Jejak Kepelatihan “Si Gundul” Spalletti yang Penuh Keberanian

spot_img

Napoli akhir-akhir ini banyak menyita perhatian publik berkat permainannya yang atraktif. Selain tentu beberapa pemainnya yang bersinar, di balik itu ada sosok yang meraciknya. Ya, dia adalah “Si Gundul”, Luciano Spalletti. Pelatih kawakan Italia yang sudah dua musim bersama Il Partenopei.

Namun, siapa sangka bahwa karier pelatih berkepala plontos itu sudah melanglang buana ke beberapa klub-klub besar Italia. Bahkan pernah sampai ke Rusia. Awal kariernya pun bahkan dimulai dari beberapa klub kecil. Di situlah ia ditempa dengan berbagai pengalaman yang membuatnya bisa seperti sekarang ini.

Prinsip Yang Penuh Keberanian

Meskipun dalam karirnya ia tak bergelimang gelar, tapi identitas dalam melatihnya sangat kental. Spalletti termasuk salah satu pelatih Italia yang berani. Berani dalam menghadapi tantangan maupun pemecatan yang singkat. Uniknya, ketika dipecat dari klub, ia tak malu untuk bergabung kembali jika diminta. Datang, dipecat, kemudian kembali, adalah siklus yang lekat dalam perjalanan karier Spalletti sebagai pelatih.

Sebagai contoh, saat ia di Sampdoria musim 1998/99. Spalletti hanya bertahan 6 bulan. Lalu dua bulan berselang, Sampdoria mengontak Spalletti untuk melatih kembali. Dan ia pun menerimanya. Meski pada akhirnya ia gagal kembali.

Situasi serupa juga terjadi ketika ia menangani Venezia di musim 1999/00. Baru melatih 5 bulan ia sudah dipecat. Namun, satu bulan kemudian ia diminta kembali lagi untuk melatih.

Bahkan terjadi ketika ia di Udinese. Spalletti didatangkan Udinese pada musim 2000/01. Empat bulan kemudian ia dipecat. Lalu Udinese memintanya untuk kembali melatih pada musim 2002/03, dan ia kembali mau menerimanya.

Keberanian Spalletti Di Tengah Dominasi Filosofi Catenaccio

Selain berani menanggung segala resiko pemecatan singkat, ia juga berani dalam hal gaya bermain. Kita tahu Italia di periode 90-an maupun 2000-an awal masih lekat dengan gaya bermain ala Catenaccio. Pola pertahanan grendel ala Italia yang sangat dikenal itu. Kebanyakan pelatih asli Italia masih mengadopsi gaya bermain itu.

Namun, Spalletti memilih jalan pedang yang berbeda. Alih-alih menerapkan pertahanan grendel, jauh sebelum melatih Udinese, gaya bermain Spalletti adalah sepakbola menyerang. Gaya itulah yang sangat melekat pada Spalletti, bahkan hingga hari ini.

Gaya permainan menyerang “Si Gundul” sudah terlihat ketika awal meniti karier kepelatihannya di Empoli. Ia benar-benar baru dikenal publik ketika membawa Empoli promosi ke Serie A pada musim 1997/98. Spalletti masyhur dengan gaya permainan menyerangnya yang atraktif. Tak heran kalau ia menelurkan banyak penyerang-penyerang handal ketika itu macam Antonio Di Natale maupun Luca Toni.

Perjalanan Karir Dari Udinese Masuk Liga Champions Hingga Kejutan Di Napoli

Gaya itu ia bawa ketika menangani Udinese pada periode 2002-2005 dan terbukti mendulang kesuksesan. Ia selalu membawa klub yang bermarkas di Friuli itu selalu finish di 10 besar Serie A. Bahkan Udinese mampu masuk kualifikasi zona Eropa yakni di UEFA Cup. Ia pun banyak menempa pemain-pemain bernaluri menyerang macam David Di Michele, Jankulovski, Muntari, David Pizarro, hingga Vincenzo Iaquinta.

Puncaknya di musim 2004/05. Ketika itu Spalletti mampu membawa Udinese finish di 4 besar. Sebuah pencapaian yang langka bagi klub. Udinese tak terduga mampu diantarkannya masuk ke Liga Champions.

Meskipun begitu, anehnya di musim berikutnya, Spalletti malah urung menemani Udinese untuk berjuang di Liga Champions. Ia lebih memilih mengundurkan diri dan menerima pinangan klub ibukota AS Roma.

Gaya bermain menyerangnya makin bertaji ketika diterapkan di Roma dengan materi pemain yang lebih baik. Bahkan ia lebih revolusioner lagi dalam hal taktik. Ketika taktik false nine belum sepopuler sekarang, Spalletti sudah memulainya di Roma. Ia menggunakan Totti yang notabene seorang trequartista menjadi seorang yang dipasang sebagai ujung tombak.

Hasilnya brilian. Serangan Roma tak mudah dibaca lawan. Lini kedua Roma yang diisi pemain macam Mancini, Taddei, maupun Perrotta silih berganti mendulang produktivitas berkat peran false nine itu. Dari segi gelar pun, Roma mampu dibawa Spalletti meraih Coppa Italia dua kali berturut di musim 2006/07 dan 2007/08, plus satu gelar Supercoppa Italia.

Perjalanannya di Serigala Ibu Kota terhenti di akhir tahun 2009. Spalletti memilih untuk mundur dan menganggur. Setelah menganggur 6 bulan, ia akhirnya nekat pergi ke Rusia dengan menerima pinangan untuk melatih Zenit.

Sentuhan menyerang khas Spalletti pun langsung merasuk dalam skuad Zenit. Ada banyak perubahan dan prestasi yang ia raih selama berada di Rusia. Musim pertamanya di Zenit, Spalletti berhasil merengkuh gelar juara Liga Rusia.

Selain trofi, Zenit versi Spalletti menjadi tim tersubur di liga dengan total 61 gol dan hanya kalah 2 kali. Dari segi total gelar selama 5 musimnya bersama klub Rusia tersebut, Spalletti sudah meraih 2 gelar juara liga Rusia, 1 Russian Super Cup, dan 1 Russian Cup.

Setelah dari Rusia, ia memilih kembali ke Italia dengan bernostalgia bersama Giallorossi pada musim 2016/17. Namun, ia hanya bertahan selama semusim. Kemudian Spalletti memutuskan untuk berlabuh ke klub Italia lainnya Inter Milan di musim 2017/18.

Nerazzurri pun disulapnya dengan gaya bermain yang berbeda. Namun sepertinya ketika di Inter, ia tak mampu menanggung beban berat tuntutan klub yang ingin sesegera mungkin meraih gelar juara liga. Beban berat itu membuat Si Gundul akhirnya hanya bertahan dua musim setelah hanya mampu mengantarkan Inter dua kali finish di posisi empat Serie A.

Setelah Si Gundul kembali nganggur dua tahun lamanya, panggilan melatih pun datang dari Presiden Napoli, Aurelio De Laurentiis. Ia diminta menangani Il Partenopei sejak 2021/22 sepeninggal Gattuso.

Luciano Spalletti sepertinya sangat cocok dengan materi yang dimiliki Napoli. Materi yang bisa dimanfaatkannya untuk gaya bermain menyerang. Jadilah di awal musimnya bersama Napoli, ia sempat membawa tim itu memimpin klasemen Serie A dengan 12 kali tak terkalahkan. Jumlah golnya pun makin meningkat seiring gaya bermainnya yang atraktif. Yaitu 74 gol dalam satu musim.

Luciano Spalletti pun mampu membawa Napoli finish di peringkat ketiga Serie A pada akhir musim 2021/22. Peringkat itu jauh lebih baik, karena musim sebelumnya Partenopei hanya berakhir di peringkat kelima. Lonjakan peringkat di liga domestik dan keberhasilan membawa Napoli ke Liga Champions, membuat Spalletti akhirnya dipertahankan manajemen Napoli.

Pada musim 2022/23, tepat musim kedua Spalletti melatih Napoli musibah datang. Partenopei kehilangan tak sedikit pemain pilarnya. Namun, keberanian Spalletti mampu menutup hal itu. Ia sama sekali tidak masalah dengan kepergian pemain.

Toh di tangan Spalletti, dengan sepakbola menyerang dan atraktif, Napoli belum terkalahkan sejak fase uji coba sampai giornata keenam. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah ini saatnya Luciano Spalletti bisa membawa Napoli meraih gelar?

https://youtu.be/8syaWPOJeUs

Sumber Referensi : panditfootball, theflanker, chiesaditotti, lagabbiadiorrico, sports.sky

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru