Sekitar ratusan mil dari tempat Thomas Tuchel dipecat, sosok pelatih asal Jerman lainnya juga mengalami nasib serupa. Adalah Domenico Tedesco yang juga diberhentikan dari jabatannya sebagai pelatih Leipzig. Tedesco dan Tuchel adalah dua pelatih Jerman yang bernasib sial.
Kisah Tuchel banyak yang sudah tahu. Dan tak sedikit yang menyayangkan mengapa Tuchel mesti didepak secepat itu. Namun, bagaimana dengan Tedesco? Pelatih yang juga berdarah Italia itu nyatanya lebih singkat dari Tuchel.
Baru sembilan bulan ia melatih RB Leipzig, tapi sudah dipecat. Seperti biasa, hasil buruk menjadi biang keladi pemecatan Tedesco. Namun, mengapa Leipzig secepat itu memecat pelatih yang mengantarkan satu-satunya trofi pada musim lalu?
Daftar Isi
Otodidak Tedesco
Pertandingan di Stadion Berlin berlangsung menegangkan. Freiburg dan RB Leipzig yang kala itu bertarung untuk berebut trofi DFB Pokal sama-sama kuat. Christian Streich dan Domenico Tedesco tak mau gagal meraih satu-satunya trofi yang kemungkinan bisa diraih tersebut.
Setelah melewati ketegangan sampai adu penalti, anak asuh Tedesco akhirnya keluar menjadi juara. Die Roten Bullen menjuarai DFB Pokal. Tedesco naik ke atas podium membersamai Christopher Nkunku dan kolega mengangkat trofi yang bentuknya lebih indah dari Bundesliga itu.
Inilah momen-momen perayaan skuad RB Leipzig di pengangkatan trofi DFB Pokal yang baru saja meraka dapatkan.
Sekali lagi selamat yak !!
🙌🏆🙌#KickOff#GermanyKO#DFBPokal#SCFRBLpic.twitter.com/6ddxMbA40V— Kickoff (@OfficialKO_Line) May 22, 2022
Ketika itu, Tedesco tidak menyangka sampai sejauh ini. Apalagi ia bukanlah pelatih yang punya portofolio mengkilap. Ia juga tak menyangka bisa menjadi pelatih seperti sekarang. Tedesco bukan sosok pelatih yang berangkat dari pemain.
Kiprahnya dalam bermain hanyalah ketika membela tim amatir ASV Aichwald. Namun, itu hanya sebentar. Sebab ketika seseorang datang ke skuad Aichwald dan menanyakan siapa yang bersedia melatih sekelompok anak-anak, Tedesco mengangkat tangan.
Tidak jelas kelompok anak-anak itu dari mana. Namun, yang pasti jumlahnya sekitar enam orang. Meski begitu, pria yang lahir di sebuah kota dekat Stuttgart itu merasa senang bisa melatih. Tedesco mendampingi, membimbing, menemani, dan memenangkan liga bersama kelompok anak-anak itu.
Tedesco tahu, ketika memutuskan ikut orang tuanya pindah dari Calabria, Italia ke Jerman, ia harus siap hidup tanpa kemewahan. Ayahnya hanya seorang pekerja koran lokal, sedangkan ibunya tukang bersih-bersih. Sementara, Tedesco punya tekad menjadi seorang pelatih.
Ia pun belajar secara otodidak. Tedesco selalu menonton Manchester United asuhan Sir Alex Ferguson, Chelsea asuhan Jose Mourinho, dan Barcelona asuhan Frank Rijkaard. Tedesco menonton mereka sekaligus mengamati taktik tiga pelatih tersebut.
Stuttgart, Perjalanan Awal Tedesco
Setelah banyak menyerap ilmu dan menyalin ke dalam bentuk taktisnya, Tedesco mengirimkan CV ke Stuttgart, tim Bundesliga yang terkenal melahirkan bakat muda hebat. Tedesco menerima pekerjaan di Stuttgart sebagai asisten pelatih tim muda.
Ia bekerja paruh waktu dengan pemain yang rata-rata usianya di bawah sembilan tahun. Namun, seiring zaman, Tedesco merasa ia harus naik level. Tedesco mesti membuat keputusan besar. Maka beruntunglah Tedesco ketika Stuttgart menawarinya sebagai pelatih U-17 setelah menjadi manajer sementara.
Secara karier ia meningkat, tapi finansial tidak. Namun, Tedesco tidak menyesal. Ia terus memacu dirinya sebagai seorang pelatih. Sampai ia mendapat Lisensi Pro UEFA saat melatih Hoffenheim U-17. Ia lulus menjadi yang terbaik bersama Julian Nagelsmann yang kala itu langsung mengambil alih tim utama.
Alih-alih melatih tim Bundesliga, Tedesco memilih Erzgebirge Aue, tim Bundesliga 2 yang nyaris terdegradasi. Tersisa 11 pertandingan dan Tedesco harus menyelamatkan klub itu dari jurang degradasi. Ini adalah tantangan, dan Domenico Tedesco adalah sosok penyuka tantangan. Ia menerima tawaran itu.
Der 31-jährige Fußballlehrer Domenico Tedesco ist neuer Cheftrainer beim FC Erzgebirge Aue. Das gab Vereinspräsident Helge Leonhardt soeben auf einer Pressekonferenz offiziell bekannt. Domenico Tedesco hat bei den Veilchen einen bis Ende Juni 2018 laufenden Vertrag unterschrieben https://t.co/SdIQ4l4mq5 pic.twitter.com/Cah24OKsyc
— Vert (@VertStabs) July 26, 2022
Tedesco akhirnya sanggup menyelamatkan Aue dari degradasi pada Mei 2017. Namanya pun kian mengudara, sampai tercium oleh FC Schalke. Setelah menolong Aue dari degradasi dari Bundesliga 2, di tahun yang sama ia lalu melatih Schalke.
Mantan gelandang Bayern Munchen dan Jerman, Mehmet Scholl tidak suka Tedesco melatih Schalke. Ia mempertanyakan mengapa klub sebesar Schalke menunjuk “pelatih laptop” seperti Tedesco. Namun, setelah itu Scholl menyadari mengapa Schalke lebih memilih Tedesco daripada dirinya yang gagal di Bayern Munchen II.
FC Schalke 04 – Training 04.07.2017 – Domenico Tedesco
OutdoorAreahttps://t.co/Wb6tEvQZ8M pic.twitter.com/aAVyXEmVS5— mitsuka (@mitsukauchi9327) July 5, 2017
Tedesco pun membawa Schalke finis di peringkat kedua. Ia kemudian sempat melancong ke Spartak Moscow, tapi lalu pulang ke Jerman. Tedesco ditunjuk sebagai pelatih RB Leipzig pada Desember 2021 menggantikan Jesse Marsch yang pindah ke Leeds United.
Mengembalikan Martabat RB Leipzig
Domenico Tedesco datang ketika RB Leipzig sedang berada di peringkat 11 Bundesliga. Ia tahu, tugasnya membangkitkan kembali gairah Die Roten Bullen yang terkulai. Tedesco pun menerapkan visi yang sederhana. Ia ingin Leipzig cukup beradaptasi saja dengan formasi dan gaya bertahan yang berbeda.
Tedesco mengubah Leipzig sebagai tim dengan tekanan yang tinggi. Gaya main yang impresif, struktur yang baik, dan frekuensi persebaran bola yang tinggi. Gaya melatih Tedesco lebih menekankan mentalitas daripada pengayaan taktis.
Itulah mengapa di tangan Domenico Tedesco, RB Leipzig berhasil menjuarai DFB Pokal. Trofi yang sejak pertama mereka berdiri belum pernah didapat. Yang Leipzig lakukan di era Tedesco adalah membiarkan bola terus mengalir. Para pemain bergerak baik bersama-sama.
A first major trophy for head coach Domenico Tedesco too 👏🏆#DFBPokal #Berlin2022 #SCFRBL pic.twitter.com/srq3jAF4mX
— The DFB-Pokal (@DFBPokal_EN) May 21, 2022
DFB Pokal adalah trofi yang penting bagi RB Leipzig. Selain sebagai trofi mayor pertama, DFB Pokal bisa menyelamatkan muka Die Roten Bullen. Namun ironi, trofi itu belum cukup membuat Domenico Tedesco bertahan lebih lama.
Performa RB Leipzig Anjlok
Musim 2022/23 sejatinya adalah musim kedua Domenico Tedesco di RB Leipzig. Sayang, dalam sepakbola ada sindrom musim kedua. Tim yang biasanya sangat berkesan di musim pertamanya dengan seorang pelatih, akan mengalami kesulitan pada musim kedua. Dan itu dialami oleh Leipzig.
Tedesco memang berhasil mempertahankan pilar penting, seperti Konrad Laimer dan Christopher Nkunku. Ia juga memulangkan bocah yang hilang, Timo Werner dari Chelsea. Namun, buruknya penampilan RB Leipzig tidak bisa bohong.
❌ Domenico Tedesco – the man who helped RB Leipzig to their first ever major trophy last season – has been sacked.
😬 RBL won just 2⃣ of their 8⃣ competitive games this season. Last two outings: a 4-0 loss at Frankfurt and 4-1 loss to Shakhtar. pic.twitter.com/bjnClfBIxn
— Seb Sternik (@seb_sternik) September 7, 2022
Setelah terlempar ke Liga Eropa, Leipzig gagal menjuarai kompetisi itu. Mereka disingkirkan Rangers di semifinal. Die Bullen juga mengawali musim 2022/23 dengan sangat buruk. RB Leipzig kalah dengan mudah oleh Eintracht Frankfurt 4-0. Asuhan Tedesco juga kalah dari Union Berlin 2-1.
Kekalahan juga terjadi di Liga Champions. RB Leipzig tumbang atas Shakhtar Donetsk 4-1. Di awal musim, dari 5 laga, Tedesco hanya bisa membawa Leipzig menang 1 kali, 2 kali seri, dan 2 sisanya menelan kekalahan di Bundesliga.
Berkonflik dengan Bos Leipzig
Bos RB Leipzig, Oliver Mintzlaff bahkan mengkritik timnya sendiri. Ia mengatakan RB Leipzig tidak layak untuk Bundesliga. Meski tidak langsung mengarah ke Tedesco, tapi kritik itu jelas merujuk pada performa buruk tim bersama Tedesco.
Masalah pun membesar ketika Tedesco mengulur waktu perpanjangan kontraknya. Tedesco ingin diberikan waktu untuk mengevaluasi kerja sama. Ia ingin melihat dulu bagaimana hasilnya, apakah sesuai keinginan atau tidak.
Namun, Mintzlaff terlalu kesal. Ia menganggap hal itu sebagai penolakan. Hubungan antara Mintzlaff dan Tedesco pun, kendati ramah, kelihatan mulai merenggang. Alhasil, Tedesco pun didepak dari RB Leipzig.
Marco Rose, mantan pelatih Borussia Dortmund ditunjuk sebagai pengganti. Hebat, baru memimpin satu pertandingan, Rose langsung mendatangkan kemenangan meyakinkan RB Leipzig atas Dortmund 3-0.
https://youtu.be/V9HvtHdkFs0
Sumber: ESPN, Goal, TheAthletic, TheAthletic, Bundesligafan, Keepup


