Setelah meraihnya dua kali, jarak antara Argentina dengan trofi Piala Dunia dua edisi sebelumnya pernah sedemikian dekat. Tim Tango nyaris saja menjadi juara di Piala Dunia 2014, andai 10 tembakan para pemainnya ada satu saja yang lolos ke gawang Neuer.
Namun, yang terjadi justru Mario Gotze yang memperlihatkan efisiensi dan efektivitas. Golnya tujuh menit jelang laga usai, mengubur dalam-dalam harapan Argentina untuk meraih trofi untuk ketiga kalinya. Hal yang bahkan tidak bisa diulangi di Piala Dunia 2018.
Delapan tahun sudah berlalu. Kenangan pahit tahun 2014 pastilah membekas di benak Lionel Messi dan kolega. Hanya saja, larut dalam kenestapaan bukan sesuatu yang baik. Argentina kembali membawa misi untuk meraih trofi itu lagi di tahun 2022.
Dengan wajah yang berbeda, tentu saja peluang Argentina untuk mendapatkannya sangatlah terbuka. Baru-baru ini aroma juara Piala Dunia juga sudah mulai tercium dari skuad Lionel Scaloni.
Daftar Isi
Kalah Kemudian Bangkit
Namun, Piala Dunia tidak sesederhana Copa America. Argentina mesti bertemu dengan tim yang berasal dari luar konfederasinya sendiri. Lionel Scaloni memang bisa membawa Argentina juara Copa America, tapi di pertandingan pertama Piala Dunia, Argentina justru tersentak.
Tim Tango tidak dinyana takluk atas Arab Saudi 2-1. Sebuah kekalahan yang, tentu saja bisa menurunkan keyakinan bahwa Argentina bisa juara. Apalagi kekalahan itu memutus 36 rekor tak terkalahkan Albiceleste. Namun, bukan Argentina namanya kalau tak bisa bangkit.
Setelah kalah 2-1 atas Arab Saudi, pasukan Scaloni bangkit dengan menaklukan Meksiko 2-0. Lalu di pertandingan pamungkas, Argentina menuntaskan fase grup dengan kemenangan manis 2-0 atas Polandia.
Argentina & Poland mara ke pusingan 16 pasukan terbaik.
.
Manakala Arab Saudi masuh merayakan kemenangan keats Argentina 🫣 pic.twitter.com/WAJVt7cKQ1— Zon BOLA (@thezonbola) December 1, 2022
Lionel Scaloni Cerdas Memakai Lionel Messi
Keberhasilan Argentina lolos dari jeratan fase grup tidak lain karena peran bintangnya, Lionel Messi. La Pulga kini memang sedang dalam kondisi terbaiknya. Meski sudah tidak di Barcelona, tapi Lionel Messi telah menemukan permainan terbaiknya di tangan Christophe Galtier.
Namun, penampilan terbaik Messi saja tidak cukup. Jika sang pelatih tidak bisa menggunakannya dengan baik dan efektif. Seperti apa yang terjadi di Piala Dunia 2018. Di mana ketika itu, pelatih Argentina, Jorge Sampaoli gagal mengeluarkan potensi terbaik Lionel Messi.
Sementara, kini Lionel Scaloni punya pendekatan yang berbeda. Scaloni menemukan cara baru untuk bisa memanfaatkan kualitas Lionel Messi. Seorang jurnalis yang biasa meliput sepakbola di Amerika Selatan dan Argentina, Marcela Mora Y Araujo dilansir News Talk menilai bahwa Scaloni bisa memanajemen Lionel Messi dengan baik.
Scaloni dianggap berhasil menciptakan lingkungan di mana Messi tidak diandalkan menjadi satu-satunya yang membawa Argentina. Meski di atas lapangan, jika kita melihat permainan Argentina sejauh ini masih bergantung pada Lionel Messi. Namun, itu tidak lebih karena Lionel Messi sebetulnya masih bagian dari sistem permainan Scaloni.
“Saya tahu ini klise. Tapi saya sangat percaya bahwa Messi hanya berfungsi sangat kuat. Ia (Messi) adalah bagian dari sistem kerja sama,” kata Mora Y Araujo.
Pemain Muda yang Mendapat Tempat
Beruntungnya Argentina dilatih Lionel Scaloni. Selain berhasil lolos dari lautan kritik yang menyertainya, Scaloni membuktikan bahwa dia lebih dari mampu untuk menangani skuad Argentina. Di sisi lain, Lionel Scaloni merupakan sosok pelatih yang mau berinovasi dan memberi tempat buat pemain muda.
Argentina pernah gagal dalam pengembangan pemain muda. Dilansir Goal, hal semacam itulah yang membuat Albiceleste tak bisa berbicara banyak di Piala Dunia 2018. Setelah tertatih-tatih di fase grup mereka dibabat Prancis 4-3 di 16 besar.
Kini kekhawatiran terhadap pemain muda mulai dipangkas. Sebab Lionel Scaloni, selain mengandalkan pemain berpengalaman seperti Messi, juga memberi tempat pada pemain muda. Misalnya, seperti apa yang dilakukan terhadap Enzo Fernandez.
Enzo Fernandez strike for Argentina vs Mexico.
First international goal. First World Cup goal. What a moment! pic.twitter.com/to9nCIjymJ
— FT90Extra (@FT90Extra) November 27, 2022
Enzo Fernandez bisa memanfaatkan kesempatan yang Scaloni berikan kepadanya. Di Piala Dunia 2022, selain golnya ke gawang Meksiko, fleksibilitas pemuda yang kini berseragam Benfica itu patut diacungi jempol. Fernandez berada di mana-mana, serta punya kemampuan menyundul dan tekel yang luar biasa.
Tidak hanya itu, gelandang yang satu ini punya kreativitas ketika memegang bola. Enzo Fernandez juga mampu menciptakan ledakan yang berenergi dari lini tengah. Selain Fernandez, Nahuel Molina juga diberi kesempatan bermain di Piala Dunia.
This went unnoticed.. Argentina’s first goal Vs Poland, Straight from kick off. 17 passes, goal #Argentina #FIFAWorldCup2022 #Poland https://t.co/tEdCHB0CY6 pic.twitter.com/iggWNBnnd6
— Ali (@Monsieurrali) December 6, 2022
Bek kanan yang satu ini memiliki visi bermain yang bagus. Ia punya kecepatan. Molina menawarkan dirinya sebagai pembantu serangan. Catatan satu asisnya di Piala Dunia 2022 menjadi bukti, bahwa Lionel Scaloni tidak salah membawanya ke Qatar.
Perpaduan dengan Pemain Berpengalaman
Scaloni juga tidak hanya mengandalkan para pemain muda. Tentu saja, mantan pemain West Ham itu tidak akan meninggalkan para pemain berpengalaman. Sejauh ini elaborasi antara pemain muda dan pemain berpengalaman dari Argentina ini cukup baik.
Salah satunya di sektor pertahanan. Bek senior seperti Nicolas Otamendi selalu bermain dan ia akan bermitra dengan salah satu pemain yang umurnya jauh lebih muda. Lionel Scaloni biasanya akan menduetkan Otamendi dengan bek Tottenham Hotspur, Cristian Romero.
27/11 – Lisandro Martinez (Argentina)
Setelah memulai laga pertama dari bangku cadangan, Martinez akhirnya diberikan kesempatan starter menggantikan Romero di jantung pertahanan tim, berduet dengan Otamendi. Argentina berhasil mengamankan kemenangan 2-0 atas Meksiko. pic.twitter.com/VT16lXyOGJ— Manchester United World (@manutd_world) November 27, 2022
Duet Romero dan Otamendi adalah pilihan utama di sektor bek tengah. Meskipun tidak menutup kemungkinan pasangan Otamendi adalah Lisandro Martinez, bek MU yang tengah naik daun. Atau bahkan bisa jadi justru Lisandro yang menggantikan Otamendi.
Hubungan Baik Lionel Messi dan Scaloni
Pada Piala Dunia 2018, Messi menjalani hubungan yang kurang baik dengan pelatih Argentina, Jorge Sampaoli. Di Piala Dunia yang berlangsung di Rusia itu, Sampaoli berkali-kali menyalahkan Lionel Messi atas kegagalan Argentina. Salah satunya ketika Tim Tango dibantai Kroasia di fase grup.
Namun, kini tak perlu khawatir. Bersama Lionel Scaloni, Messi telah menemukan permainan terbaiknya. Scaloni yang beberapa kali melontarkan pujian, membuat La Pulga bisa mengeluarkan kekuatan terbaiknya.
“Ikiwa Messi hataomba kufanyiwa mabadiliko, sitamfanyia mabadiliko”
Lionel Scaloni-Kocha wa Argentina pic.twitter.com/aCQgtEHE9Q
— Ramaldiny (@Ramaldiny) December 1, 2022
Tanda Juara Piala Dunia 2022
Well, kalau kita membicarakan siapa kandidat terkuat juara Piala Dunia 2022, maka nama Brasil layak muncul. Pasukan Tite belakangan tampil trengginas. Selecao belum tersentuh satu pun kekalahan sejak fase grup. Namun, tradisinya para juara Piala Dunia adalah mereka yang tampil biasa-biasa saja.
Nah, Argentina demikian. Memang terlalu dini mengatakan hal ini. Tapi Argentina tampil biasa-biasa saja. Mereka kalah dari Arab Saudi di pertandingan pertama. Namun, setelah kekalahan itu mereka bisa bangkit. Dengan kata lain, mentalitas Argentina sudah teruji.
Tidak hanya itu, semesta seolah menunjukkan pertanda bahwa Argentina bisa jadi juara Piala Dunia. Tanda itu muncul ketika Lionel Messi gagal mengeksekusi penalti di pertandingan ketiga di fase grup menghadapi Polandia. Messi yang penaltinya ditepis Szczesny bahkan seolah tidak masalah dengan hal itu.
Argentina pernah meraih trofi Piala Dunia dua kali. Dan kedua trofi itu diawali oleh pemain andalan mereka yang gagal mencetak gol di pertandingan ketiga di fase grup. Misalnya, pada tahun 1978 ketika Argentina juara di rumahnya sendiri.
Ketika itu, pemain andalan Albiceleste, Mario Kempes tidak mencetak gol di laga terakhir fase grup saat menghadapi Italia. Kala itu, Argentina bahkan harus kalah dari Italia 1-0 dan finis di peringkat kedua grup. Lalu pada Piala Dunia 1986.
Pemain andalan Argentina kala itu, Diego Maradona gagal mencetak gol di pertandingan ketiga fase grup saat menghadapi Bulgaria. Meski ketika itu Argentina menang dengan skor 2-0. Gagal mencetak gol di laga terakhir fase grup nyatanya tidak mempengaruhi Kempes maupun Maradona.
Kempes meraih sepatu emas ketika itu. Sementara Maradona jadi pemain terbaik turnamen dan mengantarkan Argentina juara. Jadi, apakah Lionel Messi akan melakukan hal yang sama? Itu sangat mungkin terjadi. Tapi sebelum itu, Tim Tango harus mengalahkan Belanda terlebih dahulu.
Sumber: TheAthletic, CNN, TheGuardian, NewsTalk, FIFA, RFI, Sportskeeda, LaTimes, Mirror, ESPN, TheSun, GOAL


