Carlo Ancelotti terbuat dari ketenangan dan kesabaran. Ia begitu dingin di pinggir lapangan. Namun siapa pun jangan terkecoh dengan sikap itu. Di balik pembawaannya yang tenang, Ancelotti menyimpan banyak strategi di otaknya. Strategi itulah yang sewaktu-waktu akan diterapkan dan membuat lawan jadi menangis di pojokan.
Seperti apa yang ia lakukan pada Real Madrid ketika kembali meraih titel Liga Champions Eropa. Meski ketika itu, musuh yang dihadapi adalah Liverpool. The Reds bukan tim remeh. Apalagi mereka dilatih Jurgen Klopp, salah satu maestro taktik dari Jerman.
Meski begitu, yang diingat dari Ancelotti adalah miskin taktik. Saat memenangi Liga Champions pun, kata kunci “Ancelotti miskin taktik” menggelegar. Kendati itu dalam konteks mempertanyakan. Ya, hanya karena pendapat seseorang, Ancelotti disebut sebagai pelatih yang miskin taktik. Tapi benarkah begitu?
Daftar Isi
Belajar dari Arrigo Sacchi
Carletto awalnya menimba ilmu dari salah satu legenda Italia, Arrigo Sacchi. Ia bagian dari skuad AC Milan asuhan Arrigo Sacchi yang terkenal “pembangkang”. Sacchi adalah sosok pelatih yang sedikit banyak mengubah sepakbola Italia.
Ia melakukan pendekatan yang sama sekali berbeda dengan pelatih Italia lainnya. Sacchi membuang peran libero. Sacchi juga tidak mengandalkan trequartista. Pelatih yang sudah pernah membawa AC Milan dua kali juara Liga Champions itu menyukai skema 4-4-2 dengan pertahanan zona. Itu artinya, Sacchi tidak menggunakan penyapu. Ia lebih mengedepankan jebakan offside. Celah antara garis harus ketat.
Dalam taktik Sacchi, pemain nomor 10 yang berbakat belum tentu bisa diandalkan untuk menekan. Lihat bagaimana Sacchi menaruh Roberto Baggio sebagai penyerang kedua, peran yang tidak ia sukai. Nah, dari sini Sacchi juga mengubah Ancelotti menjadi salah satu gelandang andalannya.
Arrigo Sacchi and Carlo Ancelotti getting awards on the same night pic.twitter.com/5CwL8xkKLa
— 🇬🇧 (@TakOleGunnar) August 25, 2022
Sacchi juga berperan besar dalam mengubah paradigma seorang Ancelotti. Don Carlo kemudian diajak oleh Sacchi untuk menjadi asistennya saat melatih Timnas Italia pada sekitar musim 1992/93. Carletto pada akhirnya mengikuti cara Sacchi melatih ketika mulai menjadi manajer di Reggina dan Parma.
Tak Selamanya Mengikuti Arrigo Sacchi
Saat melatih Reggina dan Parma, Ancelotti masih tidak bisa lepas dari taktik mentornya itu. Ia bahkan menolak untuk mendatangkan Roberto Baggio. Ancelotti juga membuang Gianfranco Zola ke Chelsea. Sama seperti Sacchi, ia melakukannya karena tidak percaya pada pemain nomor 10.
Seiring waktu gaya main Ancelotti akhirnya mengalami perubahan juga. Adalah Zinedine Zidane, seorang yang kelak mengantarkan Real Madrid hattrick Liga Champions, yang mengubah paradigma Ancelotti soal taktik. Pelatih Italia itu begitu tergoda dengan kualitas Zidane. Ia akhirnya membangun skuadnya dengan kekuatan pemain nomor 10.
Carlo Ancelotti; “When I coached Zinedine Zidane at Juventus in 1999, I realised that a player could be more important than a system.” ⚽️ pic.twitter.com/sUNqV3WFTh
— Football Remind (@FootballRemind) July 22, 2022
Carletto melakukannya ketika melatih Juventus, tempat di mana ia bertemu Zidane. Sistemnya pun akhirnya berubah. Ancelotti meninggalkan skema 4-4-2 warisan Sacchi, dengan membuat format khasnya sendiri. Ia beralih ke 3-4-1-2 atau 4-3-1-2 ketika melatih Juventus.
Dengan kekuatan Zidane dan Alessandro Del Piero, Ancelotti juga bereksperimen dengan skema 3-4-2-1. Ia menaruh dua pemain itu di belakang striker. Sayang, eksperimennya di Juve tak mendatangkan prestasi yang signifikan. La Vecchia Signora gagal scudetto dan Ancelotti pun dipecat. Meski begitu, ia tetap yakin dengan eksperimennya.
Formasi “Pohon Natal”
Carlo Ancelotti memang dipecat oleh Juve. Tapi AC Milan datang untuk menyergap sang pelatih. Ini menjadi pertanyaan ketika itu. Bagaimana mungkin sosok pelatih yang dipecat Juventus justru dipekerjakan oleh AC Milan? Namun, Rossoneri sepertinya paham kualitas dan visi Don Carlo.
Di Milan, Ancelotti sudah benar-benar meninggalkan formasi 4-4-2. Ia yang dulu tidak percaya dengan pemain nomor 10 berbakat, ketika itu benar-benar berbalik keadaan. Saat melatih il Diavolo Rosso, Ancelotti sangat kagum dengan kemampuan pemain pinjaman dari Brescia, Andrea Pirlo.
Pasca masa peminjaman berakhir, Pirlo justru pindah dari Inter ke rival sekota, AC Milan.
Pirlo langsung identik dengan warna merah-hitam
Setelah Mazzone yang mengenalkan, giliran Ancelotti yang mengembangkan peran ikonik ini.
Dia menjadi metronom dalam skema pohon natal. pic.twitter.com/k6wcEYwyjI
— BolaFreak (@bola_freak) May 19, 2020
Waktu itu, Pirlo adalah pemain nomor 10 yang bagus. Namun oleh Ancelotti, ia ditaruh agak ke dalam berperan sebagai regista. Ini menarik karena biasanya gelandang bertahan adalah sosok yang kuat. Selain Pirlo, Ancelotti juga menemukan dua playmaker berbakat lainnya: Clarence Seedorf dan Kaka.
Setelah Pirlo, Seedorf, dan Kaka, Ancelotti juga menemukan Rui Costa. Ia tahu Rui adalah sosok playmaker yang luar biasa. Alhasil, Don Carlo menerapkan skema 4-3-2-1 atau formasi “Pohon Natal” yang jadi ciri khasnya. Namun, karena bos AC Milan ketika itu, Silvio Berlusconi ingin Milan bermain dengan second striker, maka Ancelotti menurutinya.
Sang manajer pun mengubah formasinya menjadi 4-3-1-2. Bersama Rossoneri, Ancelotti pun meraih banyak trofi. Dua trofi Liga Champions, 1 Serie A, 2 Piala Super Eropa, dan sisanya silakan menyebutkan sendiri. Ancelotti juga menjadi pelatih terbaik ketika melatih AC Milan tahun 2006.
Membangun Sukses di Real Madrid
Setelah mendulang kesuksesan di AC Milan, Ancelotti memang tidak banyak berubah soal taktik. Mungkin inilah yang mendasari Ancelotti disebut miskin. Ini mungkin saja lho ya. Sebab ketika melatih Chelsea maupun Bayern Munchen, taktik Carletto masih sama.
Namun begitu, Ancelotti juga melakukan percobaan baru lagi. Ia menerapkan skema 4-3-3 saat periode awal melatih Bayern Munchen. Ancelotti juga melakukan itu ketika melatih raksasa Spanyol, Real Madrid. Bersama Los Merengues lah, Ancelotti menyemai kariernya.
Dengan skema 4-3-3, ia menapaki jalan sukses di Real Madrid. Salah satu di antara tak sedikit bentuk kesuksesan Carletto di Real Madrid adalah La Decima. Melalui skema itu, Ancelotti bisa mengakomodir pemainnya dengan sangat baik.
RESMI: Carlo Ancelotti kembali ke Real Madrid 👑
Don Carlo, yang pernah mempersembahkan La Decima, memilih meninggalkan Everton untuk menggantikan Zidane. 🧑💼
Sosok yang tepat untuk Los Blancos? 🤔 pic.twitter.com/dhA2m5FHWn
— GOAL Indonesia (@GOAL_ID) June 1, 2021
Cristiano Ronaldo ia taruh di sisi depan sebelah kiri. Karim Benzema ditaruh di tengah. Sementara di seberangnya, Gareth Bale siap berlari. Ancelotti menaruh Angel Di Maria sebagai penyeimbang di lini tengah, bersama Luka Modric dan Sami Khedira.
Ancelotti sepertinya paham bahwa bintangnya, Ronaldo tidak bagus dalam bertahan. Jadi ia membuat sang bintang bebas dari tanggung jawab bertahan. Hasilnya, selain Liga Champions, ketika di Real Madrid, ia juga mendapat gelar Pelatih Terbaik pada musim 2013/14.
Jaminan Trofi
Revolusi taktik yang dilakukan Ancelotti memang luar biasa. Ia seperti bunglon yang bisa menyesuaikan kondisi tim. Namun lebih dari itu, Ancelotti adalah sosok pelatih yang bisa menjamin trofi. Tengok saja bagaimana ia menaklukkan kelima liga top Eropa.
Serie A bersama AC Milan. Liga Primer Inggris ketika melatih Chelsea. Bundesliga tentu saja bersama FC Hollywood yang di sana, ia menemukan Pirlo yang lain dalam diri Xabi Alonso. Ancelotti juga menjadi peletak dominasi PSG di Ligue 1. Terakhir, ia melunasi utang La Liga ke Real Madrid.
Carlo Ancelotti adalah pelatih pertama dalam sejarah yang sanggup juara di 5 liga top Eropa.
Serie A 🇮🇹
Premier League 🏴
Ligue 1 🇫🇷
Bundesliga 🇩🇪
La Liga 🇪🇸Hormat untuk Don Carlo! 👏👏🫡 pic.twitter.com/OUWGQH62aH
— Extra Time Indonesia (@idextratime) April 30, 2022
Lalu, kenapa di Napoli dan Everton gagal? Tentu saja anggapan itu keliru. Ancelotti sebenarnya nggak gagal-gagal amat di dua tim itu. Ketika melatih il Partenopei toh Ancelotti bisa membawanya finis di peringkat kedua Serie A.
Sementara di Everton, Ancelotti membuat peremajaan skuad. Kegemilangan duet Dominic Calvert-Lewin dan Richarlison termasuk berkat tangan dingin Ancelotti. James Rodriguez juga menjadi pemain yang bisa berkembang di tangan Ancelotti.
Hal yang juga ia lakukan ketika melatih Real Madrid, di mana Federico Valverde juga merasakan kejeniusan Ancelotti. Ia yang mengubah posisi sekaligus peran Valverde, justru membuat sang pemain tampil makin apik dan jadi andalan Los Galacticos.
Dikagumi Banyak Pemain
Carletto punya cara sendiri dalam membimbing pemain. Ia adalah pribadi yang ramah dan profesional. Maka dari itu, tak sedikit pemain yang menaruh kekaguman pada sosok jenius yang satu ini. Salah satunya adalah Cristiano Ronaldo.
Cristiano Ronaldo admired Carlo Ancelotti. Despite his wishes to continue to work with Ancelotti, Perez fired him in 2015. Many Real Madrid players did not accept this decision and Ronaldo was infuriated with how the board was running. Especially after Di Maria’s departure. pic.twitter.com/gw8gfANRdt
— Idris (@Crhedrys) July 12, 2018
Bintang Manchester United itu kagum pada Ancelotti. Ia sangat bahagia dilatih Don Carlo. Bahkan ketika Ancelotti dipecat El Real, Ronaldo termasuk pemain yang kecewa dengan keputusan itu. Giorgio Chiellini juga mengatakan hal serupa. Ia ingin dilatih Carletto.
Dari sekian hal yang ia lakukan, bisa ditarik satu kesimpulan bahwa Carlo Ancelotti bukanlah pelatih yang miskin taktik. Ia juga rasanya cukup layak untuk mendapatkan salah satu gelar kehormatan sebagaimana Alex Ferguson.
Sumber: TheAthletic, TheMasterMindSite, BR, LeaderSinSport, Fotmob, Marca


