Entah dapat maklumat apa atau mendapat siraman rohani dari siapa, Barcelona kembali ke jalan yang lurus. Belum lama ini, pasukan Xavi Hernandez menaklukkan sang rival abadi, Real Madrid di Piala Super Spanyol. Tak sepele, Barca mengalahkan Madrid 3-0 jika Karim Benzema tidak mencetak gol telat di injury time babak kedua.
Mereka pun mengangkat trofi untuk pertama kalinya di tangan Xavi, sekaligus pertama kalinya tanpa Lionel Messi. Hal ini membuktikan bahwa Barcelona, tanpa Messi pun bisa mengangkat trofi. Janji Xavi soal trofi itu pada akhirnya terpenuhi.
Namun demikian, apakah dengan begitu kita lantas bisa mempercayai bahwa Barcelona akan bangkit? Apakah kita perlu untuk berpuasa menghina Barcelona di era Xavi?
Daftar Isi
Kegemilangan di Kancah Domestik
Barcelona sebelumnya sudah tersingkir di Liga Champions. Sesuatu yang tentu saja menjadi bahan cemoohan fans tim lain. Gagalnya Barcelona lepas dari jeratan fase grup Liga Champions, selain membuat mereka kembali lagi menyapa Liga Malam Jumat, juga bikin rencana keuangan amburadul.
Soal keuangan kita bahas nanti. Well, Xavi memang telah mengalami pasang surut selama melatih Barcelona. Blaugrana tersingkir dari Liga Champions dan penampilan mereka di laga-laga penting juga terbilang buruk. Namun, Xavi berhasil mengangkat performa Barcelona, terutama setelah Piala Dunia 2022.
HISTORY FOR XAVI 🏆
His first trophy as Barcelona manager 👏 pic.twitter.com/9f1AXistOV
— ESPN FC (@ESPNFC) January 15, 2023
Xavi berhasil meyakinkan para penggemar dan membuat kesabaran mereka akhirnya berbuah. Pelatih yang pernah jadi asuhan Pep Guardiola itu pernah berbicara kepada publik Catalan. Bahwa ia akan mempersembahkan trofi, walaupun penampilan Barcelona sedang terpuruk.
Barcelona pun kembali ke jalur yang semestinya. Terlebih di kancah domestik. Kini Barcelona berada di puncak klasemen La Liga. Per 16 Januari 2023, El Barca sudah mengumpulkan 41 poin dari hasil 13 kali menang, 2 imbang, dan hanya sekali kalah. Dalam lima pertandingan terakhir La Liga, Barcelona belum pernah sekali pun kalah.
Catatan di tahun 2023 itu melanjutkan tren positif Barcelona di tangan Xavi. Jika ditotal, Barcelona di tangan Xavi sudah mengumpulkan 34 kemenangan dari 43 pertandingan. Mereka hanya kalah 4 kali.
Jadi, wajar jika posisi Barcelona akhirnya merangkak naik. Semula, sebelum kedatangan Xavi, Barcelona terseok di peringkat sembilan. Tapi, setelah itu, Barcelona tidak lagi berada di puncak komedi, tapi puncak klasemen La Liga.
❤💙 ¡Un año excepcional, Xavi!
😍 @FCBarcelona_es #LaLigaSantander pic.twitter.com/TQt4LHyZj4
— LaLiga (@LaLiga) January 1, 2023
Fleksibilitas Taktik Xavi
Sejak datang sebagai pelatih Barcelona, Xavi Hernandez selalu dikaitkan dengan mantan mentornya, Pep Guardiola. Bahwa Xavi akan membawa permainan sebagaimana Pep dengan penguasaan bola khas Barcelona. Hal itu sungguh dipraktekkan, tapi Xavi tidak sepenuhnya menduplikat bagaimana cara Pep melatih Barca.
Filosofi yang diterapkan Xavi bukan mengontrol bola, melainkan menahan bola. Itulah mengapa permainan Barcelona di tangan Xavi sudah tidak banyak menerapkan tiki-taka dan penguasaan bola secara paten. Namun, Xavi juga menerapkan gaya sepak bola modern yang lebih efektif dan efisien.
Richardson’s wasn’t even the best goal scored last night.
Here’s Claudia Pina ending the most delectable move at Camp Nou last night for Barcelona Femení. Xavi dreams of his team playing like this.pic.twitter.com/J7qfpGGXDs
— Ruairidh Barlow (@RuriBarlow) November 25, 2022
Xavi kerap menggunakan skema 4-2-3-1, namun dalam prakteknya bisa berubah menjadi 4-3-3. Ia kerap memasang dua pivot. Namun, permainan Xavi juga memanfaatkan lebar lapangan. Maka dari itu, ia bahkan mengubah sosok pemain yang sejatinya gelandang sebagai pemain di sisi sayap, seperti Gavi di laga kontra Madrid.
Penerapan taktiknya, Xavi kerap memanfaatkan lebar lapangan. Dua gelandang pivot-nya juga terkadang maju untuk menciptakan opsi umpan. Barcelona di tangan Xavi mencoba untuk memainkan bola di depan area penalti lawan.
Sementara itu, untuk menjaga kekuatan di sisi sayap, bek yang berada di samping kerap menyusup ke pertahanan lawan. Ini juga berguna untuk merusak pertahanan lawan. Tak ayal permainan efektif yang diperagakan Xavi, bikin Barcelona sering melakukan umpan-umpan direct.
Menurut catatan Fbref, musim ini saja Barcelona sudah melakukan 846 umpan progresif ke dalam kotak penalti di segala kompetisi. Tidak hanya itu, Barcelona juga sudah mengemas 57 umpan silang dan 1131 umpan yang melewati sepertiga lapangan akhir. Jika ditotal, akurasi umpan Barcelona bisa mencapai 86,9% di segala kompetisi.
Pemain Kunci
Kegemilangan Barcelona belakangan ini bukan hanya dari kekuatan taktik Xavi, melainkan ada beberapa pemain kunci yang selalu bisa diandalkan oleh sang pelatih. Ketika menginjakkan kaki di Camp Nou, Xavi diminta untuk tidak selalu menggunakan pemain uzur.
Namun, Xavi diminta untuk mengandalkan pemain muda. Oleh karena itu, kini para pemain mudalah yang jadi poros kekuatan Barcelona. Bahkan para pemain kunci mereka adalah para pemain muda, salah duanya Gavi dan Pedri. Dua pemain yang kerap jadi andalan Xavi.
Mari kita bahas Gavi terlebih dahulu. Ia bisa dibilang menjadi pemain kunci kala Barcelona menaklukan Real Madrid di Riyadh, Arab Saudi. Pemain yang satu ini sejatinya seorang gelandang, tapi ia ditaruh di sisi sebelah kiri. Namun, ia bergerak secara fleksibel dan berada di mana-mana.
Di laga itu, Gavi melakukan pekerjaannya dengan baik. Namun, determinasi Gavi bukan hanya terlihat di laga itu. Musim ini Gavi memang tampil gemilang. Meski belum mencetak gol di La Liga, ia sudah mencatatkan 2 asis. Penampilannya memang naik-turun.
Tapi kita tak bisa meremehkan kualitas umpan pemain yang satu ini. Sebab di La Liga akurasi umpan Gavi bisa mencapai 87,6%. Setidaknya, Gavi sudah melakukan 45 umpan ke sepertiga akhir pertahanan lawan dan 28 umpan progresif ke dalam kotak penalti lawan.
Pedri yang Konsisten, dan Lewy yang Jadi Mesin Gol
Jika Gavi cukup inkonsisten, Pedri tidak. Pedri selalu bermain di setiap pertandingan Barcelona di La Liga. Dari 16 laga, Pedri memainkan semuanya dengan catatan 14 kali jadi starter dan sisanya masuk sebagai pengganti.
Gavi and Pedri combine to give Barca a 3 goal lead #ElClasico #RealMadrid #Barcelona #SuperCopaEspana pic.twitter.com/dYXCmbRDWk
— Khel Now World Football (@KhelNowWF) January 15, 2023
Pedri mengambil peran penting di balik Barcelona yang kini sulit dikalahkan. Pemain yang satu ini telah menunjukkan kualitasnya di lapangan dengan mencetak setidaknya 3 gol di La Liga sejauh ini. Tidak hanya itu, pemain 20 tahun tersebut melakukan rata-rata 58,2 umpan sukses per 90 menit.
Akurasi umpannya juga menyentuh 89,7%. Selain aduhai dalam mengumpan, Pedri juga cakap dalam mengontrol bola dan membawanya melewati para pemain bertahan. Sudah 27 kali ia melakukan itu, di mana kebanyakan ia mulai dari tengah.
📊 | Robert Lewandowski has already scored 12 goals in La Liga in only 71 days!
🔹In the whole of last season, Barcelona’s top scorer in La Liga was Memphis Depay with 12 Goals… pic.twitter.com/ojOvNc5Bmd
— infosfcb (@infosfcb) October 23, 2022
Selain dua pemain gelandang tadi, Robert Lewandowski juga jadi mesin gol yang berbahaya. Mantan pemain Lech Poznan itu kini masih memimpin sebagai top skor Barcelona dengan total 17 gol di segala kompetisi. Nah, dari segala kekuatannya itu, apakah Barcelona masih punya kelemahan?
Kelemahan Barcelona
Di balik penampilannya yang hebat, Barcelona sejatinya tengah berada dalam situasi yang rumit. Masalah finansial masih menghantui klub. Dilaporkan AS, krisis gaji 200 juta euro (Rp3,2 triliun) di Barcelona masih terus berlanjut. Permasalahan ini kabarnya masih belum terurai.
Pihak Barcelona melalui Joan Laporta bahkan mengaku sulit mendatangkan pemain baru. Jika Barca ingin melakukannya, syaratnya harus menjual pemain. Barcelona yang gagal di Liga Champions juga tak punya pemasukkan yang berlebih. Disamping mereka juga tak bisa kembali menggerakan tuas ekonomi.
Arsenal have contacted Barcelona over the possibility of taking Raphina off of them. Barcelona have considered letting Raphina leave due to financial issues. @Glongari pic.twitter.com/rjUGTnvbJM
— TheGolden49 (@TheGolden49) January 14, 2023
Pendapatan dari Piala Super Spanyol juga sepertinya masih belum sanggup menambal defisit keuangan. Sebagai juara Piala Super Spanyol, Barca hanya mendapat 2 juta euro atau sekitar Rp32,6 miliar. Jumlah yang jauh lebih sedikit dari 3,7 juta euro (Rp60,3 miliar) gaji Sergi Roberto per tahun.
Selain masalah keuangan, dalam segi permainan, Barcelona juga masih lemah dalam penyelesaian akhir. Xavi sendiri juga mengakui bahwa para pemainnya harus meningkatkan kualitas finishing. Itu jika Barca masih ingin bersaing.
Dengan catatan yang apik tadi, ini bisa jadi modal penting buat Barcelona. Apalagi dalam mengarungi kembali Liga Eropa. Mereka bukan mustahil akan lebih siap menghadapi Manchester United kelak. Terus begini, Barcelona!
https://youtu.be/qEh8mv3RaEU
Sumber: NewVision, BarcaBlaugranes, Sport, Playingfor90, IndiaTimes, TheAnalyst, BarcelonaAnalysis, TheAthletic, AS, 90Min, Fbref


