Sebelum PSG dan Manchester City diguyur uang minyak. Jauh sebelum kedua klub itu secara sporadis bergeliat di bursa transfer dengan gelontoran dana yang berlimpah, klub yang baru saja menjuarai Liga Champions, Real Madrid sudah memulainya.
Dulu Real Madrid adalah “guru”-nya kalau soal mendatangkan pemain bintang dengan harga selangit. Pendekatan Galacticos-nya sangat begitu terkenal. Namun, kini di era modern, Real Madrid justru meninggalkan pendekatan itu. Mereka sudah mengubah pendekatan transfer. Mengapa?
Daftar Isi
Sejak Kapan?
Kalau bicara kebijakan Madrid di bursa transfer, sebenarnya mereka punya DNA transfer tersendiri yang dikenal dengan Galacticos. Era Galacticos bersama Presiden Perez pada awal 2000-an dengan Beckham, Zidane, Figo, Ronaldo itu, bukanlah pionir dalam kebijakan Galacticos.
Flashback to 15 years ago when Real Madrid had Ronaldo, Raúl, Zidane, Figo & Beckham in the same team 🔥 pic.twitter.com/aMZCMT3RTz
— ESPN FC (@ESPNFC) August 15, 2018
Pionir aslinya adalah presiden legendaris mereka Santiago Bernabeu. Di bawah kepemimpinan sosok yang diabadikan jadi stadion kebanggaan klub itu, Real Madrid merekrut para bintang dengan harga selangit seperti Alfredo Di Stefano, Ferenc Puskas, sampai Raymond Kopa pada era 1950-an.
🌟 A legendary forward line: Gento defined an era for Real Madrid’s attack alongside Kopa, Rial, Di Stéfano and Puskas.#RealMadrid pic.twitter.com/QFs1eewzr6
— Real Madrid C.F. 🇬🇧🇺🇸 (@realmadriden) January 18, 2022
Kemudian, soal kapan Madrid tak lagi dihinggapi DNA Galacticos? Adalah saat terakhir kali Real Madrid belanja di musim 2016/17. Di mana mereka hanya mendatangkan 1 pemain saja yakni Morata dari Juve yang hanya merogoh kocek 30 juta euro.
Real Madrid tidak lagi masuk jajaran tim boros. Meskipun untuk klub seperti Real Madrid, kebijakan semacam ini dianggap kemunduran. Apalagi El Real sudah terbiasa memecahkan rekor transfer. Namun ini ada baiknya juga, karena Real Madrid jadi hemat pengeluaran.
Misalnya, pengeluaran musim 2016/17 yang hanya untuk transfer Morata, lebih sedikit daripada musim sebelumnya 2015/16 yang menginjak 83,5 juta euro. Hal itu jauh lebih sedikit dari musim sebelumnya, katakanlah musim 2013/14, di mana El Real menghabiskan 174,7 juta euro, termasuk saga transfer Gareth Bale senilai 100 juta euro.
Jika dibandingkan bursa transfer musim 2009/10, perbedaannya bagai langit dan bumi. Saat itu Madrid dianggap mencapai era Los Galacticos Jilid 2 karena uang yang dikeluarkan hampir menembus 261 juta euro. Pada periode tersebut Madrid memboyong beberapa wajah baru ke Bernabeu seperti Ronaldo, Kaka, Xabi Alonso, maupun Benzema berkat kembalinya Florentino Perez ke kursi presiden Real Madrid.
💰 Cristiano Ronaldo – £84.6 million
💰 Kaká – £60.3 million
💰 Karim Benzema – £31.5 million
💰 Xabi Alonso – £31.05 millionReal Madrid C.F.’s 2009 transfer window is undefeated 🔥 pic.twitter.com/nk7U6Uac9F
— GiveMeSport (@GiveMeSport) March 16, 2021
Presiden sebelumnya, Ramon Calderon yang sempat menggantikan Perez pada jilid pertama, juga jor-joran dalam pengeluaran. Sekalipun tak seheboh Galacticos-nya Perez. Selama menjabat tahun 2006-2008, Calderon menghabiskan uang sekitar 220 juta euro. Ia membeli nama-nama seperti Sneijder, Cannavaro, Van Nistelrooy, Higuain, sampai Pepe.
Players in the Picture which Real Madrid signed in the summer of 2006:
Fabio Cannavaro [€7m]
Ruud van Nistelrooy [€15m]
Mahamadou Diarra [€26m]
Emerson Rosa [€16m]
Jose Antonio Reyes [Loan] pic.twitter.com/FmnDs678IU— TheRMadridTV (@TheRMadridTV) August 17, 2021
Barulah Madrid di zaman kepelatihan Zidane mulai jarang belanja. Hal itu disinyalir karena Zidane lebih memilih mempromosikan pemain dari Real Madrid Castilla. Disamping itu karena banyak pemain Madrid yang pulang setelah selesai masa peminjaman.
Zidane since joining Real Madrid on January 4, 2016.
Transfers IN
Morata: 30M
Asensio 5M
Theo 24M
Ceballos 16,5MMariano Mayoral Llorente & Hakimi Free
Total €spend: 70,5M ‼️
Trophies
UCL: 🏆🏆🏆
Liga: 🏆
Club World Cup: 🏆🏆
UEFA Super Cup: 🏆🏆
Spanish Super Cup🏆 pic.twitter.com/Io6GGgjK0k— Feel_My_Bicep😇🤗 (@Dan__Papa) May 31, 2018
Dari 2018/19 sampai sekarang, total yang mereka keluarkan tak seheboh dulu lagi. Meskipun kalau ditotal banyak juga jumlah kocek yang dirogoh Perez seperti membeli Courtois maupun Hazard. Selebihnya banyak berinvestasi pada para pemuda seperti Mendy, Militão, Vinicius, Rodrigo, Jovic maupun Camavinga.
Jadi, apa yang dilakukan sekarang dengan perubahan haluan tentang pendekatan transfernya itu sedikit bertentangan dengan DNA mereka sendiri. Namun, Perez mungkin sudah mulai sadar sekarang.
Dengan beberapa pemain yang sudah ada, serta polesan pelatih yang tepat dan tanpa menghabiskan banyak uang untuk transfer, mereka terbukti berhasil berprestasi. Pertanyaannya sekarang bagi Perez, jika tidak berhasil atau terpuruk? Apakah akan berubah haluan lagi menjadi Galacticos?
Komposisi Masih Kuat
Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi perubahan strategi bertahap dari Madrid dan Perez ini. Pertama, mengingat jumlah talenta yang dikumpulkan Madrid selama beberapa tahun terakhir, banyak dari mereka yang masih kuat. Sebagai contoh era trio gelandang mereka yang tak tau kapan habis masa jayanya yakni Casemiro, Luka Modric dan Toni Kroos.
✅ Gareth Bale
✅ Karim Benzema
✅ Casemiro
✅ Dani Carvajal
✅ Isco
✅ Toni Kroos
✅ Marcelo
✅ Luka ModrićEIGHT of Real Madrid’s current players have won the Champions League five times 🏆🏆🏆🏆🏆 pic.twitter.com/a6jold1T2O
— MailOnline Sport (@MailSport) May 28, 2022
Di depan ada Karim Benzema yang kembali moncer setelah ditinggal para partnernya di trio BBC, yakni Ronaldo dan Bale. Di belakang memang pemain baru, namun keberadaan Nacho dan Carvajal dinilai cukup menjadi mentor. Oleh karena itu, Madrid tidak harus mengejar nama-nama besar yang mapan setiap tahunnya seperti pada dekade-dekade sebelumnya.
Madrid cukup menambal beberapa pos saja untuk keseimbangan tim. Seperti ketika menambal posisi bek dengan kehadiran Alaba maupun Rudiger. Para pemain gratisan ini bisa menjadi opsi manakala situasi keuangan tak menentu.
Pandemi dan Salary Cap
Situasi keuangan pada pandemi covid yang lalu benar-benar memukul beberapa kondisi keuangan klub dengan keras termasuk Madrid. Madrid juga sadar akan aturan Salary Cap. Yang artinya, klub harus membatasi gaji-gaji para pemainnya di klub dan tak sembarangan dalam mendatangkan bintang dengan gaji selangit.
Dari hal itulah, Madrid kini harus jeli memanfaatkan celah agar tidak tersandung masalah Financial Fair Play. Tidak seperti klub-klub “minyak” yang bisa semaunya sendiri dengan segala cara mengakali untuk tidak terkena Financial Fair Play.
Madrid sekarang tidak lagi seperkasa dulu dalam transfer. Madrid sangat efektif, mereka cenderung berinvestasi pada pemain muda dan para pemain muda itu berhasil tumbuh menunjukan prestasinya. Pengecualian pada Eden Hazard yang tak kunjung tumbuh performanya.
Regenerasi Dan Tren Pemain Muda
Sekarang bagi Madrid yang terpenting dalam bursa transfer adalah efektif. Toh, dengan investasi pemuda macam Vinicius, Rodrigo, Militao, Mendy, maupun Camavinga mereka menunjukan peningkatan prestasinya. Hal itu dilakukan sembari proses regenerasi bagi skuad intinya berjalan. Mengingat sebagian besar pondasi kekuatan Madrid secara usia sudah hampir jompo seperti Kroos, Modric, maupun Benzema.
Regenerasi di lini tengah contohnya, tak selamanya Madrid bergantung pada sisa-sisa kekuatan Casemiro, Kroos, dan Modric. Mereka sekarang sadar dan segera menempatkan Camavinga maupun Valverde sebagai penerus. Penguatan regenerasi itu pun akan semakin lengkap jika Tchouameni datang.
🇫🇷 Eduardo Camavinga (19)
🇧🇷 Reinier (20)
🇧🇷 Rodrygo (21)
🇧🇷 Vinicius Junior (21)
🇫🇷 Aurelien Tchouameni (22)😯 Champions League winners Real Madrid want the best talent pic.twitter.com/Ccc2gdpg8K
— WhoScored.com (@WhoScored) May 31, 2022
Trio baru Camavinga, Tchouameni, dan Valverde bisa jadi dijadikan prospek jangka panjang Madrid yang menjanjikan. Di sayap sudah ada Vinicius dan Rodrygo tinggal mencari suksesor Benzema. Di belakang ada Militao, Mendy, Alaba, Courtois yang masih bisa diandalkan.
Belakangan ini memang tren para pemain muda di klub besar kian menjamur. Karena itu Madrid mengikuti cetak biru yang sama. Selain memiliki daya tarik kelas dunia dan trofi untuk diboyong, sejarah Madrid juga memainkan peran penting dalam meyakinkan para pemain muda satang ke Bernabeu. Itulah mengapa Perez mengetahui pentingnya menjaga kebijakan baru ini untuk diteruskan di tahun-tahun mendatang.
Lain dulu, lain sekarang. DNA Galacticos Madrid sudah bermetamorfosa. Kini Madrid meskipun soal uang tak kekurangan, namun dalam kebijakan transfer sudah makin efektif. Dan itu terbukti berhasil mengantarkan prestasi. Madrid dalam kondisi sekarang kalau mau membangun Galacticos jilid 3 pun sih sebenarnya mampu. Namun, jika sudah berprestasi tanpa membangun Los Galacticos, buat apa keluar duit banyak?
https://youtu.be/2UDRCjVohOI
Sumber Referensi : 90min, foottheball, managingmadrid


