Kegagalan adalah suatu kesuksesan yang tertunda. Itu adalah pepatah yang tepat untuk disematkan kepada Hansi Flick. Arsitek timnas Jerman yang baru saja gagal total di Piala Dunia 2022. Namun dengan kegagalan itu, tak serta merta federasi Jerman memikirkan untuk berpaling ke lain hati.
Posisi Flick kini dianggap aman. Ia masih akan diberikan kesempatan kedua untuk menukangi Der Panzer. Kesempatan kedua ini harus segera dibayar lunas olehnya. Baginya nanti, tentu akan ada banyak pembelajaran penting menuju perhelatan akbar selanjutnya di 2024.
Daftar Isi
Keputusan Federasi Untuk Mempertahankan Flick, Dan Mundurnya Bierhoff
Sebagian besar publik Jerman bisa jadi dibuat kecewa dan marah dengan apa yang ditunjukkan skuad racikan Flick di Qatar. Mereka pun banyak berharap mantan pelatih Munchen itu bertanggung jawab dan mundur. Namun apa yang terjadi? Rabu 7 Desember waktu Jerman, tersiar kabar bahwa Flick dipastikan bertahan. Sebuah pengumuman yang tentu mengejutkan banyak orang.
Official: Hansi Flick stays as German national team head coach, he won’t leave the job. 🚨🇩🇪 #Qatar2022
Flick continues. Mission: Euro2024. pic.twitter.com/myxugphJ0l
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) December 7, 2022
Pengumuman bertahannya Flick disampaikan langsung oleh Presiden Federasi Sepakbola Jerman atau DFB, Bernd Neuendorf. Ia menyampaikannya setelah mengadakan pertemuan tertutup selama dua setengah jam dengan Flick tentang masa depan timnas Jerman.
Presiden Neuendorf punya alasan kuat untuk mengambil keputusan tersebut. Ia mengatakan masih memiliki keyakinan penuh pada Hansi Flick. Flick diyakini masih bisa mengatasi tantangan ini. Terlebih turnamen akbar Jerman selanjutnya yakni Piala Eropa 2024 akan dihelat di rumah sendiri. Namun, nasib Hansi Flick berbeda dengan Oliver Bierhoff.
Official. Oliver Bierhoff’s contract at the DFB has been terminated — he’s out of the project after disappointing World Cup results for Germany. 🚨🇩🇪 #Qatar2022 pic.twitter.com/SXiAu5F2mV
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) December 5, 2022
Legenda Jerman itu memilih mundur dari posisi direktur teknis timnas Jerman, setelah bekerja selama bertahun-tahun. Bierhoff merasa bertanggung jawab atas semua kemunduran dan kegagalan Jerman.
Ia pun berdalih akan memberi kesempatan bagi direktur yang baru demi pembenahan. Bierhoff dalam hal ini diyakini sebagai korban dari kegagalan beberapa turnamen terakhir Der Panzer. Dari mulai Piala Eropa 2016 dan 2020, maupun Piala Dunia 2018 dan 2022.
Evaluasi Menyeluruh
Setelah mundurnya Bierhoff dan dipertahankannya Flick, apa langkah selanjutnya yang harus dilakukan? Ya, tentu yang pertama dilakukan adalah menagih janji tanggung jawab Hansi Flick. Evaluasi menyeluruh terhadap tim besutan Flick ini harus menjadi prioritas.
Tak dipungkiri sejak pergantian tongkat estafet kepelatihan dari Joachim Loew ke Hansi Flick awalnya tersimpan harapan besar. Hal itu karena Flick pernah menjadi asisten Loew yang mampu meraih trofi Piala Dunia 2014. Ia juga terbukti membawa Munchen perkasa dengan meraih Sextuple.
Happy 57th birthday to our former sextuple winning coach, Hansi Flick! 🎂 pic.twitter.com/cJJnFsuYH2
— 🇺🇸 FC Bayern US 🇨🇦 (@FCBayernUS) February 24, 2022
Keraguan pun tak ada ketika ia dianggap sudah sangat tahu kultur sepakbola Jerman. Ditambah lagi Flick sudah lama menemani Loew. Selain itu, di awal melatih Jerman, Hansi Flick sudah mengesankan. Dalam 7 laga awal melatih Jerman, anak asuh Flick bisa mengemas 31 gol dan hanya kebobolan 2 gol. Meski lawan yang dihadapi ketika itu belumlah sepadan, seperti Islandia, Armenia, sampai Israel.
🇱🇮 0-2 🇩🇪
🇩🇪 6-0 🇦🇲
🇮🇸 0-4 🇩🇪
🇩🇪 2-1 🇷🇴
🇲🇰 0-4 🇩🇪
🇩🇪 9-0 🇱🇮
🇦🇲 1-4 🇩🇪
🇩🇪 2-0 🇮🇱Hansi #Flick‘s 100% record still going strong after game number 8️⃣ 🔥#DieMannschaft #GERISR pic.twitter.com/6Ll2lgtTCF
— Germany (@DFB_Team_EN) March 26, 2022
Jerman asuhan Hansi Flick kemudian mulai goyah ketika berjumpa lawan sepadan di UEFA Nations League. Keterpurukan di Nations League menjadi bukti nyata. Ironisnya, hal itulah yang justru menjadi modal Flick mengarungi ketatnya Piala Dunia 2022.
Terbukti, Flick tak mampu belajar dari sebuah proses keterpurukannya di Nations League. Kini Flick harusnya cerdas mengevaluasinya. Evaluasi inilah yang harus kembali dipikirkan setelah ia diberikan nafas kedua untuk melatih.
Pengembangan Dan Pemilihan Pemain
Evaluasi yang krusial adalah dari segi pemilihan pemain. Mengingat pemilihan pemain menjadi salah satu kelemahan yang berbuntut kegagalan di Qatar. Flick setelah tersingkir dari Piala Dunia langsung berkomentar soal hal ini. Ia ingin DFB lebih baik dalam mengembangkan pemain Jerman.
“Kami perlu menjadi lebih baik dalam pengembangan pemain. Kami telah meminta nomor 9 dan bek yang kuat selama bertahun-tahun, namun belum kunjung terwujud,” kata Hansi Flick usai laga kontra Kosta Rika.
Hansi Flick: “We need to get better at player development. We’ve been crying out for number 9s and strong full-backs for years. Defending has distinguished German football for years. We need to get back to the basics” #GER pic.twitter.com/k0G79MmPn8
— Bayern & Germany (@iMiaSanMia) December 1, 2022
Dalam hal teknis, penempatan posisi pemain juga harus dievaluasi. Kimmich harusnya tetap menjadi bek kanan dari pada di tengah. Kemampuannya terbukti masih jauh untuk menggantikan peran Toni Kroos. Kai Havertz dan Muller yang sering dicoba sebagai false nine juga gagal. Padahal Flick mempunyai Niclas Fullkrug yang bisa dijadikan sebagai striker murni.
Legenda mereka Bastian Schweinsteiger pun juga ikut menyoroti betapa rapuhnya lini pertahanan Jerman. Ia sampai menganggap hanya Rudiger lah yang berkelas,dibanding yang lain. Memanggil Sule ketimbang Hummels juga terbukti gagal.
Bastian Schweinsteiger: “In the defense, we only have one high-level defender and that’s Antonio Rüdiger.” [@sportschau] pic.twitter.com/66DOJf1cW0
— BayernTimes (@BayernTimes) December 1, 2022
Masalah pemanggilan pemain pun bahkan sekarang menemui titik konflik. Menurut laporan Daily Mail, Flick dianggap “pilih kasih” terhadap pemain asal Munchen. Sampai-sampai hal itu telah memecah internal skuad Jerman. Diduga ada dua kubu di skuad Jerman, yakni antara kubu Munchen dan non-Munchen.
The national team was divided into two camps – the ‘Bayern block’ and ‘the rest’. Hansi Flick was accused of bias towards the Bayern players due to his special relationship with them, that caused a split within the team. Flick couldn’t win the whole team over [@SPORTBILD] pic.twitter.com/YP3F6hQmFG
— Bayern & Germany (@iMiaSanMia) December 7, 2022
Menurut BILD, bahkan hal itu sempat membuat marah segelintir pemain yang termasuk dalam kubu non-Munchen seperti Gundogan, Ter Stegen, dan Havertz. Hal-hal seperti inilah yang membuat dampak buruk bagi keharmonisan tim.
Pematangan Regenerasi
Alangkah lebih baiknya kini Flick sadar diri akan kesalahannya itu dan segera bergerak mengevaluasinya dengan cermat. Selain evaluasi dalam hal pengembangan dan pemilihan pemain, evaluasi pada pematangan pemain juga perlu terus dilakukan. Terutama bagi produk regenerasi mereka.
Bagaimanapun Der Panzer adalah salah satu tim yang pernah mengunduh generasi baru sejak era keemasan Klose, Ozil, Khedira, Boateng, maupun Bastian Schweinsteiger. Itu karena sejak musim 2006/07, Bundesliga menerapkan kebijakan agar klub bisa mengembangkan pemain muda lokal. Alih-alih membelinya dari negara lain.
Ironisnya, lama-kelamaan kebijakan itu dinilai tidak menguntungkan bagi klub Bundesliga. Alih-alih mengembangkan pemain muda dari Jerman, klub-klub Bundesliga justru mulai mendatangkan pemain muda dari luar. Jadi, klub Bundesliga tidak banyak memberikan kesempatan untuk pemain muda lokal, tapi justru memberi ruang untuk pemain muda dari luar Jerman.
Hal itulah yang kemudian berpengaruh pada kualitas Timnas Jerman itu sendiri. Pada Piala Dunia 2022 saja, salah satu pemain muda yang mentereng, Jamal Musiala bukanlah produk asli dari Jerman. Musiala adalah pemain muda yang mendapat tempaan di Inggris, sebelum ia memilih kewarganegaraan Jerman.
Jamal Musiala must really be regretting switching his nation from Germany to England to Germany again.
The confusion over his nation means he won’t be playing alongside Jude Bellingham in the World Cup knockouts. 🏴 pic.twitter.com/seyuszM5zV
— Robin Mumford (@RobinMumford17) December 1, 2022
Dengan kata lain, ada inkonsistensi soal pengembangan pemain muda di Jerman. Hal itulah yang disinyalir menyebabkan beberapa pemain yang memperkuat Timnas Jerman tidak mencapai level yang diinginkan. Sebut saja seperti Leroy Sane, Kai Havertz, sampai Joshua Kimmich.
Maka pematangan regenerasi perlu dilakukan oleh Hansi Flick. Tentunya juga harus dengan treatment yang pas. Cara Flick yang coba memadu padankan produk regenerasi Kimmich dan kawan-kawan dengan generasi baru para pemain muda di bawah dua puluh tahun seperti Musiala, Bella Gotchap, Adeyemi, maupun Moukoko mampu menjadi modal. Meski hal itu masih butuh waktu.
At the EURO 2024:
🇩🇪 Wirtz (21)
🇩🇪 Adeyemi (22)
🇩🇪 Netz (21)
🇩🇪 Knauff (22)
🇩🇪 Musiala (21)
🇩🇪 Schlotterbeck (25)
🇩🇪 Thiaw (23)
🇩🇪 Moukoko (20)
🇩🇪 Bella-Kotchap (22)
🇩🇪 Havertz (25)They will be ready for EURO 2024 that will take place in their country. 🇩🇪💪 pic.twitter.com/238P8zuFJE
— Pro Future Stars (@ProFutureStars1) December 2, 2022
Misi Bangkit Sebagai Tuan Rumah Piala Eropa 2024
Mengingat 2024 Jerman akan menjadi tuan rumah perhelatan akbar Piala Eropa. Flick tentu dituntut untuk mengemban misi besar Jerman untuk bangkit. Misi tersebut tentu sudah dicanangkan DFB pasca hancur lebur di Qatar.
Hal-hal yang buruk di Qatar harus segera dijauhi. Seperti hal-hal yang tak ada hubungannya dengan teknis sepakbola. Seperti sikap protes LGBT, maupun lainnya. Jerman sedikit banyak kehilangan fokus akibat hal-hal yang berbau politis tersebut.
Germany should have concentrated on football instead of disrespecting a country’s law. 👀 pic.twitter.com/3xj8BlWtJk
— FootballFunnys (@FootballFunnnys) December 1, 2022
Flick harus siap menatap 2024 mulai dari sekarang. Semua langkah harus segera dilakukan. Kalau tidak ingin kegagalan ini akan terulang di rumah sendiri 2024 nanti.
Sumber Referensi : theathletic, dailymail, dailymail, bavarianfootballworks, mirror, espn


