Prahara di Everton: Janji Manis Moshiri yang Berujung Ancaman Degradasi

spot_img

Jangan terlena dengan mulut manis atasan yang berucap “kita adalah keluarga”. Biasanya, yang terjadi kemudian adalah sebaliknya. Alih-alih lingkungan yang damai sentosa, yang tercipta justru lingkungan yang toxic. Dalam dunia sepak bola, fenomena itu kini tengah terjadi di Everton.

Everton adalah klub bersejarah. Mereka telah memenangkan 9 gelar liga, 5 Piala FA, satu Piala Winners, dan 9 Charity Shield. The Toffees adalah klub dengan kehadiran terbanyak di Liga Inggris. 120 musim sudah mereka habiskan di kasta teratas. Hanya 4 kali mereka absen dari divisi utama. Ini adalah sebuah prestasi yang dibangga-banggakan Evertonian.

Sayangnya, kebanggan itu bisa hancur di tahun ini. Musim ini, Everton tengah terancam terdegradasi dari Premier League. Dan kejatuhan Everton ini dimulai dari pernyataan sang pemilik, Farhad Moshiri.

“Ini adalah klub yang hebat dan saya ingin menjadi bagian dari klub ini. Bagi saya, saya masuk ke dalam sebuah keluarga baru dan itulah yang spesial bagi saya. Saya memberikan apa pun yang saya miliki kepada mereka,” kata Farhad Moshiri, dikutip dari The Guardian.

Investasi Tanpa Hasil Farhad Moshiri

Farhad Moshiri bukanlah sosok asing di industri sepak bola. Sebelum mengakuisisi saham Everton, ia adalah salah satu pemegang saham di Arsenal. Pada Februari 2016, miliarder asal Iran itu menjual sahamnya di Arsenal dan membeli 49,9% saham Everton senilai 85 juta pounds.

Moshiri memang sempat memberi Evertonian harapan. Kekayaan Moshiri kala itu mencapai 1,8 miliar dolar AS dan tahun ini kekayaannya telah menyentuh angka 2,9 miliar dolar AS. Maka tak heran bila kemudian The Toffees mendadak kaya.

Investasi besar pun disuntikkan Farhad Moshiri. Dimulai dengan perekrutan Steve Walsh sebagai direktur sepak bola di musim panas 2016. Walsh adalah sosok yang bertanggung jawab mendaratkan Riyad Mahrez, Jamie Vardy, dan N’Golo Kanté ke Leicester City.

Pada musim panas 2018, posisi Steve Walsh digantikan oleh Marcel Brands. Sebelumnya, Brands bekerja di PSV selama 8 tahun dan selama masa itu, PSV sukses memenangkan 10 trofi domestik termasuk 3 trofi Eredivisie.

Kehadiran Director of Football kelas dunia juga dibarengi dengan hadirnya pelatih-pelatih beken. Ronald Koeman, Sam Allardyce, Marco Silva, Carlo Ancelotti, Rafael Benitez, hingga Frank Lampard direkrut guna menaikkan taraf prestasi klub.

Dana besar Moshiri juga membuat aktvitas transfer Everton bergeliat. Andre Gomes, Yerry Mina, Theo Walcott, Richarlison, dan James Rodriguez adalah beberapa rekrutan Everton di era Farhad Moshiri. Menurut Transfermarkt, The Toffees telah menghabiskan tak kurang dari 561,88 juta pounds untuk merekrut pemain baru sejak Moshiri bergabung pada Februari 2016.

Sayangnya, investasi masif tersebut gagal memberi hasil sesuai harapan. Nasib Everton di kancah persepakbolaan Inggris tak berubah. Malahan, prestasi mereka makin merosot.

Everton Terancam Degradasi, Frank Lampard Dipecat

Sejak diakusisi Farhad Moshiri, prestasi Everton malah cenderung menurun. Setelah finish di urutan ke-7 pada musim 2016/2017, di musim berikutnya Everton secara berutut-turut finish di peringkat 8, 8, 12, 10, 16, dan puncaknya berada di zona degradasi di musim 2022/2023.

Musim ini memang yang terburuk. Sejak pekan ke-19, The Toffees sudah jatuh ke zona degradasi. Hanya sanggup mengumpulkan 15 poin dari 20 pertandingan membuat Everton duduk di peringkat ke-19. Capaian yang membuat Frank Lampard kehilangan pekerjaannya.

Imbas dari performa buruk tersebut juga membuat para pendukung Everton geram. Gelombang protes pun terjadi. Salah satunya ketika Everton kandas 2-1 dari Southampton.

Pasca pertandingan, Yerry Mina terekam tengah terlibat pembicaraan dengan fans yang marah. Sementara mobil Anthony Gordon dihadang dan dikepung para penggemar.

Sebelumnya, ketua Bill Kenwright, kepala eksekutif Denise Barrett-Baxendale, direktur keuangan Grant Ingles dan direktur non-eksekutif Graeme Sharp diberitakan tidak akan menghadiri pertandingan setelah mendapat ancaman pasca Everton kalah 4-1 dari Brighton.

Sementara itu, 17 kelompok penggemar menerbitkan sebuah surat terbuka kepada Farhad Moshiri dan mendesaknya untuk melakukan perubahan besar-besaran di tingkat pimpinan, dewan dan eksekutif untuk menyelamatkan klub dari kemunduran. Di sisi lain, Asosiasi Pemegang Saham Everton meluncurkan petisi online yang menyerukan mosi tidak percaya kepada dewan direksi.

Bisa dibilang kalau musim ini jadi titik terendah Everton. Dalam sejarahnya, Everton tak pernah mengalami situasi yang seburuk saat ini. Selain posisi mereka yang menggenaskan, ancaman degradasi datang di waktu yang paling buruk.

Krisis Finansial di Goodison Park

Dr. Rob Wilson, pakar keuangan dari Sheffield Hallam University adalah sosok yang mengatakan demikian. Menurutnya, Everton bisa kehilangan pendapatan hingga 80 juta pounds jika turun kasta ke Championship.

Permasalahannya, ini terjadi saat klub mengalami krisis finansial. Dan krisis ini bermula dari keserampangan Farhad Moshiri membelanjakan uang.

Everton yang dulu mendioker dan mendadak kaya, banyak membeli pemain mahal secara sembrono. Bukan hanya soal harga belinya, tetapi gaji selangit yang mereka bayarkan. Tagihan gaji inilah yang membuat memberatkan kantong Everton.

Di musim 2019/2020, tagihan gaji Everton mencapai 165 juta pounds atau sekitar 89% dari total pendapatan. Sebuah angka yang sangat tidak sehat. Alhasil, ketika pandemi membuat industri tiarap, Everton jadi salah satu tim yang paling merugi.

67 juta pounds jadi angka kerugian yang dilaporkan Everton akibat pandemi Covid-19. Beruntung, Farhad Moshiri meningkatkan kepemilikannya menjadi 94% usai mengubah pinjaman senilai 100 juta pounds menjadi ekuitas pada Januari 2022. Akuisisi tersebut sedikit memperbaiki neraca keuangan Everton.

Akan tetapi, alarm bahaya masih berbunyi. Per Maret 2022, Everton membukukan kerugian lebih dari 120 juta pounds dengan total kerugian selama 3 tahun mencapai lebih dari 370 juta pounds. Angka kerugian ini sudah melewati ambang batas financial fair play Premier League.

Kerugian itu belum termasuk investasi besar yang mereka pakai untuk mengembangkan tim sepak bola wanita, akademi, dan stadion baru di Bramley-Moore Dock. Situasi inilah yang kemudian memaksa Everton mengencangkan ikat pinggang mereka.

Menjual pemain bergaji mahal seperti Bernard, James Rodriguez, Lucas Digne, dan Richarlison jadi jalan keluarnya. Beberapa pemain yang tergolong investasi gagal juga dilepas.

Kondisi finansial ini pula yang membuat mereka tak kuasa menahan Anthony Gordon yang ingin hengkang. Usaha yang telah mereka lakukan dalam beberapa musim terakhir itu telah sukses memangkas tagihan gaji. Namun, turunnya pendapatan sebesar 2% di tahun 2022, membuat rasio gaji/pendapatan Everton berada di angka 96%.

Ancaman Degradasi Masih Menghantui Everton

Ancaman degradasi juga belum sepenuhnya hilang dari Everton. Mereka masih berada di zona degradasi meski baru saja meraih kemenangan 1-0 atas Arsenal di laga debut Sean Dyche sebagai manajer baru.

Namun, hasil ini tak bisa dijadikan acuan. Sebab, Arsenal memang punya rekor buruk saat bertandang ke Goodison Park. Kekalahan ini membuat Arsenal tak pernah menang dalam 5 lawatan terakhirnya ke kandang Everton, di mana 4 laga di antaranya berakhir dengan kekalahan.

Selain itu, meski meraih kemenangan krusial atas pimpinan klasemen, gaya main yang diusung Sean Dyche sangat pragmatis. Dengan formasi 4-5-1, Everton banyak menunggu untuk melancarkan serangan balik dan memanfaatkan situasi bola mati.

Ketika sudah unggul, mereka akan men-delay permainan. Yang paling menjengkelkan, Sean Dyche menumpuk 9 hingga 11 pemainnya di dalam kotak penalti saat bertahan, khususnya saat terjadi situasi bola mati. Apakah permainan semacam ini yang ingin dinikmati Evertonian?

Jika demikian sungguhlah miris. Namun, bukankah para pendukung The Toffees tak punya pilihan lain? Di situasi genting seperti ini, bermain negatif agaknya lebih baik daripada turun kasta.

Sekali lagi, ancaman degradasi Everton datang di waktu terburuk. Saat ini, Everton juga berada di ambang pelanggaran aturan Financial Fair Play. Kombinasi ini merupakan pertanda dari sebuah klub yang dikelola dengan sangat buruk. Dan sosok toxic yang menyebabkan bencana ini adalah Farhad Moshiri.

Pengakuan Marcel Brands kepada De Telegraaf pada musim panas 2022 kemarin menunjukkan betapa toxic-nya Moshiri. Siapa sangka, penyebab Brands hengkang pada Desember 2021 adalah karena campur tangan sang pemilik yang menghabiskan uang secara sembrono untuk membeli pemain dan tanpa rencana jangka panjang. Brands juga mengaku selalu dibuat kesulitan membangun tim karena Moshiri yang hobi memecat pelatih dan bertindak serampangan sesuka hati.

Ternyata kejadian serupa sudah terjadi di era Steve Walsh. Andai Moshiri mau menuruti Steve Walsh, mungkin nasib Everton tak akan seburuk sekarang.

“Saat saya berada di Everton, saya menawarkan mereka kesepakatan Andrew Robertson dan Harry Maguire, saat mereka masih di Hull, dan itu bernilai 20 juta pounds untuk keduanya. Everton tidak mau menerima mereka,” kata Steve Walsh dikutip dari Evening Standard.

“Saya juga pernah membuat kesepakatan untuk Jonny Evans sebelum dia datang ke Leicester. Lalu, Erling Haaland, striker Salzburg, saya mendapatkan dia dengan kesepakatan 3,4 juta pounds. Tetapi, sekali lagi klub tidak mendukung saya.”

Kini semuanya jelas. Selama Farhad Moshiri masih enggan menjual saham mayoritasnya, Everton masih akan terus dinaungi lingkungan yang toxic.

Musim ini, Sean Dyche mungkin sanggup mengeluarkan Everton dari jeratan degradasi. Namun, seperti manajer-manajer sebelumnya, tidak ada yang tahu nasibnya di musim depan. Seperti halnya para pendukung Everton yang tak tahu mau di bawa ke mana arah tujuan klub kesayangan mereka.

https://youtu.be/OtimHx5QGvY

Referensi: The Guardian, Tifo, The Guardian, Goal, Forbes, Evening Standard.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru