Menjadi seorang legenda sepakbola di suatu klub sebetulnya melahirkan kerumitan tersendiri. Rumit karena mau rehat dari dunia sepakbola saja masih punya kans untuk diminta melatih mantan timnya. Boleh jadi ini karena satu klub itu kesulitan mencari manajer atau pelatih yang cocok.
Atau mereka tak mau ambil pusing. Agar filosofi permainan satu tim tetap utuh, mempekerjakan legenda sepakbola sebagai pelatih adalah jalan keluarnya. Namun terkadang, dengan mempekerjakan mantan pemain sebagai pelatih, klub justru harus siap dengan resikonya.
Sebab tak jarang legenda sepakbola yang ditunjuk sebagai pelatih, justru tak becus melatih mantan klubnya. Artinya, mereka hanya sanggup memberikan gelar untuk timnya ketika menjadi pemain, tapi untuk menjadi pelatih, lebih baik nggak dulu. Nah, berikut adalah legenda sepakbola yang gagal melatih mantan timnya.
Daftar Isi
Alan Shearer (Newcastle United 2009)
Boleh jadi, semua orang sepakat bahwa tidak ada legenda Newcastle United yang lebih besar daripada Alan Shearer. Semua orang, tak terkecuali yang bukan fans The Magpies pasti akan sepakat dengan kredo tersebut.
Tapi seorang pemain hebat di sebuah tim, belum tentu hebat pula ketika melatih sekalipun itu timnya. Jadi tidak ada alasan seorang pemain bisa mengembangkan filosofi permainan ke generasi penerus dengan mudah. Dan Alan Shearer adalah contoh nyata.
Alan Shearer ditunjuk pada musim 2008-09. Ketika itu penunjukkan Shearer bermaksud untuk merevitalisasi Newcastle agar selamat dari pertempuran degradasi. Penunjukkan ini juga berawal dari hubungan yang tidak baik antara petinggi klub dan pelatih sebelumnya, Kevin Keegan.
Keegan yang memilih pergi, memaksa Newcastle mencari manajer baru. Orang itu adalah Alan Shearer. Namun, Alan Shearer yang berpengalaman menjadi pemain, justru tidak memiliki kemampuan manajerial yang baik.
Hasilnya Shearer tak mampu menyelamatkan The Magpies dari zona degradasi. Dari 24 poin kemungkinan yang bisa didapat, Alan Shearer hanya menyumbangkan lima poin untuk Newcastle.
⚫️⚪️ On this day in 2009, Alan Shearer was announced as Newcastle United manager:
🏟 8 Games
✅ 1 Win
🤝 2 Draws
❌ 5 Losses🔻 1 Relegation
😤 Great players don’t always make great managers. pic.twitter.com/1JDBeS9fiK
— William Hill (@WilliamHill) April 1, 2022
Clarence Seedorf (AC Milan 2014)
Dua gelar Liga Italia, dua trofi Liga Champions, sampai dua gelar Piala Super Eropa sudah cukup menunjukkan bahwa Clarence Seedorf adalah legenda yang sangat dicintai para milanisti. Perannya di AC Milan juga sangat krusial. Ia termasuk salah satu gelandang terhebat di masanya.
Namun, ketika ia kembali ke Milan dengan status sebagai pelatih ceritanya menjadi lain. Kemampuannya sebagai seorang gelandang tidak mampu ditularkan pada generasinya. Ia termasuk gagal menjadi pelatih.
Sebab Clarence Seedorf hanya sebentar melatih AC Milan. Performa yang buruk membuat Rossoneri akhirnya memecat Seedorf ketika sang legenda baru melatih selama sekitar lima bulan. Selain juga tidak menyumbangkan satu pun trofi selama melatih.
BREAKING: AC Milan have sacked coach Clarence Seedorf and appointed Pippo Inzaghi as their manager until June 2016 pic.twitter.com/brN7YsZDXu
— Transfer HQ (@Transfer__HQ) June 9, 2014
Filippo Inzaghi (AC Milan 2014-15)
Legenda AC Milan lainnya yang juga melatih adalah Filippo Inzaghi. Superpippo adalah salah satu striker terbaik pada masanya. Ia jugalah salah satu pencetak gol dalam kotak penalti terbaik sepanjang masa. Superpippo telah mencetak 300 gol dari kotak enam yard selama kariernya.
Dengan reputasi memperoleh gelar di Venezia dan Benevento selama melatih, Superpippo ditunjuk sebagai pelatih AC Milan. Berharap berada di tangan sang legenda, AC Milan bisa menjadi lebih baik. Sayangnya yang terjadi tidak demikian.
Mantranya sebagai pelatih tidak berhasil. Superpippo gagal mendongkrak kualitas AC Milan. Ia hanya memenangkan 14 pertandingan dari 40 laga saat melatih AC Milan. Ironisnya, Rossoneri di bawah asuhannya hanya sanggup menduduki peringkat 10 di liga domestik.
AC Milan have sacked manager Filippo Inzaghi. AC Milan finished 10th last season in Serie A. pic.twitter.com/myAiuwoa9A
— Squawka (@Squawka) June 16, 2015
Thierry Henry (AS Monaco 2018-19)
Ketika menjadi pemain di AS Monaco, Thierry Henry punya peran krusial membuat klub Monako tersebut menjadi penantang di papan atas Ligue 1. AS Monaco ia bawa hingga ke peringkat 4 Liga Prancis pada musim 1998-99.
Setelah tak lagi menjadi pemain, Henry kembali ke AS Monaco tahun 2018. Ia ditunjuk sebagai pelatih untuk membukakan jalan mantan klubnya itu keluar dari krisis. Salah satunya dalam upaya menyelamatkan AS Monaco dari dasar klasemen.
Tapi Henry buruk dalam melakukan manajerial. Ia gagal mengelola individu di AS Monaco, dan tentu gagal menyelamatkan mereka dari krisis. Henry hanya memenangkan 5 laga dari 20 pertandingan. Ia pun dipecat dan meninggalkan AS Monaco di jurang degradasi.
Aleksandr Golovin on Thierry Henry: “He’d get frustrated with players in training & become abusive. He’d come out & show us how to play then get even angrier & start playing himself ‘take the ball off me’ he’d scream.”
“You could tell he didn’t transition into the manager role.” pic.twitter.com/fJ3goOc6MJ
— Squawka News (@SquawkaNews) April 15, 2019
Frank Lampard (2019-2020)
Frank Lampard menasbihkan diri menjadi salah satu legenda Chelsea yang paling dicintai. Empat trofi Piala FA, tiga kali jawara Liga Inggris, dan satu trofi Liga Champions sudah lebih dari cukup untuk membuktikannya.
Usai pensiun sebagai pemain, kiprah Super Frank berlanjut menjadi pelatih. Ia bahkan mendapat ulasan positif ketika melatih klub Championship, Derby County. Ulasan positif itu kemudian membuat Chelsea, mantan timnya tertarik untuk mempekerjakan Lampard sebagai manajer baru.
Berbekal status legenda, Frank Lampard awalnya disambut dengan senang hati oleh para fans. Ketika melatih, Lampard juga terbilang berhasil mengorbitkan beberapa pemain dari Cobham. Misalnya, Mason Mount sampai Tammy Abraham.
Akan tetapi soal prestasi, Lampard sebagai pelatih tak bisa menyumbang banyak. Betul memang di bawah asuhannya, Chelsea berhasil melaju ke final Piala FA. Namun, satu setengah musim bersama Chelsea sejak 2019, Lampard hanya memenangi 28 laga dari 57 pertandingan yang ia lakoni.
Prestasi terbaiknya membawa Chelsea berada di peringkat 4 pada musim 2019-20, untuk kemudian turun di peringkat 9 pada musim berikutnya. Sebelum digantikan oleh Thomas Tuchel yang juara Liga Champions dan berhasil mendongkrak performa Chelsea.
One year ago today, Frank Lampard was sacked as Chelsea manager 🚫
Good times and bad times, I’m looking forward to see Lampard back in management soon. #CFC pic.twitter.com/KMSRtNNe1C
— Pys (@CFCPys) January 25, 2022
Ole Gunnar Solskjaer (Manchester United 2019-21)
Bagi fans Manchester United, memuja Ole Gunnar Solskjaer bukanlah sesuatu yang berlebihan. Tapi itu dulu ketika Solskjaer menjadi pemain. Ole adalah salah satu pemain yang membawa United meraih treble pada musim 1998-99.
Ketika itu Ole termasuk salah satu supersub terbaik yang dimiliki Setan Merah. Ia juga menjadi penentu pada final Liga Champions saat Manchester United mengalahkan Bayern Munchen.
Ia setelah tak lagi menjadi pemain, kembali ke Old Trafford. Bukan untuk menjadi pemain lagi, bukan pula untuk mengakuisisi United apalagi sekadar menonton. Tapi ia datang untuk menahkodai Setan Merah. Ia menjadi manajer sementara pada tahun 2018 setelah Mourinho dipecat.
Ole kemudian ditunjuk sebagai manajer tetap pada tahun 2019. Dan dari situlah pujian yang dulu mengarah pada Ole, berubah jadi kebencian. Kiprah bagusnya di Molde FK tak bisa lanjut ketika ia melatih Manchester United.
Ia gagal membawa MU keluar dari keterpurukan, setelah hanya mengemasi 56 kemenangan dari 109 pertandingan. Tentu tanpa satu pun trofi yang ia raih.
Get ole out now Asap @manutd 😡😡what is the tactics ?? Whats the gameplan? #OleOutNow #OleOut #ManchesterDerby pic.twitter.com/zi5DdsxkRs
— Sanitm MUFC (@sanit_tam) November 6, 2021
Ronald Koeman (FC Barcelona 2020-2021)
Ronald Koeman adalah legenda Barcelona yang bergelimang prestasi pada masanya. Musim 1991-92 Koeman turut menyumbang gelar Liga Champions untuk Blaugrana. Sementara sang sweeper pernah empat kali juara liga bersama Barcelona.
Pada tahun 2020 ia kembali ke Barcelona. Ronald Koeman ditunjuk sebagai seorang pelatih. Tapi kemampuannya menjaga lini pertahanan Barcelona dulu, gagal ia lakukan ketika menjadi pelatih. Pertahanan Barcelona di bawah kendali Koeman bobol berkali-kali.
Koeman: “I have never thought about myself, I always did things for Barcelona. In the end, in the world you have people for and against you.” pic.twitter.com/zSt59Ex4W5
— Barça Universal (@BarcaUniversal) May 26, 2022
Ia hanya memenangkan 28 laga dari 48 pertandingannya bersama Blaugrana. Di tangan Koeman beberapa pemain, tak terkecuali Lionel Messi mengalami penurunan performa. Barangkali karena itulah ia dipecat, meski pada musim pertamanya Barcelona dibawanya duduk di peringkat 3. Walaupun di musim berikutnya justru turun ke peringkat 9.
https://youtu.be/7iAk4D8LmlU
Sumber referensi: OhMyGoal, FootballTransfers, Mirror, IDNTimes


