Sepakbola sebagai sebuah industri tak heran jika dijadikan bancakan bagi para taipan untuk berinvestasi di dalamnya. Perputaran uang yang kencang juga cuan yang menggiurkan, membuat sepakbola menjadi ladang bisnis yang sexy. Tak khayal para taipan yang punya uang segudang berbondong-bondong membeli klub sepakbola.
Dengan adanya Financial Fair Play (FFP) sebagai produk aturan yang mengatur kehidupan sepakbola Eropa, menjadi patokan dalam menjaga kesenjangan. Seiring berjalannya waktu, beberapa klub sempat menjadi korban aturan tersebut. Nah, baru-baru ini beberapa klub pun dicurigai dan akan diinvestigasi lebih lanjut, karena terendus bau tak sedap di dalam klub tersebut tentang Financial Fair Play.
Daftar Isi
Sanksi Dan Aturan Financial Fair Play Yang Berlaku
Sebagai sebuah organisasi sepakbola di Eropa, UEFA ceritanya menganggap banyaknya taipan berduit yang memiliki klub sepakbola itu akan menimbulkan kesenjangan terhadap klub-klub lain yang tak punya modal besar. Dengan lantang atas nama asas prinsip keadilan, lantas UEFA pada tahun 2011 di bawah Michel Platini meluncurkan aturan bernama Financial Fair Play.
In 2011, European clubs made a collective €1.7bn loss ⬇️
In 2017, European clubs made a €600m profit ⬆️
Financial Fair Play has made European football finances healthier than ever ✅
Now is the time to make the next step…
Read more 👇https://t.co/Yg7Yw3CUQ4 pic.twitter.com/VvvvEVMZYD
— UEFA (@UEFA) September 10, 2018
Secara sederhana, FFP adalah sebuah aturan yang mewajibkan setiap kesebelasan Eropa menyeimbangkan neraca keuangan mereka. Tujuannya agar kesebelasan yang kaya tidak bisa asal-asalan menggunakan uang mereka untuk membeli pemain baru.
Pada awal penerapannya, UEFA masih memberikan kelonggaran, yang mana setiap klub tidak boleh merugi lebih dari 45 juta euro per tiga musim. Kemudian pada musim berikutnya batas tersebut turun menjadi 30 juta euro per tiga musim. Dan bukan tidak mungkin batasannya akan kembali turun.
Kasus FFP di UEFA
Lalu, apa hasilnya dari berlakunya regulasi itu? Apakah ada dampak dan sanksi yang berarti bagi klub yang melanggar? Sangat disayangkan, sebuah aturan yang sudah sangat bagus itu tak jauh berbeda dari hukum di Indonesia. Tumpul ke atas tajam ke bawah.
Lho kok bisa? Ya, sampai saat ini tercatat sebagian besar yang terkena sanksi berat akibat aturan FFP justru malah klub-klub kecil. Klub-klub besar macam Manchester City dan PSG memang terkena sanksi, tapi hanya denda ringan. Yang tentu saja, itu tidak seberapa dengan kekayaan mereka.
City sempat terkena sanksi FFP di musim 2018/19 dengan tak boleh tampil di kompetisi Eropa selama dua tahun dan wajib membayar denda dengan nominal yang tak sedikit. Namun, akhirnya mereka sukses naik banding di pengadilan arbitrase olahraga dan menang. Alhasil City hanya terkena denda dengan nominal kecil, dan hukuman berat pun dicabut.
Manchester City LOSE appeal to stop details of the Premier League’s Financial Fair Play investigation being released after probe was opened in 2019 following Der Spiegel’s claims of financial irregularities. #ffp#transparency pic.twitter.com/XFgrdKyIXJ
— Football Rationale (@FootballRation1) July 21, 2021
Sama halnya dengan klub sultan lainnya, PSG. Les Parisiens pernah mengalami hal serupa ketika mereka bermasalah dengan kasus saga transfer Mbappe dan Neymar. Akan tetapi, PSG berhasil menang atas bandingnya yang diajukan di pengadilan arbitrase olahraga.
💰 £198m for Neymar
💰 £166m for Mbappé (loan with obligation to buy)UEFA announce it has opened Financial Fair Play investigation into PSG. pic.twitter.com/MboqmDSIbj
— Football on BT Sport (@btsportfootball) September 1, 2017
Kedua tim sultan itu selalu menjadi buronan UEFA di kasus aturan FFP ini. Namun, mereka tampaknya seperti kebal akan hukuman berat. Lain halnya apa yang dialami Malaga, Zenit, Dnipro, maupun klub kecil lainnya yang terkena sanksi.
Ketika Malaga terkena sanksi melanggar batas gaji pada waktu belanja pemain besar-besaran di musim 2011/12, macam Toulalan, Santi Cazorla, Demichelis, Joaquin hingga Van Nistelrooy. Namun, di tahap banding, mereka ditolak oleh pengadilan arbitrase olahraga. Gaji yang besar yang dicurigai belum terbayar, membuat Malaga dihukum denda sekaligus absen di kompetisi Eropa selama 4 tahun.
The history of the club did not know the presence of these stars that shined in the sky of the @MalagaCF and this is a small part of them, so all the club’s fans must thank you for what you have provided and still presenting to the club. Thank you, Mr. President @ANAALThani 🙏 pic.twitter.com/Uxx4tvXHmH
— Imad berouhou laaroussi (@Imad12344) September 10, 2021
Kemudian Zenit, klub asal Rusia yang dihukum denda besar dan pembatasan pendaftaran pemain di Eropa pada tahun 2014. Juga ada Dnipro, klub asal Ukraina yang dihukum tak bisa main di kompetisi Eropa pada tahun 2016, karena tak bisa bayar gaji mahal jajaran pelatihnya waktu itu yakni Juande Ramos.
10 Klub Diinvestigasi
Kini di tahun 2022, persoalan FFP muncul lagi. Menurut The Times, sebanyak 20 klub di Eropa akan diinvestigasi lebih lanjut karena dicurigai melanggar aturan FFP hingga musim 2021/22. Namun, hingga sekarang nama-nama yang klub besar yang masif beredar di publik masih 6 klub.
‼️💥According to The Times, FC Barcelona and nine others, including Juventus, PSG, Inter and Roma, are being investigated by UEFA for breaching the Financial Fair Play rules for the 2020-2021 season. The information indicates that the European body is already preparing sanctions. pic.twitter.com/WX8dZfgdyU
— Goal Balls (@goaIballs) August 23, 2022
Dari Liga Prancis, ada PSG. Gaji bintang yang menumpuk serta perpanjangan kontrak Mbappe perlu diinvestigasi lebih lanjut. Selain PSG, juga ada Marseille. Keduanya dianggap selain neraca keuangannya tak seimbang, juga mengalami defisit hingga puluhan juta euro dalam tiga musim terakhir.
Dari Liga Italia ada Juventus, Inter Milan, dan AS Roma. Sementara AC Milan lepas dari ancaman FFP berkat kebijakannya yang stabil dalam mengelola keuangannya bersama Elliott Management, beberapa tahun terakhir. Sementara itu, ketiga tim Serie A yang masuk daftar list UEFA tersebut, dicurigai juga mengalami defisit hingga puluhan juta euro.
Dari Liga Inggris, uniknya kini tak ada lagi nama langganan seperti Manchester City. Malah kali ini muncul nama baru yakni Arsenal. The Gunners dicurigai karena selama tiga tahun terakhir, mereka yang sedang mengalami kerugian, tapi selalu jor-joran dalam mendatangkan pemain bersama Josh Kroenke.
🚨 Arsenal are among 20 European clubs on a UEFA watchlist of teams who may be in danger of breaching Financial Fair Play. Arsenal have had among the highest losses in the Premier League over the past three years, a total of £213m. [@martynziegler] #afc https://t.co/Sdl1koyyKt
— afcstuff (@afcstuff) August 23, 2022
Dari La Liga, tentu saja Barcelona adalah incaran kuat pelanggaran FFP. Dari keenam nama yang sudah dikeluarkan UEFA tersebut, dikutip The Times, akan diberi batas waktu untuk menyelesaikan persoalan FFP. Apabila sudah kelewat batas waktu, tak segan UEFA akan mengeluarkan beberapa sanksi termasuk denda sampai hukuman larangan bermain di Eropa.
They are the only Spanish team in the investigation.https://t.co/7fHQ5MbFsG
— Football España (@footballespana_) August 23, 2022
Aturan FFP Berubah Mulai 2023/24
Pasalnya, UEFA mulai musim depan 2023/24 akan menerapkan aturan baru FFP yang sudah disepakati di Nyon, Swiss pada April 2022 lalu.
NYON, Switzerland—UEFA approved new financial monitoring rules for European soccer clubs on Thursday, giving up on “fair play” and lowering expectations it can solve the competitive imbalance in the Champions League.https://t.co/ZskmMr5Orn
— BusinessMirror (@BusinessMirror) April 11, 2022
Berdasarkan aturan yang baru, nantinya klub hanya dapat membelanjakan 90 persen dari pendapatan mereka mulai musim 2023/2024. Pendapatan yang dihitung ini adalah dari penjualan pemain, tiket, dan sponsor. Begitupun yang akan terjadi di tahun-tahun berikutnya. Akan semakin turun menjadi 80 dan 70 persen pada musim 2024/2025 dan 2025/2026.
“Regulasi baru ini tentu berangkat dari perkembangan dan tantangan ke depan di dunia sepakbola. Ini cara UEFA untuk melindungi pemain, merasionalkan harga pemain, dan membangun masa depan klub yang berkelanjutan. Serta, dapat mewujudkan nilai-nilai keadilan antar sesama klub di eropa sesuai dasar cita cita aturan ini lahir,” kata Presiden UEFA, Aleksander Ceferin.
Namun, pertanyaannya sekarang bagi Caferin, dengan hebohnya beberapa klub besar yang terancam sanksi FFP ini, apakah semuanya akan adil dihukum berat? Ataukah ini hanya gertak sambal sebagai penguat citra UEFA saja, dan ujung-ujungnya hanyalah klub-klub kecil yang terkena sanksi beratnya? Patut ditunggu gebrakan UEFA yang katanya bertindak atas dasar keadilan itu.
https://youtu.be/CPgVnmcSGUM
Sumber Referensi : theguardian, republicworld, bola.net, skor.id


