Piala Dunia 2022 tidak berjalan baik untuk sang tuan rumah, Qatar. Namun, di luar dugaan justru berjalan cukup baik untuk salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026, Amerika Serikat.
Negeri Paman Sam berhasil mengejutkan dunia lewat permainan soccer mereka. Hanya finish di peringkat ketiga babak kualifikasi Piala Dunia zona Concacaf, USMNT justru berhasil meraih hasil paling bagus di Piala Dunia 2022 dibanding Kanada dan Meksiko.
Tergabung dalam Grup B bersama Inggris, Wales, dan Iran, pasukan Gregg Berhalter tampil meyakinkan dan tak tersentuh kekalahan. Ditahan imbang Wales di pertandingan pertama, soccer milik Amerika Serikat berhasil menahan imbang football Inggris dengan skor kacamata sebelum akhirnya menang tipis 1-0 atas Iran di pertandingan terakhir.
5 poin yang USA kumpulkan sukses membuat mereka melaju ke babak 16 besar sebagai runner-up Grup B. Itu adalah kali ketiga Amerika Serikat lolos ke babak 16 besar di 3 Piala Dunia terakhir yang mereka ikuti.
The USMNT’s World Cup run ends in the Round of 16 after falling to the Netherlands 3-1. pic.twitter.com/NaYyMfbop1
— ESPN (@espn) December 3, 2022
Kelemahan USA Diekspos Habis Belanda di Babak 16 Besar
Sayangnya, langkah bagus USA langsung dihentikan Belanda di babak 16 besar. Gol Haji Wright di menit ke-76 seperti hanya bernilai sebagai gol hiburan semata saat Amerika tunduk dengan skor 3-1.
Permainan bagus Christian Pulisic dan kolega di babak grup seperti tak terlihat saat berjumpa dengan Belanda. Bisa dibilang kalau The Stars and Stripes benar-benar kalah kelas dengan Oranje.
Di babak grup, lini bertahan USA yang diidentifikasi sebagai titik lemah secara mengejutkan mampu meredam lini depan Inggris yang penuh bintang. Di pertandingan grup terakhir, mereka juga sukses menjaga gawangnya dari gempuran Iran.
Lini bertahan Amerika yang digawangi Antonee Robinson, Sergino Dest, Walker Zimmerman, dan Tim Ream juga hanya tembus sekali dari gol titik putih Gareth Bale di laga pertama melawan Wales.
Sayangnya, kedigdayaan itu tak bertahan lama. Di hadapan Belanda, titik lemah Amerika Serikat benar-benar terekspos. Seluruh skema gol Belanda bahkan berasal dari skema yang mirip, yakni berawal dari pergerakan kedua wingback Belanda yang mengekspos sisi kanan dan kiri USA. Ini menunjukkan betapa rapuhnya mereka.
Selain itu, 3 gol yang bersarang di gawang Matt Turner juga berasal dari kegagalan para defender Amerika melacak dan menutup pergerakan para pemain Belanda. Yang paling terlihat adalah ketika Antonee Robinson yang entah hilang konsentrasi atau memang payah dalam menjaga pemain, membiarkan Denzel Dumfries berdiri bebas dalam waktu yang lama sebelum mencetak gol.
Setali tiga uang, performa lini depan pasukan Gregg Berhalter juga jadi problem. Untuk masalah ini sudah terlihat semenjak fase grup.
Saat berhadapan dengan Belanda, Amerika Serikat sebenarnya unggul penguasaan bola dan lebih banyak hasilkan peluang. Menguasi bola hingga 58%, mencatat angka harapan gol (xG) sebesar 1,5, dan melepas 17 tembakan dengan 8 diantaranya on target, USA hanya menghasilkan 1 gol saja. Gol itupun lebih terlihat sebagai gol beruntung saja.
The USMNT put up a good fight against Netherlands. 🤝 pic.twitter.com/NAsjdaTEEI
— CBS Sports Golazo ⚽️ (@CBSSportsGolazo) December 3, 2022
Tambahan gol dari Haji Wright juga hanya menambah pundi-pundi gol USA di Qatar 2022 menjadi 3 gol saja. Catatan tersebut belum mampu melampaui torehan generasi emas Amerika Serikat jilid 1 di Piala Dunia edisi 2006 yang sanggup mencetak 7 gol.
Dibanding dengan sang senior, generasi emas USA yang sekarang memang miskin kualitas di lini depan. Dulu, mereka punya Clint Dempsey, Landon Donovan, atau Jozy Altidore. Kini, lini depan The Stars and Stripes kekurangan striker haus gol.
Josh Sargent, Haji Wright, dan Jesus Ferreira jelas masih jauh dari level para seniornya. Bahkan, mereka juga bukan seorang penyerang yang cukup terkenal di level klub.
Harapan dan Langkah Kecil Generasi Emas Amerika Serikat untuk Piala Dunia 2026
Akan tetapi, meski kalah dan terhenti di babak 16 besar, penampilan Amerika Serikat di Piala Dunia 2022 masih patut untuk dibanggakan. Generasi baru USMNT telah mencapai hasil yang lebih baik ketimbang senior mereka yang tak lolos Piala Dunia Rusia 2018. Apalagi, hasil tersebut juga diraih dengan skuad yang masih muda.
Di Piala Dunia tahun ini, Amerika Serikat adalah tim dengan rataan usia termuda kedua setelah Ghana. Bahkan, starting eleven USA di Piala Dunia tahun ini yang memiliki rata-rata usia 25 tahun 77 hari, jadi yang termuda di antara para kontestan lainnya.
Para pemuda ini telah membuat pijakan bagus di pentas dunia. Pijakan ini juga memberi pengaruh besar, sebab 4 tahun lagi giliran mereka yang bakal jadi tuan rumah Piala Dunia.
Terlebih lagi, sebagian besar pemain andalan USA akan berada dalam usia emasnya di tahun 2026. Sebut saja Tyler Adams, Sergino Dest, Timothy Weah, Brenden Aaronson, Christian Pulisic, Weston McKennie, hingga Giovanni Reyna.
The future is bright, we can’t wait for 2026 🇺🇸 🙌 pic.twitter.com/mNAjEGt4Ii
— FOX Soccer (@FOXSoccer) December 4, 2022
Para pemuda ini harus berusaha keras untuk mencapai level terbaik mereka di 2026 nanti. Sejauh ini, mereka masih banyak kekurangan, baik dalam hal teknikal, mentalitas, maupun pengalaman. Terdekat, mereka harus lebih dulu menemukan tim yang tepat dan memetik prestasi terbaik di level klub.
Tidak diragukan lagi kalau pencapaian Amerika Serikat di Piala Dunia 2022 adalah tentang langkah kecil, kemajuan di dalam dan di luar lapangan, serta harapan besar yang dinanti-nantikan di tahun 2026 nanti.
Kini pertanyaannya, apakah Gregg Berhalter masih akan jadi orang yang tepat untuk membimbing para pemuda Amerika Serikat? Sesuai dengan kontrak, masa jabatan Gregg Berhalter dan para stafnya akan berakhir usai gelaran Piala Dunia 2022.
Meski hasilnya kurang memuaskan, tetapi fondasi yang Berhalter bangun sudah sangat bagus. Ia juga mampu mengatur timnya dengan baik dan menyajikan perlawanan sengit di atas lapangan.
Satu-satunya kekurangan Berhalter adalah soal pemilihan skuad dan pemilihan pemain inti serta pemain pengganti yang masih kerap kontroversial. Jika kontraknya berlanjut, inilah masalah yang harus Gregg Berhalter betulkan.
Langkah USA Tak Mampu Diikuti Kanada dan Meksiko
Akan tetapi, semua kembali lagi, apa yang diraih Amerika Serikat di Piala Dunia Qatar 2022 adalah sebuah hasil yang bisa dibanggakan. Terlebih jika menilik dari pencapaian rival mereka yang juga merupakan tuan rumah lainnya di Piala Dunia 2026.
Seperti yang kita tahu, apa yang dicapai USA tak sanggup diikuti oleh Kanada dan Meksiko. Kanada terhenti di babak grup dan jadi juru kunci Grup F tanpa satu pun meraih poin.
Untungnya, Kanada tak jadi tim terburuk di Piala Dunia 2022. Secara matematis, mereka berada di urutan ke-31, setingkat di atas tuan rumah Qatar. Selain itu, Kanada juga berhasil mendapat gol pertama mereka di Piala Dunia lewat torehan Alphonso Davies.
Belajar dari kegagalan Qatar, pengalaman mentas di Piala Dunia 2022 bisa jadi modal bagus Kanada agar tak jadi tuan rumah memalukan di 2026 nanti. Namun, untuk berangkat ke sana, tentu butuh banyak perjuangan.
Banyak pembenahan yang harus dilakukan Kanada. Mengandalkan Alphonso Davies dan Jonathan David saja tak akan cukup. Harus ada lebih banyak pemain Kanada yang menimba ilmu di liga-liga terbaik dunia.
Kanada juga butuh pelatih yang lebih kompeten. John Herdman boleh saja sudah melegenda di sepak bola wanita, tetapi di sepak bola pria mantan guru SD itu masihlah anak bawang. Terlepas dari kekurangannya, Herdman sudah jadi pioner bagi kemajuan sepak bola Kanada.
🚨 Gerardo Martino is no longer Mexico’s head coach.
“My contract ended as soon as the referee blew the whistle”. pic.twitter.com/FbxN9dvZGJ
— beIN SPORTS USA (@beINSPORTSUSA) November 30, 2022
Pijakan kurang bagus juga dibuat tuan rumah Piala Dunia 2026 lainnya, Meksiko. Mereka bisa dibilang telat panas karena baru meraih poin penuh di laga terakhir. Andai mampu memaksimalkan laga pertama, mungkin hasil berbeda akan diraih El Tri.
Apa yang diraih Meksiko di Qatar 2022 juga tak sebanding dengan pengeluaran mereka untuk menggaji Gerardo Martino. Dengan bayaran 2,9 juta euro pertahun, Martino adalah pelatih dengan gaji termahal keenam di Piala Dunia 2022.
Meksiko tak boleh lagi salah memilih pelatih jika ingin berbicara lebih banyak di Piala Dunia 2026.
***
Referensi: The Guardian, Goal, The Analyst, Opta, SportingNews.


