Buntut Panjang Dosa Juventus

spot_img

Jika ada yang lebih buruk dari pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga”, itu mungkin Juventus. Sudah susah payah merangkak naik ke peringkat kedua Liga Italia, Si Nyonya Tua justru diganjar pengurangan poin sehingga terjun bebas ke papan tengah Serie A. Klub raksasa macam Juve terpaksa harus bergumul dengan klub-klub medioker macam Empoli dan Torino.

Skandal ini bahkan telah membuka kembali luka lama sepakbola Italia. Pasalnya, beberapa tahun lalu, Juventus juga pernah terganjal kasus Calciopoli yang membuat martabat sepakbola Italia hancur.

Dan kini, sepakbola Italia sedang mengalami de javu. Rangkaian kecurangan La Vecchia Signora terindikasi bisa merambat ke klub-klub lain bahkan di luar sepakbola Italia. Kok bisa?

Dewan Klub Pada Kabur

Tanpa mengirimkan tim nasional mereka ke Piala Dunia, sepakbola Italia telah menemukan cara tersendiri untuk menjadi headline di media-media internasional pada Desember lalu. Dalangnya adalah Juventus. Nggak ada angin nggak ada hujan, seluruh direksi Juventus termasuk Andrea Agnelli, Pavel Nedved, dan Maurizio Arrivabene mengundurkan diri.  

Dilansir Four Four Two, Juventus mengumumkan, ada 10 anggota dewan tiba-tiba mengundurkan diri di tengah penyelidikan yang sedang berlangsung terhadap manipulasi pasar dan pemalsuan laporan keuangan. Kabarnya pengunduran diri tersebut mengatasnamakan kebaikan klub.

Mundurnya Agnelli menandai akhir dari sebuah era keemasan Juventus di Serie A. Sebab Agnelli sendiri telah menjadi Presiden Juve selama 12 tahun terakhir. Itu jadi sebuah periode sukses bagi klub di dalam maupun di luar lapangan. Semua ini terjadi tepat dua bulan setelah Bianconeri mencatatkan rekor kerugian di Italia 254 juta euro atau setara Rp4,1 triliun untuk tahun keuangan yang berakhir Juni kemarin.

Sebenarnya Ada Apa?

Kok pada kabur, sebenarnya ada apa? Setelah 17 tahun lalu Juventus tersandung kasus Calciopoli. Kini Juventus kembali mendapati diri mereka menjadi pusat skandal yang berpotensi sangat merugikan klub, bahkan sepakbola Italia itu sendiri. Namun, ini bukan tentang pengaturan skor. Kali ini tentang plusvalenza atau sederhananya mengakali keuntungan dari transfer pemain.

Kasus ini sebetulnya sudah terendus sejak tahun lalu. Juventus telah menjadi subjek penyelidikan ketika pendapatan dari hak pendaftaran pemain antara 2019 hingga tahun 2021 diperiksa oleh jaksa Turin. 

Namun baru beberapa hari lalu Federasi Sepakbola Italia (FIGC) memberikan putusannya. Mereka secara tegas mengemukakan kalau Juventus dikenai hukuman pengurangan 15 poin karena ditemukan kejanggalan dalam laporan keuangan mereka. Selain itu, FIGC juga menemukan pemalsuan informasi keuangan yang berkaitan dengan aktivitas transfer La Vecchia Signora.

Raksasa Serie A tersebut dituduh memompa neraca dengan sengaja menaikkan nilai pemain selama transfer untuk meningkatkan “capital gain”. Beruntung Juve hanya mendapat pengurangan poin, pasalnya kemungkinan terburuk dari kasus ini adalah degradasi ke Serie C. Namun, pengurangan poin saja sudah bikin Juve sulit mengejar ketertinggalan agar masuk zona Eropa.

Keuangan klub jadi perhatian khusus akhir-akhir ini. Karena UEFA kini menetapkan peraturan Financial Fair Play yang mengawasi tindak tanduk klub yang berurusan dengan uang. Seperti yang kita tahu, neraca klub berada di bawah pengawasan ketat akhir-akhir ini, dan mereka yang kedapatan melanggar aturan tersebut ya bakal dikenai sanksi berat.

Di Kick Dari Kompetisi Eropa

Segalanya bisa berubah dari buruk menjadi lebih buruk lagi bagi klub yang berbasis di Turin tersebut. Sekarang, bagian kedua investigasi telah meluas karena melibatkan UEFA. Mereka akan menyelidiki pembayaran gaji yang tidak diumumkan Juve. Ini dapat secara serius mengancam keikutsertaan mereka dalam kompetisi Eropa di musim depan.

Dilansir Goal, Juve telah menyembunyikan klausul sebenarnya soal pembayaran gaji tahun 2020 saat pandemi. Pemain Juventus sepakat untuk mengikhlaskan gaji mereka selama empat bulan, tetapi pada kenyataannya cuma satu bulan. UEFA mencurigai pemain mendapat gaji dalam transaksi “di bawah meja”, yang memungkinkan mereka dan klub menghindari pajak.

Selain itu, Juve ternyata punya perjanjian khusus tentang FFP dengan UEFA September lalu. Dan kasus ini bisa mencederai perjanjian tersebut. Klub diperintahkan untuk membayar denda sebesar 3,5 juta euro atau Rp57 miliar dan memenuhi target keuangan tertentu pada musim 2025/26. 

Apabila target tidak terpenuhi, denda akan melonjak jadi 23 juta euro (Rp375 miliar) dan dapat membuat mereka dikeluarkan dari kompetisi Eropa. Hukuman ini memang belum diputuskan tapi akan semakin besar kemungkinannya jika terbukti adanya penipuan laporan keuangan soal pembayaran gaji.

Merambat ke Pemain dan Klub Italia Lain

Terkuaknya kasus Juventus membuat klub-klub Serie A lain ikut terseret. Napoli kabarnya jadi salah satu klub yang kini menjadi sasaran jaksa penuntut Federasi Sepak Bola Italia berikutnya. 

Jaksa penuntut umum, Giuseppe Chine telah meminta salinan bukti jaksa penuntut di Naples yang dikumpulkan selama penyelidikan soal penggelapan terhadap Presiden Napoli, Aurelio De Laurentiis. Kantornya di Naples, Roma, dan Prancis digeledah dan dokumentasi mengenai beberapa transfer diselidiki, termasuk diantaranya adalah transfer Victor Osimhen dari Lille 2020 lalu.

Kabarnya ada penggelembungan dana transfer di transaksi Napoli dan Lille. Di atas kertas, harga Osimhen berada di 70 juta euro (Rp1,1 triliun), tapi Napoli menyertakan empat pemain muda agar memangkas biaya sebesar 20 juta euro (Rp326 miliar). Itu sah-sah aja, tapi yang mencurigakan adalah keempat pemain itu sama sekali tak dimainkan oleh Lille. Tak lama setelah transfer, keempat pemain muda tersebut justru dilepas ke klub lain.

Lantas apakah klub lain berpeluang terseret? Tentu. Tahun lalu, jaksa FIGC menjatuhkan dakwaan kepada delapan klub lain termasuk Parma, Sampdoria, Genoa, dan Empoli. Jadi bisa dibilang klub-klub tersebut sedang waswas menunggu antrian untuk diperiksa kembali oleh jaksa.

Berimbas ke Tottenham, Kok Bisa?

Tak hanya klub, kasus ini juga merambat ke para pemain dan mantan pemain Juventus. Menurut jurnalis Italia, Paolo Ziliani, apabila terbukti pemain menerima gaji yang telah dipalsukan, maka mereka dapat terkena skorsing selama 30 hari lebih. Pemain-pemain itu meliputi Dejan Kulusevski dan Rodrigo Bentancur yang kini berseragam Tottenham. Apabila ini terbukti, maka Spurs akan kehilangan dua pilar utamanya selama satu bulan lebih.

Selain itu, sanksi yang dijatuhkan kepada Juventus juga termasuk larangan terlibat dalam aktivitas sepakbola domestik untuk beberapa mantan anggota dewan Si Nyonya Tua. Mantan Sporting Director Juventus, Fabio Paratici menerima larangan dua setengah tahun sementara Andrea Agnelli dilarang terlibat dalam dunia sepakbola selama dua tahun. 

Sedangkan Mantan CEO Juventus, Maurizio Arrivabene juga menerima larangan dua tahun. Sanksi untuk direktur sepak bola saat ini Federico Cherubini adalah larangan selama 16 bulan, yang mana Juventus kini akan kehilangan pria yang memimpin operasi transfer mereka. Larangan ini berpotensi meluas ke tingkat Eropa bahkan dunia. 

Jadi, Tottenham yang sudah mempekerjakan Paratici sejak 2021 bisa terkena getahnya. Oleh karena itu, Spurs dilaporkan sedang mencari tahu apakah hukuman Paratici akan meluas keluar dari Italia atau tidak. Jika meluas, Spurs dalam masalah besar. Karena dalam beberapa tahun terakhir, strategi transfer Paratici sangat membantu dalam pengembangan tim.

Sumber: The Athletic, Goal, Sportbible, FFT, Cult of Calcio, AS 

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru