UEFA Beraksi Lagi! Klub Ini Terancam Kena Sanksi Financial Fair Play

spot_img

Sepakbola sebagai sebuah industri tak heran jika dijadikan bancakan bagi para taipan untuk berinvestasi di dalamnya. Perputaran uang yang kencang juga cuan yang menggiurkan, membuat sepakbola menjadi ladang bisnis yang sexy. Tak khayal para taipan yang punya uang segudang berbondong-bondong membeli klub sepakbola.

Dengan adanya Financial Fair Play (FFP) sebagai produk aturan yang mengatur kehidupan sepakbola Eropa, menjadi patokan dalam menjaga kesenjangan. Seiring berjalannya waktu, beberapa klub sempat menjadi korban aturan tersebut. Nah, baru-baru ini beberapa klub pun dicurigai dan akan diinvestigasi lebih lanjut, karena terendus bau tak sedap di dalam klub tersebut tentang Financial Fair Play.

Sanksi Dan Aturan Financial Fair Play Yang Berlaku

Sebagai sebuah organisasi sepakbola di Eropa, UEFA ceritanya menganggap banyaknya taipan berduit yang memiliki klub sepakbola itu akan menimbulkan kesenjangan terhadap klub-klub lain yang tak punya modal besar. Dengan lantang atas nama asas prinsip keadilan, lantas UEFA pada tahun 2011 di bawah Michel Platini meluncurkan aturan bernama Financial Fair Play.

Secara sederhana, FFP adalah sebuah aturan yang mewajibkan setiap kesebelasan Eropa menyeimbangkan neraca keuangan mereka. Tujuannya agar kesebelasan yang kaya  tidak bisa asal-asalan menggunakan uang mereka untuk membeli pemain baru.

Pada awal penerapannya, UEFA masih memberikan kelonggaran, yang mana setiap klub tidak boleh merugi lebih dari 45 juta euro per tiga musim. Kemudian pada musim berikutnya batas tersebut turun menjadi 30 juta euro per tiga musim. Dan bukan tidak mungkin batasannya akan kembali turun.

Kasus FFP di UEFA

Lalu, apa hasilnya dari berlakunya regulasi itu? Apakah ada dampak dan sanksi yang berarti bagi klub yang melanggar? Sangat disayangkan, sebuah aturan yang sudah sangat bagus itu tak jauh berbeda dari hukum di Indonesia. Tumpul ke atas tajam ke bawah.

Lho kok bisa? Ya, sampai saat ini tercatat sebagian besar yang terkena sanksi berat akibat aturan FFP justru malah klub-klub kecil. Klub-klub besar macam Manchester City dan PSG memang terkena sanksi, tapi hanya denda ringan. Yang tentu saja, itu tidak seberapa dengan kekayaan mereka.

City sempat terkena sanksi FFP di musim 2018/19 dengan tak boleh tampil di kompetisi Eropa selama dua tahun dan wajib membayar denda dengan nominal yang tak sedikit. Namun, akhirnya mereka sukses naik banding di pengadilan arbitrase olahraga dan menang. Alhasil City hanya terkena denda dengan nominal kecil, dan hukuman berat pun dicabut.

Sama halnya dengan klub sultan lainnya, PSG. Les Parisiens pernah mengalami hal serupa ketika mereka bermasalah dengan kasus saga transfer Mbappe dan Neymar. Akan tetapi, PSG berhasil menang atas bandingnya yang diajukan di pengadilan arbitrase olahraga.

Kedua tim sultan itu selalu menjadi buronan UEFA di kasus aturan FFP ini. Namun, mereka tampaknya seperti kebal akan hukuman berat. Lain halnya apa yang dialami Malaga, Zenit, Dnipro, maupun klub kecil lainnya yang terkena sanksi.

Ketika Malaga terkena sanksi melanggar batas gaji pada waktu belanja pemain besar-besaran di musim 2011/12, macam Toulalan, Santi Cazorla, Demichelis, Joaquin hingga Van Nistelrooy. Namun, di tahap banding, mereka ditolak oleh pengadilan arbitrase olahraga. Gaji yang besar yang dicurigai belum terbayar, membuat Malaga dihukum denda sekaligus absen di kompetisi Eropa selama 4 tahun.

