Jens Petter Hauge, Dulu Wonderkid, Kini Cuma Jadi Pajangan

spot_img

Tahun 2020 jadi tahun yang menakjubkan bagi FK Bodø/Glimt. Di tahun pandemi tersebut, klub kecil yang bermarkas di utara Lingkaran Arktik itu membuat sensasi di Norwegia. Glimt yang mayoritas berisikan pemain muda lulusan akademinya sendiri berhasil meraih trofi Liga Utama Norwegia pertamanya dalam sejarah.

Dengan koleksi 81 poin dalam 30 pertandingan, Glimt sukses merusak dominasi Molde dan Rosenborg. Dalam perjalanannya, Glimt hanya sekali menelan kekalahan dan memimpin liga sejak pekan kedua.

Yang menjadikan kemenangan tersebut spesial adalah cara Bodø/Glimt meraihnya. Dijuluki “the Scandinavian Atalanta”, mereka memainkan sepak bola atraktif nan menghibur. Bermain menyerang dan menerapkan pressing dengan agresivitas tinggi, Glimt berhasil mencetak 103 gol dalam semusim. Mereka adalah tim pertama dalam sejarah Liga Norwegia yang mampu melakukannya.

Bersinar di Bodø/Glimt, Jens Petter Hauge Bikin AC Mila Jatuh Cinta

Prestasi itulah yang kemudian menarik perhatian khusus publik sepak bola Eropa. Sensasi FK Bodø/Glimt itu pula yang membuat publik sepak bola Eropa menyadari eksistensi Jens Petter Hauge sebagai bintang muda yang sangat bertalenta.

Jens Petter Hauge jadi salah satu penampil terbaik di musim 2020. 18 kali tampil di liga, Hauge menyumbang 14 gol dan 9 asis. Atas kontribusi dan performanya tersebut, pemuda kelahiran 1999 itu sangat pantas apabila disebut sebagai wonderkid.

Gesit, lincah, dan punya dua kaki yang sama-sama kuat menjadi senjata ampuh Jens Petter Hauge. Pemain bertinggi badan 184 cm itu bisa dibilang sebagai penyerang yang komplet. Ia mampu dimainkan di segala posisi di lini depan. Di musim tersebut, ia tercatat pernah dipasang di posisi gelandang kiri, sayap kiri, sayap kanan, second-striker, hingga central forward.

Puncak dari penampilan impresif Jens Petter Hauge di tahun 2020 terjadi di laga babak ketiga kualifikasi Liga Europa. Hasil undian mempertemukan FK Bodø/Glimt dengan raksasa Liga Italia, AC Milan.

Glimt memang kalah dengan skor 3-2 di San Siro. Namun, sepanjang laga, Hauge menjadi sosok yang meneror lini pertahanan Milan.

Beroperasi di sayap kiri dalam formasi 4-3-3, Hauge bergerak lincah dan mengecoh Franck Kessie sebelum melepas asis untuk gol pertama Glimt yang dicetak Kasper Junker di menit ke-15. Di menit ke-55, Hauge kemudian mencatatkan namanya sendiri di papan skor. Sepakan jarak jauhnya meluncur deras ke gawang Gianluigi Donnarumma.

Penampilan impresif yang Hauge tunjukan saat berhadapan dengan AC Milan ternyata berdampak panjang. Bagai cinta pada pandangan pertama, pendukung rossoneri langsung kepincut dengan aksi Hauge. Akan jadi akhir bahagia apabila Hauge jatuh ke pelukan Milan.

Bak gayung bersambut, Milan juga punya pandangan yang sama. Pertemuan mereka dengan Bodø/Glimt di kualifikasi Liga Europa adalah sebuah suratan takdir yang indah. Ternyata, nama Jens Petter Hauge sudah lama masuk dalam radar pengamatan kepala pemandu bakat Milan, Geoffrey Moncada.

Sebuah asis ciamik dan sebuah gol spektakuler yang Hauge buat ke gawang Gainluigi Donnarumma sudah cukup untuk membuat Milan yakin mereka harus bergerak cepat. Sebab, bukan hanya mereka yang menginginkan jasa Jens Petter Hauge.

