Jika seorang suami yang zalim terhadap istrinya, itu sudah sering terjadi. Namun, soal klub sepakbola yang menzalimi pemainnya sendiri, barangkali baru Barcelona yang melakukan hal itu. Eits, santai dulu, jangan keburu nafsu untuk mencaci maki Blaugrana.
Mari ketahui dulu duduk perkaranya. Barcelona sedang dalam kondisi krisis finansial. Beberapa laporan menyebut, utang klub Catalan itu menyentuh angka 1 miliar dolar atau Rp14,9 triliun rupiah. Jumlah yang sangat fantastis.
Akan tetapi, walaupun utangnya sebanyak itu, Barcelona masih bisa ngosak-ngasik di bursa transfer. Bahkan mereka bisa menikung dengan mudah Chelsea yang baru kedatangan bos baru. Raphinha, Jules Kounde, sampai tentu saja Robert Lewandowski adalah pemain-pemain yang didatangkan Blaugrana.
Tentu saja untuk mendatangkan pemain-pemain tadi, Barcelona harus menggelontorkan duit yang tidak sedikit. Well, selain itu Barca juga mendatangkan Andreas Christensen dan Franck Kessie. Keduanya datang tanpa biaya. Namun, berbiaya atau tidak, mendatangkan pemain, terutama saat klub belum sembuh betul dari krisis adalah tindakan yang kurang bisa dinalar.
Daftar Isi
Cari-Cari Dana
Dalam sebuah laporan di The Athletic, pada Agustus 2021, Presiden Barcelona, Juan Laporta menyampaikan, utang tim Catalan ternyata mencapai 1,35 miliar euro atau 1,38 miliar dolar. Nah, jika dirupiahkan, berarti utang Barcelona tersebut menyentuh angka sekitar Rp20,5 triliun.
Barcelona juga sedang terjerat utang berupa gaji pemain. Banyak pemain Blaugrana yang masih ditunggak gajinya. Dalam sebuah laporan yang dihimpun Box2Box Football, menyebutkan bahwa batas gaji Barcelona minus 144 juta euro (Rp2,1 triliun). Sekali lagi, batas gaji mereka minus.
— Box2Box Football Podcast (@Box2BoxBola) July 14, 2022
Mau tidak mau, dengan utang yang menggunung itu, Barcelona harus mencari siasat untuk melepaskan diri. Salah satunya mencari sumber dana segar. Untungnya, Spotify sepakat untuk menjalin kerja sama dengan Blaugrana. Meski konsekuensinya nama Camp Nou harus ditambahi Spotify, tapi Barcelona paling tidak mendapat dana segar 280 juta euro (Rp4,2 triliun).
Selain itu, Barcelona juga mencari dana lain lagi. Dalam laporan The Athletic, Barcelona mencoba untuk mendapatkan kesapakatan hak siar. Jaminannya, mereka bisa tampil di Liga Champions. Namun, dalam laporan tersebut menyebutkan bahwa tidak mudah mendapat hak siar.
Apalagi untuk proyek jangka panjang. Sebab tidak ada jaminan Barcelona akan tetap bermain di Liga Champions beberapa musim mendatang. Namun begitu, toh Barcelona ternyata berhasil mengikat kerja sama dengan pemodal Amerika, Sixth Street senilai 207,5 juta euro (Rp3,1 triliun).
Kesapakatan itu juga bukan tanpa resiko. Karena dengan itu, Barcelona akan menyerahkan 10 persen pendapatan hak siar televisi La Liga kepada pemodal tersebut. Namun, sepertinya itu tidak menjadi soal. Karena Blaugrana memang punya rencana menjual 15 persen lisensi penjualan hak siar, dan 49,9 persen untuk perusahaan pemasaran.
Memotong Gaji Pemain
Piciknya, meski sudah mendapat gelontoran dana yang tidak sedikit, Barcelona masih saja mengurangi gaji para pemainnya. Dilaporkan Mundodeportivo sebagaimana juga dikutip Republic World, Barcelona meminta kepada para pemainnya untuk dipotong gajinya 50 persen.
Adapun pemain yang bakal kena imbas pemotongan gaji, antara lain Ansu Fati, Pedri, Araujo, Sergio Busquets, Gerard Piqué, Frenkie De Jong sampai Jordi Alba. Tentu saja tidak menutup kemungkinan ada nama-nama lain yang juga dipotong gajinya.
Daftar gaji skuad Barcelona saat ini, semuanya akan diminta untuk potong gaji 50% kalo gamau silahkan minggat. ✂️💰
*Kecuali Araujo, Pedri dan Ansu Fati karena mereka baru menandatangani perpanjangan kontrak + pemain yang didatangkan Januari kemarin. pic.twitter.com/5vZhkVHCOU
— Extra Time Indonesia (@idextratime) June 3, 2022
Betul memang, Barcelona mesti mengumpulkan duit banyak. Laporan Radio Catalunya menyebut, Barcelona setidaknya membutuhkan dana sekitar 590 juta euro (Rp8,9 triliun) untuk selamat dari krisis. Namun, apakah harus dengan memotong gaji pemain, bahkan sampai 50 persen?
Tiga pemain senior Barcelona bahkan telah menyatakan menolak pemotonan gaji tersebut. Dilansir 90 Minutes, Sergio Busquets, Jordi Alba, dan Gerard Pique terus terang menolak andai gajinya dipotong. Kendati nama lain seperti Sergi Roberto tidak keberatan kalau gajinya dipotong, tapi penolakan dari pemain senior menunjukkan langkah yang ditempuh Blaugrana kacau.
Enggan Bayar Gaji Pemain
Penolakan pemotongan gaji dari para senior hanya membuat Juan Laporta bergeming. Ia sepertinya tidak mau peduli soal hal itu. Apalagi, alih-alih mencari solusi yang sama-sama enak, Laporta justru mengungkit-ungkit bahwa ujung masalah ini adalah presiden Bartomeu.
Tentu itu tidak salah, tapi apa mau seperti itu terus? Lebih lucu lagi, selain memangkas gaji pemain, Barcelona juga dikabarkan enggan membayar gaji pemain-pemainnya. Lah, coba gimana itu? Contoh kasusnya bisa kita lihat pada Frenkie De Jong.
Manchester United are ready to pay Barcelona’s €20 million salary cap debt to Frenkie de Jong. The weekly salary that they are considering offering to the Dutch midfielder is 550 thousand euros. (Daily Mail) pic.twitter.com/KDCsltxldU
— 1xbet Registration PROMO CODE : 2775 (@1xbet_Register) August 1, 2022
Pemain incaran Manchester United itu masih ditunggak gajinya oleh Barcelona. Utang Barcelona ke De Jong mencapai 20 juta euro (Rp304 miliar). Sementara, jika hengkang, De Jong ingin Barcelona membayar utangnya. Tetapi Barcelona tidak peduli.
Bahkan, Barcelona seolah memanfaatkan situasi De Jong. Ia yang tidak menemui kata sepakat dengan Manchester United, justru membuat Barcelona leluasa untuk tidak memedulikan utangnya pada sang pemain. Malah De Jong yang menyatakan masih ingin bertahan, dimanfaatkan Barca dengan menyodorkan pemotongan gaji.
Legenda Manchester United, Gary Neville mengatakan, itu adalah tindakan intimidatif. Barcelona, kata Gary Neville, tidak bisa semena-mena pada De Jong. Karena kelakuan semacam itu, menurut Neville, bisa dituntut.
Situasi Braithwaite
Situasi yang masih belum sepenuhnya keluar dari krisis, membuat Barcelona juga harus merampingkan skuadnya. Salah satu korbannya adalah Martin Braithwaite. Oke, sampai sini kesampingkan dulu soal betapa bapuknya Lord Braithwaite.
Mari sekali-kali kita menaruh empati pada Braithwaite. Pemain Denmark itu kini situasinya di Barcelona sedang sulit. Ia diminta angkat kaki, tapi Braithwaite menolak. Wajar kalau lord menolak, karena toh kontraknya baru akan habis 2024 mendatang.
Apalagi Barcelona tidak sudi membayar kompensasi pada Braithwaite. Dilaporkan Sport, Braithwaite menolak tunduk pada keputusan klub yang ingin menjualnya. Ia ogah mendapat pengurangan atau bahkan penghapusan gajinya. Braithwaite teguh pendiriannya.
🚨 Martin Braithwaite is refusing to leave Barcelona unless they pay him every last euro of his contract. Either Barça pays off his salary and releases him, or another team matches his wages.
(Source: @mundodeportivo) pic.twitter.com/bk73MfUhIs
— Transfer News Live (@DeadlineDayLive) August 3, 2022
Jika Barcelona hendak menyingkirkannya, Braithwaite akan menuntut gaji penuh selama dua musim sesuai kontrak, yaitu sejumlah 8 juta euro (Rp121 miliar). Akan tetapi, Barcelona justru hanya memberikan semacam maklumat kepada Braithwaite. Dalam sebuah klausul, Barcelona membebaskan mantan pemain Middlesbrough itu pergi ke mana pun.
Tentu Braithwaite menolaknya. Ini adalah pemaksaan, dan ia tidak mau pergi begitu saja tanpa kehilangan sepeser pun gajinya. Ia tahu, bahwa kedatangan Lewandowski dan Raphinha mengancam posisinya. Maka, tidak masalah andai Braithwaite menuntut haknya, utamanya agar Blaugrana tidak melepeh dirinya begitu saja.
Braithwaite sampai meyakinkan Xavi, bahwa dirinya akan bisa bersaing untuk menempati tim. Namun, Barcelona tampaknya pelan-pelan sudah menyingkirkan Braithwaite. Ia bahkan tidak dibawa saat tur pramusim di Amerika. Lucunya, Barcelona juga terbuka untuk meminjamkan Braithwate. Asalkan, bukan mereka yang membayar gajinya.
Sumber: The18, RepublicWorld, TheAthletic, AllFootballApp, Goal, DailyMail


