Cara Klub Membujuk Pemain dalam Bursa Transfer

spot_img

Transfer sangat urgen dalam sepakbola. Ini menjadi komponen utama bagi klub-klub untuk menukarkan uang mereka dengan seorang pemain. Pembentukan klub bahkan tidak jarang dimulai dari bursa transfer.

Klub akan mencari pemain yang sesuai dengan visinya. Pemain yang bisa mengangkat performa tim. Jika tim itu sedang lusuh, bisa membuatnya jadi rapi kembali. Transfer juga jadi kesempatan pelatih untuk mencari pemain yang ia inginkan, terutama ketika misalnya ada pos dalam skemanya yang perlu ditambal.

Tapi esensi transfer itu bukan cuma perkara menjual dan membeli. Jika ada pemain yang masih diinginkan, klub wajib mempertahankannya. Jadi yang mesti dilakukan suatu klub dalam bursa transfer adalah membujuk pemain.

Bagi yang ingin membeli berarti membujuk pemain agar mau merapat. Kemudian kalau ingin si pemain tetap bertahan dari segala godaan transfer, maka yang mesti klub lakukan adalah membujuknya supaya mau bertahan.

Kenapa ini harus? Ya karena kalau tanpa membujuk bagaimana mungkin sebuah klub bisa mendapat pemain yang mereka inginkan? Well, ada banyak cara yang dilakukan klub untuk membujuk pemain dalam bursa transfer. Apa saja cara-cara tersebut?

Pemantauan

Setiap klub tidak akan pernah sukses dalam bursa transfer kalau tidak melakukan pemantauan. Ini serius. Karena tanpa memantau, klub tidak akan tahu kualitas pemain seperti apa. Lebih dari itu, klub juga mustahil paham mana pemain yang layak merapat, mana pula yang layak hengkang.

Seorang pemandu bakat yang pernah bekerja untuk Celtic, Neil McGuiness dalam tulisannya di Bleacherreport menyebut ada beberapa fase sebelum seorang pemain ini tanda tangan. Dan salah satunya adalah menyaksikan pemain langsung di lapangan.

Hal itu dilakukan untuk memantau pemain. Biasanya yang dipantau bukan sekadar ketika sang pemain sedang bertanding, melainkan saat pemain tersebut sedang menjalani sesi pemanasan. Karena di sini seorang pemandu bakat bisa melihat bagaimana fokus dari si pemain.

Apakah si pemain ini berkonsentrasi dalam latihan atau tidak? Jangan-jangan ketika sesi latihan si pemain hanya main-main saja. Aspek-aspek kecil semacam itu saja mesti diperhatikan. Dari pemantauan pula, klub bisa melakukan identifikasi terhadap pemain.

Identifikasi pemain ini sangat krusial. Suatu klub mesti melakukannya jika ia mengincar seorang pemain. Mereka harus tahu pemain yang diincar itu cocok dengan tim atau sebenarnya tidak. Jadi klub tidak hanya membeli sekadar membeli, atau sekadar menghabiskan uang.

Negosiasi Harga

Baru setelah memantau dan memastikan pemain sungguh-sungguh dibutuhkan, maka langkah selanjutnya adalah melakukan negosiasi harga. Klub yang menginginkan seorang pemain umumnya akan menawar atau istilahnya melakukan “bid” ke klub si empunya pemain.

Nah, negosiasi ini adalah cara untuk membujuk pemain agar mau bergabung. Dalam dunia media, cerita transfer mengenai negosiasi ini biasanya digambarkan dengan kata “diskusi lanjutan”, “pembicaraan sedang berlangsung”, “persyaratan pribadi”, dan macam-macam.

Biasanya pertemuan saat negosiasi ini berlangsung singkat. Misalnya, Manchester United menginginkan Frankie de Jong lalu mereka melakukan tawaran 60 juta euro (Rp922,6 miliar). Lalu Barcelona, sebagai klubnya De Jong sekarang hanya akan melepas sang pemain dengan harga 100 juta euro (Rp1,5 triliun).

Nah, jika Setan Merah ngebet mendatangkan Frankie de Jong, mereka akan membujuknya dengan menaikkan tawaran. Sementara dari Barcelona sendiri jika ingin mengamankan De Jong, bisa tetap di angka semula. Tapi kalau ternyata Barcelona butuh duit dan menurunkan harganya itu urusan lain.

Kelihatannya hal semacam ini hanya berkaitan dengan klub saja. Tapi negosiasi harga juga sangat mempengaruhi transfer. Pemain mungkin menolak, tapi kalau sudah deal ceritanya bisa menjadi lain.

Koneksi

Andai pemain masih saja menolak, meski negosiasi harga sudah sampai ke kata “sepakat”, klub biasanya akan mencari cara lain agar si pemain tetap mau pergi atau bertahan. Salah satunya dengan mengandalkan koneksi. Klub biasanya akan memanfaatkan orang-orang terdekat dari si pemain.

Soal contoh, kamu bisa melihat bagaimana mudahnya Manchester City mendapatkan Erling Haaland. City bisa memenangi persaingan perebutan Haaland dari tim-tim top Eropa lainnya ya karena koneksi. The Citizen mengandalkan status ayah Haaland, Alf-Inge Haaland yang mantan pemain Manchester City.

Alf-Inge Haaland yang menghabiskan dua tahun bersama Manchester City, untuk kemudian pensiun karena serangkaian masalah lutut menjadi kunci kepindahan Haaland ke City. Menurut beberapa laporan, termasuk dari Manchester Evening News, bahwa Alf-Inge lah sosok yang membujuk Haaland agar mau merapat ke Manchester City.

Musim lalu, ketika Manchester United memulangkan Cristiano Ronaldo juga tak lepas dari cara ini. Ronaldo kabarnya hampir merapat ke rival, Manchester City, tapi nggak jadi karena Sir Alex Ferguson, mantan manajer MU dan orang yang dekat dengan Ronaldo membujuknya.

Penyadapan

Langkah lain untuk membujuk pemain adalah melakukan penyadapan atau dalam istilah bekennya “tapping up”. Atau dalam istilah lainnya “transaksi di bawah meja”. Dengan kata lain, penyadapan adalah membujuk pemain untuk pindah klub tapi tidak melalui jalur resmi klub terlebih dahulu.

Tentu penyadapan pemain semacam ini tidak diizinkan secara hukum. Ada regulasi yang melarang hal itu. Akan tetapi, mempermainkan hukum memang sudah mendarah daging pada diri manusia. Dalam sepakbola Eropa yang konon maju itu pun tak lepas dari patgulipat.

Apalagi pelanggaran semacam itu memang lumayan sulit untuk ditegakkan oleh pihak berwenang. Jadinya ya seperti wajar saja terjadi. Belum lagi penyadapan ini ada di jalur abu-abu.

Kita tidak bisa melihat sebuah penyadapan. Yang publik tahu pemain diumumkan, selesai sudah. Padahal di belakang keputusan resmi terdapat gerakan tangan di bawah meja. Biasanya yang melakukan ini adalah agen dan pemain.

Ada banyak contoh. Ketika Barcelona mendatangkan Luis Suarez dari Liverpool pada 2014, Blaugrana mendekati Suarez terlebih dahulu. Itu terjadi persis sebelum Piala Dunia 2014. Mantan Presiden Barcelona, Josep Maria Bartomeu bahkan membenarkan hal itu.

“Kami mendekati Suarez. Mengatakan padanya bahwa dia berada di usia yang tepat. Dia punya pengalaman dan bermain sangat baik di Liverpool, dan itu adalah waktu yang tepat baginya untuk bergabung ke klub kami,” kata Bartomeu seperti dikutip Goal.

Liverpool sendiri juga pernah melakukan itu ketika mendatangkan Virgil Van Dijk dari Southampton pada 2017. Cara picik itu bahkan mendapat kecaman publik. Tapi sayang kasus ini tak berlanjut. Liverpool tak mendapat hukuman dan hanya meminta maaf.

Klausul Tertentu

Cara terakhir adalah menerapkan klausul tertentu pada pemain. Ini bisa digunakan untuk membujuk pemain supaya bergabung maupun bertahan dan tidak lepas begitu saja. Masih ingat bagaimana Chelsea menjual Tammy Abraham ke AS Roma?

Betapa cerdiknya The Blues menaruh klausul “buy back” pada penjualan Tammy. Artinya jika Giallorossi menjual Tammy kembali, Chelsea berhak membelinya lagi, tentu dengan nominal yang sudah ditentukan di awal. Soal Tammy Abraham, nominal buy back-nya 80 juta euro (Rp1,2 triliun) atau dua kali lipat dari harga jualnya ke Roma.

PSG juga pernah melakukan hal serupa. Les Parisiens menghalangi Mbappe supaya tidak pergi dengan klausul khusus. Selain gaji yang tinggi, dalam klausul perpanjangan kontraknya, menurut beberapa laporan, kabarnya Mbappe akan berpengaruh dalam memutuskan pemain yang bakal datang dan pergi.

Selain cara-cara tadi, ada satu faktor lain dalam membujuk pemain. Biasanya klub akan mengandalkan capaiannya. Misal klub yang bakal main di Liga Champions akan lebih mudah membujuk pemain, daripada klub yang bermain di Liga Eropa atau Liga Konferensi. Itulah mengapa MU hanya bisa mengandalkan keajaiban untuk bisa mendatangkan Frankie de Jong.

https://youtu.be/FTjc0IqeuNw

Sumber referensi: Mirror, SI, Bolanet

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru