Sebelum pertandingan melawan Timnas Jerman, pelatih Timnas Inggris, Gareth Southgate mengatakan kalau Inggris harus belajar dari Jerman. Southgate juga mengakui bahwa kekuatan Timnas Jerman cenderung konsisten. Ia juga tak segan mengakui bila Jerman masih jadi tolok ukur tim nasional mana pun.
Dalam titik tertentu, omongan Southgate itu tidaklah keliru. Der Panzer yang pernah meraih Piala Dunia 2014 bisa dibilang tim nasional terkuat. Tapi Southgate mungkin tidak melihat bahwa Timnas Jerman mulai surut.
Di ujung masa kepelatihannya, Joachim Low yang sudah menekuni Der Panzer selama 15 tahun justru menyisakan cerita buruk. Jerman berjalan sempoyongan dengan mengalami kegagalan di EURO 2020. Der Panzer hanya sampai babak 16 besar. Ketika bertemu Inggris, mereka takluk 2-0.
Daftar Isi
Penunjukkan Hansi Flick
Setelah tak ditangani Joachim Low, Timnas Jerman menunjuk Hans-Dieter Flick alias Hansi Flick. Penunjukkan eks pemain dan pelatih Bayern Munchen ini memang bertujuan untuk merestrukturisasi Timnas Jerman yang berjalan seperti orang mabuk.
Dengan modal optimisme, kedatangan Flick awalnya menciptakan harapan besar. Saat ditunjuk jadi pelatih, Flick mengatakan bahwa ia ingin membawa Jerman kembali ke puncak dunia, seperti apa yang ia lakukan tatkala jadi asisten Low saat Jerman juara Piala Dunia 2014.
Buah taktik Flick menunjukkan hasil positif. Beberapa kali Timnas Jerman menghabisi lawan-lawannya. Yang paling mencolok adalah ketika Jerman melakoni kualifikasi Piala Dunia. Der Panzer menikam beberapa tim kecil seperti Liechtenstein, Islandia, sampai Armenia.
Progres yang dilakukan Flick tampaknya jelas. Ia yang memiliki filosofi bermain ala Jerman tak kesulitan untuk adaptasi. Apalagi kendali penuh berada di tangannya. Salah satunya soal pemilihan pemain.
🎙️ Hansi Flick: “Of course we are all excited to get underway. You could see during training today that everyone is extremely motivated. It won’t be easy for us coaches to decide who will play.”#DieMannschaft #ITAGER pic.twitter.com/ZwiHrWAY43
— Germany (@DFB_Team_EN) June 3, 2022
Mengembalikan DNA Munchen
Status Hansi Flick yang mantan pemain dan pelatih Bayern Munchen sulit terhindarkan. Maka dari itu, tak aneh apabila mengenai pemilihan pemain, Hansi Flick lebih banyak memanggil pemain yang bermain di Bayern Munchen.
Itu tidaklah aneh di Timnas Jerman. Karena pada era 70-an, Timnas Jerman juga kental dengan aroma Bayern Munchen. Dalam setiap edisi kompetisi internasional, pemain Bayern Munchen tak pernah absen mengisi pos-pos di skuad Timnas Jerman.
Hansi Flick pun demikian. Ia digadang-gadang punya misi untuk mengembalikan DNA Munchen ke Timnas Jerman. Flick memulainya dengan mengubah strategi yang awalnya tiga bek menjadi empat bek. Dengan skema 4-2-3-1, di mana skema itu juga ia terapkan ketika Bayern Munchen kampiun di Liga Champions 2020.
Apparently, Hansi Flick will step down as Bayern’s head coach this summer to take charge of the same Bayern Munich players for Germany 😂 pic.twitter.com/Cgg1lyhctT
— Official_Nonso 🔴👹 (@raphnelson_abah) April 15, 2021
Ketika Timnas Jerman ditahan imbang Italia beberapa waktu lalu, Flick membawa tujuh pemain Bayern Munchen. Ini jadi yang pertama kali sejak Piala Dunia 2014. Nama-nama seperti Manuel Neuer, Joshua Kimmich, Niklas Sule, Leon Goretzka, Serge Gnabry, Leroy Sane, Thomas Muller, sampai anak muda Jamal Musiala dibawa.
Bandingkan ketika Jerman dilatih Low pada ajang EURO 2020 kemarin. Hanya ada empat pemain The Bavarians yang memperkuat Jerman. Mereka adalah Neuer, Kimmich, Muller, dan Goretzka. Low lebih memilih memainkan skema 3-4-3 dengan dukungan bek sayap seperti pemain Atalanta, Robin Gosens. Hasilnya? Lunglai.
Progresi Flick
Tampaknya soal pemanggilan pemain, Flick berbeda. Ia terlihat lebih menyukai pemain Bayern Munchen. Mungkin ini terkait karena statusnya. Namun sebenarnya hal ini tidak masalah. Toh Jerman pada akhirnya pelan-pelan bangkit kembali.
Dari 11 pertandingan sampai dengan menghadapi Inggris beberapa hari lalu, Timnas Jerman belum pernah terkalahkan. Dengan 8 kemenangan dan 3 hasil imbang saat menghadapi Netherland, Italia, dan Inggris. Di sisi lain, kendati punya rencana untuk mengembalikan DNA Bayern Munchen, Flick tidak sekonyong-konyong mengabaikan klub lain.
The 100% record under Hansi Flick continues 👍#DieMannschaft #GERROU pic.twitter.com/IPHugnpnpF
— Germany (@DFB_Team_EN) October 8, 2021
Apa yang Flick lakukan adalah untuk Timnas Jerman. Maka dari itu, ia bakal menghubungi beberapa pelatih di tim lain, terutama yang juga melatih pemain Jerman. Flick menghubungi pelatih seperti Thomas Tuchel di Chelsea.
Flick juga menjalin koordinasi dengan Mauricio Pochettino di Paris Saint-Germain dan Pep Guardiola yang menangani Manchester City. Semua ia lakukan untuk memantau perkembangan pemain Jerman di masing-masing klub.
Sekalipun lahir di Jerman, kediktatoran Hitler tak ada dalam diri Flick. Ia mendorong manajer-manajer di Bundesliga untuk memberikan saran taktis bagi tim nasional. Frank Kramer, mantan manajer Arminia Bielefeld, sebuah klub Jerman yang tak memiliki pemain Timnas Jerman, pernah mengatakan bahwa Flick mengizinkan dirinya memberi saran.
Gaya Bermain
Sebelum Flick mengambil kendali, Timnas Jerman di era Joachim Low menunjukkan tanda penurunan. Jerman acap kali kehilangan penguasaan bola. Strategi counter-pressing yang dilakukan Low juga mengalami penurunan drastis, bahkan nyaris tidak ada.
Itulah mengapa Jerman harus takluk atas Makedonia Utara. Namun, Flick mencoba mengubah gaya main yang lebih mirip Timnas Indonesia itu. Mantan manajer Bayern Munchen itu menghapus keragu-raguan di tubuh Timnas Jerman.
Dengan mengadopsi taktiknya di FC Hollywood, Flick menjaga agar pemain Jerman tak berhenti bergerak dan melakukan tekanan terhadap lawan. Flick menuntut tempo permainan yang cepat, progresif, dan intensitas yang tinggi. Ia juga fleksibel menaruh pemain.
Namun, sebelum itu Flick selalu berkoordinasi dengan pelatih sang pemain di klubnya. Misal ketika ia ingin memindahkan peran Leroy Sane dari kanan ke kiri, Flick berbicara dengan Julian Nagelsmann. Itu terbayar ketika Jerman melumat Armenia dan Islandia.
Hansi Flick called Julian Nagelsmann before the game against Köln to ask about Leroy Sané, and didn’t hear much positive from the Bayern coach. Flick is considering leaving Sané out of his first Germany squad that will be announced on Friday [@Sportbuzzer] pic.twitter.com/oaUcdcsVY2
— Bayern & Germany (@iMiaSanMia) August 25, 2021
Waspada Kelelahan
Pola permainan yang mendorong tekanan tinggi dan tempo cepat, mestinya disadari Flick bahwa ini adalah strategi yang beresiko. Apalagi ia lebih banyak berpangku tangan pada pemain Bayern Munchen. Kontan ini membuat para pemain rawan kelelahan.
Belum lagi jika seorang pemain sedang mengalami kemerosotan performa. Terus kalau cedera dan harus absen. Itu sangat merepotkan. Flick mungkin menyadari resiko-resiko tersebut. Sebagian sudah ia lihat di atas lapangan.
Goretzka dan Kimmich tampak kelelahan ketika menghadapi Italia. Kedua pemain baru absen selama berminggu-minggu lantaran cedera dan sakit. Pemain lain, Gnabry membuat gerakan tak jelas dan beberapa kali tak efektif di mulut gawang.
Leroy Sane juga demikian. Posisinya yang bergeser juga tak selamanya nyaman. Apalagi ketika menghadapi tim selevel Gli Azzuri. Pemain senior seperti Thomas Muller juga melakukan hal buruk. Ia selalu berada di posisi yang tepat. Tapi soal umpan dan penyelesaian, Muller layak diberi nilai 0 besar.
Pemain di luar Bayern Munchen seperti Jonas Hofmann dan Thilo Kehrer pun belum sanggup menawarkan peluang untuk maju. Kebutuhan sektor full-back yang dinamis agar Gnabry atau Leroy Sane bisa leluasa menyerang belum terpenuhi oleh Hoffman dan Kehrer.
Benar bahwa di bawah asuhan Flick, Jerman belum terkalahkan. Tapi daya ledak Jerman ketika menghadapi lawan sulit, tak lebih keras dari petasan banting. Buktinya, Der Panzer cuma bisa imbang melawan Belanda, Italia, dan Inggris.
Mesti Andalkan Pemain Muda
Flick bagaimanapun harus mencari alternatif. Selain mulai meninggalkan skema tiga bek dengan formasi andalannya ketika meraih sextuple hebat di Bayern Munchen, Flick perlu mendekati pemain muda. Ia tak perlu khawatir, karena perut Jerman itu sudah melahirkan banyak talenta muda.
Walaupun tak secepat Timnas Inggris, misalnya, Flick masih bisa mempercayakan pemain muda yang baru-baru ini ranum. Seperti yang ia lakukan pada Jamal Musiala.
Dengan kehadiran Musiala, Flick menunjukkan bahwa ia adalah pelatih yang juga percaya pada pemain muda. Tapi untuk membangun Jerman, Flick harus mencari pemain muda lain yang memiliki kualitas dan cocok dengan skemanya.
Alih-alih memasang Havertz di posisi striker nomor “9” dalam skema andalannya, atau dalam skema lain untuk menjadi false nine, Flick bisa mencoba cara dengan mencari pemain muda bertipikal nomor “9”. Karim Adeyemi yang sedang moncer di RB Salzburg bisa jadi opsi.
Hansi Flick masih punya waktu. Ia silakan saja membangun Jerman dengan DNA Die Roten. Apa pun itu agar Der Panzer lekas bangkit. Masih ada banyak pemain yang bisa diberi kesempatan sebelum Piala Dunia digelar.
https://youtu.be/1GbLFjBrRZI
Sumber referensi: TheAthletic, BBC, BFW, BFW, FourFourTwo


