemain lokal ke dalam skuad mereka.
Alhasil menurut data The Athletic, sejak 2015 hingga musim lalu, jumlah pemain asli Inggris yang ada di skuad tim-tim Premier League meningkat 41%.
Namun di musim ini ternyata terjadi dampak penurunan yang signifikan. Hal itu terbukti dari data yang menunjukkan hanya sekitar 35% pemain asli Inggris yang menghuni tim Premier League.
🗺️ 110 different nations represented in the #PL in the last decade
— The Athletic | Football (@TheAthleticFC) March 1, 2023
🇧🇷 Brazilians: everywhere
🇮🇹 Serie A’s Balkan habit@MarkCarey93 analyses the global identity of Europe’s top five leagues
Salah satu penyebabnya yakni adanya kebijakan gempuran para pemain asing dari tim-tim Premier League yang makin kaya. Kebijakan ketat “Brexit” di bursa transfer Inggris yang menetapkan pembatasan izin kerja dari para pemain asing, tampaknya tak berfungsi membendung eksodus para pemain asing dengan harga mahal.
Tak dipungkiri para klub Premier League kini berlomba-lomba sebanyak mungkin memenuhi kedalaman skuadnya dengan para pemain asing, baik itu pemain muda maupun tua.
Bahkan sejak 2017/18, tercatat pemain asli Inggrisnya sendiri malah memilih keluar dari Liga Inggris. Di musim ini saja ada 30 orang Inggris yang tersebar di luar Premier League. Contohnya di Serie A ada Tammy Abraham, Chris Smalling, maupun Fikayo Tomori. Di Ligue 1 juga ada Ross Barkley, Florian Balogun, maupun Djed Spence.
🏆 Fikayo Tomori is a Serie A champion
— WhoScored.com (@WhoScored) May 23, 2022
⚽ Tammy Abraham breaks the record for most goals scored by an Englishman in Serie A history (17)
🇮🇹 Two English players flourishing in Italy pic.twitter.com/davIskbz0L
Sebagai catatan saja, meskipun banyak pemain asing di Premier League, ternyata liga ini bukan yang paling beragam. Premier League hanya punya pemain dari 68 negara yang tersebar di 20 klub Premier League musim ini.
Dan yang paling unik perkembangannya adalah peningkatan pemain asal Brazil. Hal ini cukup signifikan karena sekarang Premier League memiliki 36 pemain negeri Samba. Ini adalah jumlah tertinggi dalam sejarah Premier League.
𝙎𝙐𝙋𝙀𝙍𝘾𝙃𝘼𝙍𝙂𝙀𝘿 𝙓𝙄
— Squawka (@Squawka) September 2, 2022
14 🇧🇷 players were signed by PL clubs this summer…
Is this the best possible Brazilian-only Premier League line-up? 🤙 pic.twitter.com/RxnUAT2CrB
Serie A
Serie A justru menjadi liga paling beragam dibanding Inggris. Tercatat musim ini ada pemain dari 72 negara berbeda di klub Serie A. Sama halnya seperti Liga Inggris, Serie A juga mengalami penurunan signifikan dari jumlah pemain lokalnya.
Hanya 40% musim ini pemain asli Italia yang berada di klub Serie A. Ini adalah angka terendah dalam satu dekade terakhir. Presiden Federasi Sepak Bola Italia, Gabriele Gravina serius menyoroti fakta itu. Ia bahkan khawatir akan hal itu.
“Musim ini tidak positif, kami hampir tidak banyak melihat para pemuda Italia,” kata Gravina di awal musim. Ia menyadari bahwa 60 persen pemainnya kini adalah orang asing. Dan ini menurutnya bukan pertanda baik.
Menurut Gravina, hal inilah juga yang akan merusak regenerasi timnas Italia yang sedang dijalankan ini. Meskipun dirinya tetap berterima kasih terhadap klub Italia yang masih mengorbitkan dan merawat talenta lokal dengan baik.
Gabriele Gravina, the president of the FIGC, expressed concern over the number of foreign players in Serie A but was positive about the growth of Italian football. https://t.co/ujPKDxdMpe #Gravina #FIGC #SerieA #Calcio
— Football Italia (@footballitalia) August 22, 2022
Lalu negara mana yang mendominasi selama ini di Serie A? Ya, salah satunya yang terbesar yakni negara-negara Amerika Selatan macam Brasil dan Argentina. Dua negara itu telah menjadi bagian tak terelakan dari kemajuan sepakbola Italia selama bertahun-tahun. Bahkan musim ini saja, tercatat pemain dari dua negara itu memiliki menit bermain lebih dari pada pemain asli Italia di Serie A.
Selain negara Amerika Selatan, negara-negara Balkan seperti Serbia, Kroasia, Bosnia maupun Albania juga sering mewarnai Serie A selama satu dekade terakhir. Berkaca dari kesuksesan pemain macam Goran Pandev, Kolarov, Mihajlovic, maupun Stankovic, kini pemain macam Vlahovic, Dzeko, Brozovic maupun Milinkovic-Savic juga telah mewarnai Serie A selama beberapa tahun terakhir. Hampir 10 persen jumlah pemain dari negeri Balkan bermain di Serie A musim ini.
Stasera sfida fra 2 dei migliori bomber serbi 🇷🇸 nella storia del nostro campionato: Dejan #Stanković dalla panchina proverà a limitare le qualità di #MilinkovicSavic.#TMdatabase #LazioSamp #lazio #sampdoria pic.twitter.com/RTqC3Aqutd
— Transfermarkt.it (@TMit_news) February 27, 2023
La Liga
Beralih ke La Liga. La Liga dalam satu dekade terakhir ini patut membanggakan diri karena masih setia dengan mayoritas talenta lokalnya di beberapa klub La Liga. Bahkan angkanya selalu tertinggi dari liga-liga top Eropa lainnya. Angkanya selalu lebih dari 50 persen di tiap musimnya.
Hal itu tercermin dari beberapa akademi klub besar di La Liga seperti La Fabrica maupun La Masia yang selalu menghasilkan pemain hebat asal Spanyol. Bahkan mereka mampu dirawat hingga menjadi tulang punggung tim selama bertahun-tahun.
Qué cantera es mejor??
— El Míster (@venamadridismo1) October 18, 2021
🔁RT: La Fábrica
❤️MG: La Masía pic.twitter.com/RbzzAOJkRQ
Selain dari talenta lokal, yang paling tertinggi di La Liga dalam satu dekade terakhir adalah pemain dari Amerika Selatan. Terkhusus Argentina dan Brazil yang selalu mendominasi.
Talenta-talenta bintang Amerika Selatan itu juga tak dipungkiri selalu menjadi ikon La Liga. Mulai dari Alfredo Di Stefano, Romario, Maradona, Rivaldo, Ronaldo Nazario, Ronaldinho, Neymar, hingga Messi.
Bundesliga
Beralih ke Bundesliga. Sama halnya dengan Spanyol, para pemain asli Jerman tersebar di beberapa klub Bundesliga. Meskipun dari segi jumlah, masih kalah dengan apa yang terjadi di La Liga. Di Bundesliga hanya stabil di angka 45 persen ke atas dalam satu dekade terakhir.
Artinya banyak juga talenta asing yang tersebar. Tiga negara di luar Jerman yang mendominasi Bundesliga saat ini yakni Prancis, Austria, dan Swiss. Dan yang patut diperhatikan perkembangannya yakni para pemain dari Prancis. Jumlahnya tercatat melonjak drastis musim ini.
Sebagai perbandingan, jika ditarik dari satu dekade lalu tepatnya di musim 2012/13, di Bundesliga hanya ada tiga pemain Prancis: Franck Ribery (Munchen), Matthieu Delpierre (Stuttgart), dan Jonathan Schmid (Freiburg).
Top 5️⃣ des Français ayant disputés le plus de matchs en #BuLi ⚽🇫🇷
— B/L Fußball (@Bundes_FR) October 8, 2020
Franck Ribéry – 273
Jonathan Schmid – 255
Matthieu Delpierre – 185
Willy Sagnol – 184
Bixente Lizarazu – 183 pic.twitter.com/77nr2NeCx3
Namun jika dilihat di musim ini, jumlah pemain Prancis yang berada di Bundesliga menjadi sebanyak 42 pemain. Bahkan para pemain Prancis itu menjadi pilar penting bagi klubnya. Seperti Randal Kolo Muani, Marcus Thuram, Christopher Nkunku maupun para pemain Munchen seperti Lucas Hernandez, Upamecano, Kingsley Coman, maupun Benjamin Pavard.
Bayern will be able to start an all-French back four next season:
— Squawka (@Squawka) February 14, 2021
🇫🇷 Lucas Hernández
🇫🇷 Benjamin Pavard
🇫🇷 Tanguy Nianzou
🇫🇷 Dayot Upamecano
FC really does stand for French Connection. 😅 pic.twitter.com/y2Mn6ZZMFS
Ligue 1
Di Ligue 1 juga sama halnya dengan Bundesliga. Konsisten berada di angka yang stabil dari segi pertumbuhan talenta lokal yang tersebar di Liga domestik mereka. Angkanya selalu di atas 45% tiap musimnya.
Bedanya dengan liga lain, sisa persentase pemain lokalnya itu diisi sebagian besar dari talenta benua Afrika. Sangat banyak tersebar pemain dari negara Afrika di Ligue 1. Hal itu terkait dari ikatan sejarah kolonial mereka. Kesamaan bahasa dan budaya dari berbagai negara di Afrika macam Senegal, Kamerun, Mali, maupun Pantai Gading membuat mereka lebih nyaman bermain di Ligue 1.
Tak jarang juga para pemain dari Afrika Utara seperti Maroko maupun Aljazair banyak yang nyaman merumput di Ligue 1. Oleh sebab itulah banyak legenda-legenda Afrika lahir dari Ligue 1. Seperti George Weah (Monaco), Jay-Jay Okocha (PSG) maupun Didier Drogba (Marseille).
🔴 Didier Drogba : « l’Olympique de Marseille est un club planétaire avec des supporters partout dans le monde. Le seul en france a avoir remporté la Ligue des Champions. On dit souvent ( a jamais les premiers ) c’est pas pour rien, puis ici , il y’a la passion ! » #TeamOM pic.twitter.com/qErVjfGRhi
— 𝕁𝕠 ⭐️ (@Jo_8313) January 26, 2021
Sumber Referensi : theathletic, transfermarkt, fbref, forzaitalia, footballtransfers


