Dari sekian tim Eropa yang tampil di Piala Dunia 2022, Belgia menjadi yang paling sepi untuk dibicarakan. Sayangnya hal itu bukan suatu keanehan.
Timnas Belgia dari tahun ke tahun. Dari satu kompetisi ke kompetisi lainnya tidak bisa diandalkan sama sekali. Tim yang juga berjuluk Iblis Merah itu sama seperti Iblis Merah di Inggris. Keduanya sama-sama tidak pernah becus di ajang bergengsi.
Belgia nyaris tak pernah mengesankan di ajang seperti Piala Dunia. Betul bahwa Belgia pernah juara ketiga di Piala Dunia edisi sebelumnya. Tapi bagi tim yang pernah menduduki peringkat satu FIFA, prestasi itu masih kurang meyakinkan. Harusnya Belgia bisa masuk ke final.
Daftar Isi
Persiapan Piala Dunia 2022 Belgia
Meski prestasinya begitu-begitu saja, kita hampir selalu melihat Belgia di setiap ajang bergengsi, termasuk Piala Dunia 2022. Belgia lolos ke Qatar dengan cara meyakinkan. Kevin de Bruyne dan kolega melangkah mulus setelah memuncaki Grup E kualifikasi Piala Dunia zona Eropa.
Belgia berhasil mengumpulkan 20 poin. Anak asuh Roberto Martinez bahkan belum pernah menelan kekalahan di babak kualifikasi. Dari 8 laga yang dilakoni, 6 menggondol kemenangan dan sisanya berakhir sama kuat. Namun, itu tak lepas karena Belgia menjadi tim dengan status terkuat di Grup E tersebut.
Berada satu grup dengan Wales, Ceko, Estonia, dan Belarus, lumrah jika Belgia bisa memuncaki klasemen. Ujian sesungguhnya di UEFA Nations League. Sebagai tim yang menduduki peringkat kedua FIFA, Belgia justru takluk dengan mudah oleh Belanda dalam dua laga. Satu di antaranya bahkan kalah telak 4-1.
Di ajang UEFA Nations League, Belgia hanya mampu finis di peringkat kedua Liga A Grup 4. Mereka hanya mengumpulkan 10 poin dari hasil 3 kali menang 1 kali seri dan 2 kekalahan dari 6 laga. Ironisnya bahkan Belgia menjadi tim di posisi runner-up dengan kebobolan terbanyak di Liga A, yaitu 8 gol.
Pertahanan Buruk
Dengan kata lain, pertahanan Belgia sangatlah buruk. Nah pertahanan keropos inilah yang mereka bawa ke Piala Dunia 2022. Setan Merah membawa bek-bek senior seperti Toby Alderweireld dan Jan Vertonghen. Selain itu ada Wout Faes, Arthur Theate, Zeno Debast, Meunier, Castagne, dan Leander Dendoncker.
Membawa dua bek senior seperti Alderweireld dan Vertonghen bukan jaminan lini pertahanan Belgia bakal aman. Apalagi keduanya tidak dalam performa terbaik seperti ketika masih berseragam Tottenham Hotspur.
Congratulations to Jan Vertonghen, Toby Alderweireld and Mousa Dembele, included in the Belgium #Euro2016 squad! pic.twitter.com/fpwlKhDDXr
— Talking THFC (@TalkingTHFC) May 12, 2016
Kehadiran Alderweireld dan Vertonghen justru membuat pertahanan Belgia goyah. Di kualifikasi Piala Dunia zona Eropa, Alderweireld hanya mencatatkan rata-rata 1 intersep dan 1,7 tekel per laga dari 6 penampilan.
Sementara itu, Vertonghen rata-rata melakukan 1 tekel dan 1 intersep per 90 menit dari 6 laga yang ia lakoni. Sebenarnya ada satu opsi lagi, yaitu Jason Denayer. Tapi ia tidak dipanggil Roberto Martinez. Barangkali karena penampilannya menurun sejak tidak di Lyon. Kini Denayer berseragam tim Uni Emirat Arab, Shabab Al Ahli Dubai FC.
Thibaut Courtois yang Buruk
Disamping permasalahan sektor bek, kiper Belgia juga nyaris tidak ada yang menyakinkan. Thibaut Courtois yang mendapat Yashin Trophy, penampilannya di Belgia tidak sebagus ketika membela Real Madrid. Terlepas dari kualitas bek yang berbeda, kemampuan individu Courtois juga tidak istimewa di Timnas Belgia.
Menurut Fbref, pada kualifikasi Piala Dunia 2022, Courtois bermain lima kali. Ia memang mengemas 13 penyelamatan. Namun persentase penyelamatannya cuma di angka 72,2%. Persentase itu menurun dari 78,6% di ajang EURO 2020.
🇮🇹 2-1 🇧🇪
Thibaut Courtois played the full 90 minutes in Belgium’s defeat to Italy in the UEFA Nations League’s third place play-off in Turin. pic.twitter.com/1TjRt73OQM
— 𝗥𝗠𝗢𝗻𝗹𝘆 (@ReaIMadridOnly) October 10, 2021
Saat Belgia melakoni laga di UEFA Nations League, Courtois juga jarang dimainkan. Kiper El Real itu hanya bermain di dua laga. Courtois kebobolan dua gol. Jika dirata-rata, artinya Courtois kebobolan satu gol per 90 menit.
Kualitasnya yang buruk bisa saja membuat Courtois tidak menjadi pilihan Martinez. Sebab kiper lain seperti Koen Casteels punya persentase penyelamatan lebih baik. Pada kualifikasi Piala Dunia 2022, persentase penyelamatan Casteels menyentuh 80%.
Masih dengan Roberto Martinez
Ada kesamaan antara Timnas Inggris dan Belgia. Keduanya selama enam tahun betah dengan satu pelatih saja. Inggris dengan Gareth Southgate dan Belgia yang percaya pada pelatih berpaspor Spanyol, Roberto Martinez. Ia meninggalkan pekerjaan di Everton pada Mei 2016. Lalu tiga bulan kemudian Martinez ditunjuk sebagai pelatih Belgia.
Ia disebut-sebut membawa Belgia ke tangga kesuksesan. Meski kita tidak tahu trofi apa yang sudah diraih Timnas Belgia. Tapi Martinez memang sukses mengerek posisi Belgia di ranking satu FIFA. Namun prestasi terbaik Martinez untuk Belgia apa?
Having taken 🇧🇪@BelRedDevils to a historic bronze medal, coach Roberto Martinez reflects on Russia 2018 while at the FIFA Football Conference 🥉 pic.twitter.com/gkPr9Hk4Yf
— FIFA World Cup (@FIFAWorldCup) September 23, 2018
Satu-satunya yang bisa dibanggakan adalah membawa Timnas Belgia meraih juara ketiga di Piala Dunia 2018. Meski sebetulnya mereka jauh lebih pantas untuk memenangkan turnamen itu. Selainnya banyak yang mengecewakan, termasuk di ajang EURO 2020. Belgia hanya sampai ke perempatfinal, takluk atas Italia yang jadi juara pada edisi itu.
Walau sangat minim prestasi, Roberto Martinez masih dipertahankan. Dan masalahnya, Martinez tidak banyak berinovasi soal pemilihan pemain. Ia yang biasanya menggunakan formasi 3-4-3 akan memilih pemain yang sama secara konsisten.
Masalah di Lini Depan
Formasi 3-4-3 yang dipakai Martinez mengandalkan ketangguhan lini belakang dan ketajaman di lini depan, serta kreativitas lini tengah. Sementara, lini belakang dalam hal ini bek, terlanjur tidak tangguh. Harapannya ada di lini depan. Tapi lini depan pun bermasalah.
Benar bahwa Belgia punya Romelu Lukaku dan Eden Hazard. Namun kedua pemain itu tidak semengkilap dulu lagi. Tidak hanya itu, keduanya juga sering mengakrabi cedera. Lukaku bahkan diragukan tampil di fase grup Piala Dunia.
Romelu Lukaku misses the Belgian national team 🇧🇪 preparatory exercises in preparation for the match 🇨🇦#FIFAWorldCup#WorldCup2022#Qatar2022 pic.twitter.com/KBhbzJPJMh
— World Cup News (@Jey92138889) November 20, 2022
Di sisi lain, Eden Hazard baru bermain enam kali di musim ini bersama Los Galacticos. Dari situ Hazard baru mencetak satu gol dan satu asis. Namun begitu, Martinez masih punya jalan keluar lain. Masih terdapat nama Leandro Trossard di lini depan Timnas Belgia.
Trossard kebetulan tengah dalam pick performance. Musim ini di Liga Inggris, Trossard sudah tampil di 14 laga bersama Brighton. Ia juga sudah mencetak 7 gol dan 3 asis. Pemain muda, Charles De Ketelaere pun layak jadi opsi. Namun sejak pindah ke AC Milan, sang pemain kekeringan gol. Meski di Liga Belgia, Ketelaere mengoleksi 14 gol dari 33 laga.
De Bruyne: Gue Lagi, Nih?
Tak dapat dipungkiri, satu-satunya pemain yang paling layak jadi pemain kunci adalah Kevin de Bruyne. Gelandang Manchester City tidak pernah tampil buruk untuk negaranya. Total, De Bruyne sudah mencetak 24 gol dan 46 asis dalam 94 pertandingan di Timnas Belgia. Dalam skema 3-4-3, ia bisa ditaruh di posisi sayap. Atau dalam skema 3-4-2-1, De Bruyne bisa bermain di belakang striker.
De Bruyne bisa dibilang pemain yang menanggung beban Belgia selama kualifikasi Piala Dunia 2022. Ia bermain di empat laga kualifikasi Piala Dunia zona Eropa. Dari situ De Bruyne mengemas 2 gol dan 2 asis. Ia sangat canggih ketika ditaruh di sayap kanan, karena di situlah rating De Bruyne bisa mencapai 8,25.
Lini depan Belgia boleh dipenuhi para pemain mandul. Tapi kalau pengumpannya adalah De Bruyne, bisa jadi hasilnya akan lain. Apalagi rata-rata umpan De Bruyne, menurut Who Scored, bisa mencapai 82,2%. Well, kesimpulannya Timnas Belgia memang kuat, tapi mereka tidak cukup meyakinkan.
https://youtu.be/hbc8Sl4XOOE
Sumber: Metro, TheGuardian, 90Min, TheSun, Sportstar, AlJazeera


