Sering Di PHP, Apakah Ini Saat yang Tepat Napoli Raih Scudetto?

spot_img

Kisah Napoli musim 2022/23 bak cerita sensasional baik di Serie A maupun di Eropa. Menjadi klub yang tak diprediksi akan gacor karena ditinggal beberapa pilar penting, justru Il Partenopei tampil menggila. Romantisme kisah manis 1990 bersama Maradona pun seketika menggelora.

Namun perlu diingat, di beberapa era ke belakang momen romantisme itu pernah berakhir pedih. Sempat dua kali menjadi juara paruh musim, namun mereka akhirnya justru gagal raih mahkota. Dan jangan salah, dalam catatan sejarah sejak satu dekade silam, Napoli ini adalah “rajanya” runner up. Jadi, apakah kali ini mereka sudah kapok jadi runner up dan akhirnya juara?

Kebangkitan Napoli Dibawah Presiden Klub De Laurentiis

Flashback tentang cerita kelam Napoli di periode tahun 2000-an awal. Ketika mereka terpuruk dan terperangkap hutang 70 juta euro. Jangankan prestasi, staf, pemain, tempat latihan, dan peralatan pun mereka tak punya ketika terperosok ke Serie C.

Namun bak dewa penolong. Rejeki nomplok datang dari seorang sutradara film bernama Aurelio De Laurentiis. Ia terjun ke ranah sepakbola dan membeli Napoli. Ia sempat dianggap gila ketika membeli klub Serie C dan menyuntikan dana lebih dari 30 juta euro ke dalam tim.

Ia benar-benar berambisi dan mulai perlahan bangun pondasi klub asal Naples ini dengan penunjukan pelatih dan staf yang tepat. Edoardo Reja, sosok pelatih yang ditunjuk De Laurentiis mengeluarkan magisnya dengan hanya dua musim, ia mampu mengembalikan Napoli ke Serie A pada musim 2007/08.

Mazzarri Hingga Sarri

Ketika kisah Edoardo Reja berakhir karena tak mampu bersaing di Serie A, Napoli kembali menemukan tajinya bersama Walter Mazzarri. Di bawah Mazzarri, Napoli yang bermaterikan pemain macam Marek Hamsik, Edinson Cavani, maupun Ezequiel Lavezzi mampu dibawanya naik level dengan bersaing di papan atas Serie A.

Di musim 2010/11, Napoli diantarkannya masuk Liga Champions. Selang semusim kemudian, juara Coppa Italia mereka rengkuh. Dan di musim 2012/13, mereka mampu kejar-kejaran dengan Juventus sampai akhir musim untuk berebut juara. Namun Il Partenopei belum beruntung. Mental dan konsistensi masih kalah dengan Si Nyonya Tua. Napoli akhirnya harus puas jadi runner up.

Sempat ketika era Mazzarri berhenti dan digantikan Benitez, Napoli tetap tak kehilangan levelnya sebagai tim papan atas Serie A. Namun dibanding Mazzarri, tuah Benitez masih kalah jauh. Hanya Supercopa dan Coppa Italia yang Benitez raih. Sementara di Serie A, Napoli gagal bersaing menjadi penantang juara. Maka dari itu, Benitez dianggap kurang berhasil dan mundur.

Nah barulah di tangan Sarri, Napoli kembali bangkit. Gaya permainan ala “Sarri Ball” membuat Napoli kembali menjadi tim yang diperhitungkan sebagai penantang juara.

Memiliki materi yang mumpuni macam Koulibaly, Allan, Jorginho, Callejon, maupun Higuain, Sarri bersama Napoli mampu kembali menjadi juara paruh musim. Di mana Napoli terakhir kali menjadi juara paruh musim adalah ketika mereka juara di musim 1989/90.

Champions D’inverno 2015/16 Dan 2017/18, Namun Gagal Juara

Di Italia, ada fenomena juara paruh musim yang sering dikenal Champions D’inverno. Gelar juara paruh musim biasanya berkorelasi pada gelar Scudetto. Ada enam tim dalam 20 tahun terakhir, yang gagal Scudetto ketika merebut Champions D’inverno. Tim itu adalah Fiorentina di 1998/99, Juventus di 1999/00, Roma di 2001/02 dan 2003/04, Milan di 2002/03 dan 2020/21 serta Inter di musim 2021/22

Celakanya, Napoli termasuk menjadi tim keenam yang gagal merebut gelar Scudetto meskipun meraih Champions D’inverno. Napoli di musim pertamanya bersama Sarri hanya finish sebagai runner up di bawah Juventus dengan selisih 9 poin.

Kegagalan tersebut tentu mencoreng catatan sejarah Napoli. Namun, itu termasuk pencapaian hebat setelah Mazzarri yang mampu membawa Napoli finish sebagai runner up.

Ekspektasi publik Naples mempertahankan pelatih nyentrik itu tak salah. Sebab di musim 2017/18, kisah Champions D’inverno kembali terulang. Napoli kembali perkasa sebagai penantang gelar Scudetto musim itu.

Bak sebuah kutukan. Champions D’inverno yang diraih Napoli pada musim 2015/16 kembali tak berbuah Scudetto. Napoli kembali menjadi runner up. Yang beda adalah di musim itu jarak poinnya ketat hingga akhir musim. Juve juara dengan 95 poin, dan Napoli runner up dengan 91 poin.

Raja Runner Up

Meraih total 3 kali sebagai runner up Serie A sejak era kebangkitannya, membuat Napoli lekat namanya menjadi “raja runner up”. Baik di era Mazzarri maupun Sarri. Namun jangan juga dilupakan, predikat “raja runner up” pun kembali “sah” ketika di era Ancelotti.

Setelah Sarri pergi ke Chelsea, Ancelotti ditunjuk meneruskan titah Napoli sebagai pesaing Scudetto. Namun berbeda dengan Sarri yang mampu mengais asa dengan meraih Champions D’inverno, Ancelotti tak mampu meraih itu.

Bahkan, Ancelotti tertatih membawa Napoli bersaing hingga pekan-pekan terakhir Serie A. Jaraknya di tabel klasemen pun cukup jauh. Juve juara dengan 90 poin, sementara Napoli hanya 79 poin.

2022/23 Musim Kejutan Bagi Napoli?

Empat kali jadi “raja runner up” Serie A, mereka kembali lagi dari tidurnya di musim 2022/23. Dengan skuad compang-camping ditinggal beberapa pilar pentingnya, Napoli awalnya disepelekan. Mertens, Fabian Ruiz, Koulibaly, Milik, Insigne semuanya pergi.

Apakah itu menjadi bukti awal keterpurukan Partenopei? Justru sebaliknya. Kembali menjadi Champions D’inverno dengan rekor tak terkalahkan dengan 13 kali menang dan hanya 2 kali imbang, memunculkan pertanyaan yang berbeda. Apakah ini akan mengulang kutukan mereka di 2015/16 dan 2017/18, ataukah akan mengulang kisah manis mereka di 1989/90?

Tentu banyak faktor yang bisa membuat Napoli benar-benar bisa meraih juara musim 2022/23. Diantaranya adalah faktor Spalletti, pelatih plontos yang menyuguhkan permainan atraktifnya selama ini mengingatkan musim lalu ketika Pioli mampu membawa Milan juara.

Selain itu, kedalaman skuad mereka dengan transfer cerdiknya macam Kim Min Jae, Zambo Anguissa, Khvicha Kvaratskhelia, Ndombele, Raspadori, maupun Giovanni Simeone, mereka justru terbukti ampuh secara teamwork.

Ditinggal para pemain bintangnya yang absen pun mereka masih bisa menang. Seperti ketika lumbung gol Victor Osimhen cedera wajah, Raspadori maupun Simeone pun mampu menjadi pengganti yang sepadan.

Di sisi lain, pesaing mereka dari utara Italia macam Milan, Inter, maupun Juventus, kini masih berkutat pada masalahnya masing-masing. Inter dengan inkonsistensinya, Juventus dengan masalah internalnya, dan Milan yang mulai sering kehilangan poin. Semuanya seolah menjadi pertanda, apakah ini adalah musim yang tepat bagi Il Partenopei mengakhiri kutukan runner up?

Sumber Referensi :espn, dailymail, espn, sportskeeda, bleacherreport, sportsky

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru