Liverpool oh Liverpool. Nestapa di musim ini tak henti-hentinya menghantui. Bisa-bisanya klub sebesar Liverpool yang musim lalu masih perkasa, tiba-tiba kini terpuruk dan jadi bahan lawakan.
Bukan perkara mudah bagi Klopp membawa Liverpool terus berprestasi bertahun-tahun. Sudah tujuh tahun Klopp membangun Liverpool dengan berbagai gelar. Namun apakah ini sudah saatnya era Liverpool berakhir? Ataukah justru tak banyak orang sadari bahwa era itu sudah mulai terlihat menurun sejak mereka juara Liga Inggris?
Daftar Isi
Setelah Penantian Panjang 30 Tahun
Kota Liverpool tiba-tiba meledak akan luapan riuh para fans yang tumpah ruah merayakan penantian panjang mereka. Ya, sudah 30 tahun lamanya mereka tak lagi meraih mahkota Liga Inggris.
ON THIS DAY: In 2020, Liverpool were crowned Premier League champions! 🏆 pic.twitter.com/NkAAdp5E00
— Sky Sports Premier League (@SkySportsPL) June 25, 2022
Musim 2019/20 menjadi saksi sejarah bahwa penantian panjang itu berakhir. Jurgen Klopp masuk dalam catatan sejarah bersama pelatih-pelatih The Reds terdahulu yang berhasil menggondol gelar Liga Inggris.
Tak kebetulan Klopp meraih mahkota itu. Ia jungkir balik membangun The Reds dengan penuh perjuangan sejak datang 2016 silam. Butuh proses panjang selama empat tahun, baru ia bisa mencapai titik itu.
Kerangka skuad yang dibangun selama bertahun-tahun itu mencapai klimaksnya. Allison, Van Dijk, Gomez, Robertson, Alexander-Arnold, Fabinho, Henderson, Wijnaldum, Firmino, Salah, dan Mane tampil luar biasa.
In just 7️⃣ seasons, Jürgen Klopp has now won all 6️⃣ major trophies with Liverpool 🙌
— 433 (@433) May 14, 2022
✅ 🏆Champions League (2019)
✅ 🏆 UEFA Super Cup (2019)
✅ 🏆 Club World Cup (2019)
✅ 🏆 Premier League (2020)
✅ 🏆 League Cup (2022)
✅ 🏆 FA Cup (2022) pic.twitter.com/JQ5WNfA6gf
Tsunami Cedera dan Puasa Gelar
Nah pasca juara, tiba-tiba lambat laun mereka meredup. Hal itu mulai terendus tepatnya di musim 2020/21. Ketika mereka dihempas badai cedera terutama di lini pertahanan.
Liverpool ditinggal Van Dijk cedera panjang, lalu disusul Joe Gomez dan Matip. Krisis bek tengah itu akhirnya membuat Klopp mau tak mau menambalnya dengan pemain baru. Namun yang dibeli ketika itu hanyalah pemain kelas semenjana macam Ozan Kabak dan Ben Davies.
✓ Ozan Kabak
— Squawka Live (@Squawka_Live) February 1, 2021
✓ Ben Davies
Liverpool sign two centre-backs on #DeadlineDay but have also confirmed Joel Matip will miss the rest of the season with an ankle ligament injury. pic.twitter.com/H3dU4rLJHq
Inilah shock therapy pertama bagi Liverpool ketika mereka terlena saat berjaya. Lini belakang mereka praktis tak ada penyegaran sebelum adanya cedera. Liverpool berada pada zona nyaman dengan hanya mengandalkan kuartet Arnold, Van Dijk, Matip atau Gomez, dan Robertson. Padahal regenerasi dan persaingan sebenarnya sangat diperlukan bagi keberlangsungan pertahanan Liverpool agar bisa terus solid.
In October 2020 Virgil van Dijk ruptured his ACL, ending his season.
— B/R Football (@brfootball) July 29, 2021
A month later, Joe Gomez also suffered a season-ending knee injury.
Today, both Liverpool center-backs returned to action 💪 pic.twitter.com/RSNr9vf7zi
Akhirnya shock therapy itu terbukti membawa Liverpool puasa gelar di musim 2020/21. Mereka juga hanya duduk di posisi ke-3 Liga Inggris, dengan ‘hanya’ memasukan 68 gol dan kebobolan 42 gol.
Terlena dalam Perburuan 4 Gelar
Belajar dari musim yang buruk itu, Liverpool harusnya segera mencari solusi. Mereka akhirnya mendatangkan bek tengah Ibrahima Konate di musim 2021/22. Para punggawa bek tengah yang cedera pun kembali pulih di musim itu.
Semua berjalan sesuai rencana. Liverpool yang terpuruk kembali bangkit. Semua skuad utama yang membawa kejayaan Liverpool selama bertahun-tahun itu, tak banyak diganggu cedera. Alhasil Liverpool hampir meraih Quadruple hingga akhir musim. Namun mereka hanya mengamankan gelar di dua turnamen domestik yakni FA dan Carabao Cup.
Last season, Liverpool almost won an unprecedented quadruple.
— ESPN FC (@ESPNFC) January 29, 2023
This season, they’re out the FA Cup, out of the Carabao Cup, 9th in the Premier League and face Real Madrid next in the Champions League.
How times change 🤯 pic.twitter.com/b2AaYMusvB
Artinya, apakah dengan penampilan spektakuler itu akan berdampak baik-baik saja hingga beberapa musim kedepan? Jawabannya mungkin akan terjadi di musim 2022/23.
Terpuruk Sejak Awal Musim 2022/23
Bak seperti Dejavu pada musim 2020/21. Keadaan tiba-tiba memburuk di awal musim bagi The Reds. Alih-alih beknya yang mengalami krisis, kini mereka digilir dengan krisis baru di lini tengah dan depan.
A factor behind Liverpool’s soft centre is their weakness in midfield, something that was not adequately addressed in the summer transfer window.
— The Athletic | Football (@TheAthleticFC) November 4, 2022
It took Henderson’s hamstring injury before the green light was finally given to bolster the midfield. pic.twitter.com/iVXU5MtcF9
Dilansir dari Goal, Klopp mengakui sendiri bahwa mereka di awal musim memiliki masalah problematik di lini tengah. Satu per satu dari gelandangnya dari mulai Fabinho, Thiago, Henderson, Keita silih berganti absen.
Klopp bingung, sampai-sampai ia hanya pasrah menyiasatinya dengan pemain minim pengalaman macam Curtis Jones, Elliot, maupun Bajcetic. Dengan adanya musibah seperti itu maka teringat kembali pada masa ketika mereka terkena musibah cedera bek tengahnya dulu.
Liverpool seakan terlena tak membenahi lini tengah mereka di musim ini. Pemain yang didatangkan untuk penyegaran pun tak ada. Yang ada Liverpool malah melakukan blunder panic buying lagi dengan mendatangkan pemain mubazir Arthur Melo.
Arthur Melo, volante que já atuou na Seleção Brasileira, está na mira do Palmeiras e do Grêmio.
— Goleada Info (@goleada_info) February 27, 2023
O jogador pertence à Juventus e não renovará o seu contrato de empréstimo com o Liverpool, que se encerra em junho.
🗞 Ig Esportes
📸 Reprodução pic.twitter.com/8YkiB1Whrf
Belum selesai masalah pelik di lini tengah, Klopp sudah ditambah masalah pelik di lini depan. Bermusim-musim tak dipungkiri mereka hanya bergantung pada gol dari trio “Firmansyah”.
Blunder kepergian Sadio Mane yang tak diperpanjang kontraknya, memberikan efek cukup signifikan bagi keran gol The Reds. Dewa penyelamat mereka, Divock Origi juga sudah pergi. Ditambah senjata alternatif seperti Jota dan Luis Diaz juga ikut-ikutan latah cedera. Solusi kedatangan pemain baru macam Nunez dan Gakpo juga masih jadi tanda tanya hingga sekarang. Maklum, mereka juga butuh waktu.
DARWIN NUNEZ AND CODY GAKPO COME UP HUGE FOR LIVERPOOL 🔥 pic.twitter.com/dC84FWiwj1
— ESPN FC (@ESPNFC) February 18, 2023
Seakan hanya fokus pada permasalahan lini tengah dan depan, mereka juga tetap saja luput dari pembenahan lini belakang. Praktis tak ada satu pun punggawa bek baru yang didatangkan Liverpool musim ini.
Ibarat kata, permasalahan yang selama ini jadi biang kerok keterpurukan Liverpool pasca juara, belum juga dibenahi serius. Alhasil kini satu tim dari mulai sektor belakang, tengah, dan depan semuanya terkena efek menurun.
Kebijakan Transfer Pemain
Dari beberapa keterpurukan itu sebenarnya bisa dirunut akar masalahnya. Polanya sama, saat mereka berjaya seakan semua baik-baik saja dan tak butuh banyak perubahan.
[Media: Liverpool Echo] Jurgen Klopp drops huge Liverpool transfer hint with message FSG ‘cannot ignore’ https://t.co/Etlw5kIt65 pic.twitter.com/sf6Cr26ToU
— LFCMAGAZINE (@LFCMAGAZINE) February 24, 2023
Fenway Sports Group (FSG) sebagai pemilik yang dikenal pelit itu, bisa jadi sebab utamanya. Bahkan kebijakan transfernya pun sempat disindir Klopp sendiri. “Kalau begini terus, kita tak bisa bersaing dengan “uang negara” macam Manchester City, PSG maupun Newcastle,” kata Jurgen Klopp.
Kalau dilihat dari segi kebijakan transfer, banyak juga yang menilai Liverpool gagal. FSG sepertinya kelewat percaya pada Klopp. Mereka percaya dengan sedikit uang yang dikeluarkan, Klopp bisa menyulap pemain murah maupun pemain akademi bisa sukses seperti Trent Alexander-Arnold maupun Robertson.
Apakah Salah Klopp?
Keteledoran pihak pemilik dan direksi itu akhirnya seakan terlimpah semuanya pada Klopp. Karena Klopp lah yang bertanggung jawab pada hasilnya di lapangan. Alhasil ia kini terpuruk, meskipun sudah banyak berusaha untuk memutar otak.
🚨 EXCLUSIVE 🚨
— CaughtOffside (@caughtoffside) February 6, 2023
Jurgen Klopp’s Liverpool future may hinge on a strong display in the Champions League.
More to follow. pic.twitter.com/WaRFdloAIa
Klopp sempat mengubah cara bermainnya dari 4-3-3 ke 4-4-2 ataupun 4-2-3-1 demi menyesuaikan kekurangan yang ada. Namun hasilnya tetap saja. Bahkan saking hopeless-nya, ia dikaitkan pada sebuah kutukan kegagalan tujuh musimnya melatih sebuah klub. Jadi, bagi fans Liverpool, apakah semua ini buah dari salah urus pemilik? Ataukah memang ini salah Klopp dan sudah layak untuk dipecat?
Sumber Referensi : bleacherreport, sportinglife, theguardian, goal, mirror, footballinsider


