Menyambut Bintang Baru Atalanta, Teun Koopmeiners!

spot_img

Klub Bergamo, Atalanta terbuat dari dua hal. Pertama, tim kuda hitam. Kedua, tim yang selalu mempunyai bakat yang hebat. Setelah gagal total di Serie A musim lalu, dengan hanya finis di peringkat kedelapan dan gagal tampil di kancah Eropa, Atalanta tidak memenuhi yang pertama.

Namun, mereka masih layak untuk disebut tim yang selalu mempunyai bakat yang hebat. Ketika Napoli punya Khvicha Kvaratskhelia yang lagi mendulang catatan-catatan manis, Atalanta tak mau ketinggalan dengan talenta mudanya.

Orang itu adalah Teun Koopmeiners. Namanya sangat asing, betul. Karena Koopmeiners belum pernah ranum dengan klub besar. Atalanta memungut sang pemain dari klub yang juga tidak terlalu besar, AZ Alkmaar.

Namun, hanya butuh waktu beberapa pertandingan saja, pemain yang bukan berasal dari klub besar itu menjadi pemain yang besar namanya. Tembakannya dari luar kotak penalti yang menghujam gawang Torino beberapa waktu lalu, jadi pertanda bahwa dengan Koopmeiners, Atalanta sudah punya senjata untuk jadi tim kuda hitam lagi.

Perjalanan Teun Koopmeiners

Sekali lagi, Teun Koopmeiners memang bukan berasal dari klub besar. Riwayat perjalanannya juga tak satu pun mampir ke klub elit. Koopmeiners adalah orang Belanda tulen. Namun, bakatnya sama sekali tidak ditempa oleh Ajax Amsterdam.

Teun Koopmeiners menenun kariernya dari klub semenjana Eredivisie, AZ Alkmaar. Ini menarik, karena alih-alih memilih Feyenoord, PSV, maupun Ajax, Koopmeiners justru memilih AZ Alkmaar untuk menapaki kariernya. Namun begitu, Belanda memang dikenal kerap menghasilkan bakat muda.

Jadi, meskipun berada di AZ, tidak lantas karier Koopmeiners akan terhambat. Ia masuk ke tim muda AZ bersama pemain seperti Calvin Stengs, Guus Til, Thomas Ouwejan, dan Myron Boadu. Koopmeiners yang memilih AZ sebagai tempat belajar terbilang tepat.

Kolam pembibitan AZ Alkmaar toh ternyata juga mendapat penghargaan bergengsi akademi muda terbaik di Belanda, yaitu Penghargaan Rinus Michels. Tak tanggung-tanggung, Akademi AZ Alkmaar mendapatkannya dua kali, tahun 2015 dan 2016.

Koopmeiners bersama dua rekannya, Boadu dan Stengs mengalami lonjakan penampilan yang dahsyat. Seorang mantan pelatih Koopmeiners, Koen Stam seperti dikutip First Time Finish mengatakan, sang pemain memiliki peran krusial dalam skuad muda AZ Alkmaar.

Salah satu kenangan yang diingat adalah ketika Koopmeiners dan koleganya di AZ Alkmaar meraih juara nasional pada musim 2012/13. Hebatnya, mereka berhasil unggul 13 poin atas Ajax Amsterdam. Bagi Koen Stam, Koopmeiners adalah sosok pemain yang brilian. Ia selalu punya inisiatif yang tak terduga.

Naik ke Tim Senior AZ Alkmaar

Perjalanan karier Koopmeiners di AZ Alkmaar muda sangat singkat. Tentu saja ini bukan karena penampilannya buruk. Kualitasnya yang kian membaik dan mengalami peningkatan, membuatnya bergegas naik level. Koopmeiners masuk dalam skuad utama AZ Alkmaar tahun 2017.

Dari kedua temannya, Boadu dan Stengs, Koopmeiners lebih dulu mencicipi debut di level senior, yaitu pada musim 2016/17. Sementara, kedua temannya baru menjalani debut senior semusim setelahnya. Walau begitu, ketiga pemain menjalin kemitraan yang luar biasa dalam pasukan AZ Alkmaar.

Koopmeiners, Boadu, dan Stengs pada akhirnya menjadi amunisi AZ Alkmaar. Mereka adalah representasi pemuda Belanda yang berkembang sangat pesat. Betul bahwa perkembangan pemain muda di Belanda dan Premier League sangatlah berbeda.

Di Belanda, sebagaimana yang dialami Koopmeiners dan kawan-kawannya, lebih banyak diberikan kesempatan untuk bermain. Hal itulah yang pada akhirnya membuat AZ Alkmaar menyamai kekuatan Ajax. Pada Maret 2020, ketika Eredivisie ditangguhkan, AZ Alkmaar dan Ajax sama-sama memuncaki klasemen.

Pada waktu itu Ajax yang berada di puncak klasemen, karena selisih gol lebih banyak dari AZ Alkmaar. Ajax mengumpulkan selisih gol 45, sedangkan AZ 37. Namun, kedua tim sama-sama mengemas 56 poin. Akan tetapi, Eredivisie memutuskan tidak ada yang berhak mengklaim trofi.

Kasus Covid-19 yang kala itu melonjak, membuat Eredivisie akhirnya ditangguhkan dan tidak ada yang berhak juara. Itulah untuk pertama kalinya setelah 64 tahun bergulir, tidak ada yang menjuarai Eredivisie.

Gagal meraih trofi tidak lantas menutup kemampuan Koopmeiners. Bersama dengan kedua rekannya, Koopmeiners menorehkan 30 dari 54 gol yang dicetak AZ Alkmaar di Eredivisie musim 2019/20. Koopmeiners sendiri ketika itu menyumbang sedikitnya lebih dari sepertiga gol yang dicetak, yaitu 11 gol.

Sosok Tepat Pengganti Ilicic

Sebelum musim 2022/23 mulai, klub Bergamo, Atalanta kehilangan sosok penting mereka. Josip Ilicic, pemain yang jadi ikon La Dea itu memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya. Ia bahkan sudah berpamitan dengan publik Bergamo.

Ilicic sudah melangkah kaki keluar dari Stadion Atleti Azzurri d’Italia. Gian Pero Gasperini pun harus sosok bintang baru yang menggantikannya. Banyak pilihan, tapi seorang Teun Koopmeiners lah yang mencuat. Gasperini melihat sosok Koopmeiners adalah gelandang yang kreatif. Belum lagi, ia memang sudah mengalami perkembangan sejak datang ke Atalanta tahun 2021.

Sebelum ke Atalanta, penampilan Koopmeiners di lini tengah sejatinya eksplosif. Meski seorang gelandang, ia telah melesakkan lebih banyak gol. 15 gol pada musim 2020/21, dengan 8 di antaranya berasal dari kotak penalti adalah portofolio yang menarik minat Gasperini. Karena itu, Atalanta menebus Koopmeiners dari AZ Alkmaar dengan mahar 14 juta euro (Rp208,7 miliar).

Meski kebanyakan golnya dari titik putih, Gasperini mengerti bahwa Koopmeiners juga merupakan ancaman yang berbahaya dari luar kotak penalti. Koopmeiners memiliki kekuatan kaki kiri yang ganas. Senjata itulah yang jadi andalan untuk membuat kiper lawan bergidik ngeri.

Menjawab Kebutuhan Gasperini

La Dea tidak berkompetisi di level Eropa musim ini. Hal itu membuat beban Gasperini sedikit lebih ringan. Namun, sang pelatih juga harus mempersiapkan diri. Karena di kancah domestik, setidaknya ada tiga trofi yang bisa diraih.

Serie A, Coppa Italia, dan Supercoppa Italia. Tentu tidak bisa meraih semuanya, dan yang menjadi perhatian Gasperini adalah bagaimana membagi kekuatan tim untuk minimal dua kompetisi. Artinya, yang dibutuhkan Atalanta adalah kedalaman skuad.

Koopmeiners menjawab kebutuhan itu. Dengan formasi tiga bek dan 4-5 pemain berada di sektor tengah, Koopmeiners bisa menjadi sosok untuk mengganjal lubang di lini tengah. Apalagi jika pemain seperti Freuler dan Marco de Roon tidak bisa bermain.

Gaya Bermain

Dalam praktiknya, Koopmeiners menempati posisi yang ditinggalkan Matteo Pessina. Ia juga mengambil peran Pessina. Namun, Koopmeiners punya kualitas yang lebih baik dari Pessina. Koopmeiners adalah sosok playmaker yang unggul.

Koopmeiners sanggup menguasai bola. Ia juga memiliki kemampuan untuk membantu pertahanan sama seperti Pessina. Apalagi memang ia berposisi natural sebagai gelandang bertahan. Tidak hanya itu, insting mencetak golnya juga bagus.

Catatan Fbref menunjukkan, ia memiliki nilai expected goals 2 pada musim ini di Serie A. Artinya, Koopmeiners bisa mencetak dua gol dalam 90 menit pertandingan. Angka yang sangat tinggi mengingat posisinya adalah gelandang.

Koopmeiners juga pengumpan yang jitu. Masih dari Fbref, sejauh ini pemain Belanda itu sudah melakukan 277 percobaan umpan, dan 206 di antaranya sukses. Persentase keberhasilan umpannya pun sejauh ini menyentuh 74,4%. Hebatnya lagi, ia bisa melakukan 36 operan ketika mendapat tekanan lawan.

Total, Koopmeiners sudah mengemas 4 gol dan 1 assist dari 6 kali bermain di Serie A musim ini. Koopmeiners juga sudah melakukan 10 tembakan dan 5 di antaranya on target. Sebab itulah, Gasperini lebih percaya pada Koopmeiners daripada Remo Freuler yang keberadaanya di skuad utama pelan-pelan mulai lenyap.

https://youtu.be/GRwnJKafz3A

Sumber: FirstTimeFinish, BufalloNews, CanberraTimes, AtalantaPassione

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru