Mimpi PSM Makassar untuk melangkah lebih jauh di AFC Cup 2022 terpaksa harus terhenti. Juku Eja gagal meraih hasil positif di laga final fase zona ASEAN kontra wakil Malaysia, Kuala Lumpur City FC.
PSM jadi satu-satunya wakil Indonesia yang mampu mencapai final fase ASEAN setelah Bali United gagal menembus semifinal. Namun, skuad racikan Bernardo Tavares takluk 5-2 atas tim tuan rumah. Kekecewaan jelas terpancar dari wajah para pemain PSM. Namun mereka tetap berusaha pulang ke Indonesia dengan kepala tegak.
Pencapaian ini patut diapresiasi apabila kita berkaca pada performa mereka musim lalu. Menatap musim baru, PSM menunjukan level semangat juang yang berbeda. Mereka mulai bangkit dan menunjukkan kekuatan yang sesungguhnya.
Daftar Isi
Hampir Degradasi Musim Lalu
Sudah menjadi rahasia umum bahwa musim lalu adalah musim yang buruk bagi Juku Eja. Skuad asuhan Milomir Šešlija mengalami penurunan performa yang sangat drastis di pertengahan musim. Bahkan setelah pergantian pelatih mereka hanya finis di urutan 14 klasemen, selisih 2 poin dari Persipura yang akhirnya terdegradasi.
Permasalahan PSM sudah terlihat bahkan sejak di awal musim. Mereka memulai kompetisi dengan keadaan yang tidak baik-baik saja. Sebab, permasalahan internal jelang Liga 1 bergulir tampaknya sedang menghantui internal klub.
Kena Lagi, PSM Akan Diseret ke Badan Penyelesaian Sengketa Nasional Setelah Menunggak Gaji Pemain https://t.co/qt5YUQE4z6
Cari berita lain? Klik di sini https://t.co/etgqSfoIwQ pic.twitter.com/aTJWJiSLwF
— Yahoo Indonesia (@Yahoo_ID) February 17, 2021
Banyak pemain PSM yang mengalami penunggakan gaji. Gaji yang tak terbayar itu sontak jadi perhatian berbagai pihak khususnya PSSI dan PT LIB. PT Liga Indonesia Baru pun memberikan tambahan waktu selama dua bulan untuk melunasi gaji para pemain. Jika tidak, mereka akan dikeluarkan dari liga.
Meski akhirnya PSM berhasil melunasi hutang gaji, permasalahan tak langsung selesai. Kurangnya kedalaman skuad jadi PR tersendiri bagi Coach Milo. Badai cedera membuat Coach Milo kewalahan dalam menyusun pemain. Setelah tak meraih kemenangan dalam 7 laga beruntun, akhirnya ia didepak karena manajemen ingin PSM menjadi penantang gelar, bukan hanya pengisi papan tengah.
Namun, kedatangan Joop Gall sebagai juru taktik baru nyatanya tak membantu. Skuad PSM justru kian carut marut setelah kedatangan pelatih dan beberapa pemain anyar. Adaptasi dan pemahaman taktik dianggap jadi permasalahan utama skuad Juku Eja kala itu. Alih-alih jadi penantang gelar, PSM justru mati-matian menghindari jurang degradasi.
Berjuang di Tengah Keterbatasan
Sedangkan awal musim 2022/2023, PSM mulai berbenah. Setelah menjuarai Piala Indonesia musim 2018/2019, PSM berkesempatan untuk menemani Bali United mewakili Indonesia di kompetisi AFC Cup. PSM seharusnya melewati babak play-off terlebih dahulu sebelum bisa tampil di fase grup. Tapi mereka tidak melalui proses itu.
Juku Eja otomatis ke fase grup setelah ada dua tim yang memilih mundur dari AFC Cup. Azkal Development wakil Filipina tak bisa tampil karena terganjal lisensi. Sementara Than Quang Ninh dari Vietnam terkendala pada finansial klub.
Coach @Bernard68456108 post match press conference quote #KLCvPSM#EwakoPSM #AFCcup2022 pic.twitter.com/MeclUP1S7U
— PSM Makassar (@PSM_Makassar) August 25, 2022
Sebetulnya PSM juga berada di kondisi yang tak menguntungkan. Mereka bahkan tak memiliki homebase karena Stadion Mattoanging sedang dalam tahap renovasi. Jadi mau nggak mau, PSM harus jadi tim musafir ketika menjamu tim-tim asing. Lalu bagaimana untuk pertandingan Liga? PSM mendaftarkan Stadion Gelora BJ Habibie di Parepare, yang jaraknya 155,8 kilometer dari Kota Makassar.
Selain itu, hilangnya banyak pemain pilar memaksa tim untuk membangun kembali pondasi dari awal. Materi skuad yang dibawa oleh Bernardo Tavares pun bukan berisikan pemain-pemain top macam Persija. Untuk pemain asing, PSM masih mengandalkan muka lama yakni, Wiljan Pluim sebagai motor serangan. Sedangkan di lini depan, PSM hanya memiliki Everton yang didatangkan dari klub Bahrain, Hidd SCC.
Pergerakan bursa transfer PSM pun dirasa kurang greget. Pemain-pemain yang mereka datangkan musim ini tidak ada yang berlabel bintang. Sebut saja pemain seperti Vivi Asrizal dari Persiraja, Bryan Cesar dari Persiba, Dallen Doke dari Persita, dan Akbar Tanjung dari PSIM.
Dengan melihat materi skuad dan performa PSM musim 2021/2022, mereka tak sebanding dengan mewahnya skuad Bali United. Jadi wajar jika tak ada yang menyangka saat PSM justru menampilkan performa impresif di kompetisi Asia. Mereka jadi satu-satunya tim Indonesia yang mencapai final zona ASEAN.
Tavares Jadi Kunci Kebangkitan PSM
Meski PSM bertanding dengan skuad dan fasilitas seadanya, mereka terbukti mampu konsisten di jadwal pertandingan yang terbilang cukup padat. Selain berlaga di kualifikasi AFC Cup zona Asean, PSM juga tampil konsisten di pertandingan BRI Liga 1.
Hingga pekan kelima, skuad Ayam Jantan dari Timur belum menelan satupun kekalahan. Mereka mengantongi empat kemenangan termasuk menang atas sang juara bertahan, Bali United dan sekali imbang melawan skuad mewah asuhan Thomas Doll, Persija Jakarta.
Dilansir dari Bola.com, salah satu kunci konsistennya PSM di Liga Indonesia adalah berkat tangan dingin sang juru taktik. Bernardo Tavares yang memiliki segudang pengalaman di sepakbola Eropa dianggap jeli dan cepat memahami kebutuhan PSM Makassar. Ia paham betul, bahwa kedalaman skuad jadi salah satu masalah bagi PSM musim lalu.
Berbekal pengalaman menjadi tim pencari bakat di klub FC Porto, Tavares banyak mengandalkan pemain-pemain muda macam Dzaky Asraf, Ricky Pratama, dan Ramadhan Sananta untuk mengisi skuad utama ketimbang mengambil resiko dengan jor-joran belanja pemain. Bahkan untuk slot kiper utama, Tavares memilih Reza Pratama, pemain berusia 22 tahun.
Selain itu, Tavares mampu membangkitkan motivasi dan militansi skuad Juku Eja. Sentuhan motivasi dengan semangat “Ewako” yang selalu digaungkan oleh Tavares membuat sejumlah pemain muda yang minim jam terbang justru tampil optimal.
Permainan PSM
PSM di bawah asuhan Tavares bukanlah tim yang miskin taktik. Mereka membangun reputasi sebagai klub yang menerapkan sepakbola adaptif. Sedangkan pakem taktik dari PSM sebetulnya mirip-mirip dengan Persija racikan Thomas Doll, yaitu sama-sama mengandalkan sepakbola cepat dan pressing tinggi untuk menekan pertahanan lawan.
Menurut Bung Binder, sejak menit awal Tavares biasanya akan menginstruksikan kepada anak asuhnya untuk mengurung pertahanan lawan. Fungsinya, agar lawan kesulitan untuk mengembangkan permainan. Didukung stamina pemain muda yang oke, skema ini berjalan lancar bagi PSM.
Bruno Fernandes ❌
Yuran Fernandes ✅📽️ credit : @Liga1Match#EwakoPSM #BRILiga1 #PSMvArema pic.twitter.com/2oIq7fb5io
— PSM Makassar (@PSM_Makassar) August 20, 2022
Namun, PSM tak melulu mengandalkan high pressing. Contohnya saat melawan tim kuat macam Bali United. Dalam skema 3-5-2 Juku Eja mengubah pendekatannya menjadi sepakbola reaktif yang lebih menunggu dan mengandalkan serangan balik. Jika bertahan, formasi tersebut akan berubah menjadi 5-3-2 dengan Yakob Sayuri dan Eka Pratama mundur membantu pertahanan.
Trio bek PSM juga menarik. Yuran Fernandes, pemain asing asal Cape Verde membangun koneksi yang apik dengan dua pemain lokal, Yance Sayuri dan Agung Mannan. Kombinasi mereka membuat pertahanan PSM tampak solid, dan hal itu dibuktikan dengan PSM menjadi tim yang paling sedikit kebobolan, yakini 3 gol saja dalam 5 pertandingan.
Bernardo Tavares menjadi sosok penting yang membawa perubahan signifikan bagi skuad PSM musim ini. Akan terlalu dini apabila kita mengunggulkan PSM sebagai juara Liga 1, tapi jika mereka mampu tampil konsisten hingga akhir musim, bukan tidak mungkin Skuad Ayam Jantan dari Timur bakal mendobrak dominasi Serdadu Tridatu.
https://youtu.be/e5Z_mv3ZnOc
Sumber: Sportstar, Jpnn, Bola, Bola Bung Binder, Transfermarkt


