Di Piala Dunia 2010, tersaji final yang saat itu sangat menarik untuk ditonton. Dua negara unggulan, Spanyol dan Belanda bertarung satu sama lain untuk memperebutkan gelar juara Piala Dunia. Kedua tim tersebut sama sama jadi tim unggulan di Piala Dunia 2010. Iker Casillas dan rekan-rekannya baru saja mengangkat Piala Euro tahun 2008. Mereka siap mengawinkan gelar tersebut dengan trofi paling bergengsi di dunia sepak bola.
Sedangkan Belanda tidak bisa diremehkan. Tim oranye lolos fase grup dengan 100% kemenangan di tangan. Kapabilitas Arjen Robben dan kolega juga sudah teruji setelah menaklukan Brasil di perempat final, dan kuda hitam Uruguay di semifinal. Namun, yang membuat final ini menarik untuk dibahas bukan hanya karena kedua tim ini adalah tim unggulan.
Tapi juga mempertemukan total football yang mengalir dalam darah tim oranye, dan tiki taka yang menghiasi La Furia Roja sepanjang turnamen. Mengapa ini menjadi pembahasan yang menarik? Karena baik total football dan tiki taka datang dari otak yang sama, yaitu Johan Cruyff.
Daftar Isi
Mengenal total football
Johan Cruyff dianggap sebagai bapak sepak bola modern. Legenda Ajax itu telah banyak mencetuskan gagasan-gagasan yang merevolusi dunia sepak bola. Salah satunya adalah total football yang ia kembangkan bersama dengan pelatihnya di Ajax, Rinus Michels.
Johan Cruyff & Rinus Michels on the Highbury pitch pic.twitter.com/9UeLvGUftI
— Gary Lawrence (@garythegooner56) June 12, 2017
Di era Cruyff masih aktif bermain, sekitar dekade 60-an, banyak tim yang memainkan permainan aman. Mereka selalu melakukan pertahanan ketat sambil menunggu kesempatan untuk serangan balik. Karena itulah, gagasan total football hadir sebagai pembeda di masa itu. Inti filosofi total football adalah sepak bola menyerang. Dimana tim bisa membuka ruang dan membangun serangan dari berbagai sisi.
Total football juga erat dengan permainan yang sangat cair. Para pemain tidak terikat dalam satu peran saja. Setiap pemain bisa bermain sebagai penyerang, gelandang, ataupun bek. Dimana hanya satu pemain yang tidak berpindah-pindah posisi, yaitu penjaga gawang.
Jadi, ada dua poin penting dari permainan total football. Pertama, pemanfaatan ruang. Dengan total football, tim akan membuka ruang permainan selebar mungkin. Namun kembali rapat ketika dalam posisi bertahan. Sambil melakukan pressing ketat ketika lawan membawa bola.
The concept of Total Football is possession football, when players are free to interchange positions during the build-up, and there is no definite structure, only fluidity to a maximum extent. Van Gaal despises that football, he wants structure. Players are distributed specific pic.twitter.com/DpaiIxuF52
— . (@Ball_Retention) November 14, 2022
Yang kedua, adalah permainan yang cair. Para pemain bergonta-ganti posisi selama pertandingan. Turun ke pertahanan, atau melebar ke sayap untuk menciptakan ruang sembari rekan setim berotasi mengisi kekosongan yang ditinggalkan.
Tim pertama yang mengadopsi total football adalah Ajax Amsterdam, antara akhir dekade 60-an sampai 70-an awal. Johan Cruyff menjadi simbol dari tim tersebut sekaligus simbol dari total football karena dirinya bisa bermain di semua posisi di atas lapangan. Lincah sebagai pemain sayap, punya ketahanan sebagai gelandang, sekaligus efektif dalam menyerang.
Gaya bermain total football tidak hanya ia pakai ketika bermain untuk klub saja. Tapi juga ketika dirinya berseragam timnas Belanda. Total football pun menjadi populer ketika De Oranje membawa filosofi tersebut sampai ke final Piala Dunia 1974.
Mengenal tiki taka
Filosofi total footbal juga dibawa Cruyff ketika dirinya pindah ke Barcelona pada tahun 1973 dan lalu menjadi pelatih Blaugrana di musim 1988/89. Di Barcelona ini lah ia membangun Dream Team yang sangat melegenda itu. Dari menggagas pendirian La Masia hingga berhasil memenangkan empat gelar La Liga berturut-turut di tahun 1990 sampai 1994 sebagai pelatih. Johan Cruyff berperan besar bagi kebangkitan Barca. Baik sebagai pemain maupun pelatih.
Di musim pertama Cruyff menjadi pelatih Barcelona, ia memperkenalkan metode latihan yang baru kepada Blaugrana saat itu. Cruyff menyuruh para pemain berdiri melingkar dan mengoper bola satu sama lain. Di tengah ada satu pemain yang berusaha merebut bola. Ini lah yang disebut sebagai the “Rondo” training style, atau kucing-kucingan.
Cruyff tahu bahwa bisa mempertahankan penguasaan bola menggunakan operan adalah hal yang sangat penting dalam permainan. Baginya kunci untuk mencetak gol dan memenangkan pertandingan adalah dengan memaksimalkan penguasaan bola. Ini lah yang kemudian diadopsi oleh Pep Guardiola menjadi taktik tiki taka.
Indahnya Tiki Taka ❤️
Barcelona sebelum kenal tuas 1, tuas 2, tuas …pic.twitter.com/1SO92zBTi1
— Siaran Bola Live (@SiaranBolaLive) November 1, 2022
Spanyol yang diisi banyak pemain Barcelona, dan dengan manajer Vicente del Bosque memang sudah mulai mempertontonkan tiki taka di ajang Euro 2008. Mereka juga menjadi juara di turnamen tersebut. La Furia Roja pun membawa kembali tiki taka ke pentas turnamen terbesar sepak bola antar negara, Piala Dunia 2010.
Tiki Taka dan Total Football di Piala Dunia 2010
Di Piala Dunia 2010, Spanyol memang bukan tim yang paling banyak mencetak gol. Xavi CS justru menjadi tim pemenang Piala Dunia dengan jumlah gol paling sedikit sepanjang sejarah. Mereka hanya mampu mencatatkan delapan gol dari tujuh pertandingan. Namun, filosofi tiki taka memang bukan tentang paling banyak mencetak gol. Tapi siapa yang bisa menguasai permainan sepanjang pertandingan, dialah pemenangnya.
Xavi dan Iniesta menjadi kunci permainan Spanyol saat itu. Duet dari Barcelona itu menjadi tumpuan kreatifitas tim matador. Lalu di barisan pertahanan ada Puyol dan Pique yang kokoh dan tidak tertembus. Serta Sergio Ramos yang dimainkan sebagai bek sayap, menjaga pertahanan di sisi samping lapangan sehingga Iniesta bisa dengan nyaman masuk ke tengah lapangan.
Berbeda dengan tiki taka yang berada di puncak kejayaan saat itu, total football justru sudah mulai ditinggalkan. Meskipun, cap sebagai negara kelahiran total football tidak bisa hilang dari tim nasional Belanda saat itu. Bahkan gembar-gembor sebagai tim total football sering diromantisasi oleh para penggemar bola dan media setiap kali Belanda berlaga di turnamen besar.
Mungkin itu yang membuat punggawa De Oranje muak sendiri. Van Bommel di tahun 2010 bahkan pernah mengatakan “kita harus membuat orang-orang berhenti berbicara soal apa yang terjadi di tahun 1974”. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, 1974 adalah tahun dimana total football menjadi populer dan menjadi ciri khas De Oranje.
Selama Piala Dunia 2010, Belanda menampilkan permainan pragmatis ketimbang permainan indah nan mematikan khas total football. Meskipun begitu Belanda tetap meraih kesuksesan. Sebelum di final Piala Dunia 2010, anak asuh Bert van Marwijk tidak terkalahkan dalam 24 pertandingan terakhir. Tapi mimpi buruk mereka datang ketika berjumpa dengan Spanyol di final.
Pertemuan di Final
Setelah final antara Belanda dan Spanyol berlangsung, Johan Cruyff ditanya bagaimana pendapatnya melihat permainan pertandingan tersebut. Cruyff dengan kecewa mengatakan “Saya tidak percaya negara saya berani meninggalkan gaya bermain mereka”.
Memang sedikit ironis jika diingat kembali. Di final itu, Belanda tidak hanya meninggalkan filosofi yang mengalir dalam darah mereka, tapi mereka dikalahkan dengan tiki taka yang merupakan bagian dari filosofi total football khas De Oranje.
Tim Spanyol justru yang punya kualitas untuk memainkan total football khas Belanda dulu. Sepanjang pertandingan, Belanda hanya mencoba untuk mengganggu ritme permainan tiki taka Spanyol namun tidak pernah berhasil. De Oranje melakukan 28 pelanggaran di pertandingan itu, menandakan betapa frustasinya van Bommel dkk. menghadapi tiki taka dari Xavi CS.
Spanyol pun berhasil memenangkan persentase penguasaan bola dan jumlah tendangan ke gawang. Sebelum akhirnya Iniesta mencetak gol kemenangan di babak tambahan waktu. Nyatanya filosofi Johan Cruyff masih berlaku, siapa yang memenangkan penguasaan bola selama pertandingan, dialah pemenangnya.
Sumber referensi: Footballtimes, B/R, Goal


