Ambisi Besar Pemilik Tajir Aston Villa Bersama Unai Emery

spot_img

“Good Ebening”. Sebuah kata-kata khas dari seorang Unai Emery. Pelatih berkebangsaan Spanyol itu kini telah kembali lagi ke Liga Inggris. Tuah selama karirnya dalam melatih, kini sangat diharapkan tim dari Kota Birmingham, Aston Villa.

Di bawah salah satu pemilik tajir melintir asal Mesir, The Villans menyimpan ambisi besar. Penunjukan pelatih sarat prestasi seperti Emery adalah bukti nyata. Lantas, apa saja ambisi itu? Apakah Emery akan siap menanggung beban berat proyek ambisius pemilik tersebut?

Timbul Tenggelam Aston Villa

Pemecatan Gerrard sudah semestinya dilakukan ketika performa Villa tak jauh berkembang seperti apa yang biasa mereka tunjukan musim demi musimnya satu dekade ke belakang.

FYI aja, kalau dilihat dari kacamata historisnya, Aston Villa adalah salah satu tim di Inggris yang penuh dengan sejarah prestasi mentereng. Buktinya gelar-gelar di level Eropa macam Piala Champions dan Piala Super Eropa pada musim 1982/83, serta Piala Intertoto pada tahun 2001 pernah mereka raih.

Peraih gelar tujuh kali Liga Inggris itu terakhir kali prestasinya mentereng yakni pada periode tahun 2007 sampai 2010. Itu terjadi ketika di jaman pemilik asal Amerika, Randy Lerner dan pelatih Martin O’neil. Villa ketika itu mampu tiga musim berturut-turut masuk zona Eropa dengan menempati posisi enam klasemen Liga Inggris.

Namun setelah O’neil keluar, prestasi Villa menurun drastis hingga terdegradasi di musim 2015/16. Tiga musim The Villans berada di Championship. Sampai akhirnya pada musim 2018/19, mereka pindah kepemilikan dan berhasil kembali naik kasta ke Liga Inggris hingga bertahan sampai sekarang.

Kedatangan Sultan Mesir

Kembalinya Villa di Liga Inggris tentu salah satunya berkat pengaruh kedatangan pemilik baru yakni sultan tajir asal Mesir bernama Nassef Sawiris pada 2018. FYI aja, Sawiris ini adalah salah satu pengusaha terkaya di Benua Afrika.

Pemilik perusahaan Orascom Construction Industries (OCI) ini bersama rekannya yang juga pengusaha tajir asal Amerika, Wes Edens mengakuisisi Aston Villa demi tujuan mengembalikan kejayaan klub.

Nampaknya seperti sebuah keberuntungan bagi Aston Villa mampu dilirik dan dimiliki Sawiris. Bagaimanapun publik Villa Park sangat mendambakan perubahan bagi perkembangan tim dengan duit Mesir tersebut. Gengsi dan ambisi besar Sawiris membuatnya tak mau kalah dengan taipan-taipan tajir lain di Liga Inggris.

Jor-Joran Bersama Sawiris

Sebagai langkah pembuktian nyata untuk mewujudkan ambisinya, Sawiris dan Edens mulai menunjuk beberapa orang yang ahli dalam industri sepakbola untuk dipercaya mengisi pos-pos tertentu.

Salah satu langkahnya adalah menunjuk direktur olahraga bernama Jesus Garcia Pitarch. Ia adalah mantan direktur olahraga Valencia yang ditunjuk pada Oktober 2018. Ia juga sekaligus yang bertugas mengelola uang Sawiris untuk diinvestasikan pada para pemain incarannya.

Hasilnya pada musim 2019/20, Aston Villa jor-joran dalam membeli pemain. Aston Villa menghabiskan kurang lebih 140 juta pounds untuk 15 pemain. Hal yang menjadi bukti nyata pemenuhan janji pemilik baru kepada publik Villa Park.

Namun hal itu berbanding terbalik dengan hasilnya. Pada musim 2019/20 Aston Villa di bawah Dean Smith hanya mampu finish di peringkat 17 Liga Inggris. Meski di Piala Liga mereka berhasil masuk final. Namun dengan pembelian yang jor-joran itu, Sawiris dan Edens menganggap kerja Jesus Garcia gagal. Akhirnya Jesus Garcia pun didepak pada tahun 2020 oleh Sawiris.

Posisi Jesus Garcia pun akhirnya digantikan oleh direktur olahraga yang baru bernama Johan Lange. Bersama CEO Christian Purslow, Lange sampai sekarang masih dipercaya Sawiris dan Edens untuk mengurusi Aston Villa.

Steven Gerrard kemudian datang pada pertengahan musim 2021/22 menggantikan Dean Smith sebagai pelatih Aston Villa. Namun Gerrard pun dianggap Sawiris dan Edens tak mampu mengembalikan Aston Villa sesuai dengan ambisi besarnya.

Tentu ambisi besar Sawiris dan Edens adalah gengsi untuk merebut kembali tempat di zona Eropa. Dengan itu, terdamparnya Villa sekarang di papan bawah klasemen Liga Inggris tak bisa ditolerir terlalu lama.

Tuah Unai Emery

Pemecatan Gerrard pun terjadi. Sawiris dan Edens pun langsung bergerak cepat. Nama Pochettino, Tuchel, hingga Ruben Amorim menjadi calon-calon pelatih yang ditawar oleh Sawiris dan Edens. Namun semuanya menolak. Akhirnya, pilihan itu jatuh pada seorang Unai Emery.

Sawiris tentu tak mudah menebus Emery yang kontraknya masih sampai Juni 2023 di Villarreal. Namun Sawiris tak peduli akan hal itu. Demi ambisi besarnya, ia mengharap tuah nyata Unai Emery dengan cara menebus paksa dari Villareal dengan kompensasi sebesar 6 juta euro. Sawiris pun mengiming-imingi gaji yang tinggi pada sang manajer. Emery ini nantinya diharapkan tiba di Villa Park pada 1 November setelah semua ijin kerja rampung.

Penunjukan Emery mungkin adalah salah satu kebijakan yang tepat. Tuahnya yang selalu mentereng di tiap klub yang dilatihnya, membuat asa Aston Villa untuk bangkit dan berkembang akan semakin besar.

Track record Emery tak usah diragukan lagi. Terutama bila memegang klub-klub kelas menengah. Setelah moncer dan mengangkat Valencia, ia bersama Sevilla mempersembahkan tiga trofi Europa League. Begitupun selama di Villarreal, satu trofi Europa league dan semifinalis Liga Champions musim lalu membuat namanya melambung tinggi.

Di Liga Inggris ketika bersama Arsenal, ia pun mampu membawa The Gunners mencapai Final Europa League. Walaupun akhirnya gagal meraih gelar. Tuah Emery itu kini segera akan diteruskan di Villa Park. Sawiris dan Edens berharap kolaborasi CEO Christian Purslow, Johan Lange, dan Unai Emery Aston Villa mampu membawa target ambisi besarnya.

Emery pun kini sudah dijanjikan untuk belanja lebih di bursa transfer Januari mendatang untuk membenahi performa skuad Aston Villa peninggalan Gerrard. Sokongan dana yang tak sedikit ini membuat Emery bisa leluasa membangun tim yang dibutuhkannya.

Dengan skuad yang ada sekarang pun, Emery harusnya bisa mengoptimalkan peran dan mental para pemain. Dengan formasi ala Emery yang menyerang dengan 4-2-3-1 maupun 4-4-2, materi Aston Villa ini sebenarnya pas.

Hal itu setidaknya terbukti di partai melawan Brentford setelah ditinggal Gerrard. Villa mampu memainkan pola menyerang 4-2-3-1 yang jarang dipakai Gerrard dan menang telak 4-0. Meski belum dilatih Emery.

Dengan CV mentereng yang selalu sukses ketika menangani tim-tim menengah, publik Villa kini menyimpan banyak mimpi dan harapan pada Unai Emery. Agar tuah kesuksesan Emery itu akan segera menular ke Villa Park cepat atau lambat. Dan bukan tidak mungkin The Villans suatu saat nanti akan dibawa Emery ke tempat yang lebih tinggi, paling tidak di level Eropa.

https://youtu.be/JE3Hp4A-JHQ

Sumber Referensi : theathletic, dailymail, theguardian, readastonvilla

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru