Bayer Leverkusen tampil buruk di awal musim ini. Padahal klub ini musim lalu menjadi pesaing ketat Bayern Munchen dan Borussia Dortmund di tangga klasemen. Berhasil lolos pula ke Liga Champions. Namun, pada musim 2022/23 memulai kompetisi dengan sangat gontai.
Tiga kali pertandingan awal Bundesliga mereka hancur. Anak asuh Gerardo Seoane kalah dari Dortmund 1-0. Dibuat malu di depan pendukungnya sendiri oleh Augsburg 2-1. Dan terakhir digundul Hoffenheim 3-0.
Terlalu pagi memang untuk mengatakan performa Bayer Leverkusen menurun. Namun, tanda-tanda itu sudah terlihat di awal. Apalagi selain tak bisa menang di tiga laga Bundesliga, Die Werkself tersingkir lebih awal di ajang DFB Pokal. Mereka kalah atas tim gurem, SV Elversberg.
Ini jadi kontradiktif. Karena jelang musim 2022/23 bergulir, Bayer Leverkusen disebut-sebut akan kembali tampil mentereng. Sebab pemain kunci seperti Florian Wirtz dan Patrik Schick diperpanjang kontraknya oleh Die Pillendreher.
Daftar Isi
Badai Cedera
Sayang sekali. Di awal musim harapan itu seakan mulai menguap ke udara. Memperpanjang kontrak Florian Wirtz yang jadi andalan mereka, ternyata tidak mempengaruhi apa pun. Karena Wirtz sedang mengalami cedera ACL. Sebab itu, ia akan melewatkan paruh musim dan Piala Dunia.
Bahkan, beberapa laporan menyebut, Florian Wirtz terancam tidak bisa memperkuat Bayer Leverkusen sampai musim 2022/23 tuntas. Tentu ini menjadi malapetaka buat Gerardo Seoane. Karena selain Schick, Wirtz adalah penyumbang gol dan aktor terpenting di skuad Leverkusen.
Florian Wirtz 🥲😭
Nambah lagi daftar cedera Leverkusen. Sebelumnya Frimpong udah diganti di menit ke-10 tadi dan Patrik Schick udah absen 4 pekan#MOLAxSpieltag pic.twitter.com/qUgLzadPrP
— Spieltag Indonesia (@SpieltagIndo) March 13, 2022
Musim lalu, menurut FBref, Wirtz sudah mencetak 7 gol dan 10 assist. Leverkusen acap kali mengandalkannya untuk mendobrak pertahanan lawan. Apalagi nilai expected goals-nya musim lalu mencapai 5,3. Artinya, Wirtz setidaknya berpeluang mencetak 5 gol dalam setiap pertandingan.
Selain Wirtz, Leverkusen juga terpukul dengan cedera pemain-pemain pentingnya. Amine Adli dan Karim Bellarabi misalnya, juga mengalami cedera. Badai cedera ini membuat kekuatan Bayer Leverkusen sedikit gontai. Seoane harus menyusun kembali skuadnya. Meski Patrik Schick tersedia, tentu Seoane tidak mungkin hanya mengandalkannya seorang.
Coba-Coba Susunan Pemain
Karena diterpa badai cedera, Seoane terpaksa membongkar pasang skuadnya, terutama di sektor tengah. Misalnya, ketika menghadapi Augsburg. Seoane mengganti gelandang serang Bellarabi dan Demirbay dengan Sardar Azmoun dan rekrutan baru yang dikontrak 12 juta poundsterling (Rp210 miliar), Adam Hlozek.
Sementara sisanya, masih menggunakan skuad musim lalu untuk mengisi skema 4-2-3-1 khas Seoane. Namun, hasilnya tidak terlalu baik. Bahkan cenderung buruk. Leverkusen mendapat masalah besar dalam urusan membangun serangan.
Umumnya, dalam menguasai bola, Leverkusen akan membentuk pola 4-1-3-1 atau 4-2-3-1. Hanya saja, mereka kerap menciptakan celah antara lini depan, lini tengah, dan pertahanan. Celah inilah yang mudah dieksploitasi oleh pemain lawan. Lebih-lebih jika lawan memiliki intensitas pressing yang tinggi.
Membangun serangan dari bawah ini juga sangat beresiko. Gol Augsburg di menit ke-15 menjadi contoh, betapa celah-celah itu berhasil dimanfaatkan pemain lawan.
Dibantai Hoffenheim
Hal itu juga terjadi ketika Leverkusen dipermak Hoffenheim 3-0. Seoane tidak banyak memiliki opsi untuk pemain tengah. Beberapa pemain seperti Aranguiz, Paulinho, dan Nadiem Amiri desas-desusnya tidak bahagia di klub. Dan mereka juga tidak cukup bagus untuk dimainkan.
Maka dari itu, Seoane memilih Azmoun, Hlozek, dan Diaby di lini tengah. Sementara Aranguiz dan Andrich dipasang jadi dua pivot. Patrik Schick tetap berada di lini depan. Namun, siasat itu tidak berhasil. Hoffenheim yang menerapkan tekanan tinggi, membuat pertahanan Leverkusen kelabakan.
Christoph Baumgartner backheel goal for Hoffenheim vs Bayer Leverkusen 🔥 pic.twitter.com/OD6wUhNKEg
— Lij (@ElijahKyama) August 20, 2022
Dalam catatan Whoscored, tidak ada pemain Die Werkself yang tampil bagus. Ratingnya merah semua. Dua pivot mereka, Charles Aranguiz dan Robert Andrich tampil buruk di laga itu. Aranguiz hanya melakukan 1 kali intersep, sedangkan Andrich 2. Dari keduanya, cuma Andrich yang melakukan clearances.
Walaupun soal operan keduanya lumayan baik. Aranguiz pada laga itu, setidaknya melakukan 35 operan. Sementara Robert Andrich melakukan 44 operan. Terlihat bagus, tapi Leverkusen masih punya tiga pemain di belakang striker. Ketiga pemain itulah yang seharusnya melakukan progresi serangan.
Namun, tiga gelandang tengah yang dipasang: Moussa Diaby, Azmoun, dan Hlozek tidak cakap dalam menyuplai bola ke striker mereka. Sepanjang laga lawan Hoffenheim, Diaby misalnya, hanya melakukan 3 kali operan kunci yang langsung mengarah ke progresi serangan.
Sardar Azmoun dan Adam Hlozek hanya melakukan 2 kali operan kunci. Keduanya juga tidak terlalu aktif dalam memberikan umpan. Hlozek hanya melakukan 11 operan, dan Azmoun hanya 18 operan. Akurasi umpan keduanya pun di bawah 70 persen.
Patrik Schick Melempem
Performa Bayer Leverkusen yang merosot ini, bisa jadi sedikit banyak dipengaruhi oleh menurunnya performa bomber andalan mereka, Patrik Schick. Jika terlalu dini mengatakan itu, mungkin kita bisa menyebut Schick belum menemukan sentuhan terbaiknya.
Padahal jika berkaca musim lalu, Schick mencetak 24 gol. Angkanya cuma kalah dari Robert Lewandowski yang jadi top skor Bundesliga musim lalu, dengan 35 gol. Tentu belum menemukan sentuhannya langsung, bisa menjadi masalah bagi seorang striker seperti Schick.
📝 RESMI | Bayer Leverkusen telah memperpanjang kontrak Patrik Schick (🇨🇿/FW/26) hingga tahun 2027.#KickOff#TransferKO#GermanyKO#Bayer04 pic.twitter.com/BHISEs3IfI
— Kickoff (@OfficialKO_Line) May 27, 2022
Sebab, musim lalu, pada laga kedua kontra Monchengladbach, Patrik Schick sudah mencetak gol. Tiga pertandingan awal di musim ini, Patrik Schick belum mencetak sebiji pun gol. Pria 26 tahun itu bahkan hanya mengemas 10 kali tembakan dengan 4 di antaranya on target dalam tiga laga.
Jumlah tersebut, bagi seorang striker tentu mengkhawatirkan. Nilai harapan gol Patrik Schick pun masih di angka 0,62 per 90 menit. Artinya, sampai pertandingan ketiga, Schick belum bisa diharapkan untuk mencetak gol. Padahal Patrik Schick mengcover rata-rata 15,8 yard ruang di lini depan.
Salah satu faktornya, bisa jadi karena ketidakhadiran Florian Wirtz dalam skuad Leverkusen. Mengingat Wirtz sebelumnya bisa menjadi penyuplai bola ke Schick. Karena tidak ada sosok Wirtz, sebagai seorang striker, Schick pada akhirnya harus membantu melakukan progresi bola.
Dalam catatan Fbref, sejauh ini Schick rajin melakukan percobaan umpan. Total ia sudah melakukan 57 percobaan umpan, dan 38 kali di antaranya jadi operan sukses. Alhasil, Patrik Schick tidak hanya terpaku untuk memburu gol.
Perlu Opsi Pemain Baru
Apa yang bukan menjadi pertanda baik adalah saat klub-klub Bundesliga lainnya gencar mendatangkan pemain, Leverkusen tidak. Die Werkself landai di bursa transfer. Padahal musim ini, mereka tidak hanya bermain di Bundesliga, tapi juga Liga Champions Eropa.
Persoalannya, kini mereka terpuruk di zona degradasi. Badai cedera yang menerpa juga semestinya jadi perhatian khusus. Menambah pemain baru mungkin bisa menjadi solusi. Apalagi Die Werkself perlu pemain pelapis.
Bayer Leverkusen are closing on Callum Hudson-Odoi deal. Negotiations set to be completed with Chelsea on loan, after CHO turned down two loan proposals from Premier League. 🔴 #BayerLeverkusen
Deal progressing well – to be completed this week. #CFC pic.twitter.com/Ff4qPfzyx3
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) August 24, 2022
Rumornya, Callum Hudson-Odoi akan didatangkan Leverkusen. Mereka masih punya waktu sebelum bursa transfer resmi ditutup. Namun, kalaupun masih belum mendapatkan pemain pada bursa transfer musim ini, manajemen sudah harus memikirkan pemain mana yang bisa datang ke BayArena pada paruh musim nanti.
Sumber: Khelnow, TFA, Bundesliga, TheAnalyst, Tumsozluk, Bundesliga


