Ketika melatih tim pas-pasan macam Napoli dan Everton, Carlo Ancelotti dianggap miskin taktik. Namun La Decima Real Madrid menjadi jawaban sahih untuk membungkam orang yang mengatainya semacam itu. Penantian panjang Real Madrid ternyata mampu diwujudkan pelatih asal Italia itu.
Jelas ini adalah prestasi yang sangat mentereng, karena tak sembarangan pelatih bisa melakukannya. Berbagai cara sudah dicoba oleh El Real. Sampai pada akhirnya penantian panjang itu berakhir indah dan dirasakan oleh fans El Real pada tahun 2014 silam.
Daftar Isi
Penantian Panjang La Decima
Sepeninggal Presiden Florentino Perez sejak 2006, Madrid era Galacticos kemudian berganti citra dengan Real Madrid yang biasa-biasa saja. Penggantinya, Ramon Calderon tidak cukup mampu membranding Real Madrid menjadi klub langganan juara Liga Champions seperti di awal 2000 an.
President of real Madrid 2006 – 2009 “Ramón Calderón” pic.twitter.com/TueYpCgp
— Peña RMA de Indo TBH (@MadridistaTBH) December 28, 2012
Di bawah Ramon Calderon dari segi peningkatan prestasi memang terbukti Madrid kembali berjaya di liga domestik. Di masa kepemimpinannya, Madrid menjadi juara berturut-turut La Liga dari musim 2006/07 dan 2007/08. Namun, di kancah Eropa tak satu pun yang mengesankan.
Setelah memenangkan 3 gelar Liga Champions dalam 5 tahun antara tahun 1998 sampai 2002, terjadi penurunan yang tajam dan mencolok bagi El Real. Mereka tak sekalipun mentas di final turnamen tertinggi Eropa sejak itu.
Real Madrid dominated the late ‘90s, winning 3 Champions Leagues from 1998 to 2002.
But in the locker room, they were what Raúl called “a cesspit of lies, treachery and whispers.”
The Ferrari Boys and Galácticos were a wild beast that nobody could tame.https://t.co/FZrbITgvIS pic.twitter.com/8L7R8Gl14G
— Breaking The Lines (@BTLvid) May 29, 2020
Gelar Madrid di Liga Champions sejak itu adalah berjumlah 9 dan sangat sulit untuk mendapatkan kembali kesempurnaan gelar kesepuluhnya yang dikenal dengan La Decima. Ramon Calderon akhirnya sadar diri dan mundur di musim 2008/09 dengan segala kebijakan tidak populernya di Madrid.
Perez Jilid 2
Akhir pemerintahan Calderon diambil alih oleh wakilnya, Vicente Boluda hingga musim 2009/09 berakhir. Sebelum nantinya akan terpilih lagi presiden berikutnya. Mantan presiden Florentino Perez pun turun tangan. Ia akhirnya terpilih kembali di 2009 dan ingin mengembalikan lagi branding Madrid sebagai Galacticos.
Florentino Perez in an interview in 2009 before Real Madrid’s presidential election: “With me, Real Madrid will recover it’s rightful place in the world.”
The rest is history.. 🤍 pic.twitter.com/WVElK4UUWC
— Madrid Xtra (@MadridXtra) March 7, 2022
Proyek Galacticos jilid 2 Madrid adalah bahan kampanyenya untuk meyakinkan publik Bernabeu di masa kepemimpinannya yang kedua ini. Dan benar saja, tak tanggung-tanggung, mega bintang Kaka dan Cristiano Ronaldo didatangkan sekaligus pada musim 2009/10. Pemain lainnya macam Benzema dan Xabi Alonso juga bersama-sama didatangkan ke Bernabeu.
Real Madrid’s Summer 2009
✅ Cristiano Ronaldo
✅ Kaka
✅ Karim Benzema
✅ Xabi Alonso— Classic Football Shirts (@classicshirts) July 19, 2021
Manuel Pellegrini yang sukses bersama Villarreal didapuk menjadi arsitek proyek Galacticos jilid 2 itu. Bertaburan bintang membuat Madrid bersama Pellegrini tidak pusing memilih skuad. Namun, mental berkata lain, Pellegrini belum mampu membawa Galacticos jilid 2 Madrid ini ke level yang lebih tinggi.
#OnThisDay // #LaLiga 01.06.2009: Manuel Pellegrini was appointed as the new manager of Real Madrid #RMCF #MCFC pic.twitter.com/Aoag205v8F
— TalkingTikiTaka (@talkingtikitaka) June 1, 2015
Madrid hanya mampu diantarkannya menjadi runner up di bawah Barca-nya Pep di La Liga. Gagal di Copa Del Rey dan gugur di Liga Champions. Apakah proyek ini dapat dikatakan gagal? Ketika tak satu pun gelar didapat pada awal kepemimpinan Perez jilid 2.
Perez pun marah, Pellegrini langsung didepak. The Special One, Jose Mourinho ditunjuk memimpin Galacticos jilid 2 ini. Mou dianggap mampu menularkan keberhasilannya treble di Inter kepada Madrid.
28 de mayo de 2010.
El Real Madrid anunciaba su nuevo entrenador: JOSÉ MOURINHO.
Hace exactamente 12 años: pic.twitter.com/C1wcgCBorf
— Madrid Sports (@MadridSports_) May 27, 2022
Hasilnya perlahan nyata, dengan mahkota Copa Del Rey musim 2010/11. Juara La Liga musim 2011/12. Namun, gelar yang diimpi-impikan publik Bernabeu yakni Liga Champions belum mampu diwujudkan Mourinho. Selama dia di Madrid, ia selalu gagal melangkah ke final. Ia menciptakan hattrick terhenti langkahnya di semifinal yakni di 2011, 2012, dan 2013.
Sungguh malang nasib Perez. Dari jor-joran membangun Galacticos jilid 2, gonta-ganti pelatih dan kepercayaan kepada seorang The Special One pun tak bisa dijamin keberhasilan meraih La Decima. Alhasil Perez berputar otak gimana lagi caranya supaya Madrid mewujudkan itu.
Ancelotti Datang
Sampai akhirnya sang dewa penyelamat itu datang. Ia bernama Carlo Ancelotti. Pelatih asal Italia yang pernah membawa AC Milan 3 kali ke final Liga Champions dan 2 kali memenangkannya. Ancelotti ditunjuk Perez menggantikan Mou di musim 2013/14.
“Gaya dan karakternya sangat cocok dengan profil klub ini. Dia adalah pelatih yang baik, pria yang cerdas dan pemenang yang alami,” kata Florentino Perez saat kedatangan Ancelotti.
Ancelotti dianggap sebagian orang sudah habis masa kejayaanya. Ketika pick performance-nya melatih sudah habis setelah berjaya bersama Milan. Hal itu terbukti di mana setelah ia hengkang dari Milan. Ia berada pada tim dengan skuad hebat macam Chelsea maupun PSG dan dia terbukti tak bisa membawa pulang Liga Champions.
Ancelotti di musim pertamanya disuntik Perez pemain macam Bale, Isco, Carvajal maupun Illarramendi. Ancelotti membangun tim dengan sebagian besar kerangka Madrid peninggalan Mourinho. Modric dan Alonso sebagai pengatur di tengah bersama Di Maria maupun Illarramendi. Di belakang duet Ramos dan Pepe masih jadi andalan.
Yang berbeda dari Ancelotti adalah ia merubah komposisi dari yang dulunya menggunakan 4-2-3-1 sekarang menjadi 4-3-3 dengan trio penyerang baru yang dibuatnya yakni BBC (Benzema, Bale, Cristiano Ronaldo).
One of the most beautiful stories 2013/2014
Garret bale 22 target 19 assists
Karim Benzema 24 target 16 assists
Cristiano Ronaldo 51 target and 17 passages.
Epic goals one of the most beautiful BBC seasons pic.twitter.com/kjBFIMGLn1— TOPX-5 (@Mimounaoulass5) January 3, 2022
Meskipun Ancelotti pada musim pertamanya jeblok di La Liga berkat finish di posisi ke 3, namun ia mampu menjawabnya di kancah Eropa. Laju Madrid dibawanya tidak hanya mentok di semifinal seperti Mou. Di semifinal, Ancelotti mampu menggulung Munchen dengan agregat telak 5-0.
Real Madrid erzielte im Rückspiel des Champions League-Halbfinals 2014 ganze vier Treffer gegen den FC Bayern München:👇
Tore:
16’: Sergio Ramos
20’: Sergio Ramos
34’: Cristiano Ronaldo
89’: Cristiano Ronaldo#skysport #skycl #real #madrid pic.twitter.com/W1cuVjsc0P— Sky Sport (@SkySportDE) April 29, 2021
Publik Bernabeu pun seketika mendapat harapan angin segar setelah Madrid kembali mentas di final Liga Champions. Setelah terakhir kali mereka ada di situ tahun 2002. Perez pun dibuat terbang ketika impiannya hampir diwujudkan Ancelotti. Madrid tinggal selangkah lagi menyempurnakan misi La Decima-nya.
Masterpiece La Decima Di Lisbon
Final Liga Champions 2013/14 pun dihelat. Mempertemukan sesama rival sengit di negeri matador yakni Derby Madrid. Atletico Madrid di bawah Simeone menjelma sebagai suatu identitas sepakbola yang berkembang dengan ciri khasnya sendiri yakni kesolidan dalam bertahan.
Madrid yang menuju Lisbon dengan impian gelar La Decima pun ciut ketika membayangkan kekuatan pertahanan Atletico musim itu. Benar saja, selama pertandingan, Atletico Madrid benar-benar kokoh dan sulit ditembus trio BBC.
Alih-alih mencetak gol, Madrid malah kecolongan di menit 36 oleh sundulan bek Atletico, Diego Godin. Tertinggal 1-0 membuat Ancelotti harus memutar otak untuk mengejar ketertinggalan itu. Berbagai cara dilakukan untuk menembus kokohnya pertahanan Los Rojiblancos.
Coentrao dan Khedira di menit 59 digantikan oleh Marcelo dan Isco, serta Benzema digantikan Morata di menit 79, semuanya tak mengubah hasil apa pun. Hingga akhirnya keajaiban itu datang di menit 90+3. Melalui sepak pojok dari Luka Modric, sundulan Ramos mampu memperpanjang nafas Madrid di Lisbon. Skor 1-1 menjadi akhir dari 2 kali 45 menit.
In the 2014 #UCLFinal Sergio Ramos’ 93rd minute header led Real Madrid to win La Decima. 🏆 8 years later, they have a chance to bring home their 14TH European Cup. 😳 pic.twitter.com/tMOkJEXkwH
— Bet9ja (@Bet9jaOfficial) May 28, 2022
Mamasuki Extra Time, mental Atletico menjadi down. Madrid secara mental malah tambah berapi-api. Itu terbukti di 2 kali 15 menit babak tambahan. Madrid tampil dominan. Hasilnya nyata, menit 110, Madrid berbalik unggul lewat Bale. Kemudian disempurnakan Marcelo di menit 118 dan penalti Ronaldo di menit 120.
On this day in 2014, Real Madrid defeated Atletico Madrid 4-1 to win La Décima 🤩🏆
I’ll never forget what happened in the 92:48 minute… 🤯 @MadridXtra pic.twitter.com/B13WCDSr1F
— FTBL (@ftblofficial) May 24, 2022
Skor telak 4-1 mengakhiri penantian panjang El Real meraih La Decima atau gelar kesepuluhnya di Liga Champions. Dan siapa yang memperolehnya? Ya, dia adalah Carlo Ancelotti. Pelatih yang awalnya dianggap sudah habis, tapi masih digdaya di Liga Champions. Presiden Perez pun tersenyum lebar. Proyek kepemimpinan jilid keduanya itu akhirnya bisa berbuah manis di 2014.
Carlo Ancelotti’s first stage at Real Madrid (2013–2015):
👔 119 games
✅ 89 wins (75%)
🤝 14 draws
❌16 defeats🏆 UCL (La Décima)
🏆 Copa del Rey
🏆 UEFA Super Cup
🏆 Club World CupHe’s back for more 😏#LLL
🧡🇪🇸⚽️ pic.twitter.com/7JTAt2Ivlw— La Liga Lowdown 🧡🇪🇸⚽️ (@LaLigaLowdown) June 1, 2021
Sumber Referensi : planetfootball, uefa.com, managingmadrid


