Piala AFF U-19 memang sudah berakhir. Tapi dramanya masih berlanjut. Indonesia, melalui PSSI yang memang hobi berlakon layaknya artis opera sabun, mempermasalahkan laga Vietnam kontra Thailand. Kendati itu juga karena netizen Indonesia banyak yang melancarkan protes.
Pertandingan antara Vietnam vs Thailand diduga terdapat unsur pengaturan skor. Melalui Ketua Umum, baginda Mochamad Iriawan alias Iwan Bule, pada 12 Juli 2022, PSSI melancarkan protes ke AFF terkait pertandingan tersebut.
Dari hasil rapat kemarin, surat protes resmi akan saya dan @PSSI kirimkan hari ini ke AFF. Kami harap AFF melakukan tindakan tegas dengan menggelar investigasi apakah terjadi match fixing di pertandingan Thailand vs Vietnam.#IwanBule #PSSI #TrustTheProcess #KitaGaruda pic.twitter.com/0CQxFCF2PX
— Mochamad Iriawan (Iwan Bule) (@iriawan84) July 12, 2022
PSSI menduga ada unsur match fixing pada matchday pamungkas Piala AFF U-19 2022 Grup A. Di mana Thailand dan Vietnam diduga memilih bermain imbang 1-1. Karena hanya dengan itu, mereka bisa lolos ke semifinal.
Kenyataannya Vietnam dan Thailand memang lolos. Indonesia yang berhasil membantai Myanmar 5-1 harus rela tak lolos ke semifinal. Kendati begitu, lucunya tidak ada satu pun di antara Vietnam atau Thailand yang melenggang ke partai final. Ini sebuah ironi.
Terlepas dari itu, dan terlepas dari ironi PSSI yang malah berlagak seperti maling teriak maling, kejadian itu justru berbuntut panjang. Entah dapat wangsit dari mana, netizen malah mendesak Indonesia keluar dari konfederasi AFF.
Ini tentu lebih konyol lagi. Selain tak tahu diri, keluar dari AFF hanya karena dugaan match fixing adalah tindakan pengecut dan tak masuk akal. Mengapa sih kok sampai ingin keluar AFF segala? Padahal seharusnya Indonesia tak perlu ngotot keluar dari AFF.
Daftar Isi
Makin Sulit Dapat Trofi
Ada banyak alasan mengapa rencana agar Indonesia keluar dari AFF seperti rencana anak-anak TK yang ingin darmawisata ke Mars. Karena Timnas Indonesia justru akan makin kesulitan mendapat trofi. Sekalipun itu sekelas trofi konfederasi.
Banyak yang mengira, ketika keluar dari AFF dan bergabung ke konfederasi sepakbola Asia Timur atau EAFF sebagaimana diberitakan, Indonesia akan bisa lebih fokus untuk kompetisi di Asia. Padahal yang terjadi justru lebih parah. Indonesia bakal kesulitan merengkuh trofi.
Ini bukannya menakuti-nakuti atau meremehkan sepakbola Indonesia. Tapi mari kita realistis saja. Indonesia yang menjadi founding father Piala AFF yang dulu Piala Tiger, itu pun belum pernah mencicipi rasanya juara. Lupakan soal Indonesia yang pernah juara di level kelompok umur.
22 September 2013 atau 9 tahun lalu, timnas Indonesia U19 memberikan senyum sekaligus tangis haru bagi para pecinta Garuda.
Bagaimana tidak, ketika senior gagal meraih gelar, Evan Dimas dkk sukses mempersembahkan gelar di ajang Piala AFF U19 2013. #TimnasDay #MC pic.twitter.com/83xyIdhMwn
— MedioClubID (@medioclubID) July 2, 2022
Kita bicara di level senior. Untuk kancah Asia Tenggara saja, Indonesia tidak mampu berbicara banyak. Yang begini mau pindah ke konfederasi lain? Alih-alih menoreh prestasi, Timnas Indonesia bakal makin sering dicaci maki.
Lawan-lawan di konfederasi di luar AFF, tentu memiliki level permainan yang berbeda. Di Asia Timur misalnya, yang dikabarkan terbuka pada Indonesia. Negara-negara di Asia Timur bukanlah negara-negara yang enteng dikalahkan.
Benar bahwa Evan Dimas CS pernah mengalahkan Korea Selatan di GBK. Tapi secara holistik, kekuatan Timnas Indonesia masih sangat jauh daripada Timnas Korea Selatan. Negara-negara di EAFF adalah negara kuat dalam sepakbola.
Selain ada dua Korea di sana, ada pula Jepang dan China. Yakin Indonesia mampu menangani negara-negara tadi? Betul bahwa dengan keluar dari AFF dan bergabung ke EAFF , Indonesia akan lebih sering bermain melawan tim kuat. Tapi hanya itu. Soal trofi ya makin sulit.
Pemain Sulit Mendapat Sorotan
Tak dapat dipungkiri, kompetisi di Asia Tenggara memang jadi magnet tersendiri. Bukan cuma media lokal, media di luar Asia Tenggara pun beberapa kali kerap meramaikan lantai dansa. Maka, banyak talenta dari negara Asia Tenggara mendapat sorotan.
Begitu pula para pemain Indonesia. Banyak pemain Indonesia yang mendapat sorotan ketika tampil di Piala AFF, berapa pun kelompok umurnya. Witan Sulaeman, Egy Maulana Vikri, Asnawi Mangkualam, sampai Pratama Arhan adalah contoh nyata.
🏆 The GOAL #NXGN Award for Young Player of the Tournament goes to…
🇮🇩 Pratama Arhan!
#AFFSuzukiCup2020 | #RivalriesNeverDie | @Goal_Asia_ pic.twitter.com/6qxDknc2P5— AFF Mitsubishi Electric Cup (@affmecup) January 1, 2022
Bayangkan kalau Indonesia tidak lagi bergabung di AFF! Pemain-pemain ibu pertiwi apakah bisa semudah itu mendapat sorotan? Belum tentu. Jika Timnas Indonesia bermain di kompetisi EAFF misalnya. Tentu mereka harus bersaing dengan bibit-bibit unggul dari negara lain.
Tidak ada jaminan ketika bermain di EAFF , para punggawa Timnas Indonesia bakal menerima sorotan. Terlebih bakat-bakat di negara seperti Korea Selatan dan Jepang jauh lebih bersinar.
Hal ini akan berbeda kalau Indonesia tetap di AFF. Karena sudah terbukti, tanpa harus menghadapi tim sekuat Jepang maupun Korea Selatan, bakat hebat Indonesia juga sudah tercium sampai ke Eropa.
Pemain Sulit Berkembang
Selain akan sulit mendapat sorotan, pemain Indonesia juga berpotensi sulit berkembang andaikata keluar dari AFF. Faktornya banyak sekali, terutama pemain yang mesti beradaptasi dengan konfederasi baru. Butuh proses dalam beradaptasi itu.
Sekali lagi, tidak ada tendensi untuk meremehkan kemampuan pemain Indonesia. Hanya saja dari segi skuad, Indonesia kalah. Skuad B dari Timnas Jepang dan Timnas Korea Selatan saja, sejatinya jauh lebih kuat dari skuad utama Timnas Indonesia.
Salah satu pengamat sepakbola tanah air, Kusnaini atau akrab disapa Bung Kus juga berkomentar bahwa jika Indonesia keluar dari AFF bakal merugikan Indonesia sendiri. Dilansir JPNN, Bung Kus mengatakan jika keluar dari AFF, Indonesia akan kehilangan kesempatan berkompetisi di usia muda.
Bung Kus mengatakan, kompetisi usia muda AFF jenjangnya sangat lengkap. Mulai dari U-16, U-19, U-23, sampai level senior. Sementara, jika di luar AFF kompetisi berjenjang belum tentu ada. Yang pasti ada, kompetisi berjenjang di level konfederasi Asia atau AFC.
Berikut hasil undian Piala AFF Indonesia 2022 untuk kelompok umur U-16 Putra, U-19 Putra, dan U-18 Putri.
[Selanjutnya]⬇️ pic.twitter.com/GchDT1UL9l
— Sport77 Official (@Sport77Official) June 9, 2022
Merepotkan Penggemar
Kalaupun di luar Asia Tenggara juga memiliki kompetisi berjenjang, itu tidak lantas baik bagi Timnas Indonesia. Apalagi posisi geografis Indonesia yang jauh dari induk benua Asia. Jika Indonesia keluar dari AFF dan bergabung ke EAFF, itu akan sangat menyulitkan.
Bung Kus mengatakan, Indonesia bakal sangat kesulitan ketika ingin mengikuti kompetisi Asia Timur di level kelompok umur. Jarak yang jauh membuat ongkos makin mahal. Apalagi, Bung Kus mengatakan, untuk Timnas Indonesia kelompok umur masih sepi sponsor.
Jarak yang jauh juga membuat penggemar Timnas Indonesia yang ingin menonton laga di luar Indonesia repot. Mereka harus melakukan perjalanan jauh, misalnya ketika Indonesia tandang ke Korea Selatan di kompetisi bergengsi EAFF. Ongkosnya sudah pasti akan lebih mahal.
Oleh sebab itu, bukan tidak mungkin kalau pendukung Timnas Indonesia yang hadir di stadion akan berkurang, terutama di laga tandang. Padahal Indonesia punya basis penggemar yang besar dan militan. Sejauh ini, ketika Indonesia bertandang ke negara tetangga di Asia Tenggara, banyak penggemar yang turut menyemut di stadion.
Terimakasih juga untuk supporter yang mendukung langsung Timnas Indonesia di Stadion Nasional Singapura! 👏🙌🇮🇩#AFFSuzukiCup2020 pic.twitter.com/1Bp9OU5A9i
— MUFCREVOLUTION 🇮🇩 (@mufcrevolutiion) January 1, 2022
Disegani di Asia Tenggara
Percaya atau tidak, Indonesia adalah negara yang disegani di Asia Tenggara. Konon katanya juga pernah disebut “Macan Asia”. Ya meskipun barangkali julukan itu datang dari warga Indonesia sendiri. Namun, dari segi sejarah, Indonesia memang pelopor sepakbola di Asia Tenggara.
Jadi wajar kalau ia disegani. Timnas Indonesia juga beberapa kali sering menaklukkan tim-tim kuat di Asia Tenggara maupun yang bukan dari sana. Timnas Indonesia menjadi salah satu tim elit di Asia Tenggara. Walau sekali lagi, belum mampu juara AFF di level senior.
Timnas Indonesia masih minim prestasi dlm beberapa tahun terakhir. Namun, Indonesia pernah dijuluki Macan Asia di masa lalu karena punya pemain2 yg telah jadi legenda saat ini
Siapa saja mereka? Simak di #ProgramFolback #TimPadiKapas #IndoPromoter berikut.
Saling Follow Yuk…. pic.twitter.com/DWD9fL239M
— #JagaJarakAman (@CintaNegeri_ID) February 21, 2020
Jika keluar dari AFF, rakyat Indonesia makin sulit untuk berbangga hati sebagai “negara paling disegani di Asia Tenggara”. Alih-alih disegani, kalau Indonesia keluar dari AFF dan bergabung ke konfederasi lain seperti EAFF, justru kemungkinan jadi lumbung gol makin terbuka.
Semestinya, ketika AFF U-19 sudah selesai, ya tuntas pula urusannya. Tidak perlu memperuncing masalah sampai ingin keluar dari AFF. Sebab alih-alih berfaedah, keluar dari AFF justru lebih banyak mudaratnya. Untung saja, PSSI waras dengan tidak serius menindaklanjuti desakan keluar dari AFF.
https://youtu.be/699z_GHcsp4