Kemudian Zenit, klub asal Rusia yang dihukum denda besar dan pembatasan pendaftaran pemain di Eropa pada tahun 2014. Juga ada Dnipro, klub asal Ukraina yang dihukum tak bisa main di kompetisi Eropa pada tahun 2016, karena tak bisa bayar gaji mahal jajaran pelatihnya waktu itu yakni Juande Ramos.

10 Klub Diinvestigasi

Kini di tahun 2022, persoalan FFP muncul lagi. Menurut The Times, sebanyak 20 klub di Eropa akan diinvestigasi lebih lanjut karena dicurigai melanggar aturan FFP hingga musim 2021/22. Namun, hingga sekarang nama-nama yang klub besar yang masif beredar di publik masih 6 klub.

Dari Liga Prancis, ada PSG. Gaji bintang yang menumpuk serta perpanjangan kontrak Mbappe perlu diinvestigasi lebih lanjut. Selain PSG, juga ada Marseille. Keduanya dianggap selain neraca keuangannya tak seimbang, juga mengalami defisit hingga puluhan juta euro dalam tiga musim terakhir.

Dari Liga Italia ada Juventus, Inter Milan, dan AS Roma. Sementara AC Milan lepas dari ancaman FFP berkat kebijakannya yang stabil dalam mengelola keuangannya bersama Elliott Management, beberapa tahun terakhir. Sementara itu, ketiga tim Serie A yang masuk daftar list UEFA tersebut, dicurigai juga mengalami defisit hingga puluhan juta euro.

Dari Liga Inggris, uniknya kini tak ada lagi nama langganan seperti Manchester City. Malah kali ini muncul nama baru yakni Arsenal. The Gunners dicurigai karena selama tiga tahun terakhir, mereka yang sedang mengalami kerugian, tapi selalu jor-joran dalam mendatangkan pemain bersama Josh Kroenke.

Dari La Liga, tentu saja Barcelona adalah incaran kuat pelanggaran FFP. Dari keenam nama yang sudah dikeluarkan UEFA tersebut, dikutip The Times, akan diberi batas waktu untuk menyelesaikan persoalan FFP. Apabila sudah kelewat batas waktu, tak segan UEFA akan mengeluarkan beberapa sanksi termasuk denda sampai hukuman larangan bermain di Eropa.

Aturan FFP Berubah Mulai 2023/24

Pasalnya, UEFA mulai musim depan 2023/24 akan menerapkan aturan baru FFP yang sudah disepakati di Nyon, Swiss pada April 2022 lalu.

Berdasarkan aturan yang baru, nantinya klub hanya dapat membelanjakan 90 persen dari pendapatan mereka mulai musim 2023/2024. Pendapatan yang dihitung ini adalah dari penjualan pemain, tiket, dan sponsor. Begitupun yang akan terjadi di tahun-tahun berikutnya. Akan semakin turun menjadi 80 dan 70 persen pada musim 2024/2025 dan 2025/2026.

“Regulasi baru ini tentu berangkat dari perkembangan dan tantangan ke depan di dunia sepakbola. Ini cara UEFA untuk melindungi pemain, merasionalkan harga pemain, dan membangun masa depan klub yang berkelanjutan. Serta, dapat mewujudkan nilai-nilai keadilan antar sesama klub di eropa sesuai dasar cita cita aturan ini lahir,” kata Presiden UEFA, Aleksander Ceferin.

Namun, pertanyaannya sekarang bagi Caferin, dengan hebohnya beberapa klub besar yang terancam sanksi FFP ini, apakah semuanya akan adil dihukum berat? Ataukah ini hanya gertak sambal sebagai penguat citra UEFA saja, dan ujung-ujungnya hanyalah klub-klub kecil yang terkena sanksi beratnya? Patut ditunggu gebrakan UEFA yang katanya bertindak atas dasar keadilan itu.

https://youtu.be/CPgVnmcSGUM

Sumber Referensi : theguardian, republicworld, bola.net, skor.id 

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru