Rivalitas antara Manchester City dan Liverpool tidak seperti rivalitas klasik di dunia sepak bola lainnya. Pun persaingan keduanya lebih dari sekadar persaingan tim papan atas. Kurang tepat bila menyebut rivalitas keduanya muncul karena saling tikung di puncak klasemen sebagaimana yang terjadi musim lalu.
Sebab, Liverpool dan Manchester City sejatinya bukanlah rival. Keduanya tidak dilahirkan untuk saling bertikai. Atau membentuk rivalitas yang bertahan hingga ratusan tahun. Seperti halnya Derby London Utara maupun rivalitas Liverpool dan Manchester United.
The Reds dan The Citizen adalah kawan lama. Jalinan persahabatan keduanya terangkul sejak dulu. Manchester United yang berkuasa di Liga Inggris menjadi pemicu kedua tim bersahabat. Namun, kita tidak bisa mencegah zaman berubah.
MU yang kian membadut mendorong persahabatan yang sudah terjalin untuk menjungkalkan United itu retak. Hubungan Liverpool dan Manchester City berubah dari persahabatan jadi rival yang saling membenci. Hal itu bahkan merembet dari atas lapangan hingga keluar lapangan.
Daftar Isi
Awalnya Tahun 2014
Setelah mengalahkan Manchester City 1-0 dalam lanjutan Liga Inggris, ada perilaku tidak terpuji yang diduga dilakukan oleh penggemar Liverpool. Usai kekalahan di Anfield, bus rombongan Manchester City diserang dalam perjalanan kembali ke Kota Manchester.
The Manchester City team bus has a cracked windscreen after it was allegedly attacked by Liverpool fans throwing objects as it left Anfield after the game last night 🚐❌ pic.twitter.com/iCfEpD5Nm6
— Fanzine Football (@Fanzine_com) October 17, 2022
Aksi itu hanya kesekian kalinya yang pernah terjadi. Sebab hal serupa yang pada akhirnya menjadi pemicu rivalitas Manchester City dan Liverpool, juga terjadi pada tahun 2014 silam. Ketika itu, meski Liverpool berhasil menang 3-2, tapi serangan terhadap bus Manchester City di luar stadion tak terelakkan.
Para pendukung Liverpool melempari bus rombongan City menggunakan botol, batu, dan lain sebagainya. Itu terjadi persis saat dua tim baru saja memperingati 25 tahun tragedi Hillsborough yang menyebabkan 97 penggemar Liverpool meninggal dunia.
Liverpool fans are getting more and more awful. Here they are, dressed as Manchester City fans and attacking a bus.
This needs to be stopped.
pic.twitter.com/eVlZyNZjhe— 🇱🇹 Paul 🇺🇦 (@Kolology) October 5, 2018
Hal serupa juga terjadi empat tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2018. Liverpool pun harus didenda oleh UEFA karena itu terjadi di perempat final Liga Champions Eropa di Anfield. The Reds harus membayar denda 20 ribu euro atau sekitar Rp304 juta. Kala itu Klopp sangat marah dan menyebut pelakunya idiot.
Polisi Merseyside Terkesan Membiarkan
Mulai dari situ, disinyalir rivalitas antara dua penggemar kian memanas. Mantan kapten Manchester City, seperti dikutip The Athletic, Vincent Kompany menggambarkan bahwa suasananya berubah drastis. Menurutnya, suasana antara pendukung Manchester City dan Liverpool tidak lagi sama setelah beberapa tahun.
“Rivalitas meningkat, dan mereka (Liverpool) menjadi tim nomor satu yang wajib kita kalahkan,” kata Kompany.
Merseyside Police say they’re working hard to avoid a repeat of last season – when Manchester City’s bus was attacked on its way to Anfield to face Liverpool. The two sides meet again this weekend #CapitalReports pic.twitter.com/oBHb392Dd3
— Capital North West News (@CapitalNWNews) October 4, 2018
Hubungan antara kedua pihak pun makin buruk saja. Apalagi kepolisian Merseyside tidak pernah tegas dalam menangani kasus perusakan bus. Manchester City merasa rugi dan dikecewakan oleh polisi Merseyside karena setiap kali ada kejadian penyerangan ke bus City, tidak pernah ada tindakan tegas.
Pelaku yang terlibat tidak pernah dituntut. Sejak itu, hubungan Liverpool dan Manchester City, terutama para suporternya kian renggang. Ada jarak yang sudah terbentang sedemikian luas.
Penggemar City Tak Hormati Peringatan Hillsborough
Pada laga Minggu lalu itu, pendukung tim tamu tidak menghormati momen mengheningkan cipta untuk tragedi Hillsborough. Alih-alih turut mengheningkan cipta, sebagian oknum pendukung Manchester City justru menyanyikan yel-yel yang tidak pantas.
Kejadian itu tergambar dalam sebuah video yang tersebar di media sosial. Sekelompok fans Manchester City terlihat justru bernyanyi ketika momen mengheningkan cipta. Yel-yel itu berbunyi “The sun was right, you’re murderers” atau “The Sun benar, kamu pembunuhnya”.
Just 6 months after ruining the silence for Hillsborough Manchester City fans are singing “the sun was right, you’re murderers”.
Unless we share this they’ll get away with it. Let’s make sure sports media talks about this!! @SkySports @talkSPORT
pic.twitter.com/VhPGGnbACN— Prime Liverpool (@footiestatto) October 16, 2022
Yel-yel itu mengingatkan pendukung Liverpool pada laporan tak bertanggung jawab dari The Sun. Surat kabar itu pernah melaporkan bahwa tragedi Hillsborough adalah salah suporter Liverpool.
Di luar Anfield, fans tamu juga sudah melakukan tindakan vandalisme. Mereka mencorat-coret beberapa bagian Stadion Anfield. Isinya pesan menyakitkan untuk para korban tragedi Hillsborough. Tindakan itu bukan kali ini saja terjadi.
How are @ManCity and @SkySports reporting on a little crack in the window of a bus and launching an investigation but nothing had been reported about the Hillsborough chants 🤔 pic.twitter.com/jWQylKzzfG
— Luke Charnley (@LukeCharnley1) October 17, 2022
Sewaktu semifinal Piala FA di Wembley, pendukung Manchester City kembali tidak menunjukkan rasa hormatnya pada korban tragedi Hillsborough. Menjelang pertandingan semifinal tersebut ada sesi mengheningkan cipta sebagai bentuk peringatan 33 tahun Hillsborough. Tapi penggemar City justru berteriak memecah keheningan.
PR, Media, dan Media Sosial Membesarkan Rivalitas
Publisitas menjadi faktor krusial yang membesarkan rivalitas antara Manchester City dan Liverpool. Kedua tim, sampai hari ini masih mengandalkan publisitas pribadi melalui public relation-nya masing-masing. Itu wajar, karena kedua tim memiliki departemen publisitas yang sama-sama berskala besar.
Publisitas itulah yang digunakan untuk saling menyerang. Dulu untuk menjatuhkan mental Liverpool, Manchester City menggunakan Helen the Bell. Entah mengapa hanya karena memainkan musik yang tidak disukai membuat mantan penjaga gawang Liverpool, Ray Clemence merasa terganggu ketika bermain di Maine Road, markas lama The Citizens.
IT’S TIME, HELEN RING THE BELL… GET IN BOYS. 💙🦾🥳 pic.twitter.com/0K3CvzYKTZ
— Amit ⚽🤟🏼 (@meamitshuklaa) May 22, 2022
Hari ini sebagaimana yang sudah disebutkan, pertikaiannya makin memanas di media massa. Seperti ketika Jurgen Klopp seolah menyindir Manchester City dalam konferensi pers pra-pertandingannya. Ia mengatakan, Liverpool tidak mungkin sanggup menyaingi Manchester City.
Dilansir The Athletic, menurutnya Liverpool tidak berada dalam satu level yang sama dengan Manchester City secara finansial. Ini berkaitan karena City sama seperti PSG dan Newcastle United, dikuasai oleh Negara Teluk. Sementara Liverpool dikuasai perusahaan mandiri.
Jurgen Klopp is accused of ‘borderline XENOPHOBIA’ by Man City: Jurgen Klopp was referring to Man City, Paris Saint-Germain and Newcastle United, who all hold backing from Gulf states, and City feel the comment was ‘borderline xenophobic’. pic.twitter.com/cOHTsoLwo4
— Gadfly (@orest_voden) October 17, 2022
Media, termasuk di dalamnya media sosial turut membesarkan omongan Klopp ini. Bahwa mantan pelatih Mainz itu dituding terjangkit xenofobia. Sebuah fobia atau ketidaksukaan terhadap orang-orang dari negara lain. Hal itulah yang kemudian dibantah oleh Klopp sendiri melalui publisitas Liverpool dan disebarkan pula oleh media mainstream.
Pep Guardiola Korban Rivalitas
Rivalitas di atas lapangan antara The Reds dan Manchester City terlanjur menjalar ke persaingan antarsuporter. Para pendukung pun akan mudah marah dan melakukan tindakan tercela untuk mencelakakan entitas apa pun dari klub rival, termasuk manajer.
Entrenador Manchester City, Pep Guardiola merasakan atmosfer mengerikan dari rivalitas ini. Misalnya pada pertandingan Minggu lalu. Awalnya tidak ada masalah serius sampai babak pertama usai. Namun di babak kedua, ketika Phil Foden merasa dirinya sudah membawa juara bertahan unggul, tapi golnya dianulir.
Sebab Haaland lebih dulu melakukan pelanggaran ke Fabinho. Guardiola pun melakukan protes dan ketika berjalan ke tribun utama Anfield, ia mendapat lemparan koin dari arah tribun.
Meski tidak mengenai Guardiola, tapi FA kabarnya tengah menyelidiki kejadian itu. Liverpool juga akan memberi sanksi pada pelaku, termasuk melarangnya ke Anfield.
Persaingan antara Manchester City dan Liverpool, sekali lagi, tidak hanya berlangsung di atas lapangan. Rivalitas mereka berkecambah. Para pendukung sudah mulai menyalakan api permusuhan. Sementara, pihak Liverpool dan Manchester City tengah meredam tumbuhnya benih kebencian. Walau tentu saja tidak mudah.
https://youtu.be/9tS3d3uIPpU
Sumber: TheAthletic1, TheAthetic2, Mirror, Goal, Kumparan, Republika


