Menyambut Kembalinya Nottingham Forest ke Premier League

spot_img

Nottingham Forest terbuat dari kesabaran. Tapi rasa-rasanya agak munafik jika hanya Forest yang disebut demikian. Karena toh, bukan hanya Forest yang punya kesabaran lebih untuk bisa kembali ke level tertinggi dalam sepakbola Inggris.

Namun, rasanya naif juga kalau menyebut Nottingham Forest hanya klub biasa yang selama ini menanti 23 tahun kembali ke Premier League. Jelas Nottingham bukan klub biasa. Lebih dari itu, juara Eropa dua kali adalah klub yang dicintai banyak orang.

Penggemar sepakbola, terutama Inggris pastilah tahu. Nottingham Forest adalah klub yang merajut sejarahnya sebagai salah satu kekuatan Eropa. Namun, mereka tenggelam cukup lama. Dan kembalinya mereka akan sangat menyenangkan, mungkin bagi siapa pun.

Harapan yang Dinanti

Jika kita melempar ingatan pada 23 tahun silam. Tepat ketika Nottingham Forest kali terakhir bermain di ajang Premier League, kita tentu akan paham betapa istimewanya klub ini. Ada banyak peristiwa sejarah yang terjadi pada tahun 1999.

Bill Clinton yang sudah berada di gedung putih. The Backstreet Boys yang berada di puncak tangga lagu pop Inggris dengan “I Want it That Way”. Manchester United menang treble bersejarah. Mata uang euro jadi mata uang tunggal di Uni Eropa. Sampai episode perdana Spongebob Squarepants.

Bagi Nottingham Forest sendiri, kembalinya mereka ke Premier League tidaklah mudah. Forest harus susah payah terlebih dahulu. Sebelumnya, promosi ke Premier League bagi Forest ibarat mimpi seorang raksasa yang tak pernah bangun.

Dalam empat kali percobaan ke Premier League, keempat-empatnya gagal. Lebih parahnya lagi, Nottingham Forest tak pernah melampaui semifinal play-off. Klub-klub seperti Yeovil, Blackpool, Swansea, sampai Sheffield United adalah penjegal paling sialan. Nottingham tak pernah menang dari tim-tim tadi.

Forest beberapa kali mendapat kesempatan untuk kembali ke Premier League. Pada saat itu pula, para fans dibanjiri rasa optimisme yang datang bak tsunami di ujung musim. Bayangkan saja! Betapa rindunya para fans melihat Forest kembali bisa bersua Arsenal, Manchester United, maupun Liverpool.

Namun, itu hanya optimisme sebentar. Karena fans beberapa kali dibuat kecewa lantaran Nottingham Forest kembali menuai kegagalan. Itu beberapa kali terulang. Akan tetapi, akhir cerita selalu sama: berbuah kekecewaan.

Awal yang Buruk

Kita skip cerita bagaimana Nottingham Forest hanya menjadi partisipan di kasta bawah Liga Inggris. Perjalanan Forest sejauh ini memang penuh dengan kesengsaraan. Sebelum mengalahkan Huddersfield dan promosi ke Premier League, Forest telah mengalami masa yang sulit.

Championship musim ini, boleh jadi Championship tersulit yang pernah mereka alami. Forest menginjak awal musim ini dengan terpincang-pincang. Dari awal musim, ancaman degradasi sudah menghantui Forest.

Kekalahan demi kekalahan sukar mereka hindari. Betapa untuk meraih kemenangan saja, bagi The Tricky Trees sangat sulit. Jangankan menang, imbang saja seperti mitos yang sukar terpecahkan.


Forest kalah dari Coventry City. Kalah pula dari Bournemouth dan Blackburn Rovers. Mereka juga harus takluk atas Stoke City. Itu baru sebagian kecil saja kekalahan yang dialami Forest. Dari 8 pertandingan di awal musim, Forest hanya mengumpulkan 4 poin. Hasil dari satu kemenangan dan satu hasil imbang.

Ketidakberesan di awal, tentu jadi pertanda buruk. Dan itu jelas mendatangkan hawa negatif di hati setiap punggawa Nottingham Forest. Kiper mereka, Steve Sutton terus terang menyebut The Reds “statis” dan “lelah”. Ia menganggap Forest telah “kehabisan ide dan energi” setelah dipaksa kalah dari Coventry.

Chris Hughton Si Pengacau

Kegagalan demi kegagalan di awal musim, membuat borok Nottingham Forest menganga. Dan orang yang bertanggung jawab akan hal itu adalah Chris Hughton. Seorang pelatih, yang konon memiliki CV mengkilap, lantaran sukses membawa Newcastle, Norwich, sampai Brighton promosi, ternyata adalah orang yang terkena virus gagal.

Chris Hughton, pada delapan pertandingannya di awal musim mengubah Nottingham Forest menjadi tim dengan selisih gol paling rendah dari ketiga klub di zona degradasi. Dengan selisih gol hanya -5, sedangkan Reading -3, dan Derby County -1. Artinya, Forest sedikit mencetak gol dan banyak kebobolan.

Ketidakbecusan Chris Hughton terbaca oleh semua orang, tak terkecuali mantan pemain Nottingham Forest, Steve Hodge. Hodge bahkan tak ragu menyebut Forest sama sekali tidak bisa menyerang, bahkan sekadar berupaya. Hodge terang mengatakan, Forest adalah tim rentan yang krisis kepercayaan.

Dilansir BBC, Hodge berterus terang bahwa Nottingham Forest tak akan pernah selamat dari kekalahan andai Chris Hughton masih jadi pelatih. Omongan Hodge terbukti, karena sehari setelah itu Nottingham Forest mengalami kekalahan di kandang Middlesbrough 2-0.

Untungnya, itu adalah pertandingan terakhir Chris Hughton. Karena setelah ia memegangi kepalanya akibat kegagalan di markas Boro, tak lama kemudian Hughton didepak. Nottingham tak mau berlama-lama menjalin hubungan dengan pelatih seperti Hughton.

Steve Cooper Si Penyelamat

Setelah mengalami musim terburuk sejak 108 tahun, Nottingham Forest, pada September menunjuk Steve Cooper jadi manajer. Ia manajer bekas Swansea yang dipecat pada Bulan Juli lantaran kekalahan di babak play off Championship musim lalu.

Sepertinya, itu adalah langkah yang cerdik manajemen Nottingham Forest. Daripada mempertahankan pelatih yang hanya mendatangkan kekalahan, lebih baik mencoba pelatih baru. Toh kalaupun gagal di play off, Cooper setidaknya berhasil membawa Swansea ke babak play off.

Awal kedatangannya, Cooper disambut hangat para penggemar The Tricky Trees. Ini jadi pijakan yang bagus bagi Cooper. Minimal ia sudah dianggap memahami pengetahuan intrinsik tentang klub. Pria 42 tahun ini mendapat kepercayaan para fans.

Dari situ, Cooper jelas mendapatkan kenyamanan. Bekerja dengan kenyamanan, hasilnya tentu positif. Manajer bermata sayu itu melakukan pendekatan yang berbeda dengan pelatih sebelumnya. Para pemain memanggilnya “Coops” alih-alih “Boss”.

Itu tidak masalah baginya. Sebab Cooper tidak terlalu peduli pada struktur hierarki. Baginya, ia harus membangun jalinan pertemanan yang baik dengan para pemainnya. Disamping tentu saja pendekatan taktis yang tepat.

Cooper selalu meluangkan waktu untuk bicara dengan pemainnya. Dan satu hal yang membuat dirinya sulit dibenci para pemain. Bahwa Cooper selalu menyempatkan mengobrol dari individu ke individu. Dia sebagai seorang manusia, adalah pribadi yang mudah dipahami.

Karakternya sangat mudah didekati. Lebih dari itu, ia adalah sosok yang cerdas dan tegas. Cooper tak ragu untuk memberi komentar telak kepada para pemain yang tak becus dalam latihan.

Cepat Keluar dari Zona Degradasi

Gayanya melatih, ternyata berbuah positif. Cooper sanggup mengangkat moral tim, dengan menuai 4 kemenangan di awal ia melatih, dari lima pertandingan pertamanya. Ia juga membuat Nottingham Forest hanya sekali kalah dalam 15 pertandingan.

Satu-satunya kekalahan yang menimpa Nottingham Forest adalah kekalahan kandang dari juara saat itu, Fulham. Forest dibantai 4-0 oleh Fulham pada 24 Oktober 2021. Setelah itu, kemenangan menjadi nama tengah Nottingham Forest.

Mereka merebut tiga poin dramatis atas Bristol City, berkat gol Lyle Taylor pada menit ke-91 dan 92. Dari sini ada perubahaan besar dalam tubuh Forest. Aktornya, tentu saja Cooper. Pria itu mengubah mental Forest yang awalnya lembek seperti seblak menjadi keras seperti baja.

Forest jadi tim yang pantang menyerah. Mereka yang nyaris kalah dari QPR justru berhasil mencetak gol penyeimbang di masa injury time. Begitu pula ketika mereka berhasil menyelamatkan poin saat melawan Sheffield United.

Setelah itu mereka tak terhenti dengan hasil imbang. Titik baliknya ketika bertemu Peterborough di Bulan Desember. Di mana gol dari James Garner dan Ryan Yates jadi penentu. Seminggu kemudian Cooper berhasil mengerek posisi Forest ke paruh atas.

Forest berhasil menang telak 4-1 atas mantan klub Cooper, Swansea. Setelah itu, yang ada adalah kemenangan demi kemenangan. Termasuk ketika menghadapi Blackburn, Millwall, Barnsley, sampai Derby County.

Cooper menutup musim ini dengan membawa Nottingham Forest ke Premier League. Penantian 23 tahun pun terwujud. Selamat berjuang Forest! Selamat kembali ke habitat yang asli. Tetaplah jadi The Best, sang juara Liga Champions, Nottingham Forest!

https://youtu.be/xwzIogpChYQ

Sumber referensi: TheAthletic, TheAthletic, TheAthletic, BBC, CNN, ITV, Mirror

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru