Akhir Dari Kisah Tepisan Guillermo Ochoa

spot_img

Palang pintu terakhir Timnas Meksiko, Guillermo Ochoa Magana sukses membuat bintang Polandia, Robert Lewandowski merana dalam laga pembuka Grup C Piala Dunia 2022. Pemain berusia 37 itu mementahkan tendangan penalti Lewandowski yang bisa saja jadi penentu kemenangan di laga tersebut.

Keberhasilan Ochoa menggagalkan tendangan penalti Lewandowski semakin mempertegas kelasnya sebagai salah satu kiper top yang dimiliki oleh benua Amerika. Selain menepis penalti, Ochoa bahkan menggagalkan dua peluang emas lain milik tim asuhan Czeslaw Michniewicz.

Penjaga gawang yang kini sudah menjalani Piala Dunia kelimanya itu memang dikenal karena kepiawaiannya menghadang tembakan-tembakan lawan. Namun Piala Dunia Qatar bisa jadi yang terakhir baginya. Karena usia sang penjaga gawang sudah tak muda lagi, edisi kali ini bisa jadi final show Guillermo Ochoa di Piala Dunia.

Berawal Dari Kebetulan

Besar di Meksiko City, Guillermo Ochoa mengenal sepakbola dari jalanan. Sembari membantu orang tuanya berdagang roti, Ochoa selalu bermain sepakbola bersama teman-teman sebayanya. Itu dilakukan karena hanya sepakbola permainan murah yang bisa ia mainkan saat itu.

Melihat anaknya punya bakat, sang ayah memasukkannya ke akademi sepakbola Club America. Awalnya Ochoa berposisi sebagai pemain gelandang di akademi sepakbola tersebut. Namun saat itu kiper utama tidak bisa hadir, hingga sang pelatih memutuskan untuk memainkan Ochoa sebagai penjaga gawang. Ya, namanya bocah, Ochoa pun nurut saja.

Tapi di sinilah semua itu dimulai. Sebuah kebetulan yang menjadi rahmat bagi Memo, sapaan akrab Ochoa. Bermain di bukan posisi yang ia inginkan, Ochoa justru tampil memuaskan. Hingga pada akhirnya ia dipermanenkan oleh Club America bukan sebagai seorang pemain tengah, melainkan sebagai penjaga gawang.

Tak lama kemudian, ia dipromosikan ke skuad utama, tetap sebagai penjaga gawang. Kurang lebih selama delapan tahun ia membela America dan mempersembahkan 1 gelar Liga Meksiko 2004/05 sebelum akhirnya pada tahun 2011, ia merantau ke Prancis dan bergabung dengan AC Ajaccio.

Hampir Gabung PSG

Dengan mengemas 211 penampilan yang menawan bersama America, sebetulnya ada beberapa klub yang menginginkan jasanya. Namun, karena masalah doping, ia hanya bisa bermain di klub gurem macam Ajaccio.

Dilansir website resmi Ligue 1, Ochoa pernah memaparkan kalau ia diminati oleh PSG, Real Betis, Olympiacos, hingga Fulham. Namun, semua itu hanya mimpi karena tersandung kasus penyalahgunaan doping pada pertengahan 2011.

Sekitar awal musim 2011/12, Ochoa sudah mengadakan negosiasi dengan pihak PSG. Detail-detail kontrak sudah disepakati dan kepindahan ke PSG hanya tinggal selangkah lagi. Sayang, isu bahwa Ochoa menggunakan doping saat membela timnas meledak, dan itu menghancurkan mimpinya untuk membela klub besar.

PSG melakukan tes medis ulang, dan Ochoa terbukti positif menggunakan steroid clenbuterol yang dilarang dalam sepakbola. Ochoa menggunakan zat tersebut sepanjang gelaran Gold Cup 2011. Meskipun kasus ini tak berbuntut panjang, PSG tak mau mengambil resiko dengan meloloskan Ochoa dari tes medis tersebut.

Akibat kasus itu, PSG akhirnya mengontrak Nicolas Douchez dari Rennes alih-alih Guillermo Ochoa. Penjaga gawang asal Meksiko itu akhirnya tetap bermain di Prancis, namun bukan dengan PSG, tapi menandatangani kontrak berdurasi tiga tahun dengan Ajaccio, klub Eropa pertamanya.

Piala Dunia ke 5

Tak begitu sulit bagi Memo untuk menembus skuad utama Timnas Meksiko. Ia bahkan sudah masuk skuad senior di Piala Dunia sejak tahun 2006. Jadi Piala Dunia 2022 yang diadakan di Qatar ini bukan kali pertama Guillermo Ochoa berpartisipasi. Total Ochoa sudah mewakili Timnas Meksiko sebanyak lima kali di pesta olahraga terbesar itu. 

Meski demikian, di dua edisi Piala Dunia pertamanya, Ochoa hanya berstatus kiper cadangan. Pada saat itu, gawang El Tri masih dipercayakan kepada dua kiper hebat Oswaldo Sanchez dan Oscar Perez. Ochoa yang masih berusia 20 tahun hanya menjadi kiper ketiga di bawah dua nama itu.

Penampilan Piala Dunia pertama Ochoa justru terjadi di Piala Dunia 2014. Dengan rambut keritingnya dan penyelamatan pentingnya, Ochoa jadi pemain Meksiko yang mudah untuk dicintai. Setelah menjadi penjaga gawang utama Meksiko, Ochoa selalu memiliki momen tak terlupakan di setiap pesta olahraga empat tahunan tersebut.

Piala Dunia 2014 Jadi Panggung Ochoa

Piala Dunia 2014 bak panggung pertunjukan bagi Ochoa. Menjadi palang pintu terakhir Timnas Meksiko, Ochoa beberapa kali keluar sebagai pahlawan. Ia adalah definisi sempurna dari pahlawan kultus Negeri Sombrero itu.

Mereka tergabung dalam Grup A bersama tuan rumah Brasil, Kroasia, dan Kamerun. Meski sulit, Meksiko mampu keluar sebagai runner-up dengan koleksi tujuh poin. Kesuksesan ini tak lepas dari penampilan apik Ochoa sepanjang babak penyisihan.

Meksiko yang berhasil lolos ke babak 16 besar bertemu lawan berat, Belanda. Finalis Piala Dunia 2010 itu tampil mengesankan di fase grup dengan menyingkirkan Spanyol. Ochoa kembali tunjukan ketangguhannya di bawah mistar gawang. Arjen Robben dkk dibuat geleng-geleng karena sulitnya membobol gawang Ochoa.

Meksiko bisa saja lolos ke perempat final andai gol Belanda di injury time tidak terjadi. Jika Robben tak melakukan jurus terlarang di dalam kotak penalti, barangkali Meksiko bisa mendapat nyawa tambahan. Karena Ochoa pasti akan memberikan kekuatan penuh di babak adu penalti. Sepanjang turnamen, ia mencatatkan 19 penyelamatan yang luar biasa.

Final Show

Tak hanya di satu edisi, Ochoa juga tampil baik bersama Meksiko empat tahun berselang. Di Rusia, ia mengulangi kecemerlangannya di Piala Dunia 2014. Penampilan Ochoa menyulitkan striker kelas dunia untuk menjebol gawang Meksiko. Ochoa pun sekali lagi membuktikan diri sebagai salah satu kiper terbaik di kompetisi empat tahunan tersebut.

Selama ajang Piala Dunia 2018, Ochoa mencatatkan satu clean sheet, dan membuat 25 penyelamatan. Dengan jumlah penyelamatan yang begitu banyak, Ochoa menyamai rekor Tim Howard pada tahun 2014 sebagai kiper dengan penyelamatan terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia. Sayang, Meksiko harus kalah dari Brazil di babak 16 besar.

Empat tahun berselang, ia bersama Meksiko kembali ke Piala Dunia. Di usia 37, edisi 2022 diperkirakan akan menjadi yang terakhir bagi Ochoa. Meski demikian, ia tak mengendurkan semangat untuk menjaga gawang El Tri tetap bersih dari gol-gol kontestan lain di grup C.

Laga kontra Polandia barangkali jadi yang paling mengesankan. Ochoa melakukan beberapa penyelamatan penting yang salah satunya adalah menepis tendangan dua belas pas milik Robert Lewandowski. Berkat penyelamatan itu Meksiko bisa mengakhiri laga dengan skor 0-0.

Meski mengantongi empat poin, sayangnya Ochoa tak bisa mengantarkan Meksiko lolos ke babak 16 besar. Ini jadi kali pertama Meksiko gagal lolos ke fase gugur sejak 44 tahun lamanya. Kegagalan ini juga jadi pertanda berakhirnya kisah tepisan Guillermo Ochoa yang melegenda itu.

https://youtu.be/g94XQ2HXzO0

Sumber: The Athletic, ESPN, The Sun, Ligue 1, Fandom

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru