Ribuan fans tumpah ruah di jalanan kota Milan saat para penggawa dan pendukung AC Milan merayakan scudetto ke-19 mereka. Sejak berangkat dari Casa Milan hingga tiba di Piazza del Duomo, para penggemar terus bernyanyi dan bersorak mengiringi parade bus terbuka yang membawa trofi juara Serie A musim ini.
A beautiful bird’s-eye view of the Rossoneri rejoicing at Casa Milan 🤩🔴⚫️
#AlwaysWithYou #SempreMilan pic.twitter.com/frfSYwMN2P— AC Milan (@acmilan) May 25, 2022
Sebelumnya, usai memastikan gelar juara Serie A musim ini di kandang Sassuolo, Zlatan Ibrahimovic menyampaikan sebuah pidato emosional di ruang ganti Milan. Sambil berapi-api, pidato yang ditutup dengan aksi membalikkan meja itu sukses membakar emosi skuad rossoneri yang tengah berpesta.
“Saya sangat bangga dengan kalian semua. Sekarang bantu saya dan rayakan seperti juara, karena bukan Milan milik AC Milan, Italia milik AC Milan!” kata Ibrahimovic dikutip dari BBC.
AC Milan dan para pendukungnya memang tengah berpesta. Euforia itu terus terasa meski Milan sudah dipastikan menjadi kampiun Serie A saat berhasil menundukkan tuan rumah Sassuolo dengan skor telak 3-0, Minggu 22 Mei kemarin.
Maklum, gelar juara Serie A musim ini sudah lama dinanti-nantikan. Ini adalah trofi scudetto pertama Milan setelah menunggu selama 11 tahun. Apalagi, mereka berhasil menjadi kampiun setelah menyalip Inter di pekan-pekan terakhir.
Milan sejatinya tidak terlalu diperhitungkan di Serie A musim ini. Mereka baru kehilangan 2 pemain pentingnya. Skuad yang masih sangat muda dan tanpa pemain bintang jadi beberapa kekurangan mereka. Juara bertahan Inter dan Juventus yang kembali dilatih Allegri sebetulnya lebih difavoritkan di awal musim.
Lalu, apa yang jadi faktor keberhasilan Milan merengkuh scudetto musim ini? Ada beberapa pilar penting di balik scudetto ke-19 AC Milan musim ini. Pilar-pilar penting inilah yang berhasil membangkitkan kembali jiwa iblis Il Diavolo Rosso.
Daftar Isi
Kecintaan dan Kharisma Paolo Maldini
Pilar utama keberhasilan Milan tentu saja kehadiran Paolo Maldini. Sebagai direktur teknik, Maldini adalah pusat semesta dari era baru AC Milan. Kecintaan dan kharisma seorang Paolo Maldini untuk Milan sudah tak perlu diragukan lagi.
Setelah berulang kali menolak, Maldini akhirnya mau turun gunung ketika dibujuk Ivan Gazidis menjadi direktur strategis & pengembangan olahraga pada Agustus 2018. Selepas Leonardo mundur, dia naik jabatan menjadi direktur teknik ditemani Ricky Massara sebagai direktur olahraga.
🚨 Maldini to DAZN: “My career as a director exists only because there is Milan. It wasn’t in my plans and I was lucky after taking my time that the right moment arrived.” pic.twitter.com/UVo7QEh96R
— CHAMPIONS OF ITALY 🏆 (@MilanEye) May 22, 2022
Bersama Massara, Gazidis, dan Geoffrey Moncada sebagai kepala pemandu bakat, Maldini membentuk struktur manajemen klub yang kuat dan sehat. Maka, ketika ada pemain yang menuntut gaji terlampau tinggi, ia tanpa kompromi melepas pemain yang hatinya sudah bukan merah hitam, meski tindakan itu membuat Milan kehilangan si pemain secara gratis.
Sebagai dirtek, Maldini juga pandai menjaga jarak. Dia selalu terlihat di milanello ketika pemain berlatih dan juga selalu menemani tim di setiap pertandingan. Kehadirannya itu adalah salah satu sumber motivasi terbesar skuad muda Rossoneri. Meski begitu, kehadirannya tak sampai mengganggu kinerja Stefano Pioli.
Berbicara soal Pioli, Maldini adalah sosok yang dulu begitu ngotot menunjuk Stefano Pioli sebagai allenatore Milan. Pada awalnya, keputusan tersebut diragukan banyak pihak, mengingat track record Pioli yang nirgelar. Namun, kini seluruh usaha kerasnya bersama Ricky Massara dan Ivan Gazidis terbayar tuntas. Pioli jadi nahkoda yang berhasil mempersembahkan scudetto ke-19 untuk AC Milan.
Pioli is on Fire!
Meski peran Maldini begitu besar di balik layar, tetapi keberhasilan Milan musim ini juga jadi pembuktian seorang Stefano Pioli. Pelatih 56 tahun itu adalah pilar penting berikutnya yang jadi kunci sukses Milan merengkuh scudetto.
Pada awalnya, Pioli begitu diremehkan. Tagar #PioliOut bahkan sudah menggema sebelum ia resmi melatih. Namun, seiring berjalannya waktu, tagar tersebut kini berubah menjadi Pioli is On Fire!
8️⃣6️⃣ points
1️⃣4️⃣ away wins
19th 🇮🇹 of @acmilan history
🔥 PIOLI IS ON FIRE 🔥#SerieA💎 #WeAreCalcio pic.twitter.com/vBhXWl1S7Z— Lega Serie A (@SerieA_EN) May 24, 2022
Pioli tak pernah mengeluh soal aktivitas transfer Milan. Dengan daya magisnya, ia juga mampu memaksimalkan skuad yang ada saat badai cedera menggerogoti para pemainnya. Pun saat hasil akhir tak sesuai harapan, Pioli cepat bangkit dan membuat mental bertarung timnya tetap terjaga. Intinya, di akhir musim, ia berhasil membungkam berbagai kritik dulu meremehkannya.
Namun, Pioli tak bekerja sendiri. Ia punya departemen data di belakangnya. Selain dibantu Giacomo Murelli sebagai asisten yang setia menemani di sampingnya, Pioli juga dibantu Luciano Vulcano, Igor Quaia, Giorgio Tenca, dan Gianmarco Pioli yang merupakan anaknya sendiri. Keempat orang tersebut adalah analis pertandingan AC Milan.
Pada saat pertandingan, mereka punya tugas masing-masing. Luciano Vulcano akan duduk di bangku cadangan. Sementara Igor Quaia, Giorgio Tenca, dan Gianmarco Pioli biasanya akan duduk di tribun atau ruang pers untuk merekam jalannya pertandingan sekaligus menganalisis jalannya permainan.
Data real time yang diperoleh itu kemudian diteruskan kepada Vulcano dengan mengirim data pertandingan ke laptopnya. Vulcano kemudian mengolah data tersebut dan memberikan masukan kepada Murelli atau Pioli.
Ya, Milan yang katanya bermain “grasak-grusuk” itu memakai data untuk membaca pertandingan dan menentukan taktik yang pas untuk mengalahkan lawan-lawannya di Serie A. Dengan memanfaatkan data, pasukan Pioli selangkah lebih maju dan hasilnya mereka jadi yang terbaik di Serie A musim dengan torehan 86 poin dalam 38 pertandingan.
Penampil-Penampil Terbaik dalam Skuad AC Milan
Namun, Pioli dan para asistennya tak akan berhasil tanpa kerja keras para pemain di atas lapangan. Faktanya, musim ini, Milan punya banyak pemain yang tampil apik di Serie A. Bahkan, beberapa di antaranya juga memenangkan penghargaan individu.
Di bawah mistar, keberadaan Mike Maignan sangatlah vital. Maignan bisa dibilang sebagai rekrutan terbaik Milan musim ini. Didatangkan dari Lille dengan harga 15 juta euro, penampilan Maignan sungguh memukau dan membuat milanisti seketika melupakan sosok Gigio Donnarumma.
Meski sempat menepi selama 6 laga karena cedera pergelangan tangan, Maignan yang tampil 32 laga di musim debutnya di Serie A hanya kebobolan 21 gol dan mencatat 17 clean sheets. Persentase penyelamatannya juga mencapai 81,2%.
Statistik tersebut jadi yang terbaik di Serie A. Bahkan menurut catatan Opta, kiper 26 tahun itu memiliki persentase penyelamatan tertinggi di antara para kiper di 5 liga top Eropa musim ini. Maka tak mengherankan jika kiper timnas Prancis itu terpilih sebagai kiper terbaik Serie A musim ini.
79 – Among the Big-5 European Leagues 2021/22 goalkeepers, Mike #Maignan is the one with the highest saves percentage (79.4%). Catlike. pic.twitter.com/OcGXbrJHMt
— OptaPaolo 🏆 (@OptaPaolo) May 23, 2022
Kedigdayaan Maignan di bawah mistar juga dibarengi dengan performa apik Fikayo Tomori dan Pierre Kalulu. Sejak Kalulu menggeser Romagnoli dan berduet dengan Tomori, lini belakang Milan makin sulit ditembus. Buktinya, dalam 10 pertandingan terakhir, gawang Milan hanya bobol 2 kali dan 8 kali mencatat clean sheets. Itu semua terjadi saat Tomori dan Kalulu berduet di jantung pertahanan Milan.
Jangan lupakan pula kontribusi Theo Hernandez. Selain atribut defense-nya yang makin solid, Theo juga makin tajam. Dia adalah bek kiri paling subur di liga dengan torehan 5 gol dan 5 asis.
Di lini tengah, peningkatan performa Sandro Tonali adalah penyebab makin kreatifnya gelandang AC Milan. Jika musim lalu ia tak menghasilkan gol maupun asis, musim ini penampilan Tonali makin nyetel dengan sumbangan 5 gol dan 2 asis.
Sementara itu, di lini depan, sosok Rafael Leao jelas jadi pusat perhatian. Dia adalah MVP Milan musim ini sekaligus pula terpilih sebagai MVP Serie A musim ini. Penghargaan tersebut jadi buah dari perjudian Milan yang dulu menggaet Leao dengan harga 30 juta euro saat dirinya masih berusia 20 tahun.
Dibanding musim lalu, Rafael Leao memang menigkat pesat. Kecepatan dan skillnya di atas lapangan membuatnya sulit dihentikan. 11 gol dan 10 asisnya musim ini adalah bukti betapa berbahayanya Leao di lini depan.
⭐️ Speed, assists, goals and a lot of skills: he helped @acmilan to reach their 19th 🇮🇹!@RafaeLeao7 is the the #SerieA💎 Best Player! Well done, Rafa! 🏄♂️#WeAreCalcio #MilanScudetto pic.twitter.com/p28AWBOQpx
— Lega Serie A (@SerieA_EN) May 22, 2022
Jangan lupakan pula peran Olivier Giroud. Didatangkan secara gratis dari Chelsea, striker 35 tahun itu berhasil mencetak 11 gol dan 3 asis di musim debutnya di Serie A. Catatan tersebut membuatnya sukses mematahkan kutukan nomor 9 AC Milan.
Zlatan Ibrahimovic, Kapten Sesungguhnya dan Pilot AC Milan
Selain beberapa pemain kunci tadi, Paolo Maldini dan Stefano Pioli juga perlu berterima kasih kepada Zlatan Ibrahimovic. Meski kontribusinya musim ini sangat berkurang karena masalah cedera, tetapi Ibra bisa dibilang sebagai kapten Milan sesungguhnya.
Kapten Milan musim ini memang kerap berganti-ganti. Secara resmi, kapten tim dijabat oleh Alessio Romagnoli. Lalu, belakangan ini, ban kapten lebih sering menempel di lengan Davide Calabria. Sebelumnya, Franck Kessie juga pernah didaulat menjadi kapten sementara.
Namun, kapten sesungguhnya adalah Zlatan Ibrahimovic. Keberadaan Ibra di ruang ganti, tempat latihan, dan saat pertandingan sangatlah krusial. Seperti yang Ibra bilang, ia jadi pilot dalam skuad muda AC Milan.
Itulah tadi pilar-pilar penting yang sukses mengantar Milan merengkuh scudetto musim ini. Apa yang Milan raih musim ini bukanlah hasil instan, melainkan buah dari kesabaran dan keuletan mereka dalam membangun ulang kekuatannya. Apalagi, mereka membangun ulang kejayaan mereka dengan perhitungan yang sangat detail.
Yang lebih penting lagi, keberhasilan Milan merengkuh scudetto musim ini bukanlah hasil kerja dari satu orang saja. Namun, merupakan kombinasi harmonis antara manajemen, staff pelatih, dan pemain yang punya visi dan misi yang sama. Sebuah upaya yang patut dicontoh klub lain yang tengah mencoba bangkit dari keterpurukan.
OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOLLLLLLLLLLLLLLLLLEEEEEEEEEEEEE ❤️🖤#AlwaysWithYou #SempreMilan pic.twitter.com/vFPedapIsJ
— AC Milan (@acmilan) May 22, 2022
Semoga saja, ini juga menjadi awal dari era baru AC Milan. Selamat berpesta Milan!
https://youtu.be/zB8jdIcTF4o
***
Referensi: Football-Italia, Sempre Milan, BBC, Lega Serie A, Sempre Milan, Kompas, CBS Sports, Forbes.


