La Decima Real Madrid Adalah Bukti Karya Nyata Ancelotti

spot_img

Ketika melatih tim pas-pasan macam Napoli dan Everton, Carlo Ancelotti dianggap miskin taktik. Namun La Decima Real Madrid menjadi jawaban sahih untuk membungkam orang yang mengatainya semacam itu. Penantian panjang Real Madrid ternyata mampu diwujudkan pelatih asal Italia itu.

Jelas ini adalah prestasi yang sangat mentereng, karena tak sembarangan pelatih bisa melakukannya. Berbagai cara sudah dicoba oleh El Real. Sampai pada akhirnya penantian panjang itu berakhir indah dan dirasakan oleh fans El Real pada tahun 2014 silam.

Penantian Panjang La Decima

Sepeninggal Presiden Florentino Perez sejak 2006, Madrid era Galacticos kemudian berganti citra dengan Real Madrid yang biasa-biasa saja. Penggantinya, Ramon Calderon tidak cukup mampu membranding Real Madrid menjadi klub langganan juara Liga Champions seperti di awal 2000 an.

Di bawah Ramon Calderon dari segi peningkatan prestasi memang terbukti Madrid kembali berjaya di liga domestik. Di masa kepemimpinannya, Madrid menjadi juara berturut-turut La Liga dari musim 2006/07 dan 2007/08. Namun, di kancah Eropa tak satu pun yang mengesankan.

Setelah memenangkan 3 gelar Liga Champions dalam 5 tahun antara tahun 1998 sampai 2002, terjadi penurunan yang tajam dan mencolok bagi El Real. Mereka tak sekalipun mentas di final turnamen tertinggi Eropa sejak itu.

Gelar Madrid di Liga Champions sejak itu adalah berjumlah 9 dan sangat sulit untuk mendapatkan kembali kesempurnaan gelar kesepuluhnya yang dikenal dengan La Decima. Ramon Calderon akhirnya sadar diri dan mundur di musim 2008/09 dengan segala kebijakan tidak populernya di Madrid.

Perez Jilid 2

Akhir pemerintahan Calderon diambil alih oleh wakilnya, Vicente Boluda hingga musim 2009/09 berakhir. Sebelum nantinya akan terpilih lagi presiden berikutnya. Mantan presiden Florentino Perez pun turun tangan. Ia akhirnya terpilih kembali di 2009 dan ingin mengembalikan lagi branding Madrid sebagai Galacticos.

Proyek Galacticos jilid 2 Madrid adalah bahan kampanyenya untuk meyakinkan publik Bernabeu di masa kepemimpinannya yang kedua ini. Dan benar saja, tak tanggung-tanggung, mega bintang Kaka dan Cristiano Ronaldo didatangkan sekaligus pada musim 2009/10. Pemain lainnya macam Benzema dan Xabi Alonso juga bersama-sama didatangkan ke Bernabeu.

Manuel Pellegrini yang sukses bersama Villarreal didapuk menjadi arsitek proyek Galacticos jilid 2 itu. Bertaburan bintang membuat Madrid bersama Pellegrini tidak pusing memilih skuad. Namun, mental berkata lain, Pellegrini belum mampu membawa Galacticos jilid 2 Madrid ini ke level yang lebih tinggi.

Madrid hanya mampu diantarkannya menjadi runner up di bawah Barca-nya Pep di La Liga. Gagal di Copa Del Rey dan gugur di Liga Champions. Apakah proyek ini dapat dikatakan gagal? Ketika tak satu pun gelar didapat pada awal kepemimpinan Perez jilid 2.

Perez pun marah, Pellegrini langsung didepak. The Special One, Jose Mourinho ditunjuk memimpin Galacticos jilid 2 ini. Mou dianggap mampu menularkan keberhasilannya treble di Inter kepada Madrid.

Hasilnya perlahan nyata, dengan mahkota Copa Del Rey musim 2010/11. Juara La Liga musim 2011/12. Namun, gelar yang diimpi-impikan publik Bernabeu yakni Liga Champions belum mampu diwujudkan Mourinho. Selama dia di Madrid, ia selalu gagal melangkah ke final. Ia menciptakan hattrick terhenti langkahnya di semifinal yakni di 2011, 2012, dan 2013.

Sungguh malang nasib Perez. Dari jor-joran membangun Galacticos jilid 2, gonta-ganti pelatih dan kepercayaan kepada seorang The Special One pun tak bisa dijamin keberhasilan meraih La Decima. Alhasil Perez berputar otak gimana lagi caranya supaya Madrid mewujudkan itu.

Ancelotti Datang

Sampai akhirnya sang dewa penyelamat itu datang. Ia bernama Carlo Ancelotti. Pelatih asal Italia yang pernah membawa AC Milan 3 kali ke final Liga Champions dan 2 kali memenangkannya. Ancelotti ditunjuk Perez menggantikan Mou di musim 2013/14.

“Gaya dan karakternya sangat cocok dengan profil klub ini. Dia adalah pelatih yang baik, pria yang cerdas dan pemenang yang alami,” kata Florentino Perez saat kedatangan Ancelotti.

Ancelotti dianggap sebagian orang sudah habis masa kejayaanya. Ketika pick performance-nya melatih sudah habis setelah berjaya bersama Milan. Hal itu terbukti di mana setelah ia hengkang dari Milan. Ia berada pada tim dengan skuad hebat macam Chelsea maupun PSG dan dia terbukti tak bisa membawa pulang Liga Champions.

Ancelotti di musim pertamanya disuntik Perez pemain macam Bale, Isco, Carvajal maupun Illarramendi. Ancelotti membangun tim dengan sebagian besar kerangka Madrid peninggalan Mourinho. Modric dan Alonso sebagai pengatur di tengah bersama Di Maria maupun Illarramendi. Di belakang duet Ramos dan Pepe masih jadi andalan.

Yang berbeda dari Ancelotti adalah ia merubah komposisi dari yang dulunya menggunakan 4-2-3-1 sekarang menjadi 4-3-3 dengan trio penyerang baru yang dibuatnya yakni BBC (Benzema, Bale, Cristiano Ronaldo).

Meskipun Ancelotti pada musim pertamanya jeblok di La Liga berkat finish di posisi ke 3, namun ia mampu menjawabnya di kancah Eropa. Laju Madrid dibawanya tidak hanya mentok di semifinal seperti Mou. Di semifinal, Ancelotti mampu menggulung Munchen dengan agregat telak 5-0.

Publik Bernabeu pun seketika mendapat harapan angin segar setelah Madrid kembali mentas di final Liga Champions. Setelah terakhir kali mereka ada di situ tahun 2002. Perez pun dibuat terbang ketika impiannya hampir diwujudkan Ancelotti. Madrid tinggal selangkah lagi menyempurnakan misi La Decima-nya.

Masterpiece La Decima Di Lisbon

Final Liga Champions 2013/14 pun dihelat. Mempertemukan sesama rival sengit di negeri matador yakni Derby Madrid. Atletico Madrid di bawah Simeone menjelma sebagai suatu identitas sepakbola yang berkembang dengan ciri khasnya sendiri yakni kesolidan dalam bertahan.

Madrid yang menuju Lisbon dengan impian gelar La Decima pun ciut ketika membayangkan kekuatan pertahanan Atletico musim itu. Benar saja, selama pertandingan, Atletico Madrid benar-benar kokoh dan sulit ditembus trio BBC.

Alih-alih mencetak gol, Madrid malah kecolongan di menit 36 oleh sundulan bek Atletico, Diego Godin. Tertinggal 1-0 membuat Ancelotti harus memutar otak untuk mengejar ketertinggalan itu. Berbagai cara dilakukan untuk menembus kokohnya pertahanan Los Rojiblancos.

Coentrao dan Khedira di menit 59 digantikan oleh Marcelo dan Isco, serta Benzema digantikan Morata di menit 79, semuanya tak mengubah hasil apa pun. Hingga akhirnya keajaiban itu datang di menit 90+3. Melalui sepak pojok dari Luka Modric, sundulan Ramos mampu memperpanjang nafas Madrid di Lisbon. Skor 1-1 menjadi akhir dari 2 kali 45 menit.

Mamasuki Extra Time, mental Atletico menjadi down. Madrid secara mental malah tambah berapi-api. Itu terbukti di 2 kali 15 menit babak tambahan. Madrid tampil dominan. Hasilnya nyata, menit 110, Madrid berbalik unggul lewat Bale. Kemudian disempurnakan Marcelo di menit 118 dan penalti Ronaldo di menit 120.

Skor telak 4-1 mengakhiri penantian panjang El Real meraih La Decima atau gelar kesepuluhnya di Liga Champions. Dan siapa yang memperolehnya? Ya, dia adalah Carlo Ancelotti. Pelatih yang awalnya dianggap sudah habis, tapi masih digdaya di Liga Champions. Presiden Perez pun tersenyum lebar. Proyek kepemimpinan jilid keduanya itu akhirnya bisa berbuah manis di 2014.

Sumber Referensi : planetfootball, uefa.com, managingmadrid

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru