Untuk soal mencetak pemain-pemain kelas wahid, Brazil, Spanyol, hingga Inggris barangkali jadi negara yang paling rajin melakukan itu. Namun, negara mana yang paling banyak menghasilkan pelatih top?
Ternyata negara-negara yang kerap menghasilkan pelatih hebat pun tak jauh dari negara-negara yang disebutkan tadi. Lantas, bagaimana mereka terus mencetak bakat di bidang pelatih setiap tahunnya? Berikut Starting Eleven punya jawabannya.
Daftar Isi
Jerman
Negara pertama penghasil pelatih-pelatih top tentunya Jerman. Mereka memiliki sederet pelatih berkualitas yang berkarir di kancah domestik maupun internasional. Sekarang kita mengenal nama-nama seperti Joachim Loew, Hansi Flick, Jurgen Klopp, Thomas Tuchel, hingga Julian Nagelsmann yang telah meraih banyak trofi bergengsi.
Jerman juga selalu mempercayakan pelatih lokal untuk mengurus tim nasional. Tercatat Der Panzer tidak pernah menggunakan pelatih asing sepanjang sejarah terbentuknya tim. Bahkan ketika menjuarai Piala Dunia 2014, mereka dilatih Joachim Loew yang mana merupakan pelatih lokal.
Kecemerlangan pelatih-pelatih asal Jerman tersebut tentu tidak terjadi begitu saja. Sama seperti membentuk pemain muda, Jerman juga sudah lama memberikan perhatian khusus pada pembentukan pelatih-pelatih sepakbola. Di Jerman, untuk menjadi seorang pelatih harus memenuhi standar yang tinggi. Salah satunya Lisensi Pro UEFA.
Untuk mendapatkannya, para calon pelatih harus menimba ilmu terlebih dahulu di akademi pelatih, Hennes-Weisweiler. Akademi ini cukup kompetitif di Jerman. Calon pelatih akan menghabiskan waktu selama 11 bulan untuk mempelajari teori dan praktek kepelatihan di klub yang sudah bekerjasama dengan akademi. Kabarnya setiap tahun tak lebih dari 30 orang yang lulus dari tes yang sangat ketat.
Italia
Berlanjut ke Italia. Sama halnya dengan Jerman, Italia juga sangat memperhatikan pengembangan pelatih sepakbola. Jika di Jerman ada Hennes-Weisweiler, di Italia ada Coverciano, suatu tempat di Florence, Italia yang telah melahirkan banyak pelatih-pelatih berbakat asal Negeri Pizza.
Pelatih kawakan seperti Fabio Capello, Carlo Ancelotti, Roberto Mancini, Claudio Ranieri, Antonio Conte, Massimiliano Allegri dan banyak pelatih lainnya menjalani kursus kepelatihannya di tempat ini. Bahkan Andrea Pirlo dan Fabio Grosso yang digadang-gadang bakal jadi pelatih hebat masa depan merupakan lulusan Coverciano.
Di sana para calon pelatih akan diberikan waktu sebulan untuk belajar, membentuk metode, menyempurnakan ideologi, dan mengikuti ujian khusus dengan pembinaan yang ketat. Setelah itu mereka juga dihadapkan dengan ujian lisan setelah mengumpulkan 900 jam magang dalam periode dua tahun.
Setelah semua tahapan itu selesai dilakukan, bagian terakhir yang harus dilakukan bagi para calon pelatih adalah membuat tesis. Seperti tugas akhir pada umumnya, tesis tersebut nantinya akan dipaparkan di depan penguji. Si calon pelatih harus bisa menjelaskan mengapa tesis tersebut akan sangat berguna di masa depan.
Portugal
Portugal juga tak mau kalah. Mereka kerap memproduksi pelatih-pelatih kelas wahid. Contohnya saja Jose Mourinho, Fernando Santos, Carlos Queiroz, Paulo Fonseca, hingga pelatih muda potensial yang saat ini menangani Sporting CP, Ruben Amorim.
Tak hanya piawai memenangkan trofi besar, manajer asal Portugal juga telah mempengaruhi perkembangan sepakbola Eropa, bahkan dunia. Dilansir Independent, Portugal sangat memperhatikan perkembangan dan jenjang karir dari pelatih-pelatih muda mereka.
Para calon pelatih harus menimba ilmu terlebih dahulu di akademi atau universitas yang tersedia di Lisbon, sebelum akhirnya bergabung dengan klub sebagai staf untuk mendapatkan pengalaman di lapangan.
Setelah mendapat pengalaman yang cukup, mereka akan disebar ke berbagai negara macam Italia, Prancis, hingga Inggris. Di sana para calon pelatih akan mengambil tugas pertamanya sebagai pelatih kepala atau hanya menjadi asisten pelatih demi mendalami metode kepelatihan dari pelatih-pelatih top lainnya.
Spanyol
Spanyol juga tak kalah berpengaruh terhadap sepakbola dunia. Timnas Spanyol sempat menggila dengan memenangi EURO 2008 dan 2012 serta Piala Dunia 2010 bersama pelatih-pelatih lokal, yakni Luis Aragones dan Vicente Del Bosque.
Ada sebuah studi pada tahun 2022 kemarin yang mengungkapkan bahwa Spanyol jadi salah satu negara yang menghasilkan manajer sepakbola terbaik di dunia. Studi yang dijalankan oleh spesialis taruhan Sports Pub itu menganalisis data dari sepuluh liga teratas.
Beda dari negara lain, di era modern pelatih-pelatih top asal Spanyol sering muncul dari latar belakang sebagai pesepakbola sukses. Disamping mempunyai lisensi kepelatihan. Maka dari itu, pelatih dari Spanyol terkenal dengan metode dan sistem kepelatihan yang mendalam dan khas.
Contohnya saja Pep Guardiola yang dianggap sebagai pelatih Spanyol terbaik saat ini. Ia juga berangkat dari pemain sepakbola profesional yang sukses. Selain itu ada Xavi Hernandez, Mikel Arteta, dan masih banyak lagi.
Belanda
Berikutnya ada Belanda. Negara kincir angin ini juga dikenal sebagai negara pemasok pelatih-pelatih hebat. Timnas Belanda menjadi runner-up Piala Dunia 2010 bersama pelatih lokal, yaitu Bert van Marwijk. Di edisi berikutnya mereka juga tampil hebat dan merebut posisi ketiga bersama Louis van Gaal.
Tradisi pelatih hebat Belanda bahkan sudah dimulai sejak era Johan Cruyff yang berhasil merevolusi sepakbola Belanda saat itu. Cruyff bisa dibilang jadi bapak sepakbola di Belanda. Setelah era Cruyff tak sedikit pelatih-pelatih hebat lainnya muncul dengan identitas yang hampir sama dengannya.
Selain nama-nama tadi, pelatih asal Belanda yang dikenal berkualitas mencakup Guus Hiddink, Dick Advocaat, Frank de Boer, Phillip Cocu, Erik Ten Hag, hingga mantan kapten Timnas Belanda era 2010-an, Giovanni van Bronckhorst. Mereka semua muncul berkat program kursus kepelatihan yang terkonsep dan terfasilitasi dengan baik.
Prancis
Selanjutnya ada Prancis. Sama halnya dengan Belanda, dan Spanyol, sepakbola Prancis mulai bangkit mengandalkan pelatih-pelatih lokal dalam beberapa tahun terakhir. Saat menjuarai Piala Dunia tahun 2018 saja, Prancis dilatih pelatih lokal, Didier Deschamp.
Selain dari pemain, kebangkitan sepakbola Prancis di kancah dunia juga tercermin dari pelatih. Pada tahun 2010-an pelatih klub-klub Prancis didominasi oleh orang Spanyol dan Jerman. Namun kini pelatih Prancis mulai menunjukkan kelas dengan memenangkan beberapa penghargaan terbesar di sepakbola.
Pelatih hebat lain yang berasal dari Prancis adalah Zinedine Zidane. Satu-satunya pelatih yang sukses menjuarai Liga Champions 3 kali beruntun bersama Real Madrid. Selain Zidane, jangan lupakan The Professor, Arsene Wenger yang pernah membuat Arsenal jadi tim yang begitu ditakuti di Premier League. Bahkan gelar invincible-nya belum ada yang menyamai hingga saat ini.
Argentina
Terakhir ada Argentina. Sebagai salah satu negara dengan kultur sepakbola yang kuat di dunia, negara yang baru menjuarai Piala Dunia 2022 ini juga ikut andil dalam menelurkan pelatih-pelatih hebat yang tersebar di berbagai liga top Eropa. Sebut saja macam Mauricio Pochettino, Marcelo Bielsa, hingga Diego Simeone.
Federasi sepakbola Argentina cukup memperhatikan perkembangan sepakbola mereka. Tak hanya soal pengembangan pemain-pemain muda, tapi juga bagaimana mereka menciptakan pelatih-pelatih hebat. Filosofinya adalah jika memiliki pemain-pemain berkualitas, mereka juga harus mengimbanginya dengan menciptakan pelatih yang hebat.
Di Argentina ada banyak akademi-akademi kepelatihan dengan fasilitas yang memadai. Setelah lulus dan mendapatkan lisensi kepelatihan, mereka akan merantau untuk belajar lebih dalam lagi sebelum akhirnya menjadi pelatih kepala suatu klub profesional. Itu pula yang dilakukan oleh Lionel Scaloni. Tahun 2016, ia terbang ke Spanyol untuk menjadi asisten pelatih Jorge Sampaoli yang kala itu menukangi Sevilla.
Puncaknya, Scaloni berhasil mengantarkan Timnas Argentina juara Piala Dunia. Ia melengkapi torehan pelatih-pelatih Argentina sebelumnya yang menyabet trofi yang sama untuk tim nasionalnya.
Sumber: Bundesliga, DW, These Football Times, Nytimes, Independent, SBS, Idntimes