Tak lama setelah pertemuan kedua tim di San Siro, Paolo Maldini bergegas menjalin komunikasi dengan Hauge. Maldini bersama Ricky Massara juga bergerak cepat menemui agen Hauge dan perwakilan FK Bodø.

Seminggu kemudian, AC Milan secara resmi mengumumkan transfer Jans Petter Hauge. Pemain kelahiran 12 Oktober 1999 itu ditebus dengan harga 5 juta euro dan diikat dengan kontrak berdurasi 5 tahun.

Minim Bermain, Hauge Gagal di AC Milan

Maka dari itulah, tahun 2020 bisa dibilang sebagai tahun yang menakjubkan bagi Jens Petter Hauge. Hanya dalam waktu singkat, kariernya berubah drastis. Dari bintang muda yang jarang tersorot di kota Bodø yang dingin dan terisolir di Norwegia Utara, Hauge langsung hijrah ke gemerlapnya kota Milan di Italia.

Kedatangan Hauge di Milan juga disambut antusias. Namanya menggema di antara akun-akun media sosial pendukung rossoneri. Mereka berharap bakat Hauge akan mekar dalam jangka waktu yang lama.

Akan tetapi, laiknya wonderkid lain yang hijrah ke klub besar, Jens Petter Hauge tak bisa langsung jadi pilihan utama Stefano Pioli. Milan sudah punya Rafael Leao dan Ante Rebic di sisi kiri sehingga Hauge mesti rela terpinggirkan.

Ajang Liga Europa kemudian jadi pentas bagi Hauge. Lebih banyak dimainkan di ajang tersebut, tiga gol dan satu asis berhasil ia cetak di fase grup, sebuah efektivitas yang luar biasa. Namun sayangnya, ia seolah jadi pemain yang sangat berbeda saat berlaga di Serie A.

Minimnya menit bermain seperti membuat Hauge bak sebuah pajangan belaka. Banyak diturunkan sebagai pemain pengganti membuat ia hanya mencatat 519 menit bermain dalam 18 pertandingan atau hanya sekitar 29 menit per laga. Dalam kesempatan tersebut, ia cuma mencetak 2 gol, sebuah angka yang jauh dari harapan dan ekspektasi Milan di awal musim.

Kalah saing dan proses adaptasi yang belum sempurna membuat Hauge seperti hanya dimainkan saat Milan sudah mengunci hasil pertandingan. Nasib Hauge di San Siro juga makin terkatung-katung tatkala ia dicoret dari skuad Liga Europa dan sudah tak diturunkan lagi sejak pekan ke-30 Serie A.

Naik Turun Karier Hauge di Eintracht Frankfurt

Milan pun tak mau berlama-lama menungu. Di musim berikutnya, mereka memutuskan untuk meminjamkan Jens Petter Hauge. Eintracht Frankfurt jadi pihak yang berhasil menggaet pemain internasional Norwegia itu dengan biaya 2 juta euro.

Frankfurt tak sekadar meminjam. Mereka punya opsi permamen yang bakal berubah menjadi kewajiban beli senilai 10 juta euro. Salah satu syaratnya adalah Frankfurt terhindar dari degradasi.

Keputusan untuk hengkang ke Frankfurt awalnya berjalan baik. Jens Petter Hauge mendapat lebih banyak menit bermain, baik di Bundesliga maupun di Liga Europa. Impresi pertama yang ia tunjukan di laga debutnya juga sangat meyakinkan. Hauge berhasil menyumbang satu gol saat Frankfurt kalah 5-2 dari Borussia Dortmund di pekan pertama Bundesliga.

Dua pekan berselang, Hauge kembali unjuk gigi. Dimainkan sejak menit pertama sebagai winger kanan, ia berhasil mencetak 1 gol saat Fankfurt ditahan imbang 1-1 oleh tuan rumah Arminia Bielefeld.

Namun setelah itu, dejavu seperti kembali hadir di karier Jens Petter Hauge. Perlahan, sinarnya meredup. Tak ada lagi kontribusi gol yang hadir dari kakinya. Menit bermainnya kembali ke setelan pabrik. Ia hanya diturunkan sebatas sebagai pemain pengganti.

Dua asis sebetulnya sukses Hauge catatkan di pekan ke-21 dan 29 Bundesliga. Ia juga sempat mencetak 1 gol di ajang Liga Europa. Di ajang tersebut, Hauge bahkan dimainkan di seluruh pertandingan yang dijalani Frankfurt hingga keluar sebagai kampiun.

Di sepanjang musim 2021/2022, Jens Petter Hauge tercatat mencetak 3 gol dan 2 asis dalam 38 pertandingan. Ia jadi bagian dari skuad juara Frankfurt di Liga Europa dan membantu timnya terhindar dari degradasi.

Karena hasil itulah, Frankfurt kemudian mempermanenkan status Jens Petter Hauge sesuai dengan kesepakatan awal dengan AC Milan. Menurut Daniele Longo dari Calciomercato.com, Milan mendapat bayaran total 15 juta euro dari penjualan Jens Petter Hauge. Sebuah keuntungan yang cukup lumayan.

Bersama Frankfurt, Hauge kemudian diikat kontrak hingga Juni 2026. Sayangnya, setelah dilakukan evaluasi di awal musim ini, Jens Petter Hauge sepertinya tidak masuk dalam rencana pelatih Eintracht Frankfurt, Oliver Glasner. Meski Frankfurt telah melepas Filip Kostic, Glasner lebih memilih rekrutan anyar lainnya seperti Ansgar Knauff, Mario Gotze, atau Randal Kolo Muani untuk mengisi pos di lini serang.

Situasi itulah yang kemudian membuat Jens Petter Hauge harus rela terpinggirkan. Frankfurt membuat keputusan untuk meminjamkan Hauge ke klub Liga Belgia, KAA Gent hingga Juni 2023.

Dipinjamkan (Lagi) ke Gent, Apakah Jens Petter Hauge Layu Sebelum Mekar?

Dikutip dari bulinews.com, direktur olahraga Eintracht Frankfurt, Markus Krösche mengatakan bahwa klub Liga Belgia itu adalah tempat ideal bagi Hauge. Kata Krosche, “Liga Belgia mirip dengan Bundesliga dalam hal intensitas dan kompetisi.” Bersama Gent, Hauge juga bisa mendapat menit bermain yang lebih banyak.

Frankfurt sepertinya masih yakin dengan Hauge. Buktinya, mereka melepas Hauge tanpa opsi pembelian. Ini juga bukan kali pertama mereka meminjamkan pemainnya ke klub Liga Belgia. Sebelumnya, mereka pernah mengirim Daichi Kamada dan Lucas “Tuta” Melo ke Liga Belgia. Kini keduanya jadi pemain reguler Frankfurt.

Sementara itu, di kota Milan, para pendukung Setan Merah masih mencintai sosok Hauge. Ketika ia mengumumkan kepindahannya ke Gent, kolom komentar media sosialnya justru lebih banyak diisi oleh penggemar Milan yang memberinya dukungan.

Mungkin saja, Hauge terlalu dini pergi ke liga top Eropa. Bisa saja proses adaptasinya dengan ketatnya persaingan di kompetisi papan atas Benua Biru belum sepenuhnya sempurna.

Kasus Martin Ødegaard bisa jadi pelajaran berharga bagi Jens Petter Hauge. Dulu, Ødegaard pindah dini ke Real Madrid saat usianya baru 16 tahun. Di Madrid, ia cuma jadi pajangan dan beberapa kali dipinjamkan ke klub lain.

Ødegaard baru bersinar saat jadi pemain pinjaman di Real Sociedad dan kini setelah pindah ke Arsenal, ia jadi pemain andalan The Gunners. Bahkan, di awal musim ini, ia diplot sebagai kapten.

Maka dari itulah, tidak tepat bila menyebut Jens Petter Hauge layu sebelum mekar. Ia belum genap berusia 23 tahun. Sahabat karib Erling Braut Haaland ini masih punya banyak ruang dan kesempatan untuk berkembang.

Namun pertanyaannya, apakah publik akan sabar menunggu performa Jens Petter Hauge meledak?
***
Referensi: RepublicWorld, SempreMilan, Transfermarkt, Fotmob, Bulinews, Bulinews.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru