Barangkali ini adalah waktu yang tepat untuk berhenti menjadi fans Juventus. Tapi kalau kamu adalah fans setia Juventus, tidak masalah kalau tidak mau berhenti mencintai Si Nyonya Tua. Hanya saja, kita harus mengakui bahwa Juventus sedang tertimpa kasus.
Sejauh ini, dalam sejarah sepak bola Italia, Juventus kerap menjadi tim yang bermasalah. Tidak hanya itu, Bianconeri juga menjadi tim yang sangat dibenci di Italia, terutama para suporter sepak bola. Pertanyaannya, mengapa Juventus sangat dibenci di Italia? Benarkah hanya karena kasus?
Daftar Isi
Tim Tersukses
Dalam praktiknya, kebencian bisa muncul dari sesuatu yang positif. Salah satunya prestasi. Begitu pula kebencian terhadap Juventus. Bianconeri yang menjadi tim tersukses di Italia, justru mendatangkan kebencian dari suporter sepak bola lainnya.
Apalagi Juventus bisa mendominasi Serie A. Tak kurang dari 30 gelar scudetto didapatkan Si Nyonya Tua. Tidak hanya perolehan gelar. Dominasi Juventus yang tak terbendung dibuktikan dengan ia yang menjadi satu-satunya tim di Italia yang bisa meraih scudetto tujuh musim berturut-turut.
125 Years Ago Today: @JuventusFC was formed!
🏆 36 Serie A
🏆 14 Coppa Italia
🏆 9 Supercoppa Italiana
🏆 3 UEFA Cup
🏆 2 Champions League
🏆 2 UEFA Super Cup
🏆 2 Intercontinental Cup
🏆 1 Intertoto CupThe most successful club in Italian football! 🇮🇹 pic.twitter.com/0vL2jnmKsM
— GiveMeSport (@GiveMeSport) November 1, 2022
Tidak hanya scudetto yang jumlahnya 36 trofi itu. Juventus juga produktif mengumpulkan trofi domestik, seperti Coppa Italia dan Supercoppa Italia. La Vecchia Signora meraih setidaknya 14 trofi Coppa Italia dan 9 kali Supercoppa Italia.
Hal itulah yang bikin Juventus dibenci. Lucunya, dalam sebuah survei ternyata Juventus bukan hanya dibenci, tapi sekaligus dicintai. Sebuah jajak pendapat yang dilakukan Coop yang berkolaborasi dengan Osservatorio Capitale Sociale sekitar tahun 2009 pada 1.121 orang, menghasilkan 43 persen diantaranya mengaku tidak menyukai Juventus.
Banyak Kasus Besar Melibatkan Juventus
Selain bergelimang trofi, Juventus juga menjadi tim di Italia yang sering terlibat dalam kasus-kasus besar. Si Nyonya Tua yang sudah lama dikuasai Keluarga Agnelli, yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terkaya di Negeri Pizza beberapa kali menciptakan hal kontroversial.
Selain banyak yang membencinya karena angkuh, Juventus juga sering dituding memberikan doping pada para pemainnya. Hal semacam itu pernah mencuat pada Liga Champions 1996. Juventus bahkan sempat terbukti bersalah karena hal itu.
Che vuoi che sia il solo #SergioRamos positivo al doping dopo la finale di #Cardiff contro la Juventus.
Cosa dovrebbero dire quelli dell’Ajax dopo la finale del 1996 contro il Creatina team?
😂😂
L’Uefa si è sempre fidata.
Chi di spada ferisce di spada perisce.#FootballLeaks pic.twitter.com/h1iWEqTOEL— Domenico Monda (@mimmobrasil) November 23, 2018
Disamping skandal doping, para petinggi Juventus juga kerap bermasalah. Ingat kasus Calciopoli? Juventus menjadi aktor di balik salah satu skandal besar di dunia sepak bola tersebut. Yang teranyar, bahkan ketika Messi sudah tidak lagi berseragam Barcelona, Juventus masih saja terseret kasus.
Hari ini Juventus melahirkan satu nama kasus lagi, Plusvalenza. Sederhananya, Juventus mencoba untuk mendulang keuntungan dari aktivitas transfer mereka. Katakanlah, misalnya begini, Juventus mendatangkan pemain seharga 100 juta euro berdurasi lima tahun.
#Juventus #plusvalenza pic.twitter.com/vO0bmgpYJT
— MustangRock1926 (@MustangRock1926) January 22, 2023
Nah, Juve akan melakukan biaya hak pendaftarannya tidak langsung lima tahun, tapi dibayar per tahun. Maka, uang yang dikeluarkan Juve hanya 20 juta euro per tahun.
Jika setelah tiga tahun dan Juve hendak menjual si pemain seharga 60 juta euro, Juventus akan mendapat keuntungan 20 juta euro. Angka itu berasal dari 60 juta euro dikurangi 40 juta euro yang belum dibayarkan Juve atau disebut nilai yang diamortisasi.
Luciano Moggi
Salah satu aktor yang bikin Juventus dibenci di Italia adalah Luciano Moggi. Bagi penggemar sepak bola Negeri Mussolini pasti tahulah nama yang satu ini. Yap, betul sekali. Moggi adalah trubadur kasus Calciopoli pada tahun 2006 lalu. Moggi adalah mantan direktur umum Juventus. Kasus Calciopoli membuat sepak bola Italia tercoreng.
Moggi menjadi sosok yang dibenci karena kepiawaiannya dalam mengatur skandal. Ia begitu cakap dalam melakukan pengaturan pertandingan. Karena aksinya itulah, Juventus acap kali dicurigai. Nama Juventus pun kian rusak karena Luciano Moggi.
Luciano Moggi:
” The crisis in Italian football began with Calciopoli in 2006. It destroyed Calcio. Juventus, which has always been the leader of Italian football and of the national team in particular, and the results are there for all to see” pic.twitter.com/pjWWPvwZ9Y
— Forza Juventus (@ForzaJuveEN) March 25, 2022
Terlebih lagi, disamping Moggi merusak sepak bola Italia, ia juga memberi noda merah pada kompetisi Serie A. Jika membicarakan soal Serie A, apalagi itu berkaitan dengan kasus, maka orang akan mengingat Calciopoli. Apa yang dilakukan Moggi bersama Juventusnya kala itu, menguras betul citra Serie A di mata dunia.
Selalu Diuntungkan Keputusan Wasit
Tim yang akan menghadapi Juventus kerap kali harus waswas. Bukan hanya karena kekuatan Juventus yang dahsyat, tapi tim yang satu ini diduga menjadi salah satu tim di Italia yang sering diuntungkan wasit. Hal inilah yang disinyalir membuat Juventus dibenci di Italia.
Beberapa sumber menyebut, 19 klub Italia mengakui hal ini. Mari kita ambil contoh pada Serie A musim lalu. La Vecchia Signora pada pertandingan-pertandingan terakhir diduga diuntungkan oleh keputusan wasit.
One of my all-time fave interviews was with Napoli owner Aurelio De Laurentiis, talking about when Antonio Conte tried to sign Koulibaly for Chelsea pic.twitter.com/Gu9ptKZlr3
— James Benge (@jamesbenge) April 22, 2018
Laporan media Italia, Il Corriere dello Sport bahkan menyebut, Presiden Napoli, Aurelio de Laurentiis pernah menunjukkan kegeramannya pada Juventus di beberapa pertandingan akhir musim 2021/22.
Juventus diduga melakukan persekongkolan ketika menghadapi Inter dan AS Roma. Sebab dalam keputusan-keputusannya yang urgen, wasit tidak mau melakukan review menggunakan Video Assistant Referee (VAR). Fans Juventus, benar nggak nih, Juve selalu diuntungkan wasit?
Hobi Membajak Pemain
Alasan lainnya mengapa Juventus sangat dibenci di Italia adalah betapa seringnya mereka membajak pemain. Bahkan pemain-pemain dari klub rival di Italia. Nggak usah klub rival deh, pemain dari klub kecil pun mereka bajak. Salah satunya Gleison Bremer dari Torino.
Tidak hanya Bremer, ada sederet nama pemain yang dibajak oleh Juventus. Seorang Miralem Pjanic yang dibeli dari dari AS Roma juga bahkan pernah disebut sebagai pengkhianat. Gianluigi Buffon pun merupakan hasil Juventus membajak dari Parma dengan membuatnya kiper termahal.
Salah satu tim yang jadi bulan-bulanan dibajak Juventus adalah Fiorentina. Mulai dari Giorgio Chiellini, Roberto Baggio, Felipe Melo, Federico Bernardeschi, Federico Chiesa, bahkan yang teranyar Dusan Vlahovic.
Dusan Vlahović: “There were lot of rumours about clubs from abroad… but it was an easy choice for me [to sign for Juventus]. This club has winning mentality, like me”. ⚪️⚫️ #Juventus
“I’m extremely happy – I’m joining a glorious club and this is what I wanted. I can’t wait”. pic.twitter.com/7OMzCVyNUq
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) February 1, 2022
Jersey Juventus
Seragam atau jersey Juventus juga kerap menjadi bahan olokan. Jersey yang kalau di Indonesia dimirip-miripkan dengan plastik kresek. Tapi di Italia pun, kombinasi warna seragam Juventus dianggap mengerikan. Perpaduan putih dan hitam dianggap mirip orang yang akan atau sudah melakukan kejahatan.
Hitam dan putih tidak terlihat bagus dalam format garis apa pun. Selain itu, warna hitam dan putih tidak memancarkan kelas sosial tertentu. Seperti diketahui, biasanya setiap tim akan mewakili kelas sosial tertentu dari seragamnya.
Why does it look lile prison clothes especially those black lines like juventus haven’t had a good home kit since 2016
— Ashu (@ashucomics) July 30, 2020
Arogan dan Gaya Bermain yang Membosankan
Sepanjang sejarahnya, Juventus terkenal menjadi tim yang arogan. La Vecchia Signora akan melakukan segala cara untuk menang. Juventus, oleh para pembencinya juga sering disebut sebagai “Rubentus” yang merupakan gabungan kata “rubare” yang dalam bahasa Italia artinya “mencuri” atau “merampok” dan Juventus.
Taktik “kandang burung” unik Allegri, saat laga Sampdoria vs Juventus.
Laga berakhir imbang 0-0 pic.twitter.com/HLOXY8mJTx
— Fakta Bola ⚽ (@FaktaSepakbola) August 23, 2022
Si Nyonya Tua sering dianggap sebagai tim yang hobi ‘merampok’. Selain merampok gelar, seperti yang dilakukannya dari Inter tahun 1998. Juve juga ‘mencuri’ pemain. Selain itu, Juve juga dibenci karena gaya mainnya yang membosankan, terutama selama 89 menit.
Juventus selalu bermain taktis, mengandalkan bakat individu, dan keberuntungan. Sebab itulah, gol-gol kemenangan Juventus kerap hadir di menit-menit akhir. Seperti belakangan ini, di mana Juventus kerap meraih hasil imbang, atau kalaupun menang, tipis.
Sumber: ChiesadiTotti, TheGuardian, Quora, SempreInter, Football-Italia, Transfermarkt


